Viona Retwinata adalah seorang ibu tunggal berusia 25 tahun. Suaminya telah meninggal 7 tahun yang lalu. Dia memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Darrel Saputra. Karena keadaan Viona akhirnya menikah dengan Vino Welton.
Vino Welton adalah seorang pewaris tunggal Welton Group, berusia 30 tahun. Mencintai kebebasan dan tidak ingin terikat dengan yang namanya pernikahan. Baginya wanita hanya untuk teman tid*r.
"Dengan siapa pun aku menikah, aku akan menjalankannya dengan baik dan sempurna, karena memang itulah takdirku "
= Viona Retwinata =
"Bagaimana mungkin seorang janda yang telah memiliki seorang putra, namun masih vi*gin"
= Vino Welton =
🍒🍒🍒
Update sekali 2 hari ya !!
Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMENT and jadikan FAVORITE kalian ya, agar author semangat nulisnya 😘
Baca karyaku yang lain juga
I WANNA YOU, MY COLD BOY
JERAT HASRAT KAKAK IPAR
ONE NIGHT STAND IN DUBAI
= Lady_MerMaD =
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Mermad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. UnExpected Information
Elisa keluar dari mobil dengan pintu yang dibukakan oleh sopirnya. Dia menatap Ruko sederhana, namun indah itu. Dalam hati dia mengagumi Ruko tersebut yang tidak besar, minimalis namun ditata dengan rapi dan cantik. Diatas bertuliskan Via Flowers dengan tulisan bergaya vintage warna pink. Bunga-bunganya juga indah dan segar. Elisa masuk ke dalam, disana dia melihat seorang gadis yang duduk di belakang meja kasir, name tagnya bertuliskan Laras.
"Selamat siang, Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Laras ramah.
"Bunga apa yang Nyonya butuhkan atau untuk keperluan apa? Biar saya bantu mencarikannya?"
Elisa melihat sekeliling bunga-bunga tersebut, dia juga melihat seorang gadis yang tengah asik menata bunga - bunga. Apakah dia Via, teman Viona ?
" Saya butuh bunga untuk melihat cucu teman saya yang baru lahir, kira - kira bunga apa yang bagus ya ? " jawab Elisa sambil memilih bunga yang menarik hatinya.
" Mawar kuning, pink dan bunga lili putih adalah perpaduan yang sempurna, Nyonya " jelas Laras
" Boleh, itu bagus "
" Sebentar, Nyonya, saya akan memanggil pemilik toko ini untuk merangkaikannya buat anda, kebetulan dia sedang disini, saya yakin anda akan puas dengan hasil karyanya " Laras meninggalkan Elisa dan menghampiri Via yabg sedang asik merapikan bunga, sambil berbisik kepada Via.
" Mba, ada seorang wanita yang menginginkan bunga untuk dia bawa melihat cucu temannya, wanita tersebut sangat elegan, aku agak ragu, apakah dia akan menyukai bunga yang aku rangkai, sebaiknya mba saja yang melakukannya "
Via melirik kepada wanita tersebut, cantik dan elegan walaupun sudah tidak muda lagi. Elisa memakai Rok panjang sebetis dengan baju sutra bermotif bunga, sepatu heel yang tidak terlalu tinggi sekitar 5 cm saja.
" Baik lah, ayo " berjalan menghampiri Elisa yang masih asik melihat - lihat bunga - bunga yang ada di toko tersebut.
" Siang Nyonya, saya Via pemilik toko bunga ini, saya yang akan merangkaikan bunga pesanan Nyonya " sahut Via sambil mengulurkan tangannya.
" Owh, saya Elisa Welton " balas Elisa sambil menjabat tangan Via ramah.
Apakah wanita ini ibunya Vino ? Kenapa dia kesini, penasaran batin Via. Tapi dia harus menepis rasa penasarannya dulu.
" Nyonya, silahkan melihat - lihat, saya akan membuatkan pesanan, Nyonya " mempersilahkan Elisa kembali melihat bunga - bunga.
Laras telah menyiapkan bunga - bunga yang akan diginakan. Via kemudian mulai memotong dan merangkai bunga - bunga tersebut. Tidak lama rangkaian bunga pun selesai. Via memperlihatkan kepada Elisa.
" Bagai mana menurut, Nyonya " memintq pendapat Elisa.
" Wah, cantik sekali, tapi bisakah pitanya di ganti dengan warna pink ? " saran Elisa
" Bayinya perempuan " lanjutnya lagi.
" Owh, tentu bisa, Nyonya " sahut Via. Kemudian mengganti pitanya dengan warna pink.
" Perfect " kagum Elisa dengan karya Via.
Elisa membayar tagihan bunga tersebut, Via menyerahkan buket bunga tersebut. Namun sebelum keluar Elisa memancing Via.
" Owh iya, tadi ketika saya menyebutkan nama ku, kau sepertinya sudah mengenal ku, ada yang ingin kau tanyakan " ujar Elisa menghentikan langkahnya.
" Katakan saja " pancing Elisa, ini lah saatnya dia untuk bisa berbicara dengan Via dan mencari tahu tentang Viona.
" Sebenarnya, nama belakang anda seperti nama krnalan teman saya " gugup Via.
" Benarkah " Elisa pura - pura kaget.
" Memangnya siapa nama teman mu, mungkin saja saya mengenalnya "
" Viona, namanya Viona "
" Oh, Viona, kebetulan dia adalah kekasih anak saya "
" Ternyata benar, anda adalah ibunya Vino, pantasan saya melihat ada kemiripan anda dengan Vino " jelas Via.
" Apakah kau sudah mengenal Viona lama ? " tanya Elisa
" Bolehkah kita ngobrol - ngobrol sebentar " lanjut Elisa lagi.
" Boleh, Bagai mana kalau, Nyonya ikut saya ke atas " tawar Via mempersilahkan Elisa untuk mengikutinya.
" Silahakan duduk, Nyonya " ujar Via begitu mereka sampai diatas.
Elisa memperhatikan sekeliling ruangan tersebut, tidak besar, namun ditata dengan rapi dan cantik.
" Saya akan membuatkan teh untuk anda dulu, agar kita ngobrolnya enak " menuju dapur untuk membuatkan teh.
" Silahkan, Nyonya " tawar Via kemudian duduk disamping Elisa.
" Jadi sudah berapa lama kau mengenal Viona " tanya Elisa setelah menyeruput tehnya.
" Sejak SMA, hanya saja 6 tahun terakhir ini kami sempat terpisah "
" Apakah Viona tinggal disini juga ? " pertanyaan basa - basi Elisa karena dia sudah tau kalau Viona tinggal disini.
" Benar, tapi sekarang dia sedang bekerja "
" Lalu putranya " karena tidak melihat putra Viona.
" Ada di kamar, sebentar saya panggilkan " menuju kamar Viona. Via keluar dari kamar bersama Darrel.
" Darrel, ayo salam sama nenek ini " mengajak Darrel berkenalan dengan Elisa. Darrel mengulurkan tangan dan menjabat tangan Elisa. Kemudian pamit ke dalam lagi untuk melanjutkan menggambar.
" Tidak mirip dengan Viona ya " pancing Elisa.
" Eh benar " jawab Via gugup
" Saya akan to the point, sebenarnya saya kurang suka Vino berhugungan dengan Viona, kamu mengertikan " tatap Elisa tajam kepada Via. Via hanya melotot tak percaya.
" Saya tidak mengenal Viona wanita seperti apa, saya tau dia berusia 25 tahun dan sudah memiliki anak berusia 7 tahun, itu artinya dia sudah hamil saat dia masih sekolah, apakah dia menikah cepat karena sudah hamil " Elisa balas menatap Via tajam.
Via mengerti maksud pembicaraan ini, wanita ini ibunya Vino, pasti menganggap Viona wanita m*rahan dan dia tidak bisa ada orang yang menganggap remeh Viona.
" Dia tidak seperti itu " murka Via.
" Dia adalah wanita baik - baik, bahkan dia rela hidup bekerja keras membayar hutang yang bukan dia pinjam, dan asal anda tau, dia belum pernah berpacaran, bahkan berciuman dengan lelaki, jadi saya pastikan, dia masih Virg*n, jangan anda menilainya sembarangan, putra anda sangat beruntung mendapatkannya " jelas Via panjang lebar dengan kesal. Seperti anaknya pria baik - baik saja.
" Apa maksud mu, bagai mana seorang wanita yang sudah menikah masih Virg*n " informasi ini benar - benar diluar ekpektasinya.
" Saya tidak berbohong Nyonya Elisa yang terhormat " tegas Via lagi. Dia tidak suka orang meremehkan Viona. Viona bukan wanita murahan.
" Lalu anaknya " bingung Elisa.
" Sssssttt, Darrel bukan anak kandung Viona, dia bahkan rela merawat anak dari kekasih almarhum suaminya seperti anaknya sendiri " pelan Via, agar tidak terdengar oleh Darrel. Elisa semakin tidak percaya, ada wanita yang membesarkan anak selingkuhan suaminya. Dimana - mana wanita akan sangat membenci anak hasil selingkuhan suaminya. Lalu bagai mana dia masih per*wan, wanita yang sudah menikah masih per*wan, benar - benar unexpected information. Mana ada laki - laki.yang tahan jika disuguhkan wanita secantik Viona yang memiliki body bak gitar spanyol.
" Apakah suaminya berselingkuh ? " tanya Elisa seakan tidak percaya.
" Ini sangat rumit " jawab Via, duduk kembali disamping Elisa, pegal juga dia berdiri tadi, namun karena emosi tidak dirasakannya.