NovelToon NovelToon
Nikah Dulu Pacaran Kemudian

Nikah Dulu Pacaran Kemudian

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:321.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rifky Adek

Gema adalah seorang Manajer Pemasaran pada salah satu perusahaan di Jakarta. Kerja keras dan semangatnya untuk meniti masa depan melupakannya untuk mencari pasangan.

Beberapa kali ia bertemu wanita, tetapi selalu saja ia tolak. Standar yang terlalu tinggi untuk mencari wanita yang sempurna, membuat dirinya belum bisa menikah.

Sampai akhirnya mama Gema menjodohkannya dengan seorang gadis desa bernama Ratih. Ratih sendiri merupakan gadis polos dan cantik, yang baru saja pindah ke Jakarta beberapa bulan lalu karena berhasil diangkat menjadi PNS di Tanggerang Selatan.

Awalnya hubungan mereka selalu dihiasi dengan adu mulut dan saling benci satu sama lain. Perilaku tidak senonoh Gema kepada Ratih juga membuat Ratih semakin tidak menyukainya.

Namun siapa sangka, mereka seperti menjilat ludah sendiri, ketika sebuah rasa hadir dalam hubungan mereka. Membuat mereka sadar bahwa menikah dahulu dan pacaran setelahnya adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan kepada mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Adek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Rindu

"Wahai bulan apakah yang harus aku lakukan? Apakah ini yang dinamakan dengan rindu ? Ketika tak ada kabar dari seseorang menjadi resah dan gelisah." Gumam Ratih.

Kini ia duduk di atas kasur. Sudah dua hari ia menunggu, namun masih belum ada balasan pesan dari Gema.

"Apa benar ia sibuk? Atau jangan-jangan dia hanya mempermainkan perasaan ku saja, atas perasaan bersalahnya kemaren. Berarti dia minta maaf ga benar-benar tulus dong. Arghhhh!" Sekelebat pertanyaan datang ke kepala Ratih, membuat pikirannya melayang kemana-mana.

Berkilah tidak merasakan apapun, tapi diri dan hati Ratih seperti ingin mendapatkan perhatian. Ia memeluk dirinya sendiri. Meletakan tangan ke arah bahu, membentuk kupu-kupu. Tangannya terus mengusap tubuh, dan lambat laun merebahkan diri ke kasur yang empuk.

Ia melepaskan pelukan, dan kemudian meraih ponsel miliknya. Masih mencoba melihat layar ponsel untuk memastikan apakah ada balasan pesan dari Gema atau tidak. Tapi tetap saja, masih belum ada balasan.

Ratih menghela nafas panjang. Apakah ia harus mengikuti saran dari Nina dan menelepon Gema? Apakah nanti suaminya itu tidak akan ke-ge-er-an mendapat telepon dari istrinya yang terlihat seperti musuh bebuyutannya?

Namun, hasrat Ratih yang ingin mengetahui kabar Gema tak dapat dibendung lagi. Dengan cepat ia mencari kontak Gema dengan nama kontak kemusuhan.

Ia menekan tombol yang berbentuk gagang telepon, dan berharap panggilan itu bisa disambungkan dengan segera. Tak lama suara pria terdengar melalui ponsel Ratih.

"Halo"

Hanya sebuah kata sapaan ternyata membuat tubuh Ratih bergetar. Jantungnya kembali berdetak memacu darahnya dengan cepat.

"Ha-Halo" Ratih menjawab terpatah-patah.

Sesaat saling menyapa usai. Keduanya saling diam sejenak, seperti bingung harus berkata apa. Namun, suara Gema kembali terdengar dari ponsel Ratih.

"Hmm, kalau aku boleh tau, kamu ada apa nelfon aku?"

"Ehh...itu...Anu...Aduh..."

"Iyaa, kenapa? Coba jawab pelan-pelan"

Ratih sangat gugup. Ia bahkan tak percaya yang berbicara dengannya sekarang adalah orang yang sama sebulan lalu. Yaitu orang yang menekan bagian sensitifnya. Atau orang yang sama yang melihat bagian indah dari tubuhnya. Bahkan beberapa minggu yang lalu masih bersikap ketus kepadanya.

"Halo, Ratih? Kamu masih di sana?"

Ratih kemudian tersentak dari lamunannya. Kini bukan hanya sekedar berdebar, hatinya seperti akan meledak. Bukan hanya panggilan kamu dan aku. Tapi sekarang Gema memanggil namanya.

"Eh iya, maaf. Aku mau nanya aja, kamu lagi sibuk gak?"

"Enggak kok...enggak...kenapa emangnya?"

Padahal Gema sedang mengerjakan sebuah laporan perjalanan yang nanti akan diserahkan ke perusahaan. Adam yang di sebelah Gema hanya mendengarkan sambil geleng-geleng kepala.

"Hmmm, kalau aku mau ngobrol boleh?"

"Hahaha, ini kan kita lagi ngobrol"

"Bukan, maksudnya tu gini. Ehh gimana ya? Kaya cerita gitu, mungkin kaya cerita seharian kemaren kamu ngapain aja? Hmmm gimana? Membosankan ya? Boleh deh kalau gamau kita ganti yang lain aja"

"Haha, iya boleh kok. Kamu dulu deh yang cerita. Aku jadi pendengar yang baik."

Kemudian Ratih memulai ceritanya. Awalnya dia sempat terbata-bata karena bingung harus bercerita apa. Namun lama kelamaan ceritanya menjadi lancar jaya. Ia bercerita banyak hal tentang kesehariannya.

Mulai dari bagaimana Nina yang suka mencubit gemas pipinya. Atau Nina yang sering curhat mengenai orang yang pernah dekat dengannya. Termasuk para pria yang berkelakuan aneh.

Gema mendengarkan perkataan istrinya dengan serius. Sesekali ia tertawa ketika istrinya itu bercerita sesuatu hal yang lucu. Ratih sepertinya sangat senang. Beberapa kali ia mengubah posisi saat menelepon.

Mulai dari duduk, telungkup dan telentang. Semuanya ia lakukan. Terkadang kakinya seperti mengayuh ala perenang, dan menghentakannya ke air. Namun, kali ini yang ada hanya kasur.

Gema masih fokus dengan laptopnya. Jari-jarinya mengetik dengan cepat, sementara ponselnya ia taruh di atas kasur dengan mode loudspeaker. Ia menelungkup di kasur dengan kepala yang tetap menghadap laptop. Ada beberapa jerawat kecil yang terlihat pada dirinya. Mungkin karena ia sering begadang dan juga stress dengan pekerjaan. Namun, hanya ia yang tahu apa yang dirasakannya sekarang.

Tanpa terasa mereka sudah ngobrol cukup lama. Waktu pun sudah menunjukan pukul 11 malam lewat 35 menit. Tapi tetap saja Ratih nyerocos tanpa henti.

"Eh, aku mau nanya sesuatu. Kok kemaren kamu ga balas pesan aku?" Tanya Ratih.

"Oh itu....maksudnya...aku kira udah aku balas, mungkin aku lupa, hehe."

Kali ini Gema ngelantur kemana-mana. Matanya masih berusaha untuk terjaga, ketika rasa lelah dan kantuk datang menyerangnya.

Disisi lain Adam sudah tertidur dengan pulas. Meninggalkan Gema seorang diri. Yang menemaninya kali ini hanyalah sebuah laptop yang masih menyala dan suara ratih lewat ponsel genggamnya. Ia heran berapa banyak baterai yang ada dalam tubuh istrinya itu.

"Oh gitu, kamu udah ngantuk?" Ratih bertanya lembut.

"Be-belum kok. Belum..." Gema berusaha sok kuat. Menepuk-nepuk pipinya untuk tetap terjaga.

"Sebenarnya aku mau bilang sesuatu sama kamu. Entah kenapa akhir-akhir aku ngerasain sesuatu yang beda. Kita baru aja menikah lebih kurang dua minggu yang lalu. Aku sadar awalnya kita juga saling bermusuhan. Adu mulut, perang dingin seperti kucing dan anjing."

"Biasanya setiap pagi ada harus yang aku siapkan, mulai dari membangunkanmu sampai menyiapkan kebutuhanmu hingga malam pun datang kembali. Tapi semakin ke sini aku ngerasa bahwa aku..."

Ratih menghentikan perkataannya. Sebuah kata yang sebenarnya sudah diujung lidah, dan ia sangat ingin mengatakannya sekarang juga.

"Bahwa aku..."

Ratih memulai dan memberanikan diri untuk mengatakan kata itu kembali. Ia menghela nafas panjang dan bersiap-siap mengucapkannya.

"Aku rindu kamu."

Akhirnya kata itu terucap. Wajah Ratih seketika memerah seperti kepiting rebus. Nafasnya tersengal-sengal dan jantungnya serasa berhenti. Namun Gema hanya diam dan tidak merespon.

Apakah dia marah? atau mungkin dia kehabisan kata-kata saat Ratih mencoba mengatakannya. Semua pertanyaan itu kini berputar di benak Ratih.

"Halo?" Ratih mencoba memastikan bahwa suaminya masih di sana.

Dan ternyata sebuah dengkuran halus terdengar di balik ponsel yang Ratih genggam. Ia tersenyum lega. Lega karena ia bisa mengungkapkannya, dan lega karena suaminya tidak mendengar apa yang diucapkannya barusan.

"Selamat malam suamiku, selamat tidur, mimpi indah ya..." Ratih menutup teleponnya dengan kata-kata yang menyejukan.

Kalau saja Gema mendengar ucapannya mungkin ia takkan tidur semalaman. Namun untungnya pria itu tertidur pulas. Merasa lelah dengan rutinitas dunia yang tak tahu kapan berakhirnya.

Menidurkan diri sejenak dan masuk ke alam mimpi, menjadi pilihan terbaik saat panggung sandiwara itu memaksa Gema memainkan perannya.

1
Ilmara
Harus sabar2 Gema ngadepin temen kayar erick
Ilmara
gema, gema
Abdy Mensuk
bagus
abdan syakura
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh
hi kak Rifky
salken yaa..
Neng Win
br nyimak
Kartika Rika
lanjut Thor
Yessyka June
mantaappp thorrrr....
salam buat urang minang, salam utk urang kampuang awak...
urang minang nihh.. othor orng mana nih??
jd kangen main ka taplau😄
Wiwit Wilowati
lanjut Thor ceritanya bagus banget
dite
😹😹😹😹😹😹😹😹
astaga
Cahaya
Ni othornya cewek/cowok y..
soalnya jarang bgt Nemu novel othornya cowok..ceritanya mnarik, rapih lg,,ga tw dh slanjutnya..
lanjut ja dh,,smangat KK othornya y..
gia anggi🌷
ga ditamatin disini ya?
waduuuh nanggung amat yaa
gia anggi🌷
ya wanita jantan❎
IYA wanita jantan ✅
gia anggi🌷
kirain yg disiapin sarapan special,, rau nya roti susu doank😅
gia anggi🌷
aga aneh yaa...biasanya kan cewe tuh yg ngerasa ketakutan dinikahin pria yg ga dikenalnya
gia anggi🌷
eh ini authornya laki2 yaa...
salken yaa
gia anggi🌷
buahahahah...ga bisa ngebedain apah antara chocochip dan tombol lift🤣🤣🤣
gia anggi🌷
tanya Gema...mestinya
Phi Nindy
hobby banget ya itu jari pencet yang sensitif 😀😂😂
Sutiah
kenapa Thor, kok blm up jg 😯
Cici moci
tenang masih bnyak wktu wt bikin ratih...smgat..😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!