Sekuel Istrinya Ustadz?
Ustadz Afkha atau Adzraffa Khayru Al-jaris tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, apalagi memiliki niat berpoligami. Terlebih usia pernikahannya dengan Shanum atau Rhaishanum Almahyra Qurby baru beberapa bulan saja.
Akan tetapi suatu insiden, membuat Ustadz Afkha di minta bertanggung jawab oleh sang Istri untuk menikahi Zeeta Alghiz atau Zeetasha Umaiza Alghiz. seorang model cantik. Namun, seusai insiden tersebut, kehidupannya menjadi tak memiliki arti. Ia buta dan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Calon Pejuang Halal.
Perjalanan menuju perbatasan, kini sudah sampai. Kyra melihat sang Kaka sudah menunggunya disana. Aftha yang duduk memangku Onet. Iapun melihatnya.
"kamu ikut dengan Abang. Sepertinya Abang akan mengajak kamu pulang kerumahnya," ujar Aftha.
Kyra hanya menunduk. Didalam hati kecilnya ia tidak mau berpisah dengan Aftha. Terlebih dikala ia sedang sakit seperti ini, perhatian dari Aftha adalah kekuatan terbesar selain support dari kedua orang tua dan Kakaknya.
"Lalu, Kak Aaf sendiri? apa tidak ikut aku pulang? Kak Aaf juga terluka dan di ponpes tidak ada orang tua Kak Aaf." Kyra ingin menahan Aftha agar ikut ke rumah sang Kakak, bersamanya.
"Kamu lupa? aku ini laki-laki! tidak perlu kamu khawatirkan. Makanya lain kali jangan bikin susah orang lain!" jauh dari harapan Kyra jawaban yang ia dapatkan.
"Maaf!" ucap Kyra, dengan air mata mulai berjatuhan. Aftha tahu itu. Bahkan maksud dari perkataan Kyra agar ia ikut ke rumah kakaknya pun Aftha paham, akan tetapi mereka tidak boleh berlama-lama terlena dengan kedekatan serta perhatian. Mereka masih memiliki batasan halal dan haramnya sebuah hubungan.
"Hem, untuk apa meminta maaf! kalau setiap peraturan yang telah di buat akan selalu kamu langgar. Mulai saat ini, ta'ati setiap peraturan penting di manapun kamu berpijak, karena bila setiap aturan kamu langgar dengan seenaknya, bukan hanya diri kamu yang akan mendapatkan efek buruknya, tapi bisa saja orang lain yang terkena imbasnya."
"Insya Allah, aku akan berusaha mawas diri mulai sekarang. Assalamualaikum!" Kyra segera turun dari dalam mobil team SAR. Arsya sudah menunggunya didepan pintu.
"Bagus! Wa'alaikum salam warahmatullah."
"Dik, kamu tidak apa-apa 'kan?" sambut Arsya.
"Tidak Bang! ayok cepat Bang, Ky ingin segera istirahat." Kyra mendahului Abangnya, jalan dengan perlahan karena kakinya masih sakit.
"Dik, Aaf gak ikut Abang?" tanya Arsya karena melihat Aftha hanya diam didalam mobil.
"Terima kasih Bang, aku pulang ke rumah Kak Afsha sembari menunggu Mimma dan Biyya pulang dari rumah sakit."
"Oh gitu, baiklah kalau begitu, terima kasih sudah menyelamatkan Kyra."
"Allah dan makhluk ini yang menyelamatkan Ky, aku hanya sebagai perantara saja Bang," ujar Aftha dan Arsya hanya tersenyum, sembari mengangguk paham.
"Abang cepat! lama nih!" protes Kyra, yang kini sudah berdiri di sisi mobil Arsya.
"Ia, Dik. Sebentar!" sahut Arsya.
"kalau begitu, Abang pulang bawa Ky. Kalau Dik Aaf hendak mencari Kyra, mungkin sampai besok Kyra ada di rumah Abang."
"Ia Bang, tolong hibur Kyra. Maaf, tadi aku sempat melukai perasaannya!"
Arsya tersenyum kembali. "Mau sampai kapan kalian berdua seperti ini? mirip tikus dan kucing!" ledek Arsya.
"Sampai suatu saat nanti, aku berhasil menghalalkannya. Baru aku akan berhenti bersikap sinis padanya."
"Hem, semoga hari itu akan segera tiba. Baiklah! kalau begitu Abang pergi. Assalamualaikum!"
"Aamiin ... Wa'alaikum salam warahmatullah."
Arsya mengucapkan terima kasih kepada tim SAR dan juga santri putra dan putri yang telah menolong Kyra. Lalu segera berbalik badan untuk menuju ke mobilnya. Sedangkan Aftha pun menutup pintu mobil dengan sedikit melirik ke arah Kyra yang nampak cemberut kesal.
Mobil yang ditumpangi Aftha segera berjalan dengan rombongan lain. Kyra dan Arsya masuk kedalam mobil.
"Abang tunggu sebentar. Jangan jalan dulu," pinta Kyra.
"Kenapa? mau nangis? nih bahu Abang nganggur!"
"Ia, aku nahan tangis dari tadi!"
"Menangis-lah! Abang tahu apa penyebabnya. Tadi Dik Aaf sempat mengatakan telah melukai perasaan kamu dan dia meminta maaf."
Kyra hanya diam, kini ia malah menyandarkan kepalanya di bahu Arsya sembari menangis. Arsya membiarkan adiknya menangis hingga puas.
"Sudah nangisnya?" tanya Arsya beberapa saat kemudian, setelah tidak terdengar lagi suara isak tangis Kyra.
"Sebentar lagi," jawab Kyra.
"Em, kata dik Aaf. Dia masih belum berhenti kok, memperjuangkan untuk menghalalkan kamu, Dik!"
Kyra langsung membenarkan posisi duduknya dan mengangkat kepalanya dari bahu sang Kakak. "Sungguh, Bang?" tanya Kyra sumringah.
"Kapan Abang bohong sama Adik Abang yang paling cantik ini?" tanya Arsya menoleh sebentar kearah Kyra sembari menarik pelan hidung mancung sang Adik.
"Eum Abaaang." protes manja Kyra.
"Cieee yang sudah punya calon pejuang halalnya. Senang tuh!"
"Abang sudah ah, lagipula itu masih lama."
Akhirnya Arsya dan Kyra yang suasana hatinya sudah membaik. Mereka melanjutkan perjalanan dengan saling mengobrol.
Di rumah sakit tempat Afkha dirawat.
Setelah Afnan dan Hasna mendengar seseorang diruang ICU mengalami henti jantung. Maka ketika Afkha selesai diperiksa dan dinyatakan ia dalam kondisi fit, walaupun kakinya masih terasa lemas.
Afnan dan Hasna mencari alasan kepada Shanum, agar dapat keluar bersama. Mereka berkata hendak pacaran. agar shanum dan juga Afka dapat pacaran didalam.
"By, cepat kita ke ruang ICU!" Hasna menarik tangan Afnan dengan jalan tergesa.
"Sabar, Sayang! serahkan segalanya kepada Allah. kalau tergesa-gesa begini. Yang ada kita berdua yang jatuh," ucap Afnan seperti biasanya, dengan nada lembut namun terdengar tegas.
"Hehe, ia maaf By. Astaghfirullah ...." ujar Hasna dengan tertawa kecil.
"Love you, Sayang!" bisik Afnan. Kalimat peredam rasa kecewa, Afnan takut Hasna tersinggung karena ia telah memperingatkannya agar jalan perlahan.
Hal yang selalu membuat Hasna berbunga-bunga dan berdebar kembali di dalam rongga dadanya. "Love you More, By!" Hasna tersenyum malu-malu.
Afnan melebarkan telapak tangan kanannya dan Hasna mengerti. Bahwa ia harus menautkan jari tangannya. Hingga pada akhirnya, Keduanya berjalan dengan bertaut jari tangan. Setelah beberapa menit berjalan, kini mereka telah sampai di depan ruang ICU. kebetulan pula dokter baru saja keluar dari dalam.
"Assalamualaikum ... dokter," sapa Afnan.
"Wa'alaikum salam, Ustaz?" jawab dokter dengan mimik bertanya. dokter itu kebetulan dokter yang menangani Afkha, maka setelah sebelumnya berkenalan, ternyata sang Dokter, mengetahui pondok pesantren Hubbul Wathan. Karena putra dari dokter pernah mondok di pesantren Hubbul Wathan.
"Maaf dok, apakah yang baru saja dokter tangani adalah Nona Zeetasha?" tanya Afnan, kini tautan tangannya dengan Hasna terlepas.
"Betul Ustaz. Tadi sempat mengalami henti jantung, akan tetapi sekarang sudah kembali normal." Terang dokter.
"Alhamdulillah ...." ucap Afnan.
"Lalu, apakah sudah ada tanda-tanda Nona Zeeta akan sadarkan diri dok?" tanya Hasna.
Dokter menghela napasnya berat. Lalu ia berkata, "maaf Ustazah. Kami belum dapat memastikan apapun. Sepertinya hanya pertolongan dan keajaiban dari Allah yang mampu membuat Nona Zetha sadar kembali. Akan tetapi tidak perlu pesimis, karena keajaiban pada pasien koma itu selalu terjadi. Tidak sedikit pasien koma tanpa harapan, pada akhirnya kembali sadar atas izin Allah."
"Aamiin Allahumma Aamiin," ucap serempak ketiga orang tersebut.
Setelah Afnan dan Hasna mengetahui keadaan Zeetasha dan setelah sedikit berbincang dengan dokter, maka mereka berdua memutuskan pergi ke taman rumah sakit. Sembari menanti Azan Zuhur.
Di rumah Afsha.
"Loh, Dik. Kamu darimana, koq keadaannya kucel begitu? ada beberapa luka juga, di pipi, di kening, di ... eh tunggu, kamu berkelahi ya?" tebak Afsha Kepada sang adik yang datang ke rumahnya dalam keadaan tidak serapi biasanya. Di tambah beberapa luka goresan di pipi dan keningnya, karena semalam ketika ia mencari Kyra, ia sempat tergores ranting pepohonan liar di area bukit.
"Tidak koq, aku ...."
"Aaaa ... tolong ada monyet masuk kedalam rumah!" belumpun Aftha selesai berbicara, sebuah teriakan terdengar dari arah dapur.
ah coba Afka dengar