Demi menghindari rentenir kejam yang hampir melecehkannya, Raisa terpaksa meninggalkan kekasihnya Yudha dan memilih merantau ke Kota metropolitan.
Raisa mengikuti jejak temannya bekerja di kelab malam, tanpa diduga Raisa bertemu dengan seorang pengusaha muda angkuh dan berwatak dingin yaitu Dava. Pertemuan itu membawa mereka pada kontrak pernikahan.
Bagaimana rumah tangga Raisa dan Dava yang diawali tanpa ada cinta?
Pada siapa akhirnya cinta Raisa akan berlabuh? Dava atau Yudha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Pulang
19
Rahang Morgan mengeras, kepalan tangannya semakin kuat. Tatapan iri dan benci terpancar dari kedua matanya karena ia tidak menyangka dengan mudah kakek menyerahkan kekuasaa kepada Dava yang jelas masa menikahnya baru menghitung jam.
Sedangkan setelah ia menikahi Fana kakek mengujinya sebelum benar benar menyerahkan jabatan itu, tapi Dava sungguh luar biasa mudahnya ia bisa mencapai puncak kejaya. Dengan kesal Morgan menghentakan kaki keluar dari acara pernikahan yang masih berlangsung di gedung itu.
Begitu juga dengan Fana, raut wajahnya semakin memerah. Bukan hanya kerena kedudukan Dava lebih berkuasa dari Morgan suaminya.
Tapi juga karena kemesraan yang dipertontonkan Dava dan Raisa di depan semua orang. Wanita itu seolah mengatakan kalau ia beruntung dan bangga menjadi istri Dava.
Lihatlah Raisa mengangkat kepalanya, bergantian menerima ucapan selamat dari beberapa tamu penting kakek. Fana benar-benar merasa muak melihatnnya.
"Aku nggak akan biarkan kebahagiaan ini berlangsung lama, lihat saja aku akan menghancurkan rumah tangga kalian berdua ,"batin Karina.
Semua ini berawal dari tawaran Morgan mengajaknya menikah, demi mendapatkan kekuasaan dan kekayaan yang selama ini menjadi impian, Fana setuju saja dan rela meninggalkan daan mengkhianati Dava yang saat itu masih menjadi kekasihnnya. Dava bahkan sangat setia dan mencintainya.
Jujur, Fana merasa panas dan terbakar api cemburu saat menyaksikan adegan demi adegan yang dipamerkan Raisa dan Dava. Untuk sesaat ia bertemu pandang dengan Dava. Namun, pria itu yang mengakhirinya lebih dulu.
'Tunggulah pembalasanku,' batin Dava penuh dendam. Ia akan menyusun strategi untuk mengembalikan serangan yang dilyangkan Morgan dan Fana padanya.
***
Malam semakin larut, acara demi acara sudah berlalu, para tamu undangan bergantian meninggalkan pesta, walau pun tidak banyak tamu yang di undang, tapi tetap saja aula ini di penuhi beberapa tamu penting.
Makanan mewah dan dekorasi cantik tidak bisa dirasakan Raisa mengingat ia menikah tanpa dihadiri pihak keluarga. Baik bibi maupun ibu, meskipun pernikahan ini hanyalah sandiwara belaka, tapi ia tetap ingin ibunya mendampinginya.
Kakek dan Mama Maya sudah lebih dulu meninggalkan acara dan sudah kembali pulang ke rumah utama. Kini, tinggalah Raisa dan Dava-sepasang pengantin yang baru saja menikah.
Dava merasa sangat puas dengan peran yang dimainkan Raisa, akting yang benar benar membanggakan baginya.
"Berkat akting-mu malam ini, aku pastikan kamu akan menerima uang itu nanti."
Wajah Raisa semakin berbinar, sendunya hilang sudah. "10 juta, Mas?" Ia memanjangkan kaki mengejar langkah Dava.
"Hem." Dava hanya berdehem singkat lalu masuk ke mobil disusul istrinya itu.
Mobil mewah yang dikemudikan sopir
telah meluncur meninggalkan hotel tempat pernikahan, gelapnya malam yang hanya di terangi cahaya lampu seadanya menambah suasana di dalam mobil kian kaku mencekam.
Dava tidak bicara apapun. Sedangkan Raisa hanya menatap nanar ke luar jendela, untuk melirik suaminya saja ia merasa tidak sanggup, aura Dava malam ini memang berbeda dan lebih menakutkan. Dava lebih banyak diam, tidak seperti sebelum menikah.
"Mulai hari ini kamu tinggal di rumah utama. Aku harap kamu bisa menjaga sikapmu, jangan sampai ada yang tau, kalau kamu ini seorang wanita malam yang aku bayar." Suara merendahkan itu kembali terdengar di telinga Raisa.
Raisa lelah berdebat dan menjelaskan pada orang yang tidak mau percaya padanya, ia pun tidak kalah diam juga.
Kini mobil ini sudah memasuki pekarangan rumah mewah milik kakek, sudah ada para pelayan menunggu kedatangan Dava, salah seorang pelayan membukakan pintu untuk Dava.
" Selamat datang, Tuan," ucap pelayan tersebut sembari membungkukan punggungnya. Dava hanya acuh melewatinya.
"Selamat datang Nona! " Ia melakukan hal yang sama kepada Nona baru di rumah ini, Raisa hanya tersenyum tidak berani bicara karena Dava terus menatapnya.
"Apa kamu mau terus terusan berdiri di situ?" Dava kesal karena Raisa masih berdiri di dekat mobil.
"Nggak."
Sudah hampir tengah malam, para penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya. Menciptakan kesunyian di dalam rumah ini. Dava menapaki satu persatu anak tangga meninggalkan Raisa sendiri di ruang tamu. Baru beberapa jam menikah tapi sikap Dava sudah semakin menjengkelkan.
Mungkin, karena Dava telah berhasil mendaptkan perusahaan menjadikan pria itu semakin angkuh dan semakin tidak mengganggap Raisa ada.
Raisa takjub sekaligus bingung berada di rumah mewah milik keluarga kaya ini.
"Apa yang harus aku lakukan sskarang? kenapa Mas Dava nggak ngajak aku istrahat?"
Rasa sopan dan segan yang ia miliki mengharuskan ia tetap menunggu di lantai dasar di mana Dava meninggalkan ia tadi. Tidak mungkin Raisa memeriksa rumah mencari tempat untuk beristrahat tanpa didampingi pemilik rumah. Raisa tidak seberani itu.
" Aku naik gak ya? kalau naik pasti anak manja itu marah, tapi gak mungkin aku tetap disini'kan ? "
"Nona ! " seorang pelayan datang tergesa gesa dari arah dapur." Nona , Tuan ini Tuan Nona ! " serunya lagi menyerahkan benda pipih kecil kepada Raisa dalam kebingungan Raisa menerimanya.
"Tuan siapa ?" tanya Raisa kepada pelayan.
"Kamu mau cari masalah, ya?" bentak seseorang di sebrang sana.
"Si -siapa ? " tanya Raisa yang belum juga menyadari ada orang yang sedang murka karena menunggunya.
" Halo ini Tuan siapa? kenapa marah marah?"
"Waktumu cuma lima menit, cepat naik ! " bentakan itu terdengar lagi, membuat Raisa menjauhkan handpone dari telinganya.
" Siapa yang telfon? aku harus naik kemana?"
"Maaf Non ! sebaiknya Nona langsung naik ke atas, sepertinya Tuan Dava sangat marah."
"Dava? Jadi itu suara Mas Dava?" Raisa panik seketika. "Habislah aku."
" Dimana kamarnya ? "Raisa tidak mau membuang waktu, karena poin penting sudah berjalan, perintah Dava harus dilaksanakan.
Akhirnya Raisa sampai di depan kamar yang ditunjukan pelayan, dengan nafas yang masih belum teratur, ia mengetuk pintu kamar Dava, jangan sampai anak manja ini murka lagi.
Sudah tiga kali ia mengetuk pintu, belum juga ada tanda tanda ada orang di dalamnya. Raisa memberanikan diri membuka pintu yang memang tidak terkunci.
" Kemana dia ? " gumam Raisa ketika tidak menemukan keberadaan Dava, kini Raisa mulai masuk ke kamar pribadi suaminya.
" Kamar apa ini ? Semua serba warna hitam."
Raisa memperhatikan sekeliling kamar, terdapat ranjang dengan ukuran yang besar, rak buku yang tersusun rapi, sofa panjang yang ada di dekat lemari pakaian. Ruangan ini sangat menggambarkan sikap garang pemiliknya, dingin dan tak tersentuh.
Raisa tertarik dengan salah satu miniatur tokoh super hero di salah satu film animasi yang ada di lemari buku, ia mengambil dan menyentuh tanpa ijin dari pemiliknya.
" Luar biasa, umurnya sudah 30 tahun, makanannya harus selalu disajikan, dan di dalam kamarnya terdapat banyak miniatur seperti ini, anak manja yang sudah besar ckckck ! " Raisa menutup mulutnya menahan tawa.
" Kamu bilang apa?"
Suara Dava membuat ia terperanjat dan tanpa sadar ia menjatuhkan benda yang di tangannya.
lanjut kakakakk...
💖💖💖💖
Raisa beda loh mas Dava dr cewe2 yg lain 😁