Amelia, gadis usia tujuh belas (17) tahun, harus kehilangan keluarga termasuk keluarga ayahnya, sampai hari ke lima bencana, tidak ada kabar tentang keselamatan keluarganya. Akibat bencana Banjir tersebut Amel diadopsi keluarga alfard melalui bibi murni tetangga satu kampung, dengan keunikannya memiliki ciri khas berbaju sweater besar sebagai pelindung aset tersembunyi ditubuhnya.
Celvin, anak kedua Tuan Alfard, memiliki tubuh sixpack berwajah tampan dan mempunyai sifat yang humoris serta penyayang.
Hendry, anak pertama Tuan Alfard, seorang pengusaha sukses dari Perusahaan ayahnya, mempunyai sifat yang berbeda dengan Celvin, lebih suka mempermainkan hati perempuan.
*****Hai, hai, reader Noveltoon, ini karya aku yang pertama AMELIA nama pena 5.13.13.1 mohon dukungannya memberikan like n comen, Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan dalam penulisan kata dan EYD, berikanlah kritikan yang membangun agar saya bisa menyelesaikan Novel pertama dengan baik*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 4.13.13.1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Kejahilan Celvin
***** Masih Penasaran mengshear tulisan ini, namun tetap dicoba, walaupun dalam kesibukan ditempat kerja, maklum akhir tahun, semua berkas harus masuk sebelum bulan Desember, Mohon Maaf jika cuma bisa mengirim 1 bab saja,*****
Tok, tok, tok
Tidak ada sahutan di dalam kamar, terasa sunyi sepi
Tok, tok, tok
Masih sama tidak ada bunyi kehidupan didalam, ''ini anak tuli atau pura-pura nggak dengar sih,'' ujar batin Celvin
Mencoba membuka pintu, Ceklekkk,
Bunyi pintu terbuka, ternyata kamar Amel tak berkunci, '' Dasar ceroboh,'' ujar batin Celvin lagi dan memasuki kamar Amel, memandang ke segala arah ruangan namun sosok yang dicari tidak menampakkan diri, Celvin menuju kamar mandi dan membuka pintu, kosong,'' kemana anak itu,'' ujar Celvin
Terlihat pintu beranda sedikit terbuka, pirasat Celvin mengatakan mungkin Amel bersembunyi disana, sambil berjalan menuju beranda sedikit memelankan suara langkah agar tidak terdengar, menyalib ditepian pintu yang terbuka kecil hanya pas ukuran badan satu orang,
Celvin memandang tubuh mungil yang terbaring dikursi panjang, ke dua telinga nya dipasang kan headset memungkinkan tidak ada suara apapun diluar mengganggu ataupun mengusiknya,'' wajar saja digedor kuat-kuat sampai pintunya rusak, nggak akan ada orang yang menjawab.'' ujar batin Celvin, sambil menggelengkan kepalanya
Celvin berdiri memandang tubuh kecil, yang terbungkus baju kaos dan celana pendek sejengkal tangan, menampakkan lekukan tubuh Amel yang selama ini dirindukan oleh Celvin,
''Maafkan kakak yang terlalu egois, tidak mau berusaha merebut hati dan kepercayaanmu, terlalu rindu hati ini menahan gejolak hasrat kakak untuk memeluk mu, mencium bau tubuh mu, membelai mu, sayang ku'' ujar batin Celvin yang selama ini terlihat cuek namun dilain tempat mencuri pandang kemanapun Amel berada.
Celvin memberanikan diri duduk disebelah tubuh Amel yang terlelap tidur, sambil menikmati wajah mungil Amel, membuat tangan Celvin meraih meremas jemari tangan Amel, Celvin tidak mau membuat Amel terkejut jika menyentuh bagian yang lain, walaupun sebenarnya ada benda yang lebih mengoda jiwa yang nampak membusung tinggi, yang terlihat jelas, karena Amel mengunakan kaos berwarna putih memperlihatkan bayangan put-ing kecoklatan terpampang jelas.
Terasa ada yang meremas jari-jari tangan, Amel membuka matanya, dan betapa terkejutnya Celvin berada didepan mata memperlihatkan wajah datar nya,
''apakah ini mimpi, kak Celvin?,'' gumam Amel dalam hati seolah berhalusinasi akibat rasa rindu nya selama ini.
''Mengapa pintu kamar tidak dikunci?,''
Ujar Celvin, Amel tak merespon masih terdiam tak percaya sosok yang dirindukan berada di hadapannya.
''Kamu sering melakukan nya?,'' ujar Celvin lagi, Amel sedikit bingung,
''Maksud kakak!,'' ucap Amel, akhirnya keluar juga suara Amel,
''Maksud kakak, Amel kalau didalam kamar tidak menguncikan pintu?,'' dan Amel hanya mengangguk.
'' Mulai besok dan seterusnya selalu kunci pintu kamar saat berada dikamar mu, '' ujar Celvin lagi,
''Mengapa begitu, dirumah yang sering ada hanya Amel, kak Hendry sering keluar, kalaupun pulang selalu berdua sama kak Virgiane,'' jawab Amel membela
Terdiam sesaat, masih fokus memandang wajah mungil Amel.
''Apakah Amel tidak merindukan kakak?,'' pertanyaan Celvin memulai suasana canggung kembali, tak ada jawaban dari mulut Amel, hanya merubah posisi tubuhnya dan duduk bersila menghadap Celvin, memalingkan wajahnya menghindar pandangan mata Celvin,
''Amel sayang, Amel tau kakak merindukan mu setiap hari,'' ucap Celvin dengan suara lembut, ''maafkan kakak jika selama ini kakak menyakiti Amel, beberapa waktu ini tidak bisa menemani, harus menahan rindu, berjuang menahan diri agar tidak bertemu, bekejar dengan waktu biar cepat menyelesaikan ujian skripsi kakak, ditambah lagi dikampus, melihat Amel tertawa bersama mereka, membuat rasa rindu itu sakit sayang, namun kakak harus bisa menahan nya, Amel sayang maafkan kakak ya!,'' ujar Celvin dengan suara yang menyakinkan,
Amel hanya membalas dengan pandangan mata yang mengembun, seakan buliran bening akan meluncur melalui celah pipi tembem nya, Amel masih terdiam belum ada suara yang keluar dari bibir imutnya,
''Say,'' ujar Celvin sambil meremas jari-jari tangan Amel, yang masih setia bungkam, Amel tidak tau bahasa dan tindakan apa yang harus di ucapkan, takut akan segala hal yang membuat sulit memilah antara benar dan salah atas tindakan yang dia dilakukan selama ini.
'' Amel sayang ,'' Celvin berusaha menarik hati Amel dengan perkataan yang lembut.
'' Amel sayang ku, apakah Amel masih marah sama kakak?,'' ujar Celvin lagi
Untuk menghindari tatapan memelas Celvin, Amel sangat takut lepas kendali, kalau Celvin merindukan nya, Amel juga lebih dan sangat merindukan segala hal dari Celvin, Amel mencoba mengalihkan pandangannya dari tatapan Celvin, namun hal tersebut ditahan oleh kedua tangan Celvin, dipegang nya wajah Amel, ditatap dalam-dalam mencari celah rindu dari sorotan mata Amel, kemudian men**cup lembut bibir mungil milik Amel, tidak ada respon atau pun menghindari nya, seolah memberi kan celah buat Celvin untuk mencari jawaban melalui sentuhan.
Celvin mencium kembali bibir Amel, sedikit mel**at bibir bawah, agar ada reaksi dari Amel, mencium kembali dengan lembut namun tetap belum ada balasan. Celvin menarik wajahnya memandang mata Amel, dan Amel memegang bibir nya mengusap dengan lembut seolah memancing agar Celvin mencium nya lagi.
Melihat hal tersebut Celvin meraih tangan Amel menurunkan dari bibirnya, dan mulai menciumi kembali tetapi kali ini Celvin sedikit kasar mel**at, mengigit kecil bibir bawah Amel dan menikmati walaupun hanya sebentar, Celvin melepaskan ciuman nya, memandang wajah yang sangat-sangat dirindukannya,
''Kakak minta maaf say atas apa yang terjadi kemaren, kakak terlalu egois,'' ujar Celvin,
Amel hanya memberikan pandangan yang sulit diartikan oleh Celvin namun tidak ada kata-katanya yang keluar, melihat hal tersebut Celvin melancarkan aksinya kembali, mengecup bibir Amel, dan mulai beralih kekening, kemudian di bibir, beralih kekening, kemudian di bibir lagi, sehingga Amel tertawa oleh kejahilan Celvin, sambil menepuk pundak Celvin.
salam dari istri kecil dosen muda🙏