Diam-diam Khalisa Lyn mencintai Luth, tetangganya. Sayangnya Luth tidak menyadari hal itu. Cinta dalam diam membuat Lyn serba salah saat Luth justru melamar Afiqa, gadis lain.
Sembilan belas tahun Lyn dan Luth saling kenal, bermain bersama, dan bersahabat, namun tidak sekali pun Lyn melihat Luth yang terlihat cool itu dekat dengan wanita, namun tiba-tiba lamaran itu mengejutkannya. Lebih mengejutkan lagi saat Lyn tahu bahwa gadis yang dilamar Luth tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Pertama
Luth menyetir mobil melintasi jalan raya, membelah kesunyian. Ia kemudian menelepon Lyn.
Lyn yang melihat nama Luth memanggil di layar teleponnya, sontak merapikan rambut dan membasahi bibirnya. Lalu ia geleng kepala menyadari Luth kini meneleponnya, bukan video call. Hadeeh.
Sedangkan Luth menghela nafas, menyadari Lyn yang terlalu lama menjawab telepon.
"Halo!" sapa Lyn di seberang, suaranya terdengar merdu dan syahdu.
"Lyn, aku bisa minta tolong nggak?"
"Kalau mau minta tolong di kantor polisi. He heee..."
Luth tanpa sadar tersenyum mendengar banyolan Lyn. Gadis itu memang selalu encer, bikin ketawa mulu. "Heh, kamu itu udah banyak bikin kesalahan sama aku ya, jangan cengar cengir!"
"Maaf. Ya udah minta tolong apa?"
"Aku sedang keluar malam ini, jadi..."
"Aku tau kamu keluar. Memangnya mau kemana?"
"Ketemu Afiqa."
Tidak ada tanggapan dari seberang.
"Lyn, kamu bisa kan temenin ibu sebentar?" sambung Luth.
"Halo, Luth. Kamu kan sedang menyetir, jangan nelepon," sahut Alisha yang membuat Luth sadar kalau ponsel Lyn sudah berpindah tangan.
Luth tersenyum. "Ibu bersama Lyn sekarang?"
"Iya. Lyn langsung datang kemari sesaat setelah kamu pergi."
"Tuh anak udah kayak kucing aja, gesit banget melompat ke rumah kalau aku pergi."
"Lyn mendengar suara mobilmu meninggalkan rumah, dia yakin kalau kamu nggak bawa serta ibu keluar, sebab pintu depan kebuka, makanya dia langsung kemari. Ya udah, kamu hati hati di jalan."
"Iya."
Sudut bibir Luth masih melebar seusai menutup sambungan telepon. Menyadari sikap Lyn yang selalu perhatian pada ibunya. Gadis baik.
Tak lama senyum di bibir Luth lenyap saat mengingat sesuatu, ia terngiang kata-kata Lyn. Afiqa hamil. Kenapa gadis polos itu tidak mengatakan kehamilannya jika kabar itu adalah benar? Apakah Afiqa menyembunyikan kehamilannya itu? Ataukah ini hanya sebuah kesalah pahaman?
Luth berhenti di sebuah warung dan membeli sesuatu. Kemudian kembali menempuh perjalanan hingga sampai di depan sebuah rumah besar. Ia menelepon Afiqa.
"Halo, Mas Luth!" sapa Afiqa di seberang. "Tumben nelepon. Ada apa?"
"Kamu keluar ya. Aku di depan rumah," jawab Luth.
"Loh? Kok nggak bilang sejak tadi?" Afiqa terdengar kaget.
Tak lama Luth mendapati Afiqa keluar dari pintu balkon lantai dua, gadis itu kini menatapnya dari balkon lantai dua. Senyum Afiqa terbit manis.
Luth yang berdiri menyandar di mobil pun memutus sambungan telepon.
Afiqa berlari masuk, hilang dari pandangan.
Luth menunggu. Tak lama Afiqa menyembul keluar dari pintu utama. Gadis itu mendekati Luth yang masih berdiri di halaman menyandar di badan mobil. Kepala Afiqa menunduk, pipinya merona merah. Ia menghentikan langkahnya di jarak dua meter dari tempat Luth berdiri.
"Maaf aku datang kemari nggak ngomong dulu sama kamu. Aku cuma mau kasih kejutan aja," ucap Luth yang selama mengenal Afiqa sangat jarang menemui gadis itu. Bisa dikatakan mereka bertemu tiga kali dalam satu bulan. Mereka hanya berkomunikasi melalui via handphone saja.
"Nggak apa-apa, Mas. Ayo, masuk ke rumah!" ajak Afiqa masih menunduk dengan raut tersipu malu.
"Aku nggak bisa lama. Ibuku sendirian di rumah. Aku nggak terbiasa ninggalin ibu lama-lama kalau malam."
"Trus kenapa Mas Luth kesini? Kan bisa kesini besok pagi aja?" ucap Afiqa.
"Aku kalau mau ketemu seseorang nggak bisa dilarang, termasuk hatiku sendiri pun nggak bisa melarangnya."
Afiqa tersenyum sipu mendengar gombalan receh Luth.
"Aku bawain jus nenas buat kamu. Ini diminum ya!" Luth mengeluarkan paper bag berisi segelas jus kuning kental.
Afiqa terdiam menatap jus itu.
"Lebih baik kita duduk di sana biar nyaman." Luth melenggang menuju kursi di taman. Ia duduk di sana. Menyusul Afiqa yang duduk di ujung kursi, memberi jarak duduk.
"Nih, minum!" ucap Luth sambil menyodorkan segelas jus.
TBC