"Aku pikir setelah bertemu denganmu aku akan bahagia, tapi yang aku dapatkan hanya kecewa!"
Namun, awal pertemuan yang diharapkan akan menjadi kesan indah yang membahagiakan, justru berbanding terbalik saat Eva mengetahui siapa orang yang selalu ada untuknya. Akankah cinta itu hadir kembali dalam hidupnya, atau hanya akan menjadi kenangan saja?
Ilustrator: Sky_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamila Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu lagi, Yudi.
Karena seharian ini Arya tidak ada kabar, Eva mencoba menghubunginya. Namun tidak ada jawaban. Eva pasrah, mungkin memang dia yang salah. Mungkin saat itu Arya tengah banyak tugas kuliah, sehingga pemuda itu sangat sensitif.
Saat Eva tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur, sambil memandangi langit-langit kamar, terdengar dari balik pintu suara Ayu yang memanggilnya di iringi ketukan di pintu.
"Eva... udah tidur belum?" Suara itu tidak seperti biasanya. Ayu yang sering berteriak, bahkan saat bicara pun terdengar sangat melengking. Beda dengan saat ini, suara yang lemah lembut, menenangkan hati.
Eva beranjak hendak membuka pintu, Ayu berdiri dan tersenyum dengan mata yang sembab. Tatapannya, penuh arti yang mendalam.
Eva membiarkan Ayu masuk ke dalam kamarnya. Ayu mulai menceritakan semua yang dia tahu tentang perginya Arya. Eva terkejut, tidak percaya. Bahkan dirinya yang berstatus Kekasih pemuda itu tidak mengetahui apapun.
Untuk kedua kalinya Eva patah hati. Kenapa setiap dirinya mulai membuka hati, pasti akan di akhiri dengan kekecewaan.
Eva mencoba tegar dengan semua kenyataan pahit yang dia dengar. Dari awal, memang seharusnya dia tidak menaruh rasa pada Arya, pikirnya.
Ini bukan salah Arya. Dia tidak akan tersakiti jika dirinya tidak memberi peluang pada pemuda itu.
"Aku sama sekali tidak tahu Yu, kalau Arya pergi ke Jogja untuk kuliah di sana." Eva menatap dalam bola mata Ayu yang memerah.
"Dia bukan siapa-siapa aku, tapi aku merasa kehilangan Va, maaf," ujar Ayu sembari menunduk.
Dan Eva merasa bersalah pada temannya itu, seharusnya sejak mengetahui bahwa Ayu menyukai Arya dia tidak menerima perasaan Arya pada dirinya. Di sini Ayu menunjukan bahwa dia begitu menyukai Arya.
"Tidak usah minta maaf Yu. Sejak awal aku tahu kamu suka sama Arya, tapi aku egois dan malah menerima cintanya."
Tetapi, bukan dirinya tidak perduli dengan keputusan Arya pergi ke luar kota. Eva pun merasa kehilangan dan terpukul, terlebih dia pergi tanpa pamit.
Eva hanya tidak ingin terlihat lemah untuk kedua kalinya. Cukup sampai di sini, dia bertekad untuk tidak menaruh hati pada siapapun.
"Aku tidak tahu kalau kamu beneran suka sama Arya, sampe setulus ini. Maaf dulu aku egois Yu, harusnya sebelum aku terima dia, aku juga pikirin gimana perasaan kamu."
"Kamu gak salah kok Va. Aku tahu, perasaan itu tidak bisa di paksakan. Aku senang kok kalau Arya bahagia sama kamu. Dan kamu jangan khawatir, aku tidak pernah nangis lama-lama, besok juga udah biasa lagi," ujar Ayu seraya tersenyum dan menggenggam tangan Eva.
___
Sementara itu di tempat lain, Yudi tengah mempersiapkan sebuah makam malam romantis untuknya dan gadis yang dia cintai.
Sebelumnya, pemuda itu sudah mengirim pesan teks kepada Eva agar malam ini dia bisa meluangkan waktunya untuk makan malam bersama. Dan Eva menyetujui.
Tin...tin... (suara klakson mobil).
Eva setengah berlari ke luar, menghampiri seseorang yang tengah menunggunya di kursi kemudi.
"Sabar dikit sih Yud, gak enak sama pemilik kosan kalo berisik jam segini. Lagian kenapa gak telpon aja kalau udah nyampe." Eva bersungut-sungut.
"Maaf, bateraiku lowbat." Yudi menunjukkan layar ponselnya yang mati.
Setelah Eva sudah mengenakan sabuk pengaman, Yudi mulai melajukan mobilnya perlahan.
"Ev, mata kamu kenapa sembab gitu?" Yudi sesekali memperhatikan Eva yang diam sambil memandang keluar jendela.
"Emang kelihatan," tanya Eva.
"Sedikit. Tapi aku masih bisa bedain, saat kamu senang, sedih atau saat kentut diam-diam juga aku masih ingat ekspresi muka kamu," ujar Yudi seraya melirik Eva sekilas.
"Udah ah, jangan bahas itu lagi. Kalau ingat kejadian kamu ninggalin aku, aku jadi bete!"
"Padahal aku pergi juga buat belajar," gumam Yudi.
"Aku baru sadar, kala Yuda dan Yudi itu orang yang sama. Kenapa dari awal gak bilang?"
"Maaf Ev, aku gak ada maksud buat bohongin kamu. Aku hanya mau tahu kabar kamu, aku takut kalau kamu tahu itu aku, aku tidak ada kesempatan buat dekat lagi sama kamu. Aku senang, bisa dekat sama kamu. Ya, walaupun cuma lewat pesan teks."
Eva terdiam sesaat. Entah apa yang dia pikirkan. Yudi yang melihat merasa khawatir.
"Kamu kenapa Ev? sakit," tanya Yudi sambil menempelkan punggung tangan di dahi gadis itu.
"Ngga!" Eva menepis tangan Yudi.
"Kita belum resmi putus, tapi kamu sudah punya pacar baru." Yudi tersenyum, walau pandangannya lurus ke depan.
"Hanya karena gak mau LDR, terus kamu lupain aku," sambung Yudi.
"Udah deh Yud, aku lagi gak mood buat bahas itu. Iya aku tahu aku yang salah, sifat ku kekanak-kanakan."
"Kamu tahu, di Amerika aku ketemu sama kak Novi."
Eva menatap Yudi yang berbicara tanpa ekspresi.
"Terus," tanya Eva acuh.
"Dia nyuruh aku bawa kamu ke sana. Waktu itu aku berpikir, aku tidak yakin bisa nemuin kamu."
"Jadi... kamu mau gak ikut aku ke Amerika," tanya Yudi.
Eva terdiam mendapat pertanyaan dari Yudi. Saat ini memang dia ingin menenangkan hati dan pikirannya, dan ingin melupakan Ar...ya.
Eh, tunggu! Eva menepis pikirannya, dia tidak boleh lari dan melupakan Arya begitu saja. Saat Yudi pergi, pemuda itu juga punya alasan yang masuk akal. Mungkin bedanya, Yudi berpamit sedangkan Arya tidak.
Sebaiknya dia harus tau alasan Arya pergi, mungkin jika ada waktu dia harus menanyakannya kepada ibu kos, selaku ibunya Arya.
"Aku pikir-pikir dulu Yud," jawab Eva.
Sebenarnya, Eva merasa rindu kepada pemuda yang kini ada di sampingnya. Hanya saja malu mengakui dan terlanjur kesal. Jika luluh begitu saja, nanti tidak ada tantangan buat Yudi meminta maaf padanya.
Satu jam sudah berlalu, kini keduanya sudah sampai di tempat tujuan. Eva mendongak memandangi tempat itu dari dalam mobil.
"Kita di mana Yud? Kamu tidak niat mau mencelakai aku kan," tanya Eva curiga.
Yudi mendekatkan wajahnya pada wajah Eva.
"Mana mungkin aku berbuat hal semacam itu sama kamu Ev. Kamu masih tetap gadis yang aku cintai."
"Kita hanya beberapa tahun berpisah, mana mungkin cintaku sama kamu pudar begitu saja. Di sana(Amerika) aku tidak punya waktu untuk pacaran, dan aku pikir aku masih milik kamu."
Eva membuang wajahnya, dia tidak kuat bertatap muka sedekat itu. Apalagi... jantungnya kini berdetak tidak beraturan.
"Ayo turun, jangan takut aku janji tidak akan melakukan hal yang merugikan kamu!"
Eva memicingkan mata, namun akhirnya dia turun juga. Berjalan mengikuti Yudi yang menuntunnya dari depan.
Eva akuin, Yudi adalah pemuda yang sangat romantis. Dan dia rindu menghabiskan waktu bersama dengannya.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, Yudi sudah berhenti. Berbalik badan dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Sebelum masuk, aku mau kamu pakai penutup mata dulu," ujarnya.
Eva tahu pemuda itu sudah menyiapkan kejutan untuknya, namun dia berpura-pura tidak tahu dan masih bersikap sinis.
"Buat apa sih? Kenapa harus pakai ini" tanya Eva ketus.
"Jangan banyak tanya, ayo pakai dulu nanti keburu malam." Yudi menutup mata Eva, awalnya gadis itu menolak namun Arya bujuk dan akhirnya menurut juga.
Yudi menuntun Eva berjalan perlahan, mungkin sekitar sepuluh langkah dan beberapa kali berbelok arah, akhirnya mereka berhenti.
"Dalam hitungan ke tiga, kamu baru boleh membuka penutupnya. Oke?"
Eva pun mengangguk, dia tidak sabar ingin segera melihat kejutan apa yang sudah di siapkan oleh Yudi.
"1...2...3... Sekarang boleh di buka..." Eva membukanya. Dia terkejut dan terharu saat melihat ada banyak lilin dan..."
"Ayo kita duduk di sana," ajak Yudi mengulurkan tangannya. Eva menatap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca.
Lalu Eva menerima uluran tangan pemuda itu, dan berjalan menuju meja yang sudah di siapkan dengan bergandengan tangan.
"Maaf ini sederhana banget kan? Semenjak aku datang ke Indonesia, dan tahu tempat tinggal kamu, aku belum pernah kasih kejutan lagi buat kamu."
Eva terdiam, dia tidak bisa berkata apapun, selain terharu yang menyelimutinya.
Dan saat Yudi memeluknya pun, dia tidak menolak. Eva justru menangis terharu dan meluapkan semua yang mengganjal di hatinya.
jangan patah semangat ea thoor 😘
ohyaa, akuu jugaa writtrer lohh btw, bisaa juga kalian baca ceritakuu, namanya "My Girlfriend Is Mafia". Mohon dibacaa yaa eehhehehee.. Makasi bangett bagi yang sudah nyempetin baca 😊😊
semangat buat thor nyaa!! 💪💪
salam dari: Monopoli Cinta Tuan Muda.
Mari saling mendukung ☺
suka...🤩🤩🤩