Ashilla tidak pernah menyangka jika di hari itu ia harus merelakan masa lajangnya, menikah dengan sosok yang tidak pernah ia kenal sebelumnya hanya karena ancaman dari sang paman yang akan menghentikan pengobatan adiknya yang tengah berjuang dalam masa kritisnya.
Hidupnya hancur, semakin hancur ketika ia mengetahui fakta sebenarnya mengenai alasan mengapa laki-laki itu memilih menikahinya.
Mampukah Ashilla menjalani biduk rumah tangga yang jelas-jelas tidak ada kata cinta didalamnya?
IG : reinata_ramadani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Perlu Repot ke Jakarta
°°°~Happy Reading~°°°
"Non Shilla sedang hamil. Karena itu, perasaannya jadi lebih sensitif. Tolong anda lebih bersabar lagi, tuan. Bagaimanapun non Shilla masih terlalu muda untuk mengandung, ini pasti tidak mudah untuk non Shilla," saran bi Asih yang tak sengaja mendengar pertengkaran kecil itu.
"Saya hanya memberikannya peringatan, Bi. Saya khawatir, kecerobohannya nanti akan berimbas pada calon anak saya," bela Damian.
"Saya paham, Tuan. Tapi, bukankah perasaan non Shilla jauh lebih penting? Ibu hamil yang stress dan banyak pikiran bisa menyebabkan kondisi janin yang dikandungnya lebih beresiko. Anda harus lebih berhati-hati dalam bersikap."
"Heummm, baiklah."
"Non Shilla masih di taman belakang. Anda cobalah ajak bicara. Sepertinya non Shilla masih sedih atas perkataan tuan tadi pagi," saran bi Asih.
Damian memang bukan sosok yang peka akan situasi sekitar. Bahkan bicaranya pun tak pernah ia pikirkan. Hanya asal bicara, menurut isi pikirannya. Jika dibiarkan begitu saja, bi Asih takut, Ashilla akan semakin terluka. Hati perempuan itu terlalu lembut dan mudah terluka. Ashilla masih terlalu muda untuk memahami sikap keras Damian.
Langkah kaki itu mengalun ragu mendekati sosok yang tengah duduk di sebuah taman dengan tatapan kosongnya.
Tanpa permisi laki-laki itu memilih duduk di sebelah Ashilla yang tampak melamun tak menyadari kehadirannya.
"Masih marah?"
Membuat Shilla sontak menoleh.
"Mas disini?" Perempuan itu bukan tipikal yang akan menunjukkan kemarahannya. Shilla hanya memendamnya, perempuan itu bahkan masih berbicara lembut pada suaminya.
"Kata bi Asih kamu disini. Jadi saya menyusul."
"Masih marah?"
Shilla menggeleng. "Tidak. Shilla memang salah karena tidak memikirkan janin yang Shilla kandung."
"Saya bukan bermaksud begitu. Saya hanya takut bayinya kenapa-napa. Saya minta maaf."
Shilla mengukir senyum, entah mengapa hatinya menghangat. Sikap lembut Damian nyatanya membuat hatinya merekah bahagia. Marahnya bahkan kini menguap begitu saja.
"Kamu suka duduk di sini?"
"Iya mas. Di sini hawanya sejuk, Shilla juga bisa lihat perkebunan teh dari sini. Shilla suka, pemandangannya bagus."
"Itu bagus. Jadi setelah saya membawa anak saya kembali ke Jakarta, kamu bisa menikmati tinggal disini."
Shilla menunduk, kepedulian itu terasa begitu menyesakkan. Sungguh Shilla tak ingin saat-saat itu hadir dalam hidupnya. Kehilangan keluarga kecilnya yang begitu berharga. Shilla tak rela.
"Nanti, setelah adek mas bawa ke Jakarta. Apa Shilla boleh berkunjung, saat Shilla kangen?"
"Nanti saya akan ke sini sesekali. Kamu tidak perlu repot-repot ke Jakarta."
Jawaban itu, penolakan itu, Shilla benar-benar tak berdaya. Jika suaminya saja sudah berkata tidak, maka ia pun tak dapat berbuat apa-apa.
"Sebaiknya kita ke dalam. Cuacanya semakin panas."
Shilla mendongak. Ya, panas matahari semakin terik. Namun, meski matahari tengah berada di titik tertingginya, tapi udara kala itu masih terasa sejuk karena villa yang kini ditempatinya berada di ketinggian.
Villa itu benar-benar cocok untuk dirinya. Namun, sedikitpun Shilla tak ingin tinggal jika tanpa adanya sosok sang suami juga buah hatinya.
Tak apa jika ia hidup di rumah reyot sekalipun, Shilla tak masalah. Yang terpenting, ia hidup di tengah kasih sayang keluarga kecilnya, harta paling berharga dalam hidupnya.
Keduanya kemudian bangkit dari duduknya. Damian lantas menuntun Shilla untuk di ajaknya menyantap makan siang bersama.
"Biar Shilla sendiri, mas." Perempuan itu menolak suapan Damian, dan lebih memilih menyantap makanan seorang diri.
Makan siang kala itu, hanya keheningan yang tercipta. Shilla yang tengah merasakan pahit getir kehidupan, hanya bisa menunduk sembari sesekali menghela nafas, berusaha menahan isak yang menuntut untuk diluruhkan.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕