Satrio Hartanto atau biasa di panggil Ario adalah seorang pemuda desa berusia 25 tahun, dia tumbuh di dekat pesisir pantai dengan penduduk tidak terlalu banyak. Dia dua bersaudara mempunyai adik bernama Anggoro yang baru lulus SMP.
Ibunya bernama Ropi'ah seorang penjual nasi di warung pinggir pantai, warung yang terbuat dari bambu dan kayu sangat sederhana sekali tapi rapih dan bersih.
Ayahnyanya seorang petani dan peternak bebek biasa hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya saja.
Suatu hari kampung pesisir pantai itu di terjang tsunami setelah gempa besar, semua rumah di sana hancur dan terbawa arus tidak ada yang tersisa satupun dan hampir semua penduduk hilang terbawa arus tsunami, kecuali Ario dan keluarga karena sedang menghadiri acara perpisahan di sekolah Anggoro adiknya yang jaraknya satu jam perjalanan dari rumahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rorop, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Bertemu Kakek-kakek
Sampai di bengkel tepat jam 6 sore ke tiga karyawannya sudah pulang dan bengkel juga sudah di gembok daru luar, berarti Anggoro pulang ke rumah pikir Ario.
Ario memarkirkan mobilnya di halaman samping bengkelnya, lalu dia turun dan membuka pintu samping dengan kunci yang slalu dia bawa kemanapun.
Ario memastikan di bengkelnua tidak ada siapa-siapa, dia mulai membuka pintu bagasi dan mengeluarkan uang itu dan membawanya langsung ke kamarnya. Setelah itu baru dia menutup mobil dengan sarungnya dan mengunci pintu samping.
Ario merapikan uang itu di susun di lemari dengan plastiknya di masukin, ada 20 kotak dan masing-masing isinya 1m jadi semuanya uang itu ada 20m.
"ya tuhannn... Kalau memang ini uang milikku, smoga uang ini menjadi berkah dan lebih bermanfaat buat orang yang membutuhkan. Tapi kalau ini milik orang lain tolong beri petunjuk supaya uang ini kembali ke pemiliknya yang asli" gumam Ario.
Setelah uang itu rapi tersusun di lemari lalu dia menutupnya dengan pakaian supaya tidak terlihat, setelah itu baru dia mengunci lemarinya dan mencabut kuncinya dan menyimpannya di tas slempangnya.
Ario masuk kamar mandi karena gerah dan lengket, setelah mandi dia memakai stelan trening kaos pendek yang sudah dia siapkan tadi waktu sebelum mandi. Ponsel Ario berdering dan langsung dia mengangkat teleponnya.
"abang di mana?" suara ibu terdengar di sebrang hp.
"aku baru sampai bengkel bu, baru selesai mandi juga" jawab Ario ketika ibunya bertanya.
"mau tidur di mana bang? Si adek udah pulang dari jam 5 sore tadi" tanya ibu lagi.
"aku tidur di sini aja buk, tapi mau pulang sebentar mau makan dulu" jawab Ario.
"ya udah abang di situ aja biar ayah anterin ke sana makan malamnya" ayah ikut nimbrung karena lagi duduk bareng ibu di sofa sambil nonton tv.
"iya ayah... jadi ngerepotin ayah, padahal anterinnya sama Anggoro aja yah" jawab Ario.
"Anggoro lagi belajar besok kan mulai masuk sekolah, tidak repot kok ayah mau jalan ke situ sambil ngerokok kalau di rumah gak bisa pasti di omelin ibu. Ok tunggu bentar ibu lagi nyiapin makan malamnya" jawab ayah.
"iya ayah, ayah suka ngerokok? Kirain gak ngerokok dari dulu gak pernah kelihatan?" jawab Ario heran.
"ngerokok sekali-kali aja kalau abis makan petai atau jengkol, tapi gak pernah di hadapan kalian ngerokoknya. Dan rokok ayah sebungkus gak abis seminggu kadang-kadang sebulan baru abis" jawab ayah.
"ya tetep aja ngerokok yah, hati-hati yah ayah kan usianya udah setengah abad lebih" jawab Ario
"iya ayah udah tua hehehe... Ngerokoknya dikit aja bang barusan ayah makan semur jengkolnya kebanyakan saking nikmatnya jadi mau ngerokok dikit hehehe..." ayah Andi cengengesan sendiri.
"ya udah terserah ayah, yang penting ayah sehat" jawab Ario
Selesai menelpon ayah Andi mematikan panggilannya dan menaroh hpnya di meja, beliau menghampiri istrinya yang sedang memasukan kotak makanan ke dalam tas kain.
"ini yah makananannya" kata ibu.
"iya bu, ayah langsung berangkat yah" jawab ayah sambil berlalu dari hadapan istrinya menuju pintu keluar diikuti bu Ropi'ah untuk mengunci pintunya.
Sampai di luar ayah mengeluarkan satu batang rokok dan menyalakannya, sambil berjalan beliau menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya dengan asik.
Tidak lama kemudian beliau sampai di bengkel Ario beliau mematikan rokoknya yang baru abis setengahnya, lalu ayah menyimpan rokok itu di atas bangku panjang depan bengkel ario karena nanti mau di nyalakan lagi sambil pulang pikirnya. Beliau sangat baik memberikan contoh kepada anak-anaknya, gak pernah merokok di depan orang apalagi di depan anak-anaknya beliau sangat hati-hati kalau bertindak.
"bang ini ayah" tok tok tok... Ayah memanggil anak sulungnya sambil mengetuk pintu samping.
"iya ayah" jawab Ario dari dalam lalu mumbuka pintunya.
"ini makanannannya bang, ayah mau langsung pulang lagi mau menikmati udara malam sambil meihat hasil coran tadi siang" kata ayah sambil menyodorkan tas makanan kepada Ario.
"terima kasih yah, ayah gak masuk dulu?" jawab Ario.
"tidak bang, ayah mau lihat coran dulu" jawab ayah ya beliau mau melihat hasil corran pembangunan rumah makan itu sambil meneruskan ngerokok tentunya.
"iya" jawab Ario.
Ayah membalikan tubuhnya dan berjalan menjauh dari pintu beliau mengambil lagi puntung rokok yang di taroh di bangku kayu tadi, Ario menutup pintu dan menguncinya karena dia sudah sangat lapar apalagi mencium aroma masakan ibu yang membuat dia tambah lapar.
Ario makan sangat lahap sekali belado ikan tongkol dengan semur jengkol membuat dia tambah lahap, karena masakan itu makanan paforit keluarganya selain bebek goreng dan tumis kangkung dan belado ikan kembung.
"alhamdulillah nikmat banget" gumam Ario setelah selesai makan dan habis tak tersisa sedikitpun, dia langsung mencuci kotak makannya sambil cuci tangan.
Ario duduk selonjoran di sofa sendirian, dia mulai bepikir menyusun rencana kedepannya tentang pembangunan resort di tanah orang tuanya di kampung Pesisir itu.
Ario mengambil laptopnya dari kamar lalu dia kembali ke sofa dan menyalakan laptopnya, dia mulai menggambar desain resort dan mendesain tata rumah di kampungnya. Dia sangat cerdas dan mahir mendesain bangunan padahal sekolahnya jurusan mesin dan perbengkelan, tapi apapun yang dia kerjakan hasilnya selalu sempurna.
Ario asik menggambar desain resort taman dan rumah, dia menggambar dengan beberapa desain supaya nanti dia bisa memilih mana yang benar-benar cocok dengan letak tanahnya.
Setelah merasa cukup membuat beberapa desain bangunan, Ario menyimpannya di flashdisk dan mematikan laptopnya.
"udah jam 10 malam rupanya, pantesan mataku udah sepet" gumam Ario.
Ario masuk kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya.
***
"hi anak muda kamu sedang apa berdiri sendirian di sini?" tanya seorang kakek berjanggut putih dan berpakaian pangsi lengkap dengan ikat kepala memakai tongkat kayu yang pegangannya terbuat dari tanduk.
"aku sedang bingung kek" jawab Ario.
"bingung karena memikirkan uang 20 m itu ya?" kata si kakek sambil mengetuk-ngetuk tongkat kayunya ke batu kerikil.
"kakek kok tau?" Ario heran padahal belum cerita kepada siapapun tentang uang itu, hanya dirinya seorang yang tau.
"ya taulah itu kan uang milik cucu kakek, sayangnya dia dan keluarganya tidak selamat terbawa tsunami ke tengah laut dan kerangkanya gak bisa di evakuasi karena ada di dasar laut yang dalam" si kakek itu menitikan air matanya sedih.
"di mana kek biar aku beri tahu tim sar untuk mengevakuasinya?" kata Ario serius.
"gak bisa nak mereka berjauhan di dasar laut, tidak apa-apa tidak usah di evakuasi karena sudah takdir mereka meninggalnya seperti itu" jawab si kakek tertunduk sedih.
"kalau gitu aku kembalikan uangnya kepada kakek, maaf ya aku membawanya ke kamarku kek karena aku tidak tau itu uang siapa aku mengamankannya di kamarku" kata Ario.
"tidak usah nak kakek akan mempercayakannya uang itu padamu, kelolalah uang itu dengan baik buat kehidupanmu kelak. Kakek sudah menganggapmu cucu kakek, oh ya nanti setelah bikin resort dan rumah di sini tolong buatkan panti asuhan belakang bengkelmu ada tanah kosong yang mau di jual. Belilah tanah itu dan buatkan panti asuhan, Kakek sudah gak punya siapa-siapa karena anak kakek cuma satu dan cucu kakek juga cuma satu dan suami mereka dan cucu buyut kakek satu mobil terseret arus tsunami ke dasar laut sana jauh sekali dan sangat dalam jadi keluarga kakek tidak tersisa satupun hiks hiks" si kakek menangis tersedu-sedu dan duduk di atas batu.
"kakek yang sabar ya sudah takdirnya seperti itu, kakek tinggal sama aku aja kita bikin panti asuhan dan panti jompo di sana supaya kakek banyak temannya" Ario menghampiri kakek itu dan memeluknya, tapi kakek itu menggeleng dan tiba-tiba menghilang.
"kek... Kakek... Kakek di mana?" Ario memutar pandangannya tapi si kakek tidak ada di sana, lalu dia memanggil-manggil lagi kakek itu sambil mencarinya tapi tidak di temukan kakek itu.
"astagfirullah... Rupanya cuma mimpi..." Ario mengusap mukanya ketika dia tersadar dari mimpinya.
Ario duduk di samping tempat tidur dan meraih ponselnya di meja, dia melihat jam di hpnya ternyata baru jam 3 dini hari.
"mungkinkah mimpi ini sebagai petunjuk dari allah???..." gumam Ario sambil mengingat ucapan kakek itu dalam mimpinya.
yang genit itu.gimana reaksinya..
tidak hanya ario saja tapi ibunya juga bisa kembali bertemu dengan saudara kandungnya.tentu makin bahagia dan sejahtera saja keluarga besar ario
semangat ya ditunggu kelanjutannya..
semoga awet bisa menua bersama
hingga maut yang memisahkan
moga bahagia terus sampai menua bersama hingga maut yg memisahkan