Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Baru Ryu
Setiap kesuksesan pastilah akan ada proses di baliknya
Walau sulit bukan berarti tak bisa di wujudkan
Asal ada kemauan pastilah ada jalan
...*****...
Setelah selesai menelpon ibunya, Ryu mulai mewujudkan rencananya yaitu mencari pekerjaan dan juga tempat tinggal untuk menetap.
Ia berjalan menelusuri tempat-tempat yang mungkin membutuhkan karyawan. Namun, semua menolaknya. Mereka bilang, bahwa mereka sedang tidak membutuhkan karyawan baru saat ini.
Dengan langkah kaki yang lelah, ia menelusuri jalan tersebut. Sampai pada akhirnya dia bertemu dengan seseorang di jalan itu.
Mereka pun saling bertegur sapa, satu sama lain. Pria itu terlihat sedang kebingungan akan sesuatu hal, dia seperti tangah mencari sesuatu. Melihat hal itu membuat Ryu ingin bertanya padanya. Pria yang saat itu tengah sibuk dengan telpon genggamnya. Ryu pun memberanikan diri untuk bertanya dengan berkata.
"Mōshiwakearimasenga, ojisan ga komatte imasu ne?"
(Maaf, kalau boleh saya tahu, Paman sedang ada masalah, ya?) kata Ryu ragu-ragu.
Pria itu menanggapi dengan begitu santun dan ramah.
"Ā , watashi no taido ga ki ni natte fukaidattara gomen'nasai. Demo, anata no suisoku wa tadashīdesu. Ima, watashi wa hontōni doraibā ga hitsuyōdesu. Totsuzen, watashi no doraibā wa, kare ga totemo toshi o totte ite, mō hatarakenaku natta to kanjitanode tomarimashita. Watashi wa kare no pafōmansu ga hontōni sukideshitaga. Mōshiwakearimasenga, hai! Watashi no hanashi o kiku no ni jikan o kakemashita." katanya dengan senyum-senyum malu.
(Oh, maaf kalau sikap saya membuatmu terganggu dan tidak nyaman. Tapi, tebakan mu memang benar. Saat ini saya sangat membutuhkan seorang supir. Mendadak, supir saya ingin berhenti karena ia merasa sudah sangat tua dan tidak sanggup lagi. Padahal saya sangat suka kinerjanya. Maaf, ya! Saya jadi menyita waktumu untuk mendengarkan cerita saya.)
Ryu pun menjawabnya, "Hai, daijōbudesu. Watashi mo kikijōzu ni naritaidesu. Sō sō. Kanōdeareba, anata ga kyō kakaete iru mondai ni tsuite motto kikitaidesu. Dekimasu ka?" tanya Ryu pada pria itu.
(Ya, tidak apa-apa. Oh, ya. Kalau boleh saya ingin mendengar lebih lanjut tentang masalah yang tengah Paman hadapi saat ini. Apakah boleh?)
Dengan sangat semangat pria itu menjawabnya,
"Hai, mochiron dekimasu. Kōhī o nonde mimasen ka? Motto rirakkusu suru tame ni, anata wa dōi shimasu ka?" ajak pria itu pada Ryu.
(Ya, tentu saja boleh. Bagaimana kalau kita sambil minum kopi? Agar lebih santai, apa kamu setuju?)
"Hai, mochiron. Yorokon de." ucap Ryu.
(Ya, tentu. Dengan senang hati)
Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka di cafe yang ada disekitar daerah itu.
Setibanya di tempat itu, pria itu memesan minuman untuk mereka.
Dia lalu bertanya pada Ryu, "Nani o nomitaidesu ka?" katanya dengan sikap ramahnya.
(kamu mau minum apa?)
"Sore o messēji ojisan to dō ichi-shi shite kudasai," ucap Ryu.
(Samakan saja dengan yang Paman pesan)
"Hai, kore o chūmon shimasu." ucapnya pada pelayan itu.
(Baiklah, kami pesan yang ini saja, ya)
Sembari menunggu pesanan datang, Ryu pun kembali menanyakan tentang kelanjutan cerita yang tadi pada pria itu.
"Jizen ni mōshiwakearimasenga, jiko shōkai o wasurete shimaimashita. Ryūdesu," ucapnya dengan ramah, pria itu juga memperkenalkan dirinya.
(Maaf sebelumnya, saya lupa memperkenalkan diri. Saya Ryu)
"Daisukedesu." (Saya Daisuke)
Ryu kembali bertanya padanya,
"Sore de, ojisan, izen no hanashi wa dōdesu ka?"
(Jadi, bagaimana dengan cerita yang tadi, Paman?) tanyanya penasaran.
Saat dia akan menceritakannya, pesanan mereka pun datang.
"Kore wa, chūmondesu. Tanoshinde kudasai." ucap pelayan itu.
(Ini Tuan, pesanannya. Silahkan dinikmati.)
Dia pun tersenyum dan mengangguk pada pelayan itu.
Kemudian, dia melanjutkan lagi ceritanya pada Ryu.
"Ima, watashi wa hontōni doraibā ga hitsuyōdesu. Watashi ga iitai no wa sore dakedesu." ucapnya, lalu ia menyeruput minuman yang telah tersedia di atas meja.
(Saat ini saya sangat membutuhkan supir. Hanya itu yang ingin saya katakan.)
Tanpa ragu-ragu lagi Ryu segera mengajukan dirinya untuk menjadi supir bagi Daisuke.
"Ojisan, moshi watashi ga untenshu ni mōshikondara, ojisan. Anata wa ki ni shimasu ka?" tanyanya penuh harap pada Daisuke.
(Paman, bagaimana jika saya melamar sebagai supir, Paman. Apakah Paman keberatan?)
"Mochiron. Kawari ni, watashi wa anata ga izen ni sonoyōni hanasu no o matte imashita. Itsu kara hataraki hajimemasu ka?" tanya pada Ryu, Ryu secepat mungkin menjawabnya.
(Tentu, Kenapa tidak, justru aku sedang menunggumu untuk bicara seperti itu dari tadi. Kapan kamu akan mulai bekerja padaku?)
"Chōdo kyō, Ojisan."
(Hari ini saja, Paman.)
Pria itu tersenyum dan berkata, "Hontōni kōfun shite iru yōdesu ne? Sore wa īdesu. Jōnetsu ni michita anata no hyōgen o mite ureshīdesu."
(Sepertinya, kamu sangat bersemangat sekali, ya? Itu bagus, saya senang melihat ekspresi mu yang penuh semangat itu.)
Lalu dia mengulurkan tangannya pada Ryu.
"Watashitoisshoni hataraite tanoshinde kudasai!"
(Selamat bekerja denganku).
Mereka lalu berjabat tangan tanda mereka telah resmi menjadi mitra kerja antara majikan dan supir. Mereka kembali menyeruput minuman mereka masing-masing.
***
Seperti biasanya, Riri melakukan aktivitas yang rutin ia lakukan dan ia tak pernah merasa bosan melakukannya.
Saat ini, ia tengah bingung karena masa Visa nya sudah habis dan ia harus segera kembali ke Indonesia. Sebelum terjadi masalah nantinya. Hal itu membuatnya sedikit hilang fokus.
Dia tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Tiba-tiba saja, ada seorang pria yang menyadarkan lamunannya.
"Hai ...," kata Riko padanya, sontak itu membuat Riri terkaget dan hampir-hampir roti yang ada ditangannya terjatuh ke lantai. Syukurlah dengan sigap Riko menangkap roti itu.
"Ada apa? Cerita padaku agar aku bisa tahu apa yang ada di otakmu saat ini!" pinta Riko sedikit mendesak Riri agar mau bercerita padanya.
Namun, Riri sepertinya masih enggan untuk bercerita pada Riko mengenai apa yang tengah ia cemaskan saat ini. Ia tak ingin terus menerus menyusahkan Riko dan Karina.
Mereka telah banyak membantunya selama ini.
"Hai ..., tuh 'kan kamu bengong lagi!" sergah Riko.
"Ah, aku nggak apa-apa kok, Ko! Kamu tenang aja, semuanya baik-baik aja kok, Ko. Makasih, ya udah selamatkan roti ini. Maaf kalau aku sangat ceroboh hari ini. Kamu nggak akan bilang tentang ini ke Bu Bos, 'kan?" tanyanya serta mendesak Riko agar tidak memberitahukan hal itu pada Minami.
"Kamu tenang aja! Aku nggak bakalan bilang, kok. Asal kamu cerita sama aku, Ri. Kalau kamu ada masalah kamu harus ingat, aku akan selalu ada untuk mendengar semua ceritamu!" terangnya dengan jelas pada Riri.
Lalu, Riko kembali melanjutkan ucapannya.
"Anggaplah, aku sebagai rumah yang dapat membuat kamu tenang dan merasa nyaman. Ketika kamu berada di dalamnya aku akan selalu membuatmu untuk terus menerus ingin pulang karenanya. Kamu, mengerti maksudku 'kan, Ri?" lirik Riko dengan tatapan tajam pada Riri.
"Apa? Aku bingung malah dengan apa yang kamu ucapkan. Maksud kamu apa, sih?" katanya tidak tahu apa yang di maksud Riko padanya.
Tentu saja hal itu membuat mood Riko jadi hancur.
"Lupakanlah! Nanti saja kita bicarakan lagi. Sekarang kita kerja aja, nggak enak, 'kan kalau Bu Bos melihat kita." tukasnya lagi pada Riri.
Riko pun pergi meninggalkan Riri yang masih bingung dengan ucapannya itu.
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya