NovelToon NovelToon
Seducing My CEO

Seducing My CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:96.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yuna.L

Berlatar belakang Korea!

Cerita ini sangat berbelit-belit dan bertele-tele. Jadi, yang ga sabaran mohon jangan membaca cerita ini!

Tidak semua novel sesuai dengan kriteriamu. Jadi harap bijak dalam menyikapi! Sebaiknya kalau merasa tidak cocok langsung pindah saja ke novel lain. Jangan membaca kalau hanya ingin menghujat!!

Terima kasih.


Menceritakan kisah Sena yang merayu CEO selama 90 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuna.L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

"Hm, bagus. Aku perintahkan kalian untuk menculik wanita itu. Culik Kim Sena!"

"Baik, Tuan. Begitu ada kesempatan kami akan langsung menculik wanita itu," sahut kedua anak buahnya serempak.

...***...

Hari libur telah berlalu dan kini saatnya semua karyawan bergelut dengan pekerjaannya masing-masing di Lacoza.

Pukul 09.25 pagi. Jinsu tampak berjalan menuju ruangan CEO dengan membawa setumpuk undangan berwarna merah.

CKLEK !

Pintu terbuka lebar. Jinsu dengan santai masuk ke dalam ruangan dan mendekati Juhan di meja kerjanya.

"Juhan, barusan ada kurir datang mengirim undangan untuk Lacoza," kata Jinsu sambil meletakkan tumpukan undangan tersebut di meja Juhan.

"Undangan apa itu?"

"Aku juga tidak tahu. Coba kau lihat, sepertinya ada surat di dalam amplop itu" tunjuk Jinsu pada sebuah amplop berwarna putih.

Kemudian, Juhan membuka amplop itu dan membaca isinya.

Merayakan hari ulang tahun SW Grup, saya selaku direktur Park Sijin mengundang seluruh keluarga besar Lacoza untuk hadir ke acara pesta kami yang akan diselenggarakan pada hari minggu pukul 19.30 malam. Berlokasi di gedung heritz di Gangnam-gu Nonhyeon-ro 662 Seoul.

"Ini undangan dari Sijin. Perusahaannya menyelenggarakan pesta ulang tahun di hari minggu. Dan dia mengundang seluruh karyawan Lacoza untuk datang ke pestanya," kata Juhan setelah membaca isi surat tersebut.

Jinsu mengangguk dengan semangat. "Kalau begitu ini berita bagus. Kita bisa makan-makan gratis di pesta," ucapnya seraya bercanda.

"Jinsu, bagikan undangan ini kepada semua karyawan," titah Juhan kepada Jinsu.

"Oke, aku akan bagikan sekarang." Jinsu berjalan menuju pintu keluar, tapi di tengah jalan ia berhenti lalu berbalik menatap Juhan.

"Oh ya, minggu depan perusahaan ada jadwal outing kantor di pulau Jeju. Apakah rencana ini sudah pasti?" tanyanya, diangguki Juhan.

"Benar. Jadwal outing itu sebenarnya akan diselenggarakan pada akhir tahun. Tapi berhubung akhir tahun nanti banyak kesibukan akhirnya dimajukan pada bulan ini," jawab Juhan.

"Oke. Sekalian aku akan memberitahu semuanya tentang jadwal ini." Jinsu berbalik, lalu keluar dari ruangan.

...***...

"Sena, kau menghabiskan liburan ke mana saja selama 4 hari?" tanya Bora.

"Tidak kemana-mana hanya di rumah saja dan bergabung menjadi relawan sebentar," jawabnya.

"Sama. Aku juga tidak kemana-mana."

"Heh, kalian berdua jangan bicara terus ya. Berisik, tahu?!" tegur Hayoon seraya berkacak pinggang. Terdengar seperti bentakan.

"Maaf, Nona Hayoon," ucap Bora sopan.

"Ehm, ada berita bagus," deham Jinsu, membuat semua orang di ruangan menatapnya.

"Berita apa, Manajer Lee?" tanya Sena penasaran.

"Direktur Park Sijin dari SW Grup---partner Lacoza sekaligus saudara dari CEO Park Juhan, mengundang kita semua untuk hadir dalam pesta ulang tahun perusahaannya di hari minggu. Kalian semua harus hadir ya," jawab Jinsu sembari menatap satu per satu orang yang duduk di sana.

Sena hanya mengangguk kecil mendengarnya. Sementara Jinsu sibuk membagikan undangan kepada semua orang di kantor.

"Oh ya, satu hal lagi. Minggu depan Lacoza akan mengadakan outing kantor di pulau Jeju selama 3 malam 4 hari. Kalian semua wajib ikut," lanjut Jinsu dengan senyuman ramahnya.

Kring...

Tiba-tiba telepon di meja Bora berbunyi.

"Halo," jawab Bora setelah mengangkat telepon.

"Suruh Sena datang ke ruanganku."

"Baik, saya akan memberitahunya," ucap Bora seraya menutup telepon.

"Sena, kau disuruh pergi ke ruangan CEO Park Juhan sekarang juga." Bora memberitahu.

"Baiklah, aku pergi sekarang," balas Sena, sembari bangkit berdiri.

Tak lama kemudian, Sena sudah berada di dalam ruangan CEO.

"Sena," panggil Juhan pelan.

"Ya? CEO Park, kenapa memanggilku?" Sena mendekati Juhan sambil tersenyum manis.

"Kemeja putih yang aku pinjamkan kepadamu, apakah kau sudah mencucinya? Kapan kau akan mengembalikannya padaku?" tanya Juhan.

Sena tak menjawab. Ia tak tahu harus berkata apa. Bagaimana tidak? Kemeja putih itu sudah hangus tak berbentuk. Tapi, bagaimana menjelaskannya pada Juhan. Apakah CEO dingin itu mau mengerti? Sena menghela napas dalam-dalam. Ia tahu risiko yang akan dia terima.

"Kenapa kau diam? Kapan kau akan mengembalikan kemejaku?" tanya Juhan sekali lagi, namun Sena tetap diam.

Tiba-tiba CEO tampan itu mendekatinya. "Hmm. Apa terjadi sesuatu pada kemejaku?"

Seketika mata Sena melebar panik. "Oh, ti-tidak. Tidak terjadi apa-apa," ucapnya berbohong.

"Lalu kenapa kau diam saja?" tanya Juhan curiga.

"Itu karena aku..." Sena tidak melanjutkan kalimatnya. Dia ingin menyusun kata-kata yang baik agar CEO tampan itu tidak marah. Tapi untuk apa berbohong? Bukankah jujur itu lebih baik?

Sena mengembuskan napas pasrah. "CEO Park, berapa harga kemeja itu?"

Mata Juhan menyipit. "Aku tahu pasti terjadi sesuatu pada kemejaku. Katakan kau apakan kemejaku?"

"Um.. kemeja itu hangus karena setrika. Tapi jangan khawatir, aku akan menggantinya. Aku akan membayarnya, bagaimana?" Sena mencoba bernegosiasi.

"Harga kemejaku 2 juta won. Bagaimana kau akan membayarnya?"

"Aku akan mencicilnya 6x selama 6 bulan. Kau bisa memotong gajiku setiap bulannya. Bagaimana?" tawar Sena.

Juhan menyeringai. "Nasibmu di Lacoza 2 bulan ke depan saja masih belum jelas, bagaimana kau bisa mencicilnya."

Tiba-tiba, Sena mencoba merayunya. Ia mendekati Juhan perlahan, lalu meraba dadanya dengan lembut.

"Nona Sena, apa yang sedang kau lakukan?" tegur Juhan.

CEO Park, tubuhmu bagus." Sena menekan dada padat Juhan sembari tersenyum. "CEO Park, bagaimana kalau kita..."

Belum selesai bicara, Juhan langsung membalik tubuh Sena, menempelkannya ke dinding lalu menindihnya dari belakang.

"Apa bekas ciuman di leher waktu itu belum cukup untukmu? Jika memang belum cukup, aku tidak akan segan meninggalkan bekas ciuman di sekujur tubuhmu. Apa kau mengerti maksudku, Nona?" bisik Juhan, membuat tubuh Sena berdenyut.

Kenapa saat Juhan menyentuh kulitku, aku selalu merasakan getaran dan merinding di seluruh tubuhku, ucap Sena dalam hatinya.

"Aku mengerti, tapi sekarang tolong lepaskan aku," pinta Sena dengan napas tersengal.

Tak butuh waktu lama, Juhan pun menarik dirinya mundur dan melepaskan Sena. Sontak Sena berbalik seraya merapikan bajunya.

CEO tampan itu kembali menatap Sena, mata hitamnya menatap dengan penuh arti. "Masalah kemejaku aku ikhlaskan. Sekarang kembalilah ke tempatmu."

"Terima kasih, CEO Park," kata Sena sambil menundukkan kepala. Ia keluar ruangan dengan jantung yang berdebar-debar.

Ketika Sena melewati koridor, ia berpapasan dengan Hayoon dari arah berlawanan. Tanpa Sena ketahui, Hayoon tiba-tiba menjegal kaki Sena dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur di lantai.

"Akh!" pekik Sena, merasakan sakit di area lututnya.

Hayoon tertawa meremehkan. "Dasar lemah!"

Perlahan, Sena mulai bangkit berdiri. Ia terkejut saat melihat lututnya sedikit bengkak karena membentur lantai yang sangat keras. Entahlah, Sena sangat tidak suka dengan Hayoon. Ia ingin meluapkan amarahnya saat itu, tapi Sena masih mencoba sabar dan bersikap seperti biasa.

"Hayoon, sebenarnya apa maksudmu melakukan ini padaku?" tanya Sena sedikit geram.

"Sudah jelas. Aku tidak menyukaimu dan sangat membencimu. Ayo kita buktikan besok di pesta, siapa diantara kita yang berhasil mendekati Juhan. Aku menantangmu, Sena! Mari kita buktikan siapa diantara kita yang berhasil menarik perhatian Juhan." Hayoon tersenyum sinis. Tatapan kebencian dia pancarkan kepada Sena.

Sena menarik napas pelan. Dengan sedikit rasa sakit di lututnya, Sena pergi meninggalkan Hayoon di koridor. Ia memang sengaja tidak mau menanggapi wanita ular itu. Tak ada gunanya.

...***...

Pukul 18.10 sore. Kini Sena sedang berada di halte menunggu bus. Awan gelap menyelimuti kota Seoul sore ini. Cuaca mulai tidak mendukung ketika hujan rintik-rintik mulai turun dari langit.

Sial, Sena tidak bawa payung. Hari ini benar-benar hari kesialan baginya. Lututnya terluka. Ditambah lagi air hujan. Ibarat pepatah mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga. Sena pantas menyandang sebutan itu hari ini. Menyedihkan.

Sena berteduh di halte bus bersama beberapa orang yang berdiri di sana untuk menghindari air hujan yang kian menderas, akan tetapi halte yang sempit itu sepertinya tidak mampu menyelamatkannya dari air hujan. Tetap saja baju Sena terkena air meskipun sedikit.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berwarna hitam mengilap berhenti tepat di depannya. Kaca mobil itu terbuka dan mata coklat Sena membulat seketika.

Juhan tersenyum menatap Sena yang tengah berdiri di halte.

"CEO Park, apa kau berhenti di sini ingin menawariku tumpangan? Um.. aku sudah tahu kalau kau akan berbaik hati padaku," ucap Sena dengan senyuman percaya diri.

Tiba-tiba Juhan melemparkan sebuah payung kecil berwarna hitam kepada Sena.

"Nona Sena, kembalikan payungnya ketika masuk kantor. Semoga perjalananmu lancar sampai rumah." Juhan tersenyum, lalu menjalankan mobilnya. Pria tampan itu melenggang pergi dengan cepat.

Sena berharap Juhan akan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya dan mengantarnya pulang. Namun apa daya, pria tampan itu hanya memberikan payung kecil. Tapi... tidak apa, ini ada kemajuan daripada saat pertama kali mereka bertemu. Sena tersenyum. Entah kenapa, ia merasakan kebahagiaan ketika berdekatan dengan Juhan. Meskipun tak jarang pria itu juga membuatnya kesal. Menyebalkan.

...***...

Sesampainya di rumah, Sena meletakkan payung kecil milik Juhan di depan pintu luar karena saat itu memang masih basah. Sena berjalan masuk ke dalam dan mendapati Hyemi sedang berganti pakaian di kamar.

"Hyemi, apa kau punya obat luka?" tanya Sena penuh harap.

Hyemi mengernyit. "Obat luka? Aku ada. Apa kau terluka?"

"Iya, lututku sedikit sakit. Aku minta obatnya," pinta Sena.

Hyemi melihat ke arah lutut Sena, dia terkejut. "Kenapa lututmu bisa bengkak biru gitu? Kau habis jatuh atau apa?"

"Iya, tadi aku tidak sengaja jatuh," jawab Sena berbohong. Ia sudah paham bahwa teman baiknya ini mudah emosi, jadi Sena sengaja menyembunyikan masalah ini dari Hyemi agar masalah tidak menjadi besar.

"Sena, kau jatuh di mana?"

"Um, jatuh di halte bus. Kebetulan tadi hujan jalan licin."

"Lain kali hati-hati ya, Sena. Kau ini wanita pintar tapi ceroboh. Yes, sudah selesai." Hyemi tersenyum puas setelah mengoleskan obat salep dan melekatkan plester luka pada lutut Sena.

"Kenapa kau melekatkan plester?"

Hyemi berbisik pelan. "Supaya hari minggu nanti kau bisa tampil cantik tanpa kelihatan luka."

Sena tersenyum. "Kau ini ada-ada saja."

...***...

Sementara itu, seorang nenek tua sedang berlari tergesa-gesa di koridor apartemen.

"Aduh, aku lupa bawa payung," ucap nenek tersebut.

Saat melewati depan rumah Sena, tiba-tiba nenek itu berhenti.

"Wah, kebetulan ada payung. Aku bisa pakai dulu," lanjutnya.

Tanpa ragu, nenek tua itu langsung mengambil payung dan berjalan pergi dengan cepat.

Tapi saat ini, Sena masih belum tahu kalau payung milik Juhan hilang. Beberapa jam setelah itu, Sena membuka pintu dan memperhatikan sekitar. Namun, nihil. Tidak ada payung milik Juhan di sana.

"Hyemi, kau tahu payung kecil di depan pintu?" tanya Sena. Hyemi langsung menggeleng.

"Bayangannya saja aku tidak melihatnya, apalagi payungnya," jawabnya santai.

"Serius? Itu payung milik CEO Park Juhan. Dia pasti akan marah lagi padaku," ucap Sena khawatir dan takut.

"Sena, kau ini diam-diam membawa banyak barang dari CEO itu. Pasti hubungan kalian sudah dekat, ya? Jika hubungan kalian sudah dekat, dia tidak mungkin marah padamu. Percayalah padaku. Oke?" Hyemi tersenyum kepada Sena. Dia yakin kalau ucapannya itu benar.

Sena mengembuskan napas kesal. Wajahnya kusut. Ingin rasanya dia berteriak sekencang mungkin. Sungguh hari yang amat sangat sial. Tapi sudahlah, lebih baik pasrah. Bagaimanapun, tidak ada yang tahu hari esok. Kesedihan atau kebahagiaan yang akan datang.

...***...

Waktu berjalan sangat cepat. Minggu malam ini, Sena sudah siap dengan gaun mini seksi berwarna biru tanpa lengan. Ditambah lagi dengan rambutnya yang tergerai indah. Sungguh memesona.

"Sena, kau cantik banget," puji Hyemi sambil menggelengkan kepala, kagum akan kecantikan Sena.

"Terima kasih," balas Sena tersenyum.

"Aku yakin, malam ini CEO itu pasti akan bertekuk lutut padamu," ujar Hyemi penuh keyakinan.

"Belum tentu. Park Juhan lebih sulit daripada yang kita bayangkan. Aku perlu kerja ekstra untuk membuatnya menyukaiku."

"Oke. Kita test malam ini. Ayo berangkat!" ajak Hyemi dengan antusias.

Kini keduanya sudah sampai di pesta SW Grup di Gangnam. Sena dan Hyemi memasuki ruangan pesta yang kini sedang berlangsung meriah. Mata coklat Sena memandang karangan bunga-bunga yang berjajar rapi di pinggir ruangan. Dan juga, sekumpulan botol beserta gelas wine yang tersusun tinggi rapi di atas meja. Sungguh sangat elit.

Tanpa diduga, Sijin yang tersenyum seketika muncul dalam bidang pandangnya.

"Sena, selamat datang. Aku sudah menunggumu. Kau benar-benar cantik malam ini," sambut Sijin dengan senyum semringah.

"Terima kasih sudah mengundangku datang," balas Sena dengan senyuman.

"Aku juga berterima kasih karena sudah diundang," sahut Hyemi, membuat Sijin mengangguk tersenyum.

Tiba-tiba seorang pelayan datang, lalu berbisik sesuatu ke telinga Sijin. Setelah itu, pandangan Sijin kembali menatap Sena dan Hyemi.

"Oh ya, aku tinggal sebentar ya. Nanti aku akan kembali lagi," ucap Sijin dengan buru-buru pergi ke arah lain.

Tak lama setelah itu, Juhan berjalan memasuki ruangan pesta. Pria tampan itu mengenakan kemeja hitam dan celana hitam. Serba-hitam malam ini. Entah kenapa, Juhan justru terlihat sangat tampan dengan pakaian itu. Banyak pasang mata yang memperhatikannya, terutama para wanita di pesta. Namun Juhan tidak peduli sedikit pun pada wanita-wanita itu. Juhan tidak mau melakukan hal bodoh, terutama yang menyayat harga dirinya di depan umum.

Juhan berdiri di depan meja. Mata hitamnya menatap jajaran wine yang ada di depannya dengan seksama. Sepertinya, pria tampan itu berniat menuangkan wine ke salah satu gelas dan akan meminumnya.

Sena tersenyum. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mendekati Juhan, untuk menggodanya tentunya.

Sena melangkahkan kaki mendekati Juhan yang kini tengah berdiri di depan susunan wine di meja besar.

Sebuah senyum kembali muncul di bibirnya ketika dirinya berhasil menarik perhatian Juhan, sampai-sampai Juhan melirik Sena beberapa kali saat itu.

Pria tampan itu mengangkat gelas wine dan hendak meminumnya. Tapi tiba-tiba Sena menyambar gelas itu dari tangan Juhan, lalu menyembunyikannya di belakang tubuhnya yang seksi.

"CEO Park, gelas wine milikmu ada di tanganku. Apa kau bisa mengambilnya dariku?" ucap Sena dengan kalimat yang seolah menantang.

Juhan hendak mendekati Sena, tetapi langkahnya terhenti ketika dia menyadari ada kehadiran seseorang di belakangnya. Tangan cantik seorang wanita perlahan bergerak memeluk tubuh Juhan dari belakang.

Wanita itu melancarkan rayuan demi rayuan yang kini membuat perhatian Juhan beralih kepadanya.

"I want you, Juhan. Aku ingin bersamamu malam ini."

1
Dyass Stia Clalu
👍👍👍
Sindy Bandari
lanjut🤭🥰🤗
Nurkhakimah
ceritanya bertelele banget sih....sena terlalu bar bar dan ceroboh
WILANA
semoga sena tidak apa² dan bisa bersatu lagi dgn juhan.
WILANA
lanjut thor terima kasih
WILANA
aduh thor buat patah semangat...udah lama di tunggu² kok sedikit kali.please up lagi dong thor.sena bertahanlah juhan kekasihku akan datang menyelamatkan mu.semoga sena tidak apa² y .
WILANA
please thor cepat dong up nya.,.terima kasih
WILANA
hhmm...nunggu lagi.,I miss you..😔
WILANA
please lanjut lah thor,..
WILANA
kok belum up juga thor...berharap juh an dn sena bersatu lagi...pasti so sweet deh membayangkannya.,😍
Diana Ana
ceritanya berbelat belit 😂🤣😂🤣😂
WILANA
lanjut thor...
WILANA
mudah²an juhan gak jadi tunangan..dn dewi keberuntungan berpihak sm sena...sabar sena,jodoh gak kan kemana💕
WILANA
I love sena and juh an .,..💕
WILANA
lanjut thor...semangat,semoga cepat up nya..💪
WILANA
jgn lama² y thor..perpisahan sena dn hujan..baru lagi jadian udh berpisah...💔😭
WILANA
aduh thor...deq² kan membacanya...dan tak sabar membacanya lagi...lanjut thor.,cepat up nya y....😊
RisaRis27670746
juhan kok gsk jelas gitu sih...kan ikut esmosi
WILANA
maaf y thor ...mo nanya,apa udh gak up lagi...
Yuna.L: Up kak tapi slow ya. Karena saya sudah kembali sibuk pindahan keluar negeri. Saya membuat novel ini hanya untuk mengisi waktu kosong saja selama di rumah. Semoga saya bisa menyelesaikan cerita ini dengan lebih cepat ya. Terima kasih sudah mau mampir di novel aku.
total 1 replies
RisaRis27670746
mestinya juhan cerita lah masalahnya biar tdk salah paham lagi dg sena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!