NovelToon NovelToon
BERMUKA DUA

BERMUKA DUA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:807.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.

Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Paksa

Inez menghapus setetes air mata yang ada di pelupuk matanya. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata karena tertawa.

"Ih bukannya dijawab! Kenapa malah ketawa aja sih? Kayaknya gak ada yang lucu deh." gerutu Andrew.

"Bapak lucu sih jadi orang. Mana ada di kantor nanya kayak gitu. Nanya tuh yang normal-normal aja. Jangan yang aneh-aneh ah." Inez menghentikan tawanya lalu fokus kembali dengan laptopnya.

"Tuh bukan dijawab malah balik lagi ke laptop." Andrew menutup laptop milik Inez. Kesal karena sejak tadi dicueki Inez.

"Apa yang mau dijawab? Masalah pacaran? Masalah ciuman? Atau masalah siapa yang lebih hebat dalam ciuman?" tantang Inez.

"Ya semuanya dijawablah. Justru karena dikasih pertanyaan makanya harus dijawab." kata Andrew.

"Kalau gak mau jawab gimana? Itu kan privacy saya, Pak." elak Inez.

"Privacy lagi...privacy lagi. Kayak gak ada jawaban lain aja." gerutu Andrew kesal.

"Ya terus saya harus jawab apa? Jawab kalau Bapak atau Rio yang lebih hebat gitu?" tantang balik Inez.

"Tunggu...tunggu... Kenapa lo manggil gue Bapak sedangkan Rio lo panggil pakai nama?" protes Rio.

"Ya jelaslah. Kita kan sebatas hubungan kerja. Kalau sama Rio mah beda." Inez sengaja menjawab dengan ambigu, Ia tahu rasa penasaran Andrew terlalu besar. Seru juga mengerjainya sekali-kali.

"Memangnya kalau sama Rio hubungannya apa? Kalian kan juga bos dan anak buah. Malah seharusnya lo manggil Rio dengan sebutan Bapak juga."

"Iya manggil dengan sebutan Bapak juga sih. Tapi kalau depan yang lain aja. Kalau udah lewat jam kantor sih gak usah." pancing Inez lagi. Berpacaran 2 tahun dengan Andrew membuat Inez paham sekali dengan sikap Andrew kalau cemburu. Dulu Inez amat takut membuat Andrew cemburu dan marah. Sekarang Ia tidak peduli lagi. Mau marah kek, mau cemburu kek, bodo amat.

"Yaudah jadi gimana? Hebatan siapa?" tanya Andrew lagi. Ia tidak akan berhenti sampai Inez menjawabnya. Inez tahu itu.

"Kalau saya jawab hebatan Bapak, pasti Bapak akan kegeeran. Terus kalau saya bilang hebatan Rio, pasti Bapak akan berpraduga yang enggak-enggak deh. Ini tuh jebakan. Anak kecil aja tau, apalagi saya yang udah bangkotan kayak gini." celetuk Inez.

Karena laptopnya ditutup oleh Andrew dan masih dalam penjagaan Andrew, Inez lebih baik membereskan berkas yang Ia sudah periksa agar saat Rio datang Ia sudah siap.

"Ya jawab aja apa susahnya sih. Jangan kebanyakan mikir. Belum tentu juga gue bakalan mikir kayak gitu." kata Andrew beralasan. "Yaudah gue ganti deh pertanyaannya. Lo beneran tinggal di Daerah M?"

"Iya." jawab Inez singkat.

"Iya apa nih?"

"Iya tinggal di Daerah M. Kan tadi Bapak nanya begitu." Inez mulai gusar. Sejak tadi ditanya-tanya kayak seorang tersangka lagi diinterogasi di kantor polisi aja.

"Kenapa pindah kesana?" tanya Andrew lagi.

"Mau tau aja. Kepo." jawaban Inez membuat Andrew makin kesal.

Belum sempat Andrew mengeluarkan kekesalannya, handphone Inez berbunyi. Tertulis nama Boss Rio memanggil.

"Sst... Jangan berisik ya Pak. Saya jawab dulu teleponnya." larang Inez sebelum Andrew mengeluarkan suara lagi.

"Iya, Yo. Gue masih di ruang meeting. Oke. Gue tunggu di lobby aja ya. Oke." Inez pun menutup teleponnya.

"Lo beneran pulang bareng sama Rio lagi? Beneran pacaran sama Dia?" tanya Andrew memastikan.

"Bukan cuma pulang bareng kali Pak. Bahkan Rio mau nikahin saya, belum saya kasih jawaban aja. Kan laki-laki yang baik harus bertanggung-jawab atas perbuatannya." pancing Inez. Ia mengambil tas selempangnya dan memasukkan Hpnya. Laptopnya Ia ambil paksa dari tangan Andrew dan hendak memasukkannya ke tas laptopnya. Namun ternyata tidak semudah itu.

Andrew menahan laptop milik Inez agar Ia tidak pergi sebelum menjawab pertanyaannya. "Lo bakal kasih jawaban apa? Lo iya-in gitu?"

"Tergantung. Kalau ternyata hubungan kami makin dekat dan rasa cinta itu tumbuh semakin subur, kenapa enggak?" tantang Inez. Inez lalu berdiri, berharap tenaganya lebih kuat untuk merebut paksa laptop kantornya.

Andrew tak mau kalah. Ia pun ikut berdiri. Masih dengan tangan menahan laptop milik Inez, Ia kini berdiri amat dekat dengan posisi Inez.

Begitu dekatnya posisi mereka sampai Inez dapat mencium aroma parfume maskulin dari tubuh Andrew. Parfum yang sama yang selalu Andrew gunakan sejak dulu. Aroma yang amat nyaman saat berada di pelukan tubuh kekarnya tersebut.

"Emangnya lo masih bisa cinta sama cowok lain? Gue yakin, cinta lo cuma buat gue." Andrew mengangkat sebelah tangannya dan membelai wajah Inez.

Inez menampik tangan Andrew. "Kenapa enggak? Apa yang kurang dari Rio? Ganteng, sopan, kaya dan pastinya kita berdua pernah.... tidur bareng." bisik Inez.

Wajah Andrew seketika langsung memerah. Inez tahu sekarang Andrew sangat emosi. "Terus lo bangga gitu udah tidur bareng sama Dia? Murahan banget loh!"

Kata-kata Andrew yang amat pedas membuat Inez refleks mengangkat tangannya dan hendak menampar lagi wajah Andrew seperti dulu. Namun Inez berhasil menahan dirinya. Inez mengepalkan buku tangannya sampai memerah.

"Kenapa? Mau tampar muka gue lagi? Nih.... tampar nih... gue kasih.... Ini bukan yang pertama kok lo nampar muka gue." Andrew sengaja makin menyulut emosi Inez.

"Gak jadi. Kasihan sama tangan gue. Lebih baik gue pake buat membelai wajah Rio nanti." Inez tak mau kalah, Ia pun ikut menyulut emosi Andrew.

Tanpa Andrew sadari Ia melepaskan tangannya dari laptop, Inez memanfaatkan kesempatan tersebut dan mengambil laptopnya lalu meninggalkan ruangan meeting secepat mungkin. Andrew mengikuti langkah Inez dari belakang.

Ternyata Inez tak beruntung, Andrew berhasil menyusulnya dan kini mereka hanya berdua aja di dalam lift, seperti tadi pagi.

"Jangan mancing emosi gue. Lo tau konsekuensinya apa kan?" Andrew mulai memojokkan posisi Inez lagi.

"Gue gak tau dan gue gak mau tau." gertak balik Inez. Dalam hati Inez pun takut menghadapi apa yang akan Andrew lakukan.

"Oke, kita buktikan seberapa beraninya lo." Andrew mendekat dan langsung mencium Inez. Ia mencium Inez dengan penuh membara meskipun Inez sudah berusaha mendorong tubuhnya namun Inez kalah kuat. Inez terpojok dalam keadaan Andrew menciumnya dengan amat nafsu. Hanya satu yang Inez pikirkan, Ia pun menggigit bibir Andrew.

Inez merasakan darah dari bibir Andrew dalam mulutnya. Andrew pun melepaskan ciumannya pada Inez. Ia memegang bibirnya yang berdarah dan mengambil sapu tangan untuk mengelap darahnya tersebut.

Inez menjauh ke arah pintu, saat pintu lift terbuka Ia langsung berlari meninggalkan lift. Meninggalkan Andrew yang masih membersihkan darah di bibirnya.

Gigitan Inez tidak terlalu sakit bagi Andrew. Ia terlalu menikmati ciuman liarnya tersebut. Andrew membuang sapu tangan bekas darahnya di tempat sampah lalu menyusul Inez.

Inez sudah sampai di lobby. Matanya mencari-cari keberadaan Rio. Ia takut Andrew akan mengejarnya.

Benar dugaan Inez, Andrew berjalan mendekatinya. Inez takut Andrew makin marah atas apa yang Ia lakukan.

Tiiinnn...

Suara klakson mobil mengagetkan Inez. Inez melihat ke arah mobil sedan yang tadi pagi digunakan untuk menjemputnya di rumah. Inez langsung masuk ke dalam mobil buru-buru dan hampir setengah berlari. Ia langsung menutup pintu dan memakai seat belt.

"Ayo cepat Yo, jalan sekarang juga! Cepet... cepet... cepet...!" ujar Inez dengan panik.

Rio yang melihat Inez dengan wajah ketakutan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan Inez

"Kenapa Nez?" tanya Rio.

Rio menundukkan kepalanya melihat apa yang terjadi atau apa yang sedang mengejar Inez. Dilihatnya Andrew yang sedang terburu-buru keluar dari pintu lobby. Rio sekarang paham apa yang Inez takuti. Rio pun langsung tancap gas meninggalkan gedung perusahaan XZ secepatnya. Rio melihat dari sudut matanya tangan Inez amat gemetaran. Ia tahu sesuatu yang cukup menakutkan sudah menimpa Inez.

" Kenapa Nez? Sekarang udah aman. Lo bisa cerita sama gue." kata Rio dengan nada yang menenangkan. "Pasti Andrew berbuat sesuatu ya sama lo?" tebak Rio.

Inez hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. Ia masih agak shock dengan apa yang Andrew lakukan padanya. Lebih shock lagi karena mendapati dirinya begitu berani menggigit bibir Andrew sampai berdarah. Inez takut sesuatu yang buruk terjadi pada Andrew akibat ulahnya tersebut.

"Ada apa? Ayo dong cerita. Nggak mungkin kan lo sampe ketakutan kayak gitu kalau nggak ada sesuatu Nez?" tanya Rio pada Inez lagi. Rio menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, Ia mau mengorek keterangan dari Inez tentang apa yang terjadi pada Inez.

"Tadi... gue.... habis bikin Andrew berdarah..." kata Inez terbata-bata.

"Berdarah? Lo pukul? Lo tonjok?" tanya Rio bingung.

Inez menggelengkan kepalanya. "Bukan. Tapi gue gigit."

"Loh kok bisa. Lagian lo ngapain sih pake gigit-gigit Andrew segala. Kayak gak ada makanan lain aja. Emang apa yang lo gigit?" Rio awalnya mau mengejek Inez, kok bisa ngegigit orang sampai berdarah tapi tiba-tiba Rio sadar maksud perkataan Inez.

"Jangan bilang kalau Andrew nyium lo?" tebak Rio.

Inez mengangguk.

"Dia nyium lo paksa gitu?" tanya Rio lagi.

Inez kembali mengangguk.

"Kok berani sih Dia? Kemarin lagaknya sampe mutusin lo. Sekarang aja nyosor seenaknya." gerutu Rio.

Rio menghentikan mobilnya di belakang garis putih saat lampu hijau berganti menjadi lampu merah. Rio melirik lagi ke arah Inez. Terlihat bibirnya merah dan ada sedikit noda darah dibibir Inez. Tangan Inez masih gemetar ketakutan.

Rio memegang tangan Inez, berusaha menenangkannya. "Udah gak apa-apa. Lo cuma membela diri aja kok. Tadi gue lihat Andrew baik-baik aja. Gak usah dipikirin, ya."

"Tapi gue takut...." Inez akhirnya berhasil menyuarakan isi hatinya.

"Takut kenapa?"

"Takut Andrew kenapa-napa. Bagaimana kalau bibirnya robek dan pendarahan terus? Gimana kalau akhirnya Andrew malah jadi cacat gara-gara gue?" kata Inez dengan panik.

"Yaelah, Nez. Gak bakalan. Tenang aja. Tadi aja Andrew masih gagah dan mau ngejar lo. Artinya Dia baik-baik aja, Oke? Gue juga sering digigit kalau lagi ciuman, mungkin yang ciuman sama gue gemes kali ya sama bibir gue dan makin nepsong saat gue ***** makanya geregetan jadi digigit deh."

"Ih! Orang lagi serius kenapa dibecandain sih?" omel Inez.

"Gue gak becanda Nez. Gue cerita yang bener. Lo gak percaya kalau gue sering digigit pas ciuman?" Rio menjalankan lagi mobilnya karena lampu merah sudah berganti dengan lampu hijau.

"Gak percaya gue." cibir Inez.

"Makanya sekali-kali ciuman deh sama gue, biar lo tau rasanya gregetan nyium orang ganteng kayak gue." kata Rio lagi-lagi dengan penuh percaya diri.

"Lo mah becanda melulu. Gue masih dag dig dug nih, masih gemeteran juga. Takut gue, sumpah!"

"Ya mau lo gimana? Gue tuh ngomong ngalor ngidul biar lo tenang, Malih. Lo malah ngomel sama gue. Apa mau sekarang gue cium lo biar rasa bibir Andrew tergantikan dengan rasa manis dari bibir gue?" kata Rio tak sabaran.

"Enggak... enggak... Gak usah. Gue langsung tenang. Nih gak gemeteran lagi. Anceman lo gak kalah nyeremin dari ulah Andrew." kata Inez takut-takut.

"Yaudah jadi gimana? Lo mau gue tuntut Dia sebagai atasa lo?" kali ini Rio mulai serius dengan perkataannya.

"Gak usah... Gak usah diperpanjang ya." tolak Inez tanpa perlu berpikir panjang lagi.

"Tuh emang lo nya aja yang demen dicium Andrew. Makanya gak mau diperpanjang. Kalau diperpanjang kita bakalan menang loh. Lumayan duitnya buat beli HP baru."

"Bukan karena itu juga, Malih! Pura-pura aja gak tau. Jangan bikin semua rumor jadi kenyataan. Dan lo juga mau nanti Team Audit makin curiga sama kedekatan kita? Jangan lupa, gue punya double job nih di perusahaan lo. Jadi karyawan audit sekaligus jadi mata-mata. Udah kita lupakan aja. Toh ini bukan pertama kalinya gue dicium Andrew." Inez melihat ke jendela. Pemandangan lampu jalanan lumayan menenangkannya.

"Ya udah deh gue ikut aja apa kata Lo. Tapi Inget ya, kalau Andrew sampai macam-macam sama lo bilang sama gue. Biar bagaimanapun lo tuh karyawan gue. Gue nggak mau karyawan gue dilecehkan sama bos perusahaan lain!" kata Rio dengan serius.

" Iya..... siap Bos." jawab Inez.

"Terus gimana kemajuan hasil audit lo selama 2 hari ini? Udah ada yang lo curigain belum?" Rio meminta laporan harian pada Inez.

"Gue masih ngecek-ngecekin data tentang barang-barang failed sih. Cuma seperti yang lo tahu, kecurigaan kita masih berpusat sama Pak Liam. Dia belum berbuat apa-apa, tapi dari kemarin tuh Dia kayaknya nyindir hubungan gue sama lo depan Andrew." keluh Inez.

"Kok bisa?" tanya Rio.

"Ya bisalah, Yo. Andrew tuh kalau makan siang selalu gabungan sama bagian audit. Enggak usah ditanya deh dia duduk dimana. Dimana lagi kalau bukan disamping gue. Lama-lama kan Pak Liam curiga ya sama hubungan gue sama Andrew." kata Inez mulai mengadu.

"Terus Lo nggak berbuat apa-apa?" tanya Rio lagi.

"Gue mau gimana Rio? Gue mau menolak tapi gue nggak bisa apa-apa. Itu perusahaan milik Andrew bukan rumah gue yang bisa gue usir dia seenaknya."

"Iya juga sih." kata Rio membenarkan perkataan Inez. "Nanti deh gue pikirin caranya gimana."

1
Ran Aulia
ceritanya bagus banget, sudah pasti ada momen terharu lah ya bikin mewek

terima kasih ya kak 😍😍😍😍
Evayanti Sagala
Luar biasa
dream
baik
Susivira Wati97
hampir semua karyanya aq baca thot suka alur cerita ringan
L2h
Kecewa
Mari Anah
akhir y selesai jg,makasih ya thor udh buat novel yg superrrr keren🤗🤗sukses trs bwt karya2 y ya thor😍😍🤩🤩
Mari Anah
emang ya si rara itu hati y busuk bgt,secara g langsung dy yg udh bikin papah willy meninggal
Mari Anah
nah loh kaget kan rio🙄
Mari Anah
gara2 salah faham inez jdi elffil deh sma rio,udh balikan lgi ajah sma andrew nez,hati rio msh ska goyah😁lanjut thor
Mari Anah
si rara murahn bgt ya🙄
Mari Anah
owh ternyata ky gtu toh cerita y,lanjut thor
Mari Anah
duuuuuhhh kpn sih rio cerita sbnr y k inez,ko aku yg jdi geregetan sndri ya🙄🙄🙄
Mari Anah
ada typo thor😁tante vio kli bkn tante video🤣
Mari Anah
idiiiiihh si rara g berubah2 ya msh ajah itu hati y julid,,klo aku mah ogah punya temen ky gtu,tmn bgt mending d tenggelam kan ajah🙄
Mari Anah
ky y inez lbh cocok sma rio deh,klo andrew trllu sempit cara pemikiran y
Mari Anah
Luar biasa
Mari Anah
cocok lah visual rara,ky judes2 julid gtu muka y
Mari Anah
aku hadir thor,ko aku tkt ya kl inez mau ngenalin k andrew,g tkt apa kl andrew hati y pindah haluan🤔
Yosfi Sofianti
Luar biasa
Lusiana_Oct13
udah rara di jodohin sama mantan nya inez aja sama2 bermulut pedas 😂😂 klo aku suka inez sama rio
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!