Sepakat untuk menikah dan sepakat akan bercerai setelah 2 tahun menikah, itulah perjanjian antara Rani dan Temy sebelum menerima perjodohan mereka. Namun, saat tiba waktunya mereka akan berpisah, keduanya baru menyadari jika keadaan sudah membuat mereka jadi terbiasa dan telah hadirnya benih cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Suasana di dalam rumah menjadi canggung dalam beberapa hari ini. Sepulangnya dari London, sikap Temy menjadi begitu hangat terhadap istrinya, meski tak pernah mendapatkan balasan apa pun. Ya, saat ini dunia seperti sedang terbalik.
Rani memutuskan untuk tetap mencari pengacara lain untuk mereka. Berkali-kali Temy mengingatkan, mengatakan jika Rani harus memikirkan secara matang karena semua keputusan ini berpengaruh besar terhadap masa depan mereka.
“Jadi, mengapa kamu mengatakan jika semua keputusan ini berat jika kunci pembuka gerbang penceraian ini adalah kamu.” Temy bungkam. Kalimat Rani benar-benar menusuk di hatinya. Semenjak kalimat itu dilontarkan, Temy tak lagi membicarakan perihal itu kenapa Rani.
***
“Kamu ... tak menghabiskan sarapanmu?” Di suatu pagi, Temy kembali menatap istrinya yang bangkit dari tempat duduk agak cepat, padahal dentingan peralatan makan yang saling beradu masih terdengar di pihak Temy.
Rani menggeleng pelan, lalu meminum segelas air susu dengan cepat. “Pagi ini, aku harus cepat-cepat berangkat karena ada sesuatu yang harus diurus.”
“Urusan apa? Hei, kau harus menghabiskan makananmu agar tak kekurangan energi nantinya.” Temy memperingati. Namun, Rani sama sekali tak mengindahkan kalimatnya, membuat Temy merasa dianggap tidak ada olehnya.
“Tenang saja, aku sudah terbiasa dengan perut kosong. Kau ... tak seharusnya khawatir tentang hal itu.” Apa boleh buat, Temy tak bisa melakukan banyak hal untuk mencegah Rani. Perdebatan akan terjadi jika Temy masih melakukan hal itu. Jadi, pria itu harus mengalah.
“Tunggu!”
Temy berdiri dari kursinya. Pria itu mengambil sebuah kotak bekal yang ada di dekat kompor Rani.menoleh, suara lantang berhasil membuatnya berjalan kembali ke tempat semula, tepat setelah Temy menarik turunkan telapak tangannya, pertanda sebuah permintaan untuk menghampiri.
“Bawa ini. Kau harus memakannya nanti.” Pria itu menyerahkan wadah kotak itu kepada Rani. Tatapan bingung itu Temy dapatkan. Namun, tak urung tangan dari wanita itu berhasil menerima kotak yang Temy berikan.
Sebenarnya, Rani merasa aneh dengan sikap suaminya akhir-akhir ini yang menjadi perhatian kepadanya. Awalnya, Rani merasa iba karena Temy tak pernah mendapatkan balas perasaan darinya. Namun, karena ingatan masa lalu serta sakit hati karena kejadian malam ini, Rani memutuskan untuk tak pernah berubah. Sampai kapan pun, sifatnya akan selalu sama seperti ini. Biarkan Temy merasakan apa yang ia rasakan dulu.
“Terima kasih.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Rani segera pergi meninggalkan Temy. Secuil rasa kecewa terbit di hati pria itu. Rani tak seharusnya pergi begitu saja. Ada perilaku yang diharapkan oleh Temy, entah itu hal mesra atau sejenisnya. Namun, Temy tak bisa berbuat banyak. Pria itu hanya mengembuskan napas halus. Kemudian, kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan kegiatan sarapannya.
***
“Maaf, aku tak bisa membantu banyak. Semua ini adalah ulah kau sendiri. Hanya kau satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan semua ini.” Nada bicara Rafael menggema di seberang sana. Temy berdecak kesal. Kemudian, pria itu membalas.
“Jika begitu, apa kau sama sekali tak punya saran untuk mengatasi hal ini?” Temy bertanya dengan penuh harap. Rafael mengembuskan napas kasar.
“Kau tak mendengarkan kalimatku sebelumnya,” ucap Rafael dengan nada kesal.
“Kumohon, satu-satunya orang yang bisa memberikan bantuan adalah kau, Rafa. Maaf karena sebelumnya aku tak mendengarkan nasihat-nasihatmu untuk tidak bercerai. Sekarang, aku sangat paham bagaimana perasaan Rani. Aku ... aku menarik semua keputusan yang pernah kubuat!” Temy berkata dengan nada lantang, memperlihatkan keseriusannya.
Rafael diam sejenak, mencoba berpikir keras. Menurutnya, percuma saja menolak karena pada akhirnya Temy akan meneror hidupnya dengan harapan-harapan yang ia kemukakan. Jadi, satu-satunya jalan keluar Rafael adalah memberikan sebuah solusi kepada Temy agar pria itu tak lagi berharap.
“Begini saja ....” Lama bungkam, akhirnya sebuah kalimat terucap dari mulut Rafael. Temy memasang pendengarannya dengan sangat baik, tak mau melewatkan sepatah kata pun. “Rasa kecewa dalam diri wanita cukup sulit untuk dihilangkan. Kebanyakan sakit hati pada wanita tak cukup hanya dengan mengatakan permintaan maaf, kau harus membuktikan bahwa kau benar-benar sayang kepadanya.”
Temy mengangguk paham. Ya, itu semua memang benar. “Kau bilang, Rani sempat mendengar percakapan kau dengan Cassandra. Mungkin Rani berpikir kau lebih memilih Cassandra ketimbang dirinya. Jadi, Rani memutuskan untuk menjauh dari kau karena tak ingin merecoki hidup kau dengan wanita itu. Sebenarnya, ada satu cara untuk menyelesaikan ini, tapi ....”
Temy menautkan kedua alisnya, mencoba untuk berfokus kepada kalimat Rafael yang memasuki bagian paling inti. “Kau ... yakin akan melakukan ini?” tanya Rafael.
Awalnya, keraguan sempat hinggap di hati Temy. Namun, perlahan keyakinannya kembali, membuat Temy pada akhirnya percaya diri. Pria itu mengangguk. “Ya, aku sanggup melakukan apa saja agar Rani kembali kepadaku. Aku janji, aku akan memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu dan menjadikan rumah tangga ini harmonis.”
Rafael mengangguk paham, merasa bersyukur dengan apa yang Temy katakan. Pria itu yakin, Temy benar-benar serius dengan kalimatnya. “Undanglah Cassandra datang ke Indonesia. Pertemukan wanita itu dengan Rani. Di hadapan mereka berdua, tunjukkan rasa sayangmu kepada Rani, tunjukkan kepada Cassandra bahwa kau benar-benar mencintai istri kau. Jika memungkinkan, tolaklah perilaku mesra yang akan Cassandra lakukan di hadapan Rani.”
Mendengar penjelasan dari Rafael, membuat Temy tercengang. Semua rencana yang pria itu berikan sungguh di luar perkiraan Temy, membuat keraguan mendadak muncul kembali. “Kau ... kau serius dengan semua rencana ini? Bagaimana kalau keduanya malah berdebat dan menimbulkan masalah yang lebih parah lagi? Dan kau tahu, Cassandra dan Rani tak mungkin bertemu. Kedua sifat mereka sangat bertolak belakang, aku takut jika ....”
“Itu adalah tantangan bagimu untuk mendapatkan Rani kembali. Percayalah, dengan keberanian dan tekad yang kuat, rencana ini pasti akan berhasilnya.” Rafael berkata dengan nada yang lebih pelan. “Jika kau seorang pria, aku yakin kau bisa melakukan ini semua.”
***
Sedari tadi, Temy tak berhenti menatap layar ponselnya. Di sana, tertulis sebuah nama dari temannya di luar negeri. Ya, siapa lagi kalau bukan Cassandra. Tangan Temy bergetar. Dengan ragu, pria itu memencet kontak itu untuk dihubungi. Selama beberapa menit menunggu, akhirnya suara wanita lantang terdengar dari seberang sana.
“Hi! How are you today, Tem? I really miss you!”
“Yeah, San, aku baik-baik saja, terima kasih.” Temy membalas dengan nada datar. Pria itu menunggu momen-momen yang tepat untuk menjelaskan tujuannya. Sebelum semua itu terjadi, Temy harus melewati semua perbincangan ini.
Setelah melewati basa-basi yang sangat panjang. Temy memutuskan untuk berkata kepada Cassandra bahwa ia memiliki suatu rencana yang sangat mengejutkan. Tentu saja, Cassandra siap untuk mendengar apa saja yang akan pria itu katakan. Dengan nada lirih, tetapi pasti, Temy segera melontarkan sebuah ajakan kepada Cassandra.
“San, apakah minggu depan kau bisa ke Indonesia?”