Kita semua tahu, bahwa kehidupan yang terjadi dimuka bumi ini sudah ada yang mengatur. Begitu juga dengan yang nama nya "JODOH ".
Siapa yang tahu akan kehidupan dimasa yang akan datang, pasti manusia ini hanya bisa mengatur rencana seindah mungkin. Akan tetapi, Allah lah yang akan menentukan akhir dari rencana indah itu.
Seperti kisah seorang guru Agama di Sekolah Menengah Atas, dia bernama Bulan. Kisah cintanya tak semulus ilmunya, dia sudah merencanakan pernikahan yang di dambakan. Akan tetapi takdir berkehendak lain, rencananya itu hanya tinggal rencana. Di karenakan, calon suaminya harus mengalami kecelakaan. Betapa hancur hatinya saat itu, tapi dia harus tegar dan ikhlas menghadapi semuanya.
Tapi Bulan juga tak menyadari jika ada seorang pemuda yang sungguh mengaguminya, pemuda itu jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi sayang, cintanya harus kandas sebelum di ungkapkan.
Begitulah takdir, tiada yang tahu akan alur ceritanya.
Untuk cerita lebih lanjut, mari kita simak kisah cinta mereka di Novel Ustadzah, I Love You.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Astuti Fatmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang mendebarkan 2
Tangan dan mulut Bulan memang sedang beraktivitas untuk makan, akan tetapi hati dan pikirannya entah kemana perginya. Dia terlihat begitu gelisah, meski tak henti ia berzikir di dalam hati. Alesa yang menyadari akan kegundahan hati adik perempuannya itu pun mencoba menenangkan nya.
" Dek, banyak-banyak berzikir. Jangan terlalu gugup gitu, mbak dan yang lain akan mendukung apapun keputusan mu nanti. " Bisik alesa di telinga Bulan.
" I-iya mbak, Insya Allah. " Gugup Bulan.
" Cepat di habiskan makannya, nanti yang lain sudah pada selesai kamu belum." Alesa mengingatkan.
" Iya mbak, ini juga sudah mau selesai." Bulan mempercepat makan malam nya.
Selesai sudah acara makan malamnya, dan akan di lanjutkan ke acara intinya. Setelah semua berkumpul kembali di satu ruangan, maka mereka akan mulai membahas pokok intinya.
" Bismillāhirrahmānirrahim, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakātuh." Pak Iman mulai membuka acaranya.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakātuh. " Jawab semua secara bersamaan.
" Langsung saja semuanya, tentu kita semua sudah tahu akan acara malam ini. Tapi sebelumnya, saya sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih akan penyambutan dan jamuannya. " Sambutan pak Iman tanpa basa basi.
" Begini pak Soleh dan keluarga, maksud kedatangan kami kesini itu untuk mengetahui jawaban pasti akan perjodohan anak kita. Yaitu Adnan dan nak Bulan. Sesuai dengan obrolan sebelumnya, bahwa malam ini akan ada jawaban dari kedua belah pihak. Baik dari Adnan maupun Bulan. Bagaimana pak Soleh? " Pak Iman menjelaskan perihal kedatangan mereka malam ini.
" Baik, terima kasih pak Iman. Sebelum Bulan menjawab, saya juga mau bertanya kepada nak Adnan dulu. Apakah nak Adnan sudah setuju untuk di jodohkan dengan putri saya? " Pak Soleh langsung to the point saja.
" Bismillāhirrahmānirrahīm, saya Adnan Nugraha menerima perjodohan saya dengan dek Bulan ini. Tapi, saya tidak akan memaksa dek Bulan untuk menerimanya juga. Tapi, kalo saya boleh berharap, dek Bulan juga memberi jawaban yang sama. Begitu pak." Jawab Adnan dengan tegas.
" Alhamdulillah, kalo nak Adnan menerimanya. Sekarang kita tanyakan langsung kepada Bulan nya, Apakah dia menerima ato tidak? Bagaimana Bulan?" Pak Soleh bertanya kepada putrinya.
Sebelum menjawab, Bulan mengambil nafas yang dalam dan perlahan mengeluarkannya. Dia melakukan itu beberapa kali, sehingga ia menjadi rileks. Setelah di rasa cukup, Bulan mulai mengeluarak suara.
" Bismillahirrahmanirrahim, sebelumnya terima kasih untuk keluarga bapak Iman, karena sudah meluangkan waktunya malam ini. Dan terima kasih juga untuk mas Adnan, karena secara tidak langsung sudah sudi menerima saya. Jujur, sebenarnya saya gugup sekali malam ini. Dan tak tahu harus ngomong apa, dan saya mohon kepada semuanya. Apapun keputusan saya nanti, tidak ada yang merasa kecewa. Maaf juga untuk semuanya, karena harus menunggu selama hampir 1 minggu. Maklum, menurut saya ini adalah keputusan yang harus dipikir dan dipertimbangkan dengan matang." Bulan ingin menjelaskan perasaannya terlebih dahulu.
Semua sedang menunggu jawaban yang akan diutarakan oleh Bulan, mereka semua merasa seperti sedang menunggu nomor undian keluar.
Sedangkan Bulan, dia berusaha tenang untuk menyampaikan keputusan nya. Karena keputusan yang akan dia ambil ini adalah untuk sekali seumur hidup menurutnya. Jadi dia harus melangkah dengan pasti. Dengan mulut yang masih terlihat sedikit bergetar, Bulan mulai membuka suara kembali.
" Bismillah, sa-saya Rembulan Nur'aini .......
Bersambung .....
Mohon dukungannya ya teman-teman, setelah membaca tolong tinggalkan jejaknya. jangan lupa tekan LIKE, KOMENTAR, jadikan FAVORIT, serta VOTE juga.
terima kasih 🙏