Terjebak di antara cinta kedua pria tampan, sebenarnya itu tak diharapkan oleh Kanzha Almayra atau yang lebih dikenal sebagai Ayra.
Terlebih lagi, kedua pria tampan tersebut adalah kakak-beradik kandung yang berasal dari keluarga yang kaya raya dan cukup terkenal.
Ayra tak menyangka jika kedua pria itu akan terpikat oleh dirinya. Padahal, Ayra hanya seorang gadis dari keluarga miskin dan seorang yatim piatu.
Kejadian demi kejadian mengharuskan Ayra lebih dekat kepada kedua pria tampan tersebut. Walaupun pertamanya Ayra kesal kepada mereka, namun sikap dan sifat keduanya membuat Ayra yang ketus menjadi tulus.
Akankah salah satu diantaranya mampu meluluhkan hati seorang Ayra? Ataukah, Ayra tak 'kan terpikat oleh keduanya dan lebih memilih pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lien Machan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari dia
Pagi ini semua siswa kelas tiga berkumpul di aula sekolah. Para guru menyampaikan pemberitahuan bahwa seminggu lagi akan di adakan ujian akhir nasional.
Berarti sebentar lagi mereka lulus dan melanjutkan pendidikan jenjang yang lebih tinggi bagi yang mampu. Untuk yang tak punya biaya, mereka akan cenderung mencari pekerjaan.
"Ay, kamu mau lanjut kuliah dimana?" Samar-samar Tasya mendengar pertanyaan Desti kepada Ayra.
"Aku gak tahu, Des. Mungkin akan bekerja dulu untuk mencari biaya kuliah!" Jawab Ayra.
Tasya tersenyum meledek mendengar jawaban Ayra. Dia yakin kalau dirinya pasti melanjutkan kuliah daripada Ayra.
"Dasar pembokat. Kau memang tak pantas untuk melanjutkan pendidikan. Untuk apa kau bersekolah tinggi-tinggi? Ujung-ujungnya pasti jadi tukang ojek lagi." Ketus Tasya saat melewati Ayra dan Desti.
Keduanya menoleh ke samping untuk melihat siapa yang berbicara.
"Cih, dia itu belagu. Gayanya setinggi langit, tahu-tahunya selama ini yang biayain sekolah dia itu kamu, Ay!" Cibir Desti.
"Ssssttt, udah Des. Jangan ribut sama dia, biarin aja dia mau ngomong apa aja!" Lerai Ayra yang tak mau berdebat dengan saudari tirinya.
Seusai pengumuman para guru, semua siswa-siswi pun berhamburan keluar aula menuju kelas masing-masing.
Ayra mengedarkan pandangannya menyapu seluruh kelas. Sepertinya ada yang kurang, tapi apa ya?
Seseorang datang ke kelasnya dengan membawa kabar yang menghebohkan. Sampai semua orang berkumpul mengerubunginya seperti lalat karena penasaran dengan berita terkini yang lagi di perbincangkan seluruh siswa-siswi, dan juga para guru di kantor.
"Eh eh eeehhh, tau gak? Denger-denger katanya Kendra udah keluar dari sekolah kita ini, tahu!" Kata siswi itu dengan menggebu.
"Apa? Masa sih?" Mereka terkejut dengan berita yang di sampaikan.
"Apa alasan Kendra keluar dari sekolah kita?"
"Aduh, belum juga gue gaet tuh Kendra. Dia malah udah keluar aja!"
"Iya, padahal ujian tinggal seminggu lagi, lho! Kenapa dia keluar ya?"
Celotehan kecewa dari para siswi fansnya Kendra berkumandang, termasuk Tasya.
Sedangkan Ayra dan teman-teman, mereka hanya terdiam mendengar kehebohan para siswi itu dengan biasa saja.
Namun, hati Ayra menjadi gelisah. Bagaimana tidak? Terakhir kali dia ketemu Kendra seminggu yang lalu, dan Kendra meminta sesuatu kepadanya. Kalau tidak di setujui, dia akan pergi selamanya.
Dan kemarin, Ayra memang tak menyetujui permintaan Kendra yang di bisikkan di telinganya.
"Gue pengen lu jadi pacar gue mulai sekarang dan selamanya. Jika lu gak mau, anggap saja kita gak pernah kenal dan gue akan pergi untuk selamanya dari kehidupan lu!"
Kata-kata Kendra masih terngiang di telinga Ayra. Namun, Ayra tak menyangka jika Kendra akan benar-benar pergi jika dirinya tak menyetujui permintaan Kendra.
Apalagi, saat Kendra merengek mempermasalahkan ciuman tak sengaja Ayra di pipinya. Dia sampai memperlihatkan wajah sedihnya kepada Ayra. Pipi gue udah gak perjaka lagi.
Ekspresi wajah sedih Kendra masih terbayang di pikiran Ayra.
Apa bener Kendra pergi? Lalu, saat kemarin dia bilang pertemuan terakhir itu ...! Ah ya ampun, apa ini salahku lagi?
Namun Ayra tak tahu yang sebenarnya tentang Kendra ataupun akal bulus Kendra yang sengaja membuat Ayra marasa bersalah. Hahaha!
Melihat Ayra yang melamun, Desti, Rania, dan Randi menjadi heran. Di saat semua orang membicarakan kepergian Kendra yang tiba-tiba tanpa alasan, dia malah melamun dengan sesekali memijat pelipisnya.
"Ay, kamu kenapa sih? Dari tadi melamun terus?" Pertanyaan Desti membuat Ayra tersadar dari lamunannya. Ia pun menoleh ke arah sahabatnya.
"Ah iya, kenapa Des?"
"Kamu mikirin apa sih, Ay? Sampai ngelamun gitu?" Tanya Rania.
"Ti-tidak ada, kok! Aku cuma mikirin ... kontrakan, ya duit kontrakan. Hehehe!" Ucap Ayra berbohong setelah menjeda ucapannya barusan.
Teman-temannya mengangguk kemudian mengelus lengan Ayra untuk memberi semangat. "Sabar ya, Ay. Nanti kita bantu kamu nyari duit buat bayar kontrakan."
"Eng-enggak usah, gengs. Aku akan bekerja lebih keras supaya dapat uang lebih. Terima kasih karena kalian sudah mau menolong dan selalu memperhatikanku. Mendukungku di saat kesusahan."
Mereka berpelukkan di tengah kehebohan mereka yang kecewa dengan kepergian Kendra yang mendadak.
Bel pulang berbunyi nyaring. Semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas untuk pulang.
"Ay, kita anterin kamu pulang yuk!" Ajakan Desti hanya di tanggapi gelengan kepala oleh Ayra.
Dia harus segera ke apartemen Kendra untuk memastikan bahwa kabar itu bohong.
"Enggak usah, Des. Tempat tinggalku deket kok! Jadi, kalian tak perlu repot-repot nganterin aku." Tolak Ayra.
"Kita kan mau tahu kontrakanmu, Ay. Apa salahnya sih!" Rengek Rania.
Namun Ayra tak menghiraukan rengekan sahabatnya. Ia terus mempercepat langkahnya sambil melambaikan tangan, "Lain kali aja ya. Aku lagi ada urusan! Ketemu besok ya, bye ...!"
"Ayra, tunggu! Kita ...,"
Perkataan Randi pun tak sempat di dengarkan Ayra karena dia keburu pergi.
"Haish, Ayra. Ya sudahlah, biarkan dia menyelesaikan urusannya!"
Ketiganya pergi menuju kendaraan masing-masing untuk pulang.
•
•
Ayra tiba di parkiran apartemen mewah. Ia menstandarkan motor maticnya, kemudian melangkah menuju loby yang sudah di jaga dua satpam.
"Siang, pak." Sapa Ayra sopan.
"Siang juga neng. Mau ketemu siapa?" Tanya satpam.
"Aku mau ketemu ...!" Sebelum Ayra menjawab, satpam satunya keburu menegur Ayra.
"Eh, si neng temennya den Kendra bukan ya?"
Ayra melirik pak satpam yang baru dateng. Ia ingat kalau satpam ini yang dulu ketemu dia pas dateng bersama Kedra kesini.
"Emm, iya pak!" Jawab Ayra dengan tersenyum.
"Ada perlu apa kemari? Apa di suruh ngambil barang milik den Kendra yang tertinggal?" Ayra mengerutkan dahi mendengar perkataan pak satpam.
"Tidak, pak. Aku ingin ketemu dia!"
Kini giliran kedua satpam itu yang mengerutkan dahi sampai keduanya saling melirik satu sama lain.
"Lho, kenapa kemari! Kenapa tidak dateng ke rumahnya saja?" Kata pak satpam dengan terheran.
"Bukankah Kendra masih tinggal disini? Lagipula, aku tidak tahu rumahnya pak." Ucap Ayra jujur.
"Lho kok! Bukankah kalian ini berteman?" Tanya pak satpam.
Gadis itu hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Den Kendra waktu itu di jemput sama beberapa orang berbadan besar dengan mobil pribadi. Mungkin itu suruhan orang tuanya. Karena bapak denger, dia sudah di tungguin ayahnya di bandara. Hari itu juga dia berangkat ke luar negri!" Tutur pak satpam.
"Apa pak? Keluar negri?"
"Memangnya den Kendra gak bilang sama neng, ya. Kalau dia sudah gak tinggal disini lagi dan mau pergi?"
Ayra terkejut bukan main. Dia menggelengkan kepala pertanda kalau dia tak mengetahui kabar apapun dari Kendra.
Berarti, yang diomongin anak-anak di sekolah beneran dong. Kalau si markoho jelek keluar dari sekolah. Tapi, kenapa?
"Neng ... neng ... kok malah melamun sih!"
Satpam sampai harus menepuk lengan Ayra karena, gadis itu malah terdiam.
"Ah, eh, i-iya pak. Terima kasih, pak!" Ucapnya kemudian. "Umm, kalau begitu, aku permisi pulang ya pak. Sekali lagi, terima kasih atas informasinya!"
Ayra pun melangkah pergi setelah berpamitan kepada kedua satpam setelah pak satpam membalas ucapannya. "Sama-sama."
Perasaan Ayra saat ini tak karuan. Dia terus memikirkan apa yang terjadi dengan Kendra. Apa Kendra di paksa ayahnya untuk pindah ke luar negri? Ataukah si markoho jelek itu hanya mempermainkan dirinya saja supaya mau menerima permintaan konyol Kendra?
Kini gadis itu sudah sampai di kontrakannya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tikar yang sengaja ia gelar untuk tidur.
"Apa dia beneran pergi?"
Pikiran Ayra terus tertuju pada pemuda yang beberapa minggu lalu selalu saja mengganggunya. Seharusnya ia senang dengan kepergian Kendra.
Bukankah jika Kendra pergi, dia gak akan di ganggu oleh si marjoho jelek itu! Tapi, kenapa sekarang dia malah memikirkannya?
"Arrggghhh ... apa urusanku jika dia pergi atau tidak! Haahhh, aku pusing mikirin si jerapah burik itu. Huuuh, bisa-bisanya aku mikir kalau ini semua salahku? Mungkin saja keluarganya menginginkan pendidikan yang terbaik buat dia."
Semua pikiran tentang Kendra pun, ia tepis sejauh mungkin. Dia gak mau terganggu dengan urusan pemuda jahil itu.
Walaupun ia mengatakan itu, tapi tetap saja hatinya tak tenang dan memikirkan keputusan yang diambil Kendra.
Dia pun terus mengingat permintaan Kendra yang di bisikkan di telinganya minggu lalu.
"Jadilah pacar gue. jika lu gak mau, anggaplah ini pertemuan terakhir kita!"
Kesepakatan yang di minta Kendra dan harus di sepakati oleh Ayra dengan alasan biar gak saling rugi, terus saja terngiang di pikiran gadis itu. Entah pemuda jahil itu yang sedang ngelindur, atau Ayra yang salah mendengar bisikan Kendra.
Walaupun matanya sangat ingi terpejam, tapi ia tak bisa tidur untuk menghilangkan atau melupakan kata-kata Kendra saat itu.
"Huaaaaa ... markoho jelek. Aku membencimu!" Teriak Ayra dengan keras seperti orang kesurupan.
Entah ada orang yang mendengar atau tidak, yang pasti Ayra tak perduli.
▪▪▪▪▪▪
Terima kasih dukungannya.
Semoga mama nya cepet sembuh ya kak Machan
Semangat dan sukses Machan 🥰
Kisah yang kamu tulis ini sudah sangat bagus. Semua tokohnya bahagia. Dan semoga kebahagiaan juga menaungi othornya.
Bunga-bunga untuk Bang Kend dan Ayra 🌹
Selamat Ayra - Kendra, Mela -Andra. Semoga kebahagiaan selalu menaungi kalian 🥰
juga untuk Thor nya 😍😍