NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Pagi turun di asrama militer dengan kabut tipis yang masih merangkul pepohonan. Suara terompet 'sangkakala' sayup-sayup terdengar dari arah lapangan utama, menandakan pukul enam pagi.

Di dalam rumah dinas bernomor 08, aroma nasi goreng mentega dan telur ceplok mengudara dari arah dapur. Cia berdiri di depan kompor dengan celemek polkadot kesayangannya, bersenandung pelan mengikuti lagu dari radio kecil di atas kulkas. Senyum tak lepas dari bibirnya. Bayangan menakutkan tentang lorong rumah sakit dan ruang tunggu operasi seolah telah tersapu bersih oleh kehangatan sinar matahari pagi ini.

Gadis itu mematikan kompor, memindahkan nasi goreng ke atas piring, lalu berbalik untuk memanggil suaminya.

Namun, langkah Cia terhenti di ambang pintu kamar utama. Matanya memicing tajam.

Di depan lemari pakaian yang terbuka, Kapten Ren Adhyaksa sedang berdiri dengan susah payah. Pria itu sudah mengenakan celana loreng PDL-nya, dan saat ini sedang berusaha memasukkan lengan kanannya—yang masih dibalut perban di bagian bahu—ke dalam kemeja lorengnya. Wajahnya meringis menahan ngilu, peluh halus mulai bermunculan di keningnya, namun ia tetap bersikeras menarik kerah baju itu.

"Ehem."

Dehaman keras Cia membuat gerakan Ren terhenti kaku. Sang Kapten menoleh perlahan ke arah pintu. Tatapan mata istrinya saat ini jauh lebih mematikan daripada moncong senapan musuh.

"Lagi ngapain, Kapten?" tanya Cia dengan nada rendah yang kelewat manis, melipat kedua tangannya di depan dada.

Ren berdeham pelan, mencoba mempertahankan ekspresi datar andalannya meski tertangkap basah. "Bersiap ke kantor kompi. Hanya mengecek laporan logistik dan evaluasi anggota sebentar."

"Oh, gitu?" Cia melangkah masuk, mendekati suaminya dengan langkah pelan namun sarat akan ancaman. "Dr. Rania bilang apa kemarin soal masa pemulihan dua minggu pertama?"

"Istirahat total," jawab Ren singkat, layaknya prajurit yang sedang ditanya pasal militer.

"Terus, jahitan di perut dan bahumu itu terbuat dari apa? Kawat baja? Bisa sembuh sendiri kalau dipakai gerak jalan ke kantor?" Cia berdiri tepat di depan Ren, mendongak menatap wajah pria itu dengan alis bertaut.

Ren menunduk, menatap istrinya. "Jarak rumah ke kantor kompi hanya dua ratus meter, Almeera. Saya hanya duduk di meja. Saya jenuh jika harus terbaring di kasur seharian."

"Nggak." Cia berjinjit, lalu dengan gerakan telaten namun tegas, ia meloloskan kembali kemeja loreng itu dari bahu suaminya. "Buka. Ganti pakai kaus katun. Kamu belum boleh pakai baju yang kainnya kaku begini, nanti bergesekan sama luka jahitannya."

Ren menghela napas panjang, namun membiarkan tangan Cia melucuti kemeja kebesarannya. "Cia, anggota saya butuh komandannya."

"Anggotamu butuh komandan yang sehat, bukan komandan yang jahitannya jebol di tengah briefing," omel Cia sambil mengambil sebuah kaus lengan pendek berbahan lembut dari dalam lemari. Ia membantu memakaikannya ke tubuh Ren dengan sangat hati-hati.

"Lagi pula," Cia menepuk pelan dada bidang Ren yang kini terbalut kaus abu-abu. "Kalau kamu bosan, nanti siang Bima mau mampir ke sini sama Maya. Kamu bisa bahas strategi perang, atau main catur, atau apa pun itu. Yang penting... di. Ruang. Tamu."

Ren menatap istrinya lekat-lekat. Kilat protes di matanya perlahan memudar, digantikan oleh rasa geli yang hangat. Tak pernah terbayangkan di benaknya, seorang Kapten Pasukan Khusus yang ditakuti, kini tunduk pada perintah seorang gadis berusia dua puluh dua tahun bercelemek polkadot.

"Siap, Panglima," bisik Ren pelan. Tangan kirinya yang sehat terulur, menarik pinggang Cia hingga tubuh gadis itu merapat padanya. Ia mengecup kening Cia cukup lama. "Sekarang, bisa kita sarapan? Komandanmu ini lapar."

Cia tersenyum lebar, rona merah tipis menjalar di pipinya. "Ayo. Nasi goreng spesial anti-kolesterol buat pasien VIP udah siap."

Pukul delapan pagi, Cia melangkah memasuki lobi paviliun bedah dengan langkah ringan. Rambutnya dikuncir ekor kuda yang rapi, dan jas putih dokter mudanya terlihat lebih bersih dan cerah dari biasanya. Atau mungkin, aura gadis itu yang memancar terlalu terang hari ini.

"Cieee, yang auranya udah kayak bohlam seribu watt," goda Nayla yang baru saja keluar dari ruang loker, menyenggol lengan Cia dengan sikunya. "Gimana rasanya ngerawat pahlawan negara di rumah? Udah bisa diajak lari pagi belum komandan es batu lo itu?"

Cia tertawa pelan, memasukkan stetoskopnya ke saku jas. "Jangankan lari pagi, Nay. Pakai baju seragam aja tadi pagi gue sita. Dia itu keras kepala banget, badannya masih penuh perban tapi niatnya udah mau ngantor."

"Namanya juga tentara, Ci. Darahnya udah campuran mesiu sama nasionalisme," kekeh Nayla. "Tapi gue lega lihat lo senyum lagi. Bulan lalu muka lo beneran kayak kain kafan berjalan, sumpah."

Cia tersenyum lembut, mengusap dog tag yang bersembunyi di balik kemeja kerjanya. "Gue juga lega, Nay. Rasanya kayak... gue baru bisa napas lega lagi setelah sekian lama nahan napas di dalam air."

Mereka berdua berjalan menuju nurse station IGD. Namun, di ujung lorong sebelum belokan, langkah Cia sedikit melambat.

Davin berdiri di sana, sedang memegang beberapa map rujukan. Pria itu tampak sedang mendiskusikan sesuatu dengan seorang perawat senior. Begitu perawat itu berlalu, pandangan Davin tak sengaja bertubrukan dengan mata Cia.

Ada jeda kecanggungan selama beberapa detik. Masa lalu yang sempat mencoba menyelinap masuk kini terasa begitu usang dan tak lagi relevan.

Davin menarik napas pendek, lalu melangkah mendekati Cia dan Nayla. Nayla langsung mengambil posisi siaga, siap menyemburkan kalimat pedas jika dokter residen itu berani macam-macam.

"Almeera," sapa Davin dengan nada yang jauh lebih formal dan berhati-hati dari sebelumnya. Ia memberikan senyum tipis yang tulus. "Selamat pagi."

"Pagi, Dok," balas Cia tenang. Tidak ada getaran emosi, tidak ada rasa sesak. Ia menyapanya murni sebagai rekan kerja.

Davin menatap Cia selama beberapa saat. Ia memperhatikan bagaimana mata gadis itu kini memancarkan kedamaian yang utuh, sesuatu yang dulu, saat bersamanya, selalu dipenuhi keraguan dan rasa insecure.

"Aku dengar berita dari tim militer tentang suamimu. Tentang operasi penyelamatan itu," ucap Davin pelan, matanya menyiratkan rasa hormat yang enggan ia tutupi. "Syukurlah beliau selamat. Pasti sangat berat untukmu bulan lalu."

Cia sedikit terkejut dengan nada bicara Davin, namun ia mengangguk pelan. "Terima kasih, Davin. Semuanya sudah membaik sekarang."

Davin menghela napas panjang. "Almeera... aku minta maaf. Untuk semua yang terjadi di masa lalu, dan untuk sikapku saat pertama kali aku rotasi ke sini. Aku salah menilai semuanya. Aku sadar sekarang, posisi pria itu di hatimu bukan posisi yang bisa digeser oleh permintaan maaf basi dariku."

Davin menyodorkan tangannya. Bukan untuk menahan, melainkan untuk sebuah penutupan. "Semoga suamimu cepat pulih. Dan semoga kita bisa menjadi rekan kerja yang baik ke depannya, dr. Cia."

Cia menatap tangan yang terulur itu. Beban terakhir dari masa lalunya seolah terangkat naik ke udara, menguap tanpa sisa. Ia menyambut jabatan tangan Davin dengan mantap.

"Terima kasih, dr. Davin. Kita akan jadi partner bedah yang hebat," balas Cia tersenyum lega.

Nayla yang sedari tadi bersiap melancarkan serangan verbal, akhirnya mengembuskan napas panjang dan ikut tersenyum. Drama masa lalu telah resmi ditutup tanpa ada korban luka.

Sore harinya, ruang tamu rumah dinas bernomor 08 itu dipenuhi oleh suara tawa dan obrolan berat khas prajurit.

Ren duduk bersandar di sofa panjang, sementara di seberangnya, Letnan Bima duduk di kursi roda yang didorong oleh Prada Sigit. Bima masih harus menjalani pemulihan intensif karena pengangkatan ginjalnya, namun semangatnya tak pernah redup. Di sebelah Bima, duduk Lettu Maya yang membawa setumpuk dokumen ringan untuk ditandatangani Ren.

Dan di kursi single yang biasanya kosong, duduklah Jenderal Arman Adhyaksa, memancarkan wibawa yang membuat udara di ruangan itu terasa sedikit lebih kaku bagi siapa pun, kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa.

Cia keluar dari dapur membawa nampan berisi teh hangat dan potongan bolu pandan yang dibelinya dari koperasi asrama saat pulang kerja tadi.

"Silakan, Om... eh, maksudnya Papa. Diminum tehnya," ucap Cia sambil meletakkan cangkir di depan Jenderal Arman, perlahan membiasakan diri dengan panggilan barunya.

Jenderal Arman tersenyum tipis. "Terima kasih, Almeera. Maaf mengganggu waktu istirahat kalian berdua."

"Sama sekali nggak ganggu, Pa. Malah Mas Ren ini dari pagi udah uring-uringan minta dokumen kerjaan. Untung Mbak Maya bawa beberapa," Cia melirik suaminya dengan tatapan memperingatkan. Ren hanya berdeham pelan sambil meraih cangkir tehnya dengan tangan kiri.

"Luka Letnan Bima bagaimana progresnya?" tanya Jenderal Arman, menatap perwira muda di kursi roda itu.

Bima segera mengambil sikap duduk sesempurna mungkin. "Siap, Jenderal! Pemulihan berjalan sangat baik. Dokter bilang dalam dua bulan saya sudah bisa ikut lari pagi, walau mungkin di barisan paling belakang."

Arman mengangguk puas. "Kalian berdua, dan seluruh Tim Alfa, sudah menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Komando atas sangat mengapresiasi keberhasilan misi tersebut, meski harus dibayar dengan mahal."

Jenderal Arman meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap putranya lamat-lamat. Ada kebanggaan yang menguar dari sorot matanya yang mulai menua.

"Ren, SK penganugerahan tanda jasa dari Panglima sudah turun. Dan bersamaan dengan itu..." Arman memberikan jeda dramatis, menarik sebuah map berlogo garuda dari dalam tas dinasnya, dan meletakkannya di atas meja. "SK Kenaikan Pangkat Luar Biasa. Begitu kamu kembali aktif bertugas nanti, bunga di pundakmu akan bertambah satu."

Keheningan menyelimuti ruang tamu. Maya dan Bima membelalakkan mata, lalu serempak tersenyum lebar.

"Mayor?" bisik Bima takjub. "Wah, siap-siap traktir satu batalyon ini mah, Ndan!"

Cia yang duduk di sebelah Ren, ikut merasakan jantungnya berdegup kencang karena bangga. Ia menoleh menatap suaminya. Mengingat semua darah, keringat, dan nyawa yang nyaris hilang di pedalaman sana, Ren sangat pantas mendapatkannya.

Namun, alih-alih menunjukkan ekspresi euforia, raut wajah Ren tetap setenang permukaan danau. Ia menatap map tersebut tanpa berniat menyentuhnya.

"Terima kasih, Pa," ucap Ren tenang. "Tapi ada hal lain yang ingin saya sampaikan."

Semua mata kini tertuju pada Kapten (atau calon Mayor) Ren Adhyaksa.

"Saya akan menerima kenaikan pangkat itu. Tapi, saya berniat mengajukan surat permohonan mutasi ke bagian teritorial, atau menjadi instruktur di Akademi Militer," lanjut Ren.

Kalimat itu layaknya bom yang dijatuhkan di tengah ruang tamu. Jenderal Arman mengerutkan kening dalam-dalam. Bima dan Maya saling bertukar pandang dengan wajah syok. Pindah ke teritorial atau instruktur berarti meninggalkan Batalyon Pasukan Khusus, melepaskan medan tempur yang selama ini membesarkan namanya.

"Kamu yakin dengan keputusan ini, Ren?" tanya Arman dengan nada menuntut. "Kariermu di pasukan khusus sedang berada di puncak. Kamu bisa mencapai bintang jauh lebih cepat jika tetap di sana."

Ren tidak langsung menjawab. Pria itu menggeser tubuhnya sedikit, lalu tangan kirinya meraih tangan Cia yang sedari tadi bertumpu di atas paha gadis itu. Ren menggenggamnya erat, menautkan jari-jari mereka di bawah tatapan semua orang.

Cia menahan napas. Tangannya sedikit bergetar, namun genggaman Ren menenangkannya.

"Saya seorang prajurit, Pa. Selama ini saya memberikan seluruh hidup dan nyawa saya untuk negara. Di pedalaman kemarin, saya sudah menuntaskan tugas terbesar saya, dan negara sudah mengembalikannya dengan nyawa saya," ucap Ren, suaranya mengalun mantap, penuh keyakinan.

Mata elang itu beralih menatap Jenderal Arman. "Tapi sekarang, saya punya tanggung jawab lain yang sama besarnya. Saya punya seseorang yang menunggu saya pulang setiap sore. Saya tidak ingin lagi melihatnya menangis karena harus menunggu kabar ketidakpastian. Menjadi Mayor di pasukan khusus mungkin adalah kehormatan besar... tapi menjadi suami yang bisa menjaga Almeera Cia dengan kedua tangannya sendiri, adalah prioritas tertinggi saya sekarang."

Cia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Matanya memanas. Jika saja tidak ada mertuanya dan rekan kerja Ren di sana, ia pasti sudah memeluk pria ini erat-erat.

Jenderal Arman terdiam cukup lama. Beliau menatap tangan putranya yang menggenggam erat tangan menantunya. Perlahan, gurat keras di wajah sang Jenderal melunak. Sebuah helaan napas panjang yang sarat akan pemahaman keluar dari bibirnya.

"Dulu, Ibumu juga menangis setiap kali Papa berangkat tugas. Dan Papa selalu mengabaikannya demi pangkat," gumam Jenderal Arman pelan, nyaris tak terdengar. Ia lalu mengangguk pelan. "Kamu lebih bijak dari ayahmu, Ren. Lakukan apa yang menurutmu benar. Saya akan menandatangani surat rekomendasi mutasimu."

Senyum lebar langsung merekah di wajah Cia. Ia meremas tangan suaminya dengan penuh rasa terima kasih.

Bima berdeham keras, menghapus air mata yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk matanya. "Yah, Komandan ninggalin kita dong, Lettu Maya. Berkurang deh jatah orang yang bisa kita buat pusing di batalyon."

Maya memukul pelan bahu Bima yang sehat, meski matanya juga berkaca-kaca. "Jaga lisanmu, Letnan. Di mana pun Kapten... ah, Mayor Ren bertugas, beliau tetap komandan kita."

Sore itu, ruang tamu rumah dinas bernomor 08 menjadi saksi akhir dari sebuah era badai, dan awal dari musim semi yang panjang.

Malam harinya, setelah semua tamu pulang, rintik hujan kembali menyapa atap asrama, seolah menjadi lagu pengantar tidur yang setia.

Cia sedang duduk di depan meja rias kamarnya, menyisir rambut panjangnya sambil mengoleskan krim malam. Dari pantulan cermin, ia melihat Ren berdiri di ambang pintu kamar mandi, sudah mengenakan kaus oblong hitam dan celana training.

Pria itu melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di belakang kursi Cia. Tangan kirinya terulur, menyingkirkan sisir dari tangan Cia, lalu mengambil alih tugas itu. Gerakan Ren sangat pelan, hati-hati, namun terasa begitu nyaman.

"Masih mau mengurus mutasi itu?" tanya Cia memecah keheningan, menatap mata suaminya melalui cermin. "Aku nggak mau membatasi kariermu, Mas. Kalau kamu memang cinta sama pasukan khusus, aku... aku akan belajar lebih sabar lagi."

Ren menghentikan sisirannya. Ia membungkuk, menumpukan dagunya di puncak kepala Cia, menatap pantulan wajah mereka berdua di cermin.

"Saya mencintai negara ini, Cia. Tapi negara ini sudah punya ribuan prajurit tangguh untuk melindunginya," bisik Ren, matanya memancarkan kehangatan yang membuat lutut Cia selalu terasa lemas. "Sedangkan kamu... hanya punya satu Ren Adhyaksa."

Pipi Cia memerah hebat. Ia memutar tubuhnya, mendongak menatap suaminya secara langsung, menangkup rahang pria itu dengan kedua tangannya.

"Satu Ren Adhyaksa yang cerewet soal bubur hambar, nggak mau pakai kursi roda, dan diam-diam pandai merangkai kata," goda Cia dengan mata berbinar bahagia.

Ren mendengus pelan, menundukkan kepalanya hingga kening mereka bersentuhan. Napas hangat mereka berbaur menjadi satu di udara malam yang dingin.

"Saya akan membuktikan padamu, bahwa keputusan menjodohkan kita adalah keputusan terbaik yang pernah dibuat oleh ayahmu," bisik Ren sedetik sebelum ia memiringkan wajahnya, menemukan bibir Cia, dan menyatukan mereka dalam sebuah ciuman yang lambat, manis, dan dipenuhi oleh kepastian masa depan.

Di luar sana, dunia militer akan terus berputar dengan segala aturan dan ketegasannya. Namun di balik dinding rumah dinas nomor 08 ini, sang Jenderal kecil bernama Almeera Cia telah sepenuhnya menaklukkan hati seorang prajurit baja, mengubah ruang hampa menjadi sebuah rumah yang sesungguhnya.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!