bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.
"wanita cantik" takemichi
"apa kau lihat lihat!?" izana
"garang sekali" takemichi
"kau sekarang sama denganku" izana
"hah?" takemichi nge-lag
"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
izan is angry
"Ah, sepertinya seru sekali."
"Apakah Bapak mau menangkap mereka?"
"Tangkap saja, Pak. Mereka sudah melakukan tindakan kriminal, tuh."
ucap Filia yang langsung diangguki oleh Milan.
"Kau..."
geram Takemichi.
"Oh, tidak, tidak."
Polisi itu langsung melambaikan tangannya.
"Mari kita bicara baik-baik, nona-nona."
"Saya justru datang untuk memberikan hadiah kepada kalian karena kemarin sudah berhasil menuntaskan misi yang ditempel di mading."
"Ah, ternyata kalian bersekolah di sini, ya."
Ia tersenyum ramah kepada Takemichi dan Izana.
"Oh, sudah tidak lagi kok."
"Mereka mengusir kami."
"Sekarang kami sedang mencari sekolah baru."
"Tapi sepertinya kami tidak bisa bersekolah lagi karena sekolah mana pun pasti akan menolak kami."
Izana tersenyum kecut.
Polisi di depannya langsung tercengang.
"Apa?!"
"Berani sekali mereka mengusir kalian!"
"Apakah mereka tidak tahu kalau tanpa bantuan kalian, kasus ini tidak akan pernah selesai?!"
Wajahnya langsung memerah karena kesal.
"Saya benar-benar akan membuat mereka mempertanggungjawabkan keputusan ini!"
"Padahal saya ingin memberikan penghargaan secara resmi di sekolah ini."
Ia bahkan sudah bersiap menuju ruang kepala sekolah.
"Eeeh, tidak usah."
Izana buru-buru menghentikannya.
"Kami mau pulang saja."
"Oh iya, mana hadiahnya?"
tanyanya sambil memiringkan kepala dan menengadahkan tangan.
Polisi itu langsung terlihat canggung.
"Ah... etto..."
"Hadiahnya akan diberikan kalau kalian datang ke kantor pemerintahan."
Izana langsung mendecak.
"Jadi kami harus ke sana?"
"Ck, merepotkan."
"Sudahlah, Izana."
"Ayo pulang saja."
Takemichi Menenangkan sahabatnya yang masih terlihat kesal.
"Haha, maaf ya, gadis-gadis."
"Sampai jumpa lagi."
"Kita pasti akan bertemu lagi."
Polisi itu melambaikan tangan sebelum pergi.
Sementara itu...
Di sisi lain, Filia berdiri dengan wajah merah padam.
Tangannya mengepal erat.
Ia marah.
Sangat marah.
Namun juga malu.
"Huh."
"Dasar caper."
gumamnya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
"TAKEMICHI!!"
"IZANA!!"
teriak seseorang dari kejauhan.
Takemichi dan Izana menoleh bersamaan.
"Ah!"
"Kaku-chan!"
Takemichi langsung tersenyum cerah.
"Hanma? Kau juga ikut?"
Hanma langsung mematung.
Kemudian...
"AH, KAWAIII!!"
teriaknya.
Ia langsung berlari ingin memeluk Takemichi.
Namun Kakucho dengan sigap menghadangnya.
Takemichi yang masih sedikit trauma dengan tingkah Hanma langsung bersembunyi di belakang Kakucho.
Beberapa detik kemudian...
Ia malah kabur.
"KAKU-CHAAAAN!!"
teriaknya panik.
"Michi, tunggu!!"
"Aku cuma mau mengajarimu sesuatu yang pasti kau suka!"
teriak Hanma sambil mengejarnya.
"HANMA!!"
Kakucho ikut berlari mengejar.
Izana hanya memegang pelipisnya.
"Haaah..."
"Si bodoh itu membuatku pusing lagi."
Tak jauh dari sana...
"Hiks... hiks..."
"Hweeeee..."
"Izana, tolong!!"
Tangis Takemichi terdengar.
Ternyata Hanma berhasil menangkapnya dan langsung memeluknya dari belakang.
BUGH!
"Lepaskan!"
teriak seseorang.
"Lepaskan wanitaku!"
Hanma langsung terlempar setelah menerima tendangan.
"Ck."
"Menyebalkan."
Ia menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.
"Mikey-kun!"
Takemichi langsung berbinar.
Mikey berdiri di depan Hanma dengan ekspresi kesal.
"Sialan kau!"
"Kau membuat kekasihku ketakutan!"
ucapnya sambil menunjuk Hanma.
"KALIAN DIAM!!"
teriak Izana tiba-tiba.
Semua orang langsung membeku.
"I-Izana..."
cicit Kakucho.
"Apa kalian akan terus bertengkar dan membuatku malu?!"
"Mikir sedikit!"
"Ini sekolah!"
"Banyak murid yang melihat kalian!"
teriak Izana dengan wajah memerah karena kesal.
Setelah itu, ia langsung berbalik dan pergi.
"Heh?"
"Dia marah?"
tanya Mikey sambil menggaruk kepala.
"Ya marah lah, goblok!"
"Kau nggak lihat dari tadi?!"
balas Kakucho.
Hanma justru tersenyum lebar.
"Heh."
"Kalau marah ternyata lucu juga."
"Sial kalian."
Takemichi menggembungkan pipinya.
"Aku jadi ditinggal Mama Izana."
"Ah, kawaiii."
Hanma langsung mencubit pipinya.
"Ah!"
"Lepaskan!"
"Sakit tau!"
Takemichi buru-buru menepis tangan Hanma.
Dan akhirnya...
Mereka semua mengejar Izana dan berusaha membujuknya agar tidak marah lagi.
.
.
.
.
Skip.
Sesampainya di rumah...
Mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu.
Takemichi segera pergi ke dapur untuk mengambil makanan ringan dan minuman.
Sementara itu...
Izana sudah terlihat sangat lelah.
Baru saja duduk, ia kembali melihat Takemichi berlarian karena dikejar Hanma.
Dan beberapa saat kemudian...
Mikey ikut mengejar Hanma.
Izana lelah.
Izana tertekan.
Izana capek.
Izana butuh sandaran.
Sabar ya, Za.
"Izana."
"Apakah kau tidak apa-apa?"
tanya Kakucho khawatir.
Wajah Izana terlihat memerah dan napasnya sedikit berat.
Izana menatap Kakucho dengan mata sayu.
"Apakah aku boleh bersandar di pundakmu?"
Kakucho langsung membeku.
"T-Tentu saja!"
"Haha..."
"Kalau mau, di dadaku juga tidak apa-apa."
ucapnya dengan wajah yang mulai memanas.
Izana tidak banyak bicara.
Ia langsung menyandarkan tubuhnya ke Kakucho dan memeluknya.
Ah...
Memang benar.
Pelukan dari seseorang yang saling menyayangi terasa sangat nyaman.
Bruk.
"Hm?"
Kakucho menoleh.
"Ada apa itu?"
.
.
.
.
Di sisi lain...
"Takemichi!!"
teriak Mikey bersamaan dengan suara jatuh.
Bruk!
Takemichi tersandung dan jatuh ke lantai.
"Hiks..."
"Sakit..."
ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak apa-apa?"
Mikey langsung membantunya berdiri.
Ia kemudian melihat lutut Takemichi yang terluka dan berdarah.
"Apakah dia baik-baik saja?"
Hanma juga mulai khawatir.
Bagaimanapun juga, semua ini berawal karena ia mengejar Takemichi.
"Tidak apa-apa."
"Aku akan membawanya ke kamar."
ucap Mikey.
"Kau jangan macam-macam dengannya."
kata Hanma.
Mikey langsung menatapnya datar.
"Iya."
"Tenang saja."
Ia kemudian menggendong Takemichi menuju kamar.
Hanma akhirnya duduk di samping Kakucho yang sedang memangku Izana yang tertidur pulas.
"Dia kenapa?"
"Ada sesuatu?"
tanya Kakucho.
Hanma menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Michi jatuh."
"Lalu Mikey membawanya ke kamar."
"Ooh."
Kakucho hanya mengangguk santai.
"Aku ke ruang tengah dulu."
"Mau santai nonton TV."
ucap Hanma sebelum pergi.
"Ya."
jawab Kakucho singkat.
.
.
.
.
Sementara itu...
Di kamar.
Mikey mendudukkan Takemichi di atas kasur.
Ia kemudian mencari kotak P3K untuk membersihkan luka di lututnya.
.
.
.
.
Skip.
Setelah selesai mengobati luka Takemichi...
Mikey duduk di sampingnya.
"Takemichi."
"Masih sakit?"
tanyanya pelan.
"Masih..."
"Punggungku panas."
ucap Takemichi dengan mata berkaca-kaca.
Mikey terlihat bingung.
"Padahal tadi kau tidak jatuh mengenai punggung."
Ia mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
Namun memang tidak ada benturan yang mengenai punggung Takemichi.
Takemichi menatapnya pelan.
"Mikey-kun..."
"Boleh peluk?"
Matanya terlihat sayu.
Mikey langsung membuka kedua tangannya.
"Ya."
"Sini."
Tanpa ragu, Takemichi langsung memeluknya dan menyandarkan kepalanya di dada Mikey.
Mikey mengusap rambutnya perlahan.
Menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut.
Tak lama kemudian...
Napas Takemichi mulai teratur.
Ia tertidur.
Mikey tersenyum kecil.
Ia tetap memeluk Takemichi sambil terus mengusap rambutnya.
Dan tanpa sadar...
Dirinya sendiri juga mulai mengantuk.
Tidak lama kemudian, Mikey ikut tertidur di samping Takemichi.
.
.
.
.
.
...-TO BE CONTINUED-...
makasih ya kak udah up banyak
hore kakak up
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak