NovelToon NovelToon
Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Berondong / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:41.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andi Putri Yasmin

Elza adalah seorang gadis berumur 27 tahun yang dijodohkan dengan pria yang lebih muda 3 tahun di darinya, karena paksaan dari kedua orang tua, Elza tak dapat menolak perjodohan tersebut.

"What?! Apa dia calon suamiku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi Putri Yasmin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia, Suamiku

Samar kudengar suara pintu terbuka diiringi suara langkah kaki yang semakin mendekat. Aku mencoba untuk membuka mata—melawan rasa sakit yang tiba-tiba menerjang kepala. Hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit ruangan yang berwarna putih, aku yakin sekarang berada di rumah sakit.

Kulihat Devan yang langsung memelukku dengan erat saat melihatku telah siuman dari pingsan, tatapannya sangat khawatir, wajah tampannya terlihat sedikit kuyuh pertanda dia tidak merawat dirinya sendiri.

"Sekarang tidak apa-apa, jangan pikirkan yang tidak perlu kamu pikirkan." Suaranya terdengar sangat lembut, tapi tersimpan kekhawatiran yang nyata.

"Aku tahu, bisa kamu lepasin pelukanmu? Aku kesusahan bernapas!" Aku berusaha untuk melepaskan pelukan Devan yang sangat kuat dan membuatku kesulitan untuk bernapas.

Devan langsung saja melepas pelukannya dan menatapku dengan penuh kekhwatiran. Dia terlihat menghela napas lelah. "Maafkan aku, aku terlalu takut sewaktu kamu pingsan rasanya setengah jiwaku terenggut begitu saja."

Mendengar perkataan Devan yang terkesan sedikit lebay tidak membuatku jijik, malah membuatku terharu. Dia adalah pria yang sangat mencintai dan menghormatiku, dia suamiku.

"Terima kasih Devan, aku baik-baik saja sekarang." Sekilas gurat legah muncul di wajahnya, mengisyaratkan bahwa Devan sangat perhatian terhadap kondisiku.

"Syukurlah kalau begitu, kata dokter kamu mengalami serangan panik jadi kamu pingsan, tapi sekarang sudah tidak apa-apa," ujar Devan penuh syukur dan mengatakan apa yang harus ia katakan.

"Oh begitu. Mungkin waktu itu aku hanya sangat takut dengan film horor yang ditayangkan, jadi itu memicu serangan panikku," balasku pelan. Sudah sangat lama aku tidak mengalami serangan panik. Baru kali ini mengalaminya setelah sekian tahun, aku mencoba menggali informasi di dalam otakku, tapi tak ada yang tersisa seakan itu sengaja ditutupi agar aku tak mengingatnya.

Devan mengangguk saat mendengar penjelasanku, meskipun raut khawatir itu tak pernah lepas dari garis wajah tampannya.

"Kalau begitu, ayo kita pulang aku sudah baik-baik saja sekarang. Lagi pula kamu sudah sangat lusuh, pasti belum mandi karena menemaniku di sini."

"No! Kamu masih belum sehat, aku akan segera kembali untuk membersihkan diri setelah Mama dan Papa datang, aku tidak memberitahu kondisimu dengan Nama Sinta takutnya mereka akan sangat khawatir." Devan menatapku dengan tatapan yang menolak ucapanku tadi.

"Em, baiklah, hal yang bagus kamu tidak memberitahukan kondisiku kepada mereka nanti mereka khawatir," balasku pelan, aku tak ingin membuat kedua orang tuaku panik di sana. Cukup mereka tahu bahwa aku baik-baik saja.

"Sayang, kamu harus makan dulu." Perkataan Devan menarikku dari lamunan sesaat. Tatapanku bertemu dengan mata Devan, aku hanya mengangguk sebagai jawaban ketika melihat Devan tersenyum lembut ke arahku.

Mangkuk yang berwarna putih yang terletak di atas nakas kini berpindah ke tangan Devan, dan dengan penuh perhatian mulai menyuapiku. Aku menatap Devan tanpa mengalihkan pandangan, dia terlihat sangat dekat sekarang hinga menampilkan pahatan wajahnya yang sempurna. Hidung mancungnya, bulu matanya yang panjang bergetar tiap kali dia berkedip, garis senyumnya begitu indah, kulitnya putih bersih hanya saja tertinggal beberapa bulu di dagunya yang mungkin Devan tak sempat mencukurnya karena terus menjagaku.

Tanpa terasa air mataku luruh yang membuat Devan tersentak dan langsung menghapusnya menggunakan ibu jarinya. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini, ke mana Elza yang dulu? Elza yang tidak pernah cengeng? Aku bertanya-tanya ke mana diriku yang dulu. Aku tak menyangka air mata itu akan jatuh tiba-tiba tanpa diminta, apa karena perlakuan manis Devan yang membuatku seperti ini?

"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit? Atau aku tidak berhati-hati menyuapimu?" tanyanya panik. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban, Devan langsung memeluk diriku setelah menaruh mangkuk yang berisi bubur itu. Dia mengucapkan kalimat penenang tidak bertanya lagi kenapa aku tiba-tiba menangis.

Devan melepaskan pelukannya kemudian menatapku dengan penuh perhatian, dia usap pipiku yang basah karena air mata lalu kembali memelukku sembari mengusap-usap kepalaku lembut.

"Tidak apa-apa, aku ada di sini."

Nyatanya kata-kata penenang tidak akan pernah cukup.

"Devan, aku tahu kamu baik dan tulus," ucapku dalam pelukannya. Devan hanya diam sembari terus mengusap punggungku dan mengucapkan kata penenang bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Aku tahu kamu baik dan tulus, tapi aku tidak mau menjadi orang jahat dengan menjebakmu untuk bersamaku seumur hidup. Kamu tahu, aku ini aneh dan juga berpenyakitan, ketika aku remaja orang tuaku selalu membawaku ke rumah sakit dan disuntikkan obat penenang karena setiap harinya aku akan berteriak histeris seperti orang gila dan sangat ketakutan, aku ingin mengubur semuanya menganggap bahwa semuanya hanyalah bunga tidur, tapi ingatan itu selalu muncul yang membuatku kesakitan setiap saatnya, a-aku ...." Suaraku mulai tercekat pertanda tak bisa lagi untuk melanjutkan, tapi aku tak ingin berhenti agar Devan tahu siapa sebenarnya orang yang dia nikahi.

"Aku—"

"Shut, sudah tidak perlu dilanjutkan, benar seperti apa yang kamu katakan itu hanya bunga tidur semata. Kamu tidak menjebakku, kamu tidak aneh, menurutku kamu wanita yang paling spesial yang pernah aku temui dan ingin aku lindungi seumur hidupku."

Aku tercengang mendengar perkataan Devan yang sangat berterus-terang. Ada jejak emosi yang tak bisa aku ungkapkan di depannya, aku hanya diam di dalam pelukannya mendengar detak jantungnya yang sedang berpacu sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Apakah Devan gugup?"

Devan kemudian melonggarkan pelukannya sembari menyelipkan anak rambut di balik telingaku. Dia menatapku sembari tersenyum cemerlang memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.

"Kamu wanitaku, aku telah berjanji atas nama Allah untuk menjagamu dan aku tidak akan pernah melanggar janji itu, kita pasti bisa melewati ini semua tidak perlu berpikir terlalu banyak cukup pikirkan bahwa sekarang kamu istri dari Devandra." Senyuman terukir di bibirnya, matanya memancarkan rasa cinta yang membara dan itu hanya untukku seorang.

Aku tersentak mendengar lontaran kalimat yang begitu mengetuk hati. Rasa percayaku kepadanya telah melampaui batas, hingga mungkin ketika dia mengecewakanku aku akan jatuh sejatuh-jatuhnya.

"Kamu tidak jijik kepadaku? Kamu tidak malu memiliki istri yang aneh sepertiku?"

Devan langsung saja mencubit hidungku pelan, kemudian dia mengulas senyuman manis. "Untuk apa? Kenapa aku harus jijik kepada istriku sendiri? Aku malah bangga mempunyai istri yang luar biasa sepertimu."

Aku terperangah, apa masih ada pria seperti dia di luar sana yang akan menerima seseorang dengan tulus? Mungkin dapat dihitung jari.

"Terima kasih, Sayang," tuturku erat sembari memanggilnya sayang dengan inisiatifku sendiri.

Devan tentu saja menerima pelukanku dengan tangan terbuka, senyum tak pernah luntur dari bibirnya. Keyakinanku untuk bersamanya kini bertambah, kenapa aku harus menyerah dengan hubungan ini di saat Devan ingin memperjuangkannya. Setelah itu, Devan kembali menyuapiku untuk menghabiskan bubur rumah sakit yang tersisa setengah itu.

Tok! Tok! Tok!

Devan meletakkan mangkuk itu kembali ke atas nakas, lantas memberiku segelas air lengkap dengan sedotannya. Devan mengisyaratkan bahwa dia akan membukakan pintu untuk orang yang berada di luar. Ternyata yang datang adalah ibu dan ayah mertuaku, aku tersenyum lembut untuk menyambutnya. Meskipun aku tahu pasti wajahku terlihat sangat pucat karena baru saja sadarkan diri.

"Mama, Papa," ucapku masih mempertahankan senyum.

Beliau tiba-tiba merengkuh tubuh rampingku yang membuatku sedikit terkejut. Namun, berubah tenang saat mendengar suara beliau yang sangat khawatir.

"Sayang, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanyanya sembari memeriksa setiap jengkal tubuhku.

"Aku tidak apa-apa, Ma," jawabku tulus.

"Kamu jangan khawatir, Sayang. Kami akan selalu ada untukmu," sahut Papa mertuaku. Aku hanya tersenyum hangat menatap mereka. Walaupun mereka hanya mertuaku, tapi sungguh perlakuanya padaku seperti aku ini adalah anak kandungnya sendiri.

Mama Filza mengangguk mengiyakan. Setelahnya, tatapannya beralih kepada Devan.

"Awh!" Aku terkejut ternyata Mama Filza menjewer telinga Devan seperti anak kecil.

"Kamu ya, disuruh jagain anak Mama malah buat dia sakit," ucap Mama filza marah sembari menjewer telinga Devan tanpa ada niatan untuk melepaskan.

"Awh, ampun Ma. Devan minta maaf karena lalai," jawabnya sembari memegang telinganya yang memerah.

Sementara itu, Papa mertuaku hanya menggeleng kemudian beliau duduk di kursi yang baru saja Devan duduki, Papa melihatku dengan penuh perhatian lalu terdengar helaan nafas darinya.

"Maafkan Papa, yang lalai menjagamu, Nak. Papa sedikit malu dengan Ayahmu di sana yang telah menitipkanmu kepadaku, tapi Papamu ini malah membuatmu masuk ke dalam rumah sakit." Pria paruh baya itu menunduk sejenak kemudian menatapku dengan penuh kasih sayang.

"Tidak perlu merasa bersalah, Pa. Elza ngak pa-pa, Ayah di sana pasti tidak akan menyalakan Papa." Elza tersenyum lembut ke arah Ayah mertuanya.

Ayah Devan mengangguk kemudian bangkit dan melihat istri dan putranya masih bertengkar. Dia kembali menggeleng.

"Benar-benar kekanak-kanakan," ucap ayah mertuaku pelan yang membuatku ikut menatap Mama dan juga Devan.

"Hehe, Devan ternyata takut juga sama Mama Filza," ucapku sembari terkekeh kecil yang mengundang perhatian dari ketiganya.

"Iya, anak ini harus diberi pelajaran karena lalai jaga kamu, Sayang," ujar Mama sembari memukul lengan kokoh Devan pelan. Aku yakin itu hanya bentuk kasih sayang di antara mereka yang sukses membuatku merasa senang karena keluarga ini juga unik.

"Ma, Pa, Devan, Elza mau pulang. Tolong bukain infusnya," mohonku sembari menatap mereka berharap ini akan berhasil.

"Tidak!" jawab ketiganya serempak yang membuatku sedikit terkejut.

"Tidak, Sayang. Kamu masih sakit. Besok kalau kamu sudah baikan kamu boleh pulang, ya 'kan, Ma?" Papa mencari pembenaran kepada Mama.

"Iya, Sayang. Papamu benar," jawab Mama Filza sembari mendekati brangkar tempatku berbaring.

Aku langsung saja memasang wajah cemberut. "Baiklah, tapi besok sudah bisa pulang, ya?" Aku tawar menawar kepada mereka. Mereka tampak menimang-nimang sembari mengangguk.

"Ok," jawab mereka bersamaan lagi yang membuat mereka terkekeh. Sungguh kekompakan keluarga yang sangat harmonis.

Setelah beberapa lama mereka menemani seharian di rumah sakit. Akhirnya Mama dan Papa izin pamit karena tiba-tiba mendapatkan telepon jika ada tamu penting yang datang di rumah lantas mereka izin pamit dan kami tak menahannya lagi.

Devan pun telah pergi dia mengatakan akan menelpon Dinda untuk menemaniku ketika dia di kantor. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Karena terlalu lelah rasanya ingin berbicara lagi. Aku kemudian mengambil posisi untuk tidur. Berharap besok akan baik-baik saja. Semoga!

1
Vitri Aditya
kedewasaan memang gak bisa diukur dengan usianya. kelihatan disini devan yg lebih muda tp lebih dewasa. dan Elza yg lebih dewasa malah kekanakan
Ade Bunda86
kayaknya si Amel suka sama Devan deh,.ihhhh
Ade Bunda86
mulai berani y
Ade Bunda86
seru bgt nih ceritanya ....lanjut Thor....
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: siap" Terima kasih udah baca ya😭☺
total 1 replies
Ayu Kartika II
gk jelas ngkunya istri tpi ma suami songong giliran ada cewe deket" suaminya cemburu,,aneh nih orang critanya yg jelas thorr,,,
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: hrap sabar ya☺🙏
total 1 replies
Ade Bunda86
walau LBH tua tp masih ori y bang Dev...heheheh
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: hehe😌🤫
total 1 replies
Dida Sa'diah
knp Elza selalu berpikiran gitu sih,kan aku jadi kesel sendiri dengan sikap Elza😡
Dida Sa'diah: 😊😊 ya kakak
total 2 replies
Dida Sa'diah
Elza yang lebih dewasa tapi yang manja nya Elza,,tapi gak papa sama suami sendiri,jadi lucu sendiri baca nya
Ayu Kartika II
elza koq kyk anak kecil masa iya pikirannys sampe sejauh itu apa coba motifnya devan mau bunuh kmu gk masuk akal dehh
bisa gk sih torr critnya agk sdikit dipersingkt gtu gk diulang" jdi kurang seru gitu thorr critanya itu biar ringkas padat dan berisi gtu lho,,😊🙏
faula Ana
lanjut donk
😘 sweet baby😘
haduuhhh.... makin rumit aja thor 😏😏
Sri Wigati
lanjut
Fha Fisha
cepat satu kan Elza lagi tor
Imer Merlin
geram pengen ku jambak2 tuch si setan Laras yg GX tw diri😤😤😤😤😤😤
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: sabar, zheyeng. tapi auhtor salut sama Laras dia rela lakuin apa pun demi mendapatkan seorang yg dicintai
total 1 replies
Egik
moga Elsa cepat di temukan devan
😘 sweet baby😘
up lg donk thor.. pinisirin akuh 👍
Imer Merlin
jangan lma2 misahin Elza sama Devan Thor, kasian tw😞😞😞😞😞😞
Imer Merlin
keren Elza, ngadepin pelakor emang harus cerdik,, jangan oke emosi👍👍👍👍👍
Egik
moga devan bisa secepatnya menemukan Elsa
Fha Fisha
next

cepet temukan Elza dan Devan kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!