"Aku merindukan mu"
itulah ungkapan setiap malam. Kanza Mahendra
saat harus berjauhan dengan Rasyi Syakilla.
Gadis ceria yg berhasil mengambil hati manusia dingin. yg bahkan tak tersentuh. namun kini saat berjauhan hati Kanza selalu merindukan nya.
Setelah melewati banyak perjuangan. hingga kini mereka telah benar benar bersama. membuat Kanza ingin selalu bersama dengan wanita yg saat ini telah memenuhi hati nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiia sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 18
*
Memasuki area pembangunan. pengawas mengajak mereka melihat ke dalam dengan memberikan pengamanan kepala.
"silahkan tuan" ucap pengawas memberikan jalan kepada Kanza.
Rasyi yg hanya mengekor di belakang Kanza dengan peta desain gambar di tangan nya berjalan hati hati.
"Apa kau kira aku mengajak mu untuk jalan jalan disini"
ucap Kanza yg melihat Rasyi. hanya berjalan mengikutinya tanpa menjelaskan apapun tentang gambar di tangan nya.
"Jadi saya harus mulai dari mana tuan???
tanya Rasyi bingung.
"jelaskan saja soal di gambar. dengan posisi bentuk bangunannya" jelas Edo menengahi
Rasyi pun langsung terlihat berpikir. dengan melihat sekitar lalu mencocokan nya dengan gambar.
"Ucapkan saja apa yg terlintas dikepala mu"
Kanza mulai kesal melihat Rasyi yg berpikir trus tanpa berbicara.
"Sabarlah tuan, kenapa anda marah marah trus apa kalau anda tidak marah dalam satu hari saja anda akan mati"
ucap polos Rasyi namun dengan nada sedikit tinggi.
Edo dan pengawas menahan tawa melihat tingkah Rasyi yg berani melawan Kanza. padahal tidak ada satupun yg berani membantah omongan Kanza. meskipun mereka sudah bekerja lama dengan Kanza.
"Kauu, mendo'a kan aku cepat mati ya!!" bentak Kanza
Rasyi yg terkejut langsung menutup telinganya karna mendengar bentakan Kanza.
Tanpa mereka sadari. banyak pekerja yg melihat mereka.
Edo yg sadar akan kondisi nya. berusaha ambil tindakan agar Rasyi tidak terus memancing emosi Kanza.
"Nona bisa kita. lanjutkan saja soal desain nya"
Rasyi pun mengangguk dan jalan kedepan melewati Kanza dengan wajah kesal nya,
Mengikuti setiap sudut bangunan Rasyi menjelaskan setiap detail bangunan mencocokan nya dengan gambar. Edo mengakui kemampuan Rasyi tentang desain.
Setelah selesai Edo yg mendapat telpon. ternyata tuan Handoko sudah menunggu mereka di kantor pengawas.
Edo langsung mengajak Kanza kesana. namun Rasyi yg berjalan di belakang Kanza. karena tidak hati-hati tersandung material bangunan. yg membuat kepala nya terhantuk kayu
"Aauww" teriak nya.
yg membuat Kanza. Edo dan pengawas langsung berbalik melihat nya.
"Kau tidak apa-apa???
tanya Kanza yg berlari kecil langsung menolong nya.
"tidak apa-apa tuan"
ucap Rasyi yg mencoba berdiri. mambersih kan tangan nya.
"Apanya yg tidak apa-apa" lihat kepalamu terluka",
pekik Kanza dengan menyibak rambut Rasyi. melihat kepalanya yg berdarah.
Kanza langsung mengeluarkan sapu tangan nya. dan membantunya mengelap darah yg mengalir. Rasyi yg mulai terasa perih di keningnya. tidak sengaja memegang tangan Kanza yg masih menahan rambut nya agar tidak mengenai lukanya.
"Kenapa, bukannya tadi kau bilang tidak apa-apa"
ucap Kanza yg mulai terdengar lembut. karena melihat Rasyi kesakitan.
"Apa kita harus kerumah sakit dulu tuan." ucap Edo
"tidak" hentak Rasyi yg langsung memotong omongan Edo
Karena merasa aneh. Kanza menaikan alis nya menatap Rasyi.
"anda yakin nona??? tanya Edo yg mulai khawatir melihat luka Rasyi
"Iya tuan. saya tidak apa-apa jadi kita tidak perlu ke rumah sakit ini hanya luka kecil" jawab nya dengan senyum canggung nya.
"Kalau gitu kita ke kantor saja tuan disana ada kotak kesehatan" ucap pengawas
Mereka pun berjalan mengikuti pengawas menuju kantornya. namun mata Kanza terus melihat ke arah Rasyi yg berjalan tepat di depan nya. Edo yg sadar kemana arah nata tuan nya hanya terukir senyum dibibir nya.
"Saya tahu anda peduli tuan" bisik nya dalam hati
Setelah sampai Edo yg mempersilahkan Kanza masuk kedalam. melihat ternyata sudah ada tuan Handoko di dalam dengan beberapa orang.
"Tuan Handoko" sapa Kanza sopan
"ohh tuan Kanza anda sudah disini" ucap nya ramah dengan menyodorkan tangan nya. Kanza pun membalas tangan orang di depan nya.
Pengawas pun mempersilahkan mereka duduk. namun Rasyi yg tadi berdiri di belakang Edo. saat berpindah disampingnya langsung ada mata yg mengarah kepadanya.
"Rass"
Rasyi langsung melihat siapa yg memanggil nya.
"Damian" ucapnya pelan
Damian yg tadi di pinta papanya untuk menemani nya melihat proses pembangunan di proyek. setelah selesai jam kuliah dengan buru-buru menemui papanya ke kantor.
Damian langsung menghampiri Rasyi. tanpa memperdulikan orang sekitar yg melihat nya.
Rasyi yg masih berdiri melihat Damian dengan memakai baju kasual. hanya menatap nya dari bawah ke atas. bertanya dalam hati nya apakah ini benar Damian yg di kenalnya. melihat Damian dengan tataan jaz nya menunjukan sisi dewasanya yg membuat Rasyi sedikit terpesona.
"Kepala lo kenapa??? tanya Damian yg membuyar kan lamunan Rasyi.
Rasyi yg sadar akan pertanyaan Damian langsung memegang kepala nya yg luka. namun tangan nya di hentikan Damian.
"Jangan di pegang" larang Damian yg melihat lebih dekat kening Rasyi.
Rasyi hanya mematung merasakan. hembusan nafas Damian di depan nya.
"Kenapa malah wangi mahluk astral lebih terasa dari pada Damian" keluh Rasyi dalam hati. menatap Damian
"Lo kenapa??? tanya Damian khawatir
"gua gak sengaja jatuh"
pak Handoko yg masih ingat dengan wajah Rasyi. merasa kan khawatiran putranya.
"Apa kita perlu ke rumah sakit?? ucap pak Handoko yg membuat Damian langsung memutar kepala melihat papanya.
"Tidak pa" jawab Damian. sebelum Rasyi menjawab membuat Rasyi tersenyum tipis melihat perhatian Damian.
"Kenapa. apa kamu tidak khawatir melihat lukanya.??
"Damian khawatir pa. tapi Rasyi takut dengan jarum pa"
perkataan Damian lolos begitu saja dari bibir nya yg membuat Rasyi kesal melihat nya. dan langsung mencubit tangan Damian.
"Auw, sakit Rass" pekik Damian
yg justru membuat papa nya. tertawa kecil melihat nya.
Kanza yg hanya melihat perhatian Damian ke Rasyi menunjukan wajah kesalnya. dengan hanya duduk diam namun matanya menatap tajam ke arah Damian dan Rasyi yg berdiri tidak jauh darinya.
"Pantas saja tadi menolak, rupanya takut dengan jarum tapi kau tidak pernah takut dengan ku!! bisik Kanza dalam hati dengan manaikan ujung bibir nya.
"pa kalau gitu Damian obatin rasyi dulu ya" pamit Damian namun di hentikan Rasyi. dengan memegang tangan Damian Rasyi menggelengkan kepalanya.
"gua gak papa. lagian lo disini buat bantu papa lo kan???
"tapi Rass, luka lo juga harus diobatin"
"kita selesaikan kerjaan dulu. baru urusan pribadi itu baru namanya propesional" ucap Rasyi meyakinkan Damian.
Karena tahu Damian tidak akan pernah menang saat berdebat dengan Rasyi. Damian memilih mengalah dengan perkataan Rasyi dan kembali duduk di sisi papa nya dengan mata yg tidak lepas ke arah Rasyi
"Ternyata Edo benar, kau bukan wanita Sembarangan bahkan kau mampu meluluh kan seorang tuan muda Rasyi Syakilla"
ucap Kanza yg ikut melihat ke arah Rasyi.
Edo yg merasa semua sudah lebih baik. meminta izin memulai membahas soal pembangunan proyek yg di bantu oleh Rasyi.
Memakan waktu lumayan lama. saat pembahasan. Rasyi yg mulai merasa sedikit pusing di kepalanya berusaha menahan nya hingga selesai.
"Baiklah tuan Kanza saya suka prisentasi sekertaris anda" ucap pak Handoko pada Kanza dengan melihat sebentar ke arah Rasyi.
"Saya senang jika anda puas" jawab Kanza dengan menyodorkan tangan nya.
"Kalau begitu saya bisa membawa Rasyi kan tuan Kanza. karena pegawai anda sedang terluka. sebagai atasan anda tidak mungkin membiarkan pegawai anda tetap bekerja dengan kondisi seperti ini kan??? ucap Damian dengan langsung memegang tangan Rasyi
"Tentu saja tuan muda. anda bisa membawa nya"
jawab Kanza dengan senyum getir nya.
"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu"
"pa, Damian duluan ya" ucap nya lembut dan berlalu membawa Rasyi menuju mobil nya.
Rasyi yg hanya menurut diam seribu bahasa dengan perlakuan Damian yg menyeretnya pelan. hingga masuk dalam mobil.
"Kita cari tempat makan dulu ya?? tanya Damian dengan melajukan mobil nya.
"Terserah lo aj" ucap Rasyi pelan
Tidak membutuhkan waktu lama Damian memarkirkan mobilnya di caffe yg terbuka dengan nuansa biasa. tempat yg ramai dengan anak muda. bukan tempat elit yg biasa dia kunjungi karena Rasyi tidak pernah nyaman dengan tempat yg mewah.
"Ayo Rass" ajak nya yg masih saja menggandeng tangan Rasyi masuk dalam cafee.
Setelah memesan makanan Damian pamit pada Rasyi meninggalkan nya sebentar. untuk mencari obat untuk nya.
Setelah makanan datang tidak lama Damian pun kembali dengan membawa kantongan di tangan nya.
"Makan lah. kenapa cuma lo liatin doang??
ucap Damian sambil menggeser kursi tepat di depan Rasyi.
"Lo mau ngapain???
"emang lo pikir gua mau ngapain,!!
dengan mengeluarkan beberapa obat untuk membersihkan luka Rasyi Damian lebih dulu mengikatkan rambut Rasyi.
Rasyi yg melihat sekeliling orang yg mulai melihat mereka. membuat Rasyi sedikit canggung.
Namun berbeda dengan Damian yg terlihat santai. dengan membuka jaz nya dan menggulung tangan kemeja nya Damian perlahan membersihkan luka Rasyi. tanpa memperdulikan sekitar nya yg memasang wajah iri melihat mereka berdua.
"Dam" panggil Rasyi
"iya" jawab Damian dengan terus mengobati
"lo gak liat kita diliatin orang"
"ya terus gua mesti apa???
"emang lo gak malu???
"kenapa gua mesti malu!''
Perkataan Damian kali ini. membuat Rasyi langsung menatap nya. yg di balas dengan Damian Rasyi yg menatap mata Damian mata abu-abu kristalnya. karena Damian ada turunan dari paris. banyak yg terlintas di kepala Rasyi memandang Damian.
"Kenapa lo baik banget sama gua sih dam??
"gua gak baik, gua cuma ngabulin mimpi lo doang"
ucap Damian santai dengan kembali melanjutkan kegiatan nya
"Mimpi gua"
"iyaa"
"yg mana???
setelah selesai memasang plester di kening rasyi Damian menarik tangan Rasyi. Damian menggenggamnya.
"Lo inget gak dulu lo bilang. kalo lo nanti dah dewasa lo pengen di perlakukan kayak putri sama pacar lo"
Tampak Rasyi yg mencoba mengingat kembali kenangan nya. dengan sedikit berpikir.
"Iya. tapi kan lo bukan pacar gua Dam?? ucap Rasyi setelah mengingat ucapannya.
"Iya gua tau"
"trus emang lo mau jadi pacar gua?? tanya polos Rasyi
"gak. gua gak mau" ucap Damian yg kini mulai terlihat serius yg membuat Rasyi tidak bisa berkata kata lagi.
"Karena gua pengen jadi suami lo. bukan pacar lo"
dengan nada serius Damian mengatakan sambil menatap Rasyi.
Ada rasa aneh di dada Rasyi yg membuat nya berdetak begitu kencang. hingga membulat kan matanya.
Damian yg sadar kalau kata katanya membuat raut wajah Rasyi berubah. berusaha mencairkan suasana,
"Gua bercanda" ucap Damian sambil ketawa dengan menarik hidung Rasyi
"iih, lo nyebelin ya" kesal Rasyi yg memukul lengan Damian.
"hahaha, kenapa lo pengen banget nikah sama gua ya"
goda Damian yg membuat Rasyi. makin memukulinya
"Lo tau gak kirain gua lo beneran. dasar kampret!!
kesalnya tanpa henti memukuli Damian.
Damian yg menangkap tangan Rasyi yg memukulinya kembali menatap nya.
"Gimana kalo gua beneran, apa jawaban lo Rass"
"gua gak tau"
"kenapa"
"gimana kalo gua bilang lo harus sukses dulu"
"kalo gua sukses lo bakalan mau nikah sama gua kan??!
"gak tau" ucap Rasyi sambil mengalihkan tatapan Damian dengan memakan makanan nya.
Damian yg melihat tingkah Rasyi yg salah tingkah hanya. tersenyum memandangi nya. yg membuat Rasyi membuang muka nya ke arah lain.
"Gua harap suatu hari. lo bener bener lari ke arah gua Rass"
bisik nya dalam hati dengan memandang lembut wajah Rasyi yg masih membelakanginya.
Sedangkan Kanza. yg sudah kembali dari proyek menuju kantor hanya duduk diam di depan jendela kantor nya dengan pandangan melihat ibukota namun pikirannya tidak disini.
Edo yg daritadi sudah menawari Kanza makan namun Kanza terus menolak. kali ini Edo membawa coklat pans untuk nya.
"Tuan" panggilnya
Kanza yg hanya menoleh. lalu kembali ke kursi nya.
"Ada apa tuan?? tanya Edo
namun Kanza kembali diam yg membuat Edo bingung
"Nanti malam kau temani aku minum di tempat Erick"
ajak Kanza yg membuat Edo sedikit lega.
"Baiklah tuan. kalau begitu saya ke ruangan saya dulu tuan."
setelah mendapatkan izin Edo langsung kembali ke ruangan nya.
Rasyi yg sudah selesai makan dengan Damian. mengajak Damian ke taman tempat nya dulu sering di ajak ibu. Damian yg hanya mengikuti kemana Rasyi mengajak nya.
''Ayo kita main itu" ajak Rasyi menyeret damian menuju ayunan terlihat wajah bahagia Rasyi saat bermain. membuat gemas Damian yg diam diam mengambil poto nya dengan ponsel Damian.
Mereka pun duduk di bangku taman. memandangi langit sore yg berwarna jingga.
"Makasih ya Dam" ucap Rasyi memecahkan keheningan
"buat apa?? tanya Damian yg langsung menatap rasyi
"buat lo yg udah Gendong gua semalam"
"lo inget "
"gak ibu tadi pagi yg kasih tahu gua"
"ohh, kirain Lo inget betapa susah nya gua yg ngangkat lo yg beratnya minta ampun" goda Damian
Rasyi yg mendengar langsung memukul tangan Damian.
dan mereka pun tertawa.
Damian langsung berdiri dari duduk nya. mengulurkan tangan nya pada Rasyi.
"Ayo pulang" ajak Damian yg langsung di sambut hangat oleh Rasyi.
Mereka pun berjalan menuju parkiran mobil dengan tangan Damian yg trus memegang tangan Rasyi.
"Makasih Damian, gua harap suatu hari lo dapet wanita yg bener bener cinta sama lo ya"
Rasyi mengeratkan pegangan nya. Damian yg merasakan tangan Rasyi menunjukan senyum lebar nya. merasa hari ini adalah hari paling bahagia menurut nya.
happy reading😊
mampir juga yuk keceritaku
RAIN BUKAN HUJAN
terimakasih