Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Hari ini adalah hari dimana Test DNA El dan Erina keluar. Elvira pergi ke rumah sakit bersama El berdua pagi-pagi sekali, sementara Erina harus pergi ke sekolah.
El tidak terlalu merasa berdebar-debar, ia biasa saja. Disatu sisi hatinya sudah mulai yakin Erina adalah anak kandungnya karena memang memiliki wajah yang mirip dengan El. Sementara Elvira lebih berdebar-debar karena takut untuk kenyataan bahwa ia tetap tidak bisa bersatu dengan El walau Erina adalah putri kandung El.
El melangkah dengan pasti, diikuti oleh Elvira dari belakang. El sudah tahu dimana tempat ia harus mengambil hasil Test DNA itu, karena ia sempat menanyakannya waktu itu.
El langsung menemui seorang perawat penjaga, dan memberikan bukti pengambilan dokumen penting itu.
Dengan cepat perawat itu memberikannya pada El.
Dengan cepat El langsung membukanya tanpa ragu. Benar saja, hasil DNA mereka sama. Tak ada lagi yang harus di ragukan akan Erina.
"Bagaimana? Apa hasilnya membuat mu percaya?" tanya Elvira yang berdebar-debar sedari tadi dibelakang El
"Saya percaya" jawab El singkat wajahnya tetap tanpa ekspresi
El kembali melangkahkan kakinya menuju keluar dari rumah sakit, tanpa menghiraukan Elvira yang berjalan sedikit berlari dibelakangnya itu.
"El tunggu.. Kamu mau kemana?" ucap Elvira yang merasa El akan meninggalkannya
"Apa yang harus kita bicarakan lagi?" tanya El seketika menghentikan langkahnya dengan menoleh ke arah Elvira
Elvira merasa bingung, entah apa lagi yang harus ia bicarakan dengan El. Niatan dirinya untuk kembali bersama El pun sudah jelas-jelas ditolak mentah-mentah. Ia takut sekarang Erina akan dibawa oleh El, karena ia juga berhak atas Erina.
"Aku..." ucap Elvira dengan ragu
"Saya sudah katakan, saya akan bertanggung jawab penuh atas Erina, biaya pendidikan juga biaya hidup. Saya akan mengurus semuanya" ucap El panjang lebar
"Bukan itu El.." ucap Elvira menyanggah
"Lalu apa yang kamu mau?" tanya El dengan angkuhnya
Elvira memegang lengan El, penuh harap.
"Tolong maafkan aku.. Tolong buat sebuah keluarga utuh untuk Erina, anak kita.." ucap Elvira memohon
El menatap dalam ke arah Elvira, sungguh ia tak menyangka dengan apa yang Elvira inginkan. Lalu untuk apa dulu ia menghilang begitu saja.
"Maaf itu semua tidak mungkin!" jawab El sembari menurunkan lengan Elvira dari tangannya
"Aku sudah menikah lagi, dia pasti terluka.." ucap El memberikan alasannya
Elvira terkaget mendengar ucapan El itu, ia tahu bahwa El sudah menikah lagi, tapi ia tak percaya bahwa El akan lebih memilih istri barunya itu.
"Maaf aku harus pulang ke Jakarta.." ucap El lalu membuyarkan lamunan Elvira yang terdiam itu
El terus melangkahkan kakinya menuju mobil Elvira kembali, yang terparkir di depan rumah sakit itu.
Elvira melangkah dengan gontainya, pikirannya kemana-mana.
Selama diperjalanan El dan Elvira sama-sama terdiam tak ada sepatah katapun yang bisa Elvira ucapkan lagi. Rasanya di tolak untuk kedua kalinya oleh El sangat menyakitkan hatinya.
Elvira memperhatikan El, diam-diam. Sesekali ia menoleh ke arah El yang terus memperhatikan jalanan.
"Aku tahu El, mungkin sakit hati ini adalah balasan atas sakit hati mu dulu.." ucap Elvira dalam batinnya
Sesampainya dirumah Elvira, El langsung turun dan masuk kedalam rumah itu, menaiki anak tangga dan menuju kamar yang ia tempati, lalu mengambil koper dan barang-barangnya. Dengan cepat El kembali turun ke bawah dengan semua barang-barang yang ia bawa.
"Kamu mau pulang sekarang El?" tanya Elvira dengan suara lirih
"Iya.. Terimakasih untuk semua luka ini" ucap El lalu melangkahkan kakinya keluar dari halaman resort itu
Elvira menatap kepergian El, air matanya menggenang tak mampu ia tahan, semua mengalir deras begitu saja membasahi pipinya.
Dengan cepat ia kembali menyeka air matanya, lalu kembali masuk kedalam mobilnya ketika melihat El yang terus berjalan ke arah luar dari halaman Resort miliknya, dan menunggu taxi.
"El.." ucap Elvira sembari membuka kaca mobilnya dan memberi klakson pada El
El menoleh ke arah Elvira yang sedang menyetir di dalam mobilnya itu.
"Ayo aku Antar sampai Bandara.." ucap Elvira langsung
"Aku sekalian menjemput Erina ke sekolah" lanjut ucap Elvira pada El
El langsung menganggukan kepalanya setuju, ia memasukan kopernya ke dalam bagasi.
Lalu kembali duduk di samping Elvira.
"Maaf ya tidak bisa mengantar sampai masuk kedalam.." ucap Elvira dengan senyum tersungging manis diwajah cantiknya
"Tidak apa-apa.." jawab El dingin
Mobil yang Elvira kendarai akhirnya masuk ke Bandara, lalu El turun tanpa Elvira ikut turun.
"Terimakasih banyak untuk tumpangannya. Aku akan mentransfer uang untuk keperluan anak ku" ucap El lagi-lagi sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Elvira
"Tidak usah El.. Terimakasih untuk tidak meminta hak asuh Erina" jawab Elvira dengan memaksakan senyumnya
El lalu memalingkan wajah yang sangat penat itu. Ia berjalan masuk kedalam Bandara. Ia sebenarnya belum punya tiket kepulangannya, ia berharap ada nasib baik untuk ia bisa kembali pulang ke Jakarta.
El sudah diberi tahu bahwa ada tiket yang diundur, membuatnya bisa pulang ke Jakarta dan harus menunggu sekitar 1 jam lagi.
"1 jam lagi, ngapain dulu yaaa.." ucap El pelan pada dirinya sendiri
El merogoh saku jasnya, ia lupa bahwa ponselnya tak ia charger sedari kemarin malam.
"Ya Allah Anin.. Aku sampai lupa mengabarinya" ucap El panik langsung masuk ke sebuah cafe yang ada di bandara, mecari tempat duduk dan langsung mencharger ponselnya.
Tak lama seorang pelayan datang menghampiri dengan buku menu ditangannya.
"Permisi Tuan, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan dengan ramah dan sopan
El menerima buku menu itu, ia sadar perutnya keroncongan dan memutuskan untuk makan.
"Saya mau ini, dan minuman capucino dingin ini.." ucap El menunjuk menu makanan di buku itu
Setelah mengerti pelayan itu meninggalkan El sendirian kembali. El langsung mengalihkan fokusnya pada ponsel yang belum juga terisi banyak.
El sangat gelisah tak karuan mengingat Anin. Ponselnya masih mengisi daya, tak lama makanannya pun datang. El melahapnya hingga habis dengan cepat. El menatap ke layar ponselnya 15% terisi. El langsung menyalakannya.
Waktu keberangkatan El tak terasa tinggal 30 menit, pengumuman melalui pengeras suara sudah terdengar. El langsung membayar makanannya, dan keluar dari cafe itu menuju ruang tunggu yang dekat.
Sesekali ia memainkan ponselnya, ada beberapa panggilan masuk dari Anin, belum lagi dari kantor dan juga pesan-pesan masuk dari Anin. Ia tahu bahwa Anin sangat kecewa kali ini pada dirinya.
"Anin pasti kecewa banget sama aku, dia pasti marah. Lalu bagaimana kalau dia tahu akan hal Erina, dia pasti lebih kecewa sama aku" ucap El dalam batinnya.
El lalu memikirkan cara untuk membuat Anin tak marah lagi. El mengirimi Anin pesan, dan langsung memutar otak untuk membelikannya hadiah.
"Sayang maafkan aku, sekarang aku pulang. Tunggu aku dirumah ya.. Aku bisa jelaskan semuanya, I love you" pesan terkirim pada Anin
El langsung menghubungi sahabat juga asisten pribadinya itu, Reno. Ia membuka pesan Reno yang memberitahu bahwa Anin mencarinya kemarin.
"Siapkan hadiah romantis buat istri gue. Jemput gue di Bandara sekitar 2 jam lagi" pesan terkirim pada Reno
El kembali mematikan ponselnya. Ia masih terduduk di ruang tunggu, menunggu pengumuman selanjutnya.
...----------------...
Elvira sudah sampai di sekolah Erina, Erina sudah menunggu di gerbang dan siap untuk pulang.
"Maafin Mami telat yaaa.." ucap Elvira sembari tersenyum manis pada putrinya itu
Erina tak menjawab apapun, matanya kesana kesini melihat ke sekelilingnya.
"Kamu cari apa?" tanya Elvira merasa putrinya memang mencari sesuatu
"Om itu kemana?" tanya Erina pada Elvira
"Dia akan kembali pulang ke Indonesia hari ini" jawab Elvira dengan sedih
"Maaf dia tidak sempat berpamitan dengan kamu" lanjut ucap Elvira pada putrinya itu
Erina langsung terburu-buru ingin segera masuk kedalam mobil, dan menyuruh Ibunya juga untuk masuk ke dalam mobil.
"Mami cepat antar aku ke Bandara, aku ingin menemuinya untuk perpisahan" ucap Erina terburu-buru
Elvira mengerti, lalu dengan cepat ia mengendarai mobilnya menuju Bandara. Tak begitu lama, mobilnya sudah sampai, lalu terpakir. Elvira dan Erina berlarian mencari El, dengan paniknya.
Tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari pengeras suara.
"Waktu keberangkatan tujuan Indonesia-Jakarta 10 menit lagi, harap penumpang segera bersiap memasuki terminal masing-masing" pengumuman melalui pengeras suara
Semakin panik Elvira dan Erina, dengan menambah kecepatannya mereka terus berlari. Elvira hanya menebak dimana El berada, karena ia juga pernah bolak balik Jakarta-Singapur di terminal yang sama.
Dan benar saja, El sudah berdiri dan bangkit dari duduknya, memegang koper dan tas kerjanya. Hendak berjalan menuju petugas pemeriksaan.
"El tunggu!" teriak Elvira dengan kencang berharap terdengar oleh El
Benar saja El mendengarnya dan menoleh ke arah Elvira dan Erina yang mendekat ke arahnya, sembari berlari bergandengan.
"Tunggu.." ucap Erina dengan ngos-ngosan karena capek
El memperhatikan Erina dan Elvira yang kecapekan itu.
"Ada apa?" tanya El pada Erina
"Kau akan pulang ke Indonesia?" tanya Erina pada El
El lalu menunduk di hadapan putri kecilnya itu
"Iya, Om harus pulang dulu ya.. kamu hati-hati disini, jangan nakal" ucap El sembari mengelus lembut rambut putrinya itu
Erina menatap dalam wajah El, ayahnya itu.
"Papi.." ucap Erina lalu memeluk erat tubuh pria yang ada di depannya itu
"Aku menyayangi mu.. I love you.. Apa boleh aku berkunjung ke Indonesia musim liburan sekarang?" ucap Erina tanpa disangka-sangka
El begitu terharu mendengar ucapan putrinya itu, ia tak menyangka bahwa Erina akan mengakuinya secepat ini.
"Papi juga sayang kamu.." ucap el lalu mencium pucuk kepala Erina
"Papi pulang dulu yaaa.. Sampai ketemu nanti" lanjut ucap El lalu bangkit dan berdiri karena petugas sudah memanggilnya untuk segera masuk ke dalam
"Tunggu aku datang ke Indonesia yaaa" ucap Erina bersemangat sembari melambaikan tanganya ke arah El
El tersenyum bahagia, tiba-tiba ia merasakan jadi seorang ayah. El melambai balik ke arah Erina yang masih memandanginya terus.