NovelToon NovelToon
Suami Dadakan

Suami Dadakan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Duda / Tamat
Popularitas:9.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: IPAK MUNTHE

Lanjutan dari Dokter Cantik Milik Ceo

Namanya Sahara Putri Baskara, ia adalah seorang dokter muda, memiliki paras cantik dan pesona yang begitu luar biasa. Namun sayang ia terpaksa harus menikah dengan mantan suami wanita yang sangat ia benci, demi membebaskan dirinya dari jerat hukum yang akan ia jalani.

"Kalau kau masih mau hidup bebas dan memakai jas putih mu itu maka kau harus menikah dengan ku!" ucap Brian dengan tegas pada wanita yang sudah menabrak dirinya.

"Tapi kita tidak saling mengenal tuan," kata Sasa berusaha bernegosiasi.

"Kalau begitu mari kita berkenalan," jawab Brian dengan santai.

Lalu bagaimanakah nasip pernikahan keduanya, Sasa setuju menikah dengan Brian karena takut di penjara. Sementara Brian menikahi Sasa hanya untuk menyelamatkan pernikahan mantan istrinya, karena Sasa menyukai suami dari mantan istrinya itu.

Hanya demi menebus kesalahannya, Brian mengambil resiko menikahi Sasa, wanita licik dan angkuh bahkan keduanya tak pernah saling mengenal.


---
21+

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Brian sudah di bawa pulang, dengan terpaksa Sasa kembali pulang kerumah sang mertua untuk tinggal kembali di sana. Sasa rasanya sudah muak dengan Brian, melihat wajah Brian saja ia sudah sangat kesal. Namun Sasa tetap mencoba bersabar dan setelah Brian sembuh ia akan meminta cerai, sungguh tekat Sasa untuk bercerai sudah sangat bulat. Tanpa perduli apa yang akan terjadi pada dirinya, ia hanya ingin hidup dengan damai serta bahagia. Bukan tertekan seperti selama ini ia hidup dengan Brian.

"Sa," Brian yang duduk di kursi roda memanggil Sasa yang tengah duduk di sofa dengan ponsel di tangannya.

"Em," jawab Sasa dengan cuek, bahkan ia tak menatap Brian sedikit pun.

"Sasa, aku mau minun," pinta Brian.

Sasa meletakan ponselnya di meja dan menatap Brian, "Aku?" gumam Sasa, dengan sedikit aneh. Sebab biasanya Brian selalu menggunakan kata saya, seolah mereka hanya orang asing saja.

"Sasa, aku haus," Brian mengulangi lagi apa yang tadi ia inginkan, "Tolong ambilkan aku air," pinta Brian lagi.

Sasa tak menjawab, ia bangun dari duduknya dan mengambil air minum untuk Brian. Hingga beberapa saat kemudian Sasa kembali dengan membawa gelas di tangannya.

"Ini," kata Sasa memberikan gelas itu pada Brian.

Brian mengambilnya dan dengan cepat mendeguknya, dan kembali memberikan gelas kosong itu pada Sasa. Sasa menerimanya lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Ayo berdoa Mas, waktu mu hanya tinggal dua menit dan di mulai dari.......seka....rang," Sasa tersenyum pada Brian.

Sementara Brian bingung dengan apa yang di katakan Sasa, "Maksud mu apa?" tanya Brian tak mengerti.

"Itu airnya aku kasih racun, ayo berdoa di mulai dari sekarang?" jawab Sasa tersenyum lebar.

"Racun?" tanya Brian tak percaya, namun ada rasa panik yang ia rasakan, "Kamu memasukan racun pada minuman itu?" tambah Brian semakin panik, bahkan ia memegang dadanya.

"Iya, biar kamu cepet mati Mas. Kalau kamu mati aku jadi janda, nggak papa. Yang penting aku nggak tersiksa karena menjadi istri kamu," Sasa semakin melebarkan senyumnya, melihat wajah Brian yang semakin memucat, "Ayo berdoa Mas, atau ucapkan maaf pada orang-orang yang sudah kau sakiti. Termasuk aku," tambah Sasa lagi.

"Sasa, kamu serius. Jangan main-main!"

"Wahahahahaaaa," Sasa malah tertawa lepas melihat wajah Brian, "Aku nggak mencampurkan obat apapun Mas, tapi kalau kamu masih berlaku semau mu sama aku. Aku jamin itu akan terjadi," Sasa tertawa lebar sambil melangkah masuk kedalam kamar mandi, suatu hiburan melihat wajah ketakutan Brian. Bahkan ia baru tau ternyata Brian bisa juga merasakan takut, padahal Sasa hanya sekedar main-main saja.

*

Siang harinya, Sasa menyajikan makanan untuk Brian. Ia membawanya ke kamar sebab Brian mengatakan kakinya sangat sakit, hingga tak bisa di gerakan sama sekali. Sasa menurut saja, walal pun ia sangat ragu apakah Brian benar-benar sakit atau berbohong.

"Mas ini makan siangnya?" Sasa meletakannya di atas meja, "Mau turun dari kursi rodanya, atau nggak?" tanya Sasa.

"Di sini saja," kata Brian menatap makanan yang di bawa Sasa.

"Ayo, aku suapin. Buka mulutnya," Sasa tersenyum dan meminta Brian mau di suapi. Namun Brian malah bergidik ngeri dengan tingkah Sasa yang tadinya marah-marah. Kini berubah baik. Ia juga menatap makanan yang di pegang Sasa, takut jika makanan itu beracun.

"Kamu coba dulu makananya," Brian tak mau mati konyol hingga lebih baik ia meminta Sasa memakannya terlebih dahulu.

"Kok aku yang makan duluan?" tanya Sasa bingung, "Mas takut aku racunin beneran ya?" tabak Sasa sambil tertawa melihat Brian yang terus berusaha menutupi rasa takutnya, namun Brian salah, Sasa sangat mengerti watak seseorang atau pun seperti apa kondisi seseorang.

"Cepat, jangan banyak bicara!"

"Ok......" Sasa tersenyum dan mulai menyuapi makanan itu ke mulutnya, bahkan hingga habis setengahnya.

"Hey....." Brian yang melihat Sasa makan dengan sangat lahap dan baik-baik saja mulai mendeguk saliva, sebab memang ia sudah sangat lapar, "Jangan di habiskan," kesal Brian, sebab itu makanan untuk dirinya. Tapi Sasa yang malah memakannya.

"Katanya tadi di suruh makan," jawab Sasa sambil terus mengunyah, bahkan ia menunjukan pada Brian bertapa enaknya makanan itu.

"Aku bilang cobain, bukan di abisin!"

"Ya. Telat udah abis," Sasa menunjukan piring kosong tersebut pada Brian.

"Sssstt....." Brian yang sudah lapar mendesis dengan kesal, "Ambil yang baru," pinta Brian dengan tegas tanpa ada penolakan.

"Ok......." Sasa tersenyum penuh kemenangan, ia sangat senang karena berhasil mengerjai Brian. Beberapa saat kemudian Sasa kembali ke kamar demgan membawa piring berisi lauk dan nasi. Ia bejalan mendekati Brian, "Mau aku cobain dulu?" tanya Sasa menggoda Brian.

"Nggak usah," Brian yang sudah sangat lapar langsung mengambil alih piring di tangan Sasa, dengan cepat ia menyedok kemulutnya.

"Lapar apa kelaparan?" seloroh Sasa.

Brian tak menjawab sama sekali, ia terus melanjutkan makan karena ia sedang berusaha sabar menghadapi Sasa agar tak pergi meninggalkannya. Hingga akhirnya Brian menghabiskan semua makanannya dan mendeguk air, setelah itu ia duduk dengan santai.

"Rasanya enak ya Mas?" tanya Sasa sambil membereskan piring bekas Brian.

"Lumayan," jawab Brian.

"Iya.....mungkin karena tadi kejatuhan kotoran cicak ya Mas. Jadi rasanya tambah enak, terus aku kasih air liur sedikit," ucap Sasa santai lalu melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Brian dengan mata yang melebar karena perkataannya.

"Kotoran cicak, air liur," gumam Brian, "Huekkk....hueek....." Brian berusaha memuntahkan makanan yang ia makan, sesaat kemudian Sasa kembali dan melihat apa yang tengah di lakukan Brian.

Sasa tersenyum, "Bercanda Mas, aku nggak sejahat itu. Nggak ada kotoran cicaknya, ngga ada juga aku tambah air liur," ucap Sasa.

Brian menatap Sasa, sudah kedua kalinya Sasa mengerjai nya hari ini. Brian tak menyangka ternyata Sasa begitu pintar, ia pikir tak ada wanita yang berani menentang atau memperlakukannya seperti saat ini. Namun ternyata ia salah, Sasa benar-benar mampu membuatnya panik.

"Kau sangat tidak sopan pada suami!" Brian masih mencoba mempertahankan harga dirinya di hadapan Sasa, walau pun ia sudah di kalahkan hari ini bahkan sampai dua kali.

"Lelaki yang sayang sama istrinya, yang menghargai istrinya baru bisa di sebut suami. Di hargai dan di cintai, bukan seperti Mas, bicara seenaknya tanpa perduli perasaan istri!"

Ucapan Sasa bagai petir bagi Brian, sejenak Brian terdiam akan apa yang di katakan Sasa memang ada benarnya. Namun ia masih tetap tak mau di katakan salah.

"Kau ingin mengajari ku tentang cara menghargai?"

"Em, ngapai Mas di ajarin. Lagian abis Mas sembuh kita cerai, kita cerai nggak susah. Tinggal jatuh talak selesai."

Brian lagi-lagi diam, ia tak mau bercerai dan semua sungguh membuatnya menjadi bingung.

1
cetom😘😘
profesi torr
nissa
dasar nenek2 hehe
nissa
bagus banget nama nya
nissa
woi belum mandi itu si lila nya
nissa
duh bahagia nya yang sudah belah duren
nissa
hehe, si rendi jadi ke pingin juga tu
nissa
haha, salah lho sendiri mo nyerein lila
nissa
kok ciut nyali si rendi hehe
nissa
hehe ada yang lagi merayu
nissa
la kan lila sendiri yang pingin cerai
nissa
sabar ren jangan emosi, awas naik ke ubun2 lho
nissa
haha, dasar si banci bikin si brian takut aja hehe
nissa
ya ela
nissa
rasain lho kena kerjain brian hehe
nissa
rendi sama aja dengan brian maksa hehe
nissa
bar bar bener si lila hehe
nissa
bener tuh
nissa
waduh, kok gak ada yang nolongin sasa ya
nissa
enak bener jadi istri nya boss, minta ini itu di beliin baik banget deh si brian
nissa
ehem
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!