NovelToon NovelToon
Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:101.4k
Nilai: 5
Nama Author: Erni sari

Wajah gadis yang menabraknya di halaman mesjid, selalu terpampang jelas dibenaknya.
Akhirnya mereka bertemu kembali di tempat yang berbeda, bahkan akan sering bertemu karena ternyata Icha bekerja di toko buku yang sama dengan Fahry.
Seiring berjalannya waktu, mereka menaruh perasaan di hati masing-masing.
Hingga pada suatu hari, Fahry berniat melamar Icha untuk jadikan istrinya.
Namun, Icha kembali berselisih paham dengan keluarganya, karena tidak merestui hubungan mereka, sebab Fahry tidak sesuai kriteria dan derajat mereka.
Fahry berusaha membuktikan kepada keluarga calon istrinya, jika dirinya mampu membahagiakan Icha.
Apakah cinta mereka akan bersatu?

Yuk simak ceritanya!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erni sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pada hari minggu, toko masih buka walaupun hanya setengah hari.

Karena Fahry sudah menerima upah perbulannya kemarin, jadi sebagian uangnya disisihkan untuk bersedekah.

Sepertinya hari ini, ia sudah memesan beberapa bungkus makanan yang akan ia bagikan di jalan.

Karena hari semua karyawan pulang di siang hari, Icha memperhatikan Fahry yang tampak kesusahan membawa kantong plastik besar yang berisikan kotak makanan.

Icha melangkah mendekatinya, karena ia menunggu abangnya yang tak kunjung datang untuk menjemputnya.

Walaupun hari Minggu, Dika harus bekerja karena ada pekerjaan tambahan beruntung hanya setengah hari saja.

“Apa perlu aku bantu?” tanya Icha menghampirinya.

Fahry menoleh.

“Apa aku merepotkanmu?” tanya Fahry balik.

“Tidak. Anggap saja itu tanda terimakasih sudah mengantarku kemarin,” sahut Icha.

“Tapi, kamu mau pulang, bukan?”

“Sepertinya Abang banyak pekerjaan di kantor. Aku juga tidak ada pekerjaan di rumah,” sahutnya Icha.

“Baiklah, jika itu tidak merepotkanmu.”

“Tunggu sebentar. Aku akan menghubungi Abang dulu,” pamit Icha.

Ia merogoh ponsel ke dalam tas kecil miliknya, lalu menghubungi Abangnya.

Tut! Tut!

Panggilan pertama tidak di jawab, ia mencoba lagi untuk memanggil kembali.

Tut! Tut!

“Assalamualaikum, halo dek. Maaf, Abang terlambat sedikit.”

“Waalaikumsalam... Bang. Apa Abang sudah berangkat?” tanya Icha.

“Belum. Lima menit lagi Abang jemput,” sahutnya dari dalam ponsel.

“Abang. Icha izin membantu Fahry, boleh tidak? Fahry sangat kesusahan membawa barang, jadi sebagai tanda terimakasih jadi Icha ingin membantunya,” tanyanya.

“Iya dek. Hati-hati di jalan,” sahut Dika.

“Iya Bang. Terimakasih,” ujar Icha.

“Iya, sama-sama. Kalau sudah selesai, hubungi Abangnya, nanti Abang akan menjemputmu.”

“Iya Bang. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam...”

Icha mengakhiri panggilannya dan melangkah kembali mendekati Fahry, karena sebelumnya ia sedikit menjauh saat menghubungi kakaknya.

“Ayo,” ajak Icha sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“Apa Abang Dika mengizinkan mu?” tanya Fahry dengan berhati-hati.

“Iya,” sahut Icha singkat.

Fahry menghidupkan motornya, Icha meletakkan plastik besar tersebut di tengah mereka dan perlahan dirinya naik ke motor tersebut.

Fahry mengendarai motornya dengan hati-hati, melaju ke tempat yang ia tuju.

Sesampainya di sana, Icha melihat ada beberapa rumah kecil, di huni oleh para lansia.

Icha turun dari motor, sambil mengangkat plastik besar yang sedikit kesusahan mengangkatnya.

“Maaf, pasti sangat berat ya?” ujar Fahry mengambil plastik tersebut dari tangan Icha.

“Lumayan, tapi aku masih kuat kok.”

“Iya. Terimakasih sudah membantuku,” ujar Fahry.

“Sama-sama.”

Icha mengekori belakang Fahry, tampak mereka antusias melihat kedatangan Fahry.

Fahry mengambil beberapa kotak yang berisi makanan tersebut, lalu mengeluarkan amplop dari tas kecil miliknya dan membagikannya satu persatu kepada para lansia tersebut.

“Ya Allah, terimakasih Fahry tambah lancar rezekinya. Semoga pernikahan kalian langgeng terus dan diberikan anak yang banyak,” Ujar salah satu wanita yang sudah berumur tersebut.

Fahry tersenyum.

“Kami bukan suami istri Nek. Kami juga belum menikah,” sahut Fahry tersenyum.

Sedangkan Icha hanya tertunduk malu, mendengar tutur wanita tua tersebut.

“Oh maaf. Kalau begitu, semoga kalian secepatnya menikah,” ujarnya lagi.

“Tapi, kami...”

Belum sempat Fahry menyelesaikan perkataannya, ada seseorang yang memanggilnya.

“Nak Fahry,” panggilnya.

lelaki tua berjalan menghampirinya dengan tongkat ditangannya, dengan kaki yang bergetar ia perlahan melangkah.

“Wah, kakek sudah sehat ya. Sudah bisa jalan sekarang,” ujar Fahry tersenyum melihat lelaki tua tersebut.

Fahry memegang tangannya dan membantunya duduk di kursi tersebut.

“Alhamdullilah. Kakek sudah sehat, ini semua berkat kamu Fahry,” ujarnya.

“Semua kehendak Allah, kakek.”

Mereka bercanda bersama, sedangkan Icha hanya jadi pendengar sesekali ikut tertawa.

“Siapa wanita yang ada di sampingmu? Apa dia istrimu atau kekasihmu?” bisik lelaki tua tersebut.

“Oh ini. Perkenalkan kek, namanya Icha. Teman Fahry di tempat Fahry bekerja,” sahutnya.

Icha mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan lelaki tersebut.

Setelah selesai membagikan kotak makan, mereka berpamitan dan melangkah menuju motor mereka.

“Apa Kamu mau pulang?” tanya Fahry.

“Aku bisa mengantarmu, sekarang,” tambah Fahry.

Icha tidak menjawab, akan tetapi netranya tertuju pada plastik yang berisi kotak makanan tersebut masih tersisa cukup banyak.

“Itu akan aku bagikan kepada pemulung dan lainnya,” ujar Fahry mengerti dengan tatapan Icha.

“Bukan begitu. Apakah aku boleh ikut membantumu, untuk membagikan ini?” tanya Icha.

Fahry berpikir sejenak, lalu mengangguk.

Icha tersenyum simpul melihat Fahry mengangguk. Melihat senyum manis dari bibir Icha, Fahry langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.

Tiba-tiba saja jantungnya berdebar sangat kencang, untuk pertama kalinya.

“Kenapa ini? Kenapa jantung tiba-tiba berdebar begini?” gumamnya dalam hati.

“Fahry, ada apa? Apa kamu sakit?” tanya Icha melihat Fahry memegang dadanya.

“Hah? Tidak,” sahut Fahry cepat.

“Ayo naik,” ajak Fahry karena sudah menghidupkan motornya.

Icha perlahan naik dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.

Sebelum melepaskan rem tangan motornya, Fahry menghela nafas terlebih dahulu agar menghilangkan sedikit rasa gugupnya.

Fahry melaju ke tempat yang biasa ia kunjungi, lalu membagikan kotak makanan tersebut kepada pengemis dan juga pemulung.

Bahkan Icha juga ikut membantunya, terlihat dari wajah orang yang menerimanya terlihat bahagia begitu pun juga dengan Fahry dan Icha.

Tanpa Icha sadari ada yang menatapnya mereka, dari dalam mobil yang berhenti di lampu merah lalu lintas.

Lalu memotret Icha secara diam-diam, saat bersama Fahry yang sedang membagikan makanan ke pemulung.

“Kak Fahry,” Panggil seorang anak kecil yang menenteng karung di bahunya.

Icha dan Fahry menoleh ke arah sumber suara.

“Ifal, kamu disini?” ujar Fahry setengah berteriak.

“Iya kak. Ifal mencari botol bekas bersama Ibu,” sahutnya menunjuk ibunya yang tengah duduk karena sedikit kelelahan, mendorong gerobak kecil mereka.

“Kakak sedang apa di sini?” tanya Ifal.

“Ini, untukmu dan juga ibumu.”

Fahry menyerahkan kotak berisi makan dan juga amplop yang berisi uang.

“Tapi kak, Ifal dan ibu sudah makan,” sahut polos bocah berusia 10 tahun tersebut.

“Ya disimpan untuk nanti. Ketika Ifal dan ibu lapar,” ujar Fahry.

Ifal mengangguk.

“Terimakasih kak,” ujar Ifal lalu mencium punggung tangan Fahry dan Icha secara bergantian.

Hati Icha tersentuh melihat seusia Ifal harusnya bermain, tapi sibuk mencari rongsokan untuk membiayai hidup mereka.

Sebelum ada yang melihatnya, Icha dengan cepat menghapus air matanya.

Ifal berlari kecil menghampiri ibunya, terlihat ibunya seperti bertanya dari mana Ifal mendapatkan makanan tersebut.

Ifal menunjuk ke arah Fahry, netra ibunya mengikuti arah tangan Ifal. Ia menyatukan kedua tangannya, tanda berterima kasih kepada Fahry.

Fahry tersenyum lalu mengangguk.

“Dia sangat lucu ya,” tutur Icha melihat wajah Ifal yang menggemaskan.

“Iya. Selain lucu, Ifal juga sangat sopan,” sahut Fahry.

Setelah selesai, Fahry kembali mengendarai motornya untuk mengantar Icha pulang ke rumahnya.

“Terimakasih ya Fahry, sudah mengantar ku. Tapi, mohon maaf sebelumnya, aku tidak bisa mengajakmu masuk. Karena Abang belum pulang,” ujar Icha.

“Tidak apa-apa Icha. Terimakasih sudah membantu ku hari ini,” sahut Fahry.

“Iya, sama-sama. Dengan senang hati aku membantu.”

“Baiklah, aku pulang dulu. Assalamualaikum,” pamit Fahry.

“Waalaikumsalam...” sahut Icha.

Fahry mengendarai motornya untuk kembali pulang, setelah melihat kepergian Fahry Icha masuk ke dalam rumah.

Hari ini Icha dan abangnya Kembali ke rumah, sepetinya janji abangnya kemarin malam.

Ia mengemasi semua pakaiannya dan memasukkan ke dalam koper kecil miliknya.

Terdengar suara dering ponselnya, menandakan ada pesan masuk. Ia melihat pesan tersebut dari Mamanya.

“Jam berapa pulang?” tanyanya.

“Tunggu Abang Ma,” Balas Icha.

“Memangnya Abang Kemana?” tanyanya lagi memalui pesan tersebut.

“Abang, ada pekerjaan tambahan. Mungkin sebentar lagi pulang, hanya setengah hari saja.”

“Abang sudah datang, Ma.”

Icha kembali mengirim pesan, saat mendengar suara deru mesin mobil berhenti di depan rumah.

“Iya. Hati-hati ya. Mama sudah memasak banyak, kita akan makan sore di rumah bersama,” ujarnya mengirim emoji Love kepada putrinya tersebut.

“Iya, Ma.”

Icha juga mengirim emoji yang sama.

Terdengar dari kamar, Dika mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah.

“Assalamualaikum...”

“Waalaikumsalam, Bang.”

Icha mencium punggung tangan Abangnya.

“Apa Icha sudah sejak tadi, pulang?”

“Baru saja bang,” sahut Icha.

Ia melangkah ke dapur untuk mengambil air putih untuk Abangnya, Dika terduduk sambil memijit pelipis kepalanya yang terasa pusing.

“Abang pusing?” tanya Icha melihat wajah Abangnya terlihat kusut.

Dika menggelengkan kepalanya pelan, lalu mengambil gelas yang ada di tangan adiknya.

1
Anonim
M
Syahrial 01
wulan apa adita thor..
Erni Sari: Adita kak, typo itu.
maaf, nnti di revisi.
total 1 replies
TK
☕ Thor
semangat ya 👍
Apa aja boleh
Assalamualaikum ukhti, Keren banget
Hanum Anindya
keren banget!
Novel dewasa islami ini sangat berguna untuk dibaca oleh remaja dan orang dewasa kerena banyak inspirasi yang didalam ceritanya. Sebuah cerita yang patut diacungi jempol. sukses selalu buat kakakku sayang😍
Erni Sari: Makasih banyak sayang, sukses terus juga buat kamu.
novelmu juga tidak kalah kerennya
total 1 replies
Hanum Anindya
Alhamdulillah semoga novel ini berkah ya kak, bisa diterbitkan di penerbit terkenal atau bisa saja diterbitkan oleh noveltoon
Erni Sari: Aamiinn, semoga cerita kita bisa diterbitkan oleh noveltoon ya dek.
total 1 replies
Hanum Anindya
kasihan juga sih melihat sang ayah harus kehilangan putrinya. yupz perceraian memang di perbolehkan tapi juga diharamkan kerena yang jadi korban adalah anak.
Hanum Anindya
Kerena ceritanya, buku yang harus dijadikan inspirasi buat para remaja maupun penulis lainnya, supaya bisa membuat cerita yang benar benar seperti novel Assalamualaikum, Ukhti.

Wajib disandingkan dengan novel novel ternama, semoga saja para penulis bisa mengikuti jejak author Erni Sari. Mantap kak😍
Hanum Anindya
mudah mudahan indah hamil kak
Hanum Anindya
malam pertamanya ada palang merah ya kak, jadi nggak langsung 😂😂😂.
kadang kalau menikah tanpa pacaran malu malu waktu malam pengantinnya. Mau tidur takut, nggak tidur cape. 😂😂😂😂😂

lanjut kak, tetap semangat ya kak.
Hanum Anindya
wah Adita senang nih dapat kejutan dari Arif😊
Astuty Nuraeni
nyesel kan pak? rasain makannya jangan jahat
Astuty Nuraeni
seneng bacanya...
Hanum Anindya
Arif kau main rahasia rahasia juga ya, bikin kejutan pada Adita biar Adita kaget dan bahagia ya.

untung Dika nggak keceplosan wah kalau keceplosan bagaiamana tuh.
R.F
3like hadir kk semangat
Hanum Anindya
Alhamdulillah kalau anggun menjadi baik semoga Istiqomah.

Arif kok lebih percaya Aditya sih dibandingkan Adita sih! gemes pengen nyabok Arif 🤭
Hanum Anindya
dag Dig dug baca bagian ini pas Adita meninggalakan Eza buat nyari minuman. takut di culik sama Aditya. untung nggak di culik
Hanum Anindya
kok bisa bisanya Aditya datang ke rumah Adita, tahu gitu rumahnya Adita. perusuh datang kak
Hanum Anindya
Alhamdulillah semoga bahagia ya Adita dengan Arif. waduh jangan lama lama meninggalakan Adita Arif
Hanum Anindya
kaya Adita suka sama Arif cuma masih malu malu kucing deh.

kok aneh Adita waktu nyusul pake motor tapi pas pulang mau dianter lalu motornya di parkir Dimana? Adita ada ada saja
Erni Sari: di rumah Arif, motornya ditinggal, karena hujan kasihan anaknya wkwk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!