Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan Yang Menyakitkan
Afgan segera pulang ke rumah setelah mendapat kabar bahwa Milan akan datang ke rumahnya untuk mengambil barang-barang miliknya yang tertinggal di rumah yang saat ini telah di huni oleh dirinya dan juga sang istri.
Afgan pun memarkir mobilnya di tepi jalan tepat di depan rumah, lalu segera keluar dengan sedikit tergesa-gesa.
Matanya nampak tertuju pada mantan kekasih yang saat ini mulai keluar dari dalam rumah dengan membawa koper berukuran kecil. Dia pun menghampiri wanita itu tanpa memikirkan perasaan istrinya yang saat ini melihatnya di balik pintu yang memang sedang dalam keadaan terbuka.
''Mil ...'' sapa Afgan berdiri di depan Milan.
''Gak usah minta maaf, istrimu sudah mengatakannya lebih dari 100x, telingaku jengah mendengarnya,'' ketus Milan berjalan melintasi Afgan menuju mobil miliknya yang terparkir di tepi jalan.
''Tunggu, Milan. Izinkan aku bicara sebentar aja.''
''Gak ada yang perlu di bicarakan lagi, kita sudah selesai, aku mengharamkan diriku sendiri untuk bicara sama kamu, Tuan Afgan ...'' Ketus Milan penuh kebencian.
''Aku hanya ingin bicara sama kamu untuk terakhir kalinya, setelah itu aku janji gak akan ganggu kamu lagi, Milan. Izinkan aku minta maaf dengan cara yang layak, aku tidak berharap di maafkan, tapi setidaknya beban di dalam hatiku akan terlepaskan jika aku sudah minta maaf dengan bersungguh-sungguh kepadamu, Mil.'' Afgan sedikit menaikan suaranya, agar mantan kekasihnya itu mendengar semua ucapannya.
Benar saja, Milan yang hendak masuk ke dalam mobil pun mengurungkan niatnya seketika, dia yang sudah membuka pintu mobil kembali menutupnya dengan sedikit bertenaga.
Afgan yang merasa senang karena akhirnya Milan bersedia berbicara dengannya segera menghampiri dan berdiri tepat di depan wanita pernah mengisi hatinya selama lebih dari tiga tahun itu.
''Milannita ... Aku hanya ingin minta maaf. Maaf karena telah melukai hatimu, maaf juga karena aku telah menerima perjodohan ini tanpa memikirkan perasaan kamu, tapi sungguh, ini diluar kendaliku sebagai seorang manusia.''
''Aku menganggap ini semua sebagai takdir, dan menandakan bahwa takdir cinta kita hanya sampai di sini, kamu tau kalau aku sangat mencintai kamu, tapi sebesar apapun cinta aku, itu semua tidak membuat kita berjodoh.''
''Aku hanya bisa berdoa semoga kamu bisa mendapatkan laki-laki yang layak, mencintai kamu tulus dan apa adanya, dan harapan terakhir aku adalah, melihat kamu bahagia. Sekali lagi maafkan aku, Milannita. Terima kasih juga karena kamu telah tulus mencinta aku selama ini,'' lirih Afgan panjang lebar dengan mata yang terlihat berkaca-kaca sebenarnya.
Tanpa terasa air mata Milan pun mengalir dengan begitu derasnya, wajah cantiknya basah dengan air mata kini, beban yang ingin dia lepaskan tanpa meneteskan air mata pun kini dia ingkari sendiri, karena nyatanya, air mata itu kian deras, membuat dadanya terasa sesak.
''Bo-bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya, Afgan ...?'' Pinta Milan dengan suara berat.
Afgan pun menganggukkan kepalanya, dan dadanya merasakan sesak juga sama seperti yang dirasakan oleh wanita yang sebenarnya masih dicintainya itu.
Perlahan, Afgan merentangkan kedua tangannya, memeluk tubuh ramping wanita yang selama ini dia rindukan itu. Walau bagaimanapun tidak mudah bagi mantan sepasang kekasih ini untuk menerima dan melupakan begitu saja perasaan yang telah terjalin begitu dalam di hati mereka masing-masing.
Afgan mendengar suara tangis kecil yang keluar dari bibir Milan, tangannya kini mengelus kepala gadis itu tanpa sadar. Air matanya pun kini mulai berjatuhan mengiringi perpisahan yang sebenar-benarnya ini.
Bagi Afgan inilah akhir dari perjalanan cintanya, akhir dari perasaan cintanya dan akhir dari penantian panjangnya selama tiga tahun ini. Mulai saat ini dia akan mengubur semua kenangan, cinta dan juga harapan-harapannya yang selama ini tertanam dalam di lubuk hatinya.
Sedangkan bagi Milan, ini adalah awal dari penderitaannya, penderitaan panjang dalam melupakan pria bernama Afgan, pria yang selama ini selalu menghujaninya dengan limpahan kasih sayang, pria yang selama ini memberinya janji-janji indah yang dia ucapkan dengan sangat meyakinkan.
Luka yang menganga di hati seorang Milan tidak akan mudah di obati, luka menganga yang menimbulkan lubang lebar di dalam hatinya itu sepertinya akan membuat seseorang Milan merasa trauma dalam merajut cinta dengan seorang pria.
Perlahan mereka pun mulai mengurai pelukan, melepaskan lingkaran tangan masing-masing dengan suara isak yang terdengar lirih dan pilu di telinga Afgan.
''Aku pamit. Semoga pernikahan kamu bahagia,'' lirih Milan dengan suara getir.
Afgan hanya mengangguk kecil tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia hanya bisa melihat tubuh langsing itu masuk ke dalam mobil, menutupnya dengan sedikit bertenaga, sampai akhirnya, mobil itu pun perlahan meninggalkan tempat itu.
Setelah menatap kepergian Milan, kini dia mulai masuk kembali ke dalam rumahnya, berjalan gontai menahan rasa perih di hatinya.
Afgan pun terlihat menarik napas panjang, membenahi perasaannya serta mengatur napasnya yang sempat berhembus tidak beraturan. Sampai akhirnya dia pun mulai masuk ke dalam rumah, mencari sosok sang istri yang mulai saat ini akan menemani hari-harinya ke depan.
''Alisya ...?'' suara Afgan terdengar menggema memanggil nama istrinya.
Dia pun menatap sekeliling rumah mencari tubuh mungil sang istri, sampai akhirnya dia pun menangkap sosok itu, Alisya berdiri tepat di depan mesin cuci, matanya kini tertuju pada tangan istrinya yang sedang memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci dengan sedikit di hentakkan.
Bruk ...
Al bahkan menutup pintu mesin cuci dengan bertenaga sehingga menimbulkan suara yang sangat nyaring, tak ketinggalan, bibirnya pun kini dikerucutkan sedemikan rupa membuat Afgan merasa ngilu dan tidak tahan ingin segera mel*mat bibir itu lahap selahap-lahapnya.
''Kamu kenapa, Al. Apa kamu marah sama aku?''
Al hanya terdiam, menahan rasa sesak di dadanya, rasa cemburunya seakan menggebu di dalam hatinya kini. Dan akhirnya dia pun menyadari bahwa dirinya sedang benar-benar dalam keadaan cemburu.
Alisya pun mengabaikan tatapan Afgan yang saat ini menatap dirinya dengan tatapan tajam dan senyum kecil yang mengembang di kedua sisi bibir suaminya itu, dia berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang sedikit dihentakan layaknya anak kecil yang sedang merajuk, dengan bibir yang semakin dikerucutkan sedemikan rupa membuat Afgan semakin tersenyum merasa lucu.
Sementara itu, Afgan yang sudah tidak tahan lagi melihat bibir istrinya yang terlihat begitu menggoda, segera mengejar sang istri lalu meraih tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam gendongannya, setelah itu dia pun berjalan dengan setengah berlari, masuk ke dalam kamar. Membuat Alisya yang terkejut pun berteriak kencang.
''AFGAAAN ...'' teriak Al menggema di udara.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀