"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Pagi hari di kediaman Addison selalu dimulai dengan ketenangan yang mewah. Hari ini, Edgar memutuskan untuk mengambil hari santai dan tidak masuk ke kantor pusat Menara Addison terlebih dahulu. Pria matang itu memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan mendesak dari ruang kerja pribadinya di rumah, sekaligus memberikan waktu bagi Gaby untuk menikmati hari bebasnya.
Setelah melewati rangkaian bulan madu yang intens di Paris dan ketegangan di depan gerbang rumah kemarin, Edgar dengan sangat royal memberikan izin kepada Gaby untuk pergi menemui dua sahabat dekatnya, Safa dan Asti. Janji temu ini sebenarnya sudah direncanakan sejak mereka masih di Eropa, dan Edgar sama sekali tidak berniat membatasi ruang gerak sosial istrinya, asalkan keselamatan dan kenyamanannya terjamin mutlak.
"Ingat, Sayang, jangan pulang terlalu sore. Suamimu ini bisa mati kebosanan di rumah besar ini tanpamu," goda Edgar pagi itu, memberikan kecupan dalam di bibir Gaby sebelum melepas istrinya menuju garasi privat.
Gaby melangkah keluar dari paviliun utama dengan penampilan yang benar-benar bertransformasi total. Jika dulu Safa dan Asti mengenalnya sebagai Gaby sang analis bisnis muda yang selalu tampil formal, dengan riasan tipis standar kantoran dan pakaian berpotongan kaku, maka hari ini yang berjalan di atas lantai marmer adalah seorang Nyonya Besar Addison yang sesungguhnya.
Gaby mengenakan setelan kasual berkelas dari koleksi terbaru yang dibelinya di Paris sebuah blouse sutra berkerah rendah berwarna putih gading yang dipadukan dengan celana kulot berpinggang tinggi berwarna cokelat camel. Di atas pundaknya, tersampir manis sebuah mantel rajut kasmir tipis tanpa lengan yang mempertegas siluet tubuhnya yang ramping dan proporsional.
Rambut hitam panjangnya yang biasa dikuncir kuda kini ditata dengan gaya wavy bervolume yang jatuh dengan anggun di bahunya. Riasan wajahnya digarap dengan konsep flawless-bold; menonjolkan kulit porselennya yang tampak jauh lebih bersinar sehat, dengan sentuhan lipstik berwarna merah bata yang membuat bibir ranumnya terlihat teramat memikat namun tetap elegan, tidak berlebihan. Di pergelangan tangannya, gelang berlian pemberian Edgar berkilau lembut setiap kali terkena pantulan cahaya matahari sore.
Gaby berjalan menuju pelataran parkir, di mana kunci mobil Porsche 911 Targa 4S berwarna Chalk Grey hadiah dari Edgar sudah berada di genggamannya. Untuk pertama kalinya, ia akan mengendarai sendiri mobil impiannya itu membelah jalanan Jakarta menuju salah satu restoran privat mewah di kawasan Senopati, tempat mereka berjanji untuk bertemu.
Suara raungan mesin bertenaga tinggi dari Porsche kelabu itu perlahan meredup begitu Gaby menyerahkan kuncinya kepada petugas valet restoran di Senopati. Dari balik kaca transparan restoran, Safa dan Asti yang sudah tiba terlebih dahulu sejak lima belas menit lalu langsung menghentikan obrolan mereka. Mata kedua wanita itu membelalak lebar, hampir tidak berkedip menyaksikan sosok wanita yang baru saja turun dari mobil sport mewah tersebut.
"Demi apa pun... itu Gaby?!" Asti sampai menyenggol lengan Safa dengan heboh, menunjuk ke arah pintu masuk restoran di mana Gaby sedang melangkah anggun dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya.
"Gila! Vibes-nya benar-benar beda! Itu bukan Gaby analis data yang sering pusing mikirin audit lagi, itu pure aura ibu-ibu kaya kompleks elite!" sahut Safa dengan mulut yang sedikit menganga.
Begitu Gaby tiba di meja mereka dan melepas kacamata hitamnya, Safa dan Asti langsung bangkit berdiri dan menghujani Gaby dengan pelukan hangat. Namun, baru saja mereka melepaskan pelukan, dua sahabatnya itu langsung memutari tubuh Gaby, meneliti setiap jengkal penampilan barunya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Gaby! Gila ya, auramu kenapa bisa se-waw ini?! Cantik banget, parah! Kulitmu kenapa bisa se-glowing ini, sih? Apa air di Paris itu isinya kolagen semua?!" seru Asti heboh, memegangi kedua tangan Gaby yang terasa sangat halus.
Gaby hanya bisa tertawa renyah, wajahnya sedikit merona merah mendengar pujian bertubi-tubi dari kedua sahabat yang selalu mendukungnya di masa-masa sulit dulu. "Kalian ini berlebihan deh. Ini cuma dandanan biasa."
"Biasa matamu!" seloroh Safa sambil menarik Gaby untuk duduk. "Baju sutra Chanel, gelang berlian segede jagung, terus ke sini naik Porsche Targa terbaru yang harganya bisa buat beli rumah cluster di Serpong? Lu bilang biasa? Tolong ya, Nyonya Besar Addison, sadar diri kalau status Anda sekarang sudah naik takhta!"
"Asli, Gab. Lu kelihatan jauh lebih segar, lebih cantik, dan... ya ampun, aura bahagianya itu terpancar nyata banget. Beda banget sama waktu lu masih sama si parasit Gavin dulu," tambah Asti dengan nada bicara yang berubah tulus, ikut merasa lega melihat sahabat mereka akhirnya terlepas dari penderitaan masa lalu.
Pelayan restoran datang membawakan pesanan mereka, dan setelah hidangan tertata rapi, obrolan random khas wanita pun dimulai. Dari masalah pekerjaan, tren fesyen, hingga tentu saja, topik utama yang paling membuat Safa dan Asti penasaran kehidupan Gaby bersama sang penguasa dinasti, Edgar Emiliano Addison.
"Jadi... gimana rasanya punya sugar daddy yang aslinya suami sah sendiri?" tanya Safa dengan kerlingan mata menggoda, menyenggol bahu Gaby dengan cangkir kopinya. "Bercanda, Gab! Tapi serius, Tuan Edgar itu kalau di berita kelihatan dingin dan serem banget, kayak tipe-tipe pria mahal yang kalau ngomong sekali langsung bikin perusahaan bangkrut. Tapi pas liburan kemarin, kok bisa romantis banget sih? Gua lihat foto-foto lu di Paris yang latar belakang Menara Eiffel itu, gila ya, estetik parah! Siapa yang motoin?"
"Mas Edgar yang fotoin. Dia yang bawa kamera dslr-nya sendiri," jawab Gaby malu-malu, menyuap sepotong kecil kue sus ke dalam mulutnya.
"Hah?! Seriusan?!" Asti hampir tersedak minumannya. "Seorang CEO Addison Group, konglomerat nomor satu, rela jongkok-jongkok nyari angle foto buat istrinya di Paris? Fix, ini mah bukan cuma romantis, tapi udah bucin akut! Gab, lu pelet pakai apa itu bapak-bapak matang?"
Gaby tertawa mendengar ledekan sahabatnya. "Enggak ada pelet, Asti. Mas Edgar itu turns out memang aslinya perhatian banget. Malah... kemarin dia sempat manja banget di kamar, sampai seharian penuh kami enggak keluar kamar hotel sama sekali."
"Wah, wah, wah! Seharian di kamar ngapain aja tuh? Tagihan kasur jebol enggak?" goda Safa dengan tawa ngakak yang langsung membuat pipi Gaby merah padam sempurna.
"Safa! Jangan random deh!" protes Gaby sambil memukul pelan lengan Safa dengan serbet kain, membuat tawa di meja mereka semakin pecah.
Asti menghela napas panjang, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap Gaby dengan pandangan iri yang jenaka. "Duh, denger cerita lu, gua jadi pengen punya sugar daddy juga deh. Capek gua kerja kantoran tiap hari dikejar deadline, disemprot bos, gajinya cuma numpang lewat doang di rekening. Pengen banget ada bapak-bapak matang, kaya raya, mapan, tampan, yang tiba-tiba datang terus bilang, Kamu resign aja, biar seluruh kebutuhanmu dan tujuh turunanmu aku yang tanggung. Beuh, langsung gua sujud syukur!"
"Iya, asli!" timpal Safa penuh semangat. "Gua juga mau satu dong yang spek kayak Tuan Edgar. Umur kepala empat enggak masalah, justru pria matang kayak gitu yang bener-bener tahu cara meratukan wanita. Enggak kayak berondong atau cowok seumuran yang egoisnya minta ampun, modal cinta doang tapi hobi selingkuh kayak si Gavin sialan itu."
Mendengar perbandingan itu, obrolan mereka perlahan bergeser ke arah yang lebih mendalam, namun tetap dibumbui oleh candaan santai. Gaby bersandar di kursinya, mengaduk teh hangatnya perlahan, teringat kembali akan obrolan berat tentang masa depan yang sempat ia lakukan bersama Edgar di Paris semalam sebelum malam pertama mereka.
"Tapi tahu enggak, Sa, As..." Gaby menjeda kalimatnya, tatapan matanya melembut penuh arti. "Punya suami yang usianya jauh lebih dewasa itu... pemikirannya kadang suka lompat jauh banget ke depan. Sampai bikin gua sempat terdiam enggak bisa ngomong apa-apa."
"Maksudnya gimana, Gab?" tanya Asti penasaran.
Gaby tersenyum tipis, mengingat bagaimana Edgar membahas tentang anak-anak mereka kelak. "Kemarin di Paris, Mas Edgar tiba-tiba ngebahas soal anak. Gua kira obrolan biasa, tapi ternyata dia udah nyiapin draf hukum internasional lewat Kafi. Dia memisahkan lima puluh persen aset pribadinya, saham mayoritas, sama semua properti di Eropa atas nama anak-anak kami nanti sejak hari pertama mereka lahir."
Safa dan Asti langsung terdiam, terpaku mendengar skala perbandingan kekayaan yang sedang dibahas.
"Alasan Mas Edgar bikin gua merinding," lanjut Gaby, suaranya melembut namun terdengar bergetar oleh rasa haru. "Dia bilang, dia sadar umurnya sudah kepala empat. Dia mikirin kemungkinan terburuk kalau suatu hari nanti dia sudah enggak ada duluan sebelum gua. Dia mau mastiin anak-anak kami nanti punya jaminan kekayaan yang enggak akan bisa diusik oleh siapa pun, termasuk keluarga Gavin atau parasit lainnya. Dia mau anak-anak kami tumbuh sebagai pangeran dan putri sejati yang aman secara finansial."
Safa menarik napas dalam-dalam, menggelengkan kepalanya dengan rasa takjub yang luar biasa. "Gab... itu bukan cuma bucin namanya. Itu namanya cinta yang bertanggung jawab sampai ke liang kubur. Gila, Tuan Edgar visioner banget ya mikirin masa depan anaknya bahkan sebelum anaknya wujud di rahim lu."
"Iya, benar," Asti menyetujui, matanya berkaca-kaca karena ikut terharu. "Beda banget sama orang-orang biasa yang kalau ngebahas anak cuma mikirin biaya popok bulan depan. Ini Tuan Edgar langsung mikirin dinasti finansial. Tapi, lu kok kelihatan sedih pas ceritain ini?"
Gaby menunduk, mengusap permukaan cangkir tehnya. "Gua sempat nangis histeris semalam itu, As. Gua bilang ke dia kalau gua enggak peduli sama semua aset atau uang triliunan itu. Gua cuma takut kehilangan dia. Gua baru sadar kalau gua udah jatuh cinta sedalam itu sama Mas Edgar. Bayangin dia enggak ada di samping gua aja rasanya dada gua sesak banget."
Safa mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Gaby dengan lembut untuk memberikan kekuatan. "Itu wajar, Gaby. Lu pernah dihancurkan sampai ke dasar, terus tiba-tiba datang seorang ksatria yang enggak cuma nyembuhin luka lu, tapi juga ngangkat lu setinggi langit dan ngejamin seluruh masa depan lu. Mustahil lu enggak jatuh cinta sedalam itu. Tapi lu harus percaya, pria sekuat Tuan Edgar enggak akan gampang tumbang. Dia pasti bakal umur panjang demi nemenin lu dan ngeliat anak-anak kalian tumbuh besar."
"Benar kata Safa, Gab," tambah Asti dengan senyuman jahilnya yang kembali muncul untuk mencairkan suasana. "Lagian, bapak-bapak matang kalau udah bucin kayak Tuan Edgar itu biasanya tenaganya masih kayak umur dua puluhan tahu, apalagi kalau urusan ngebahagiain istrinya di kamar. Jadi lu tenang aja, stamina suamimu pasti terjaga demi bikin anak-anak penerus Addison Group!"
"Asti! Mulut lu ya, benar-benar!" Gaby langsung melempar tisu ke arah Asti, sementara Safa tertawa terpingkal-pingkal hingga menarik perhatian beberapa pengunjung restoran lain.
Di antara riuh tawa dan obrolan random bersama kedua sahabatnya sore itu, Gaby merasakan kebahagiaan murni yang seutuhnya telah kembali ke dalam hidupnya. Luka masa lalu karena pengkhianatan Gavin dan Luna kini telah tertutup rapat oleh lautan cinta, kemewahan, dan proteksi mutlak yang diberikan oleh Edgar Emiliano Addison. Gaby tahu, di balik dinding kokoh rumah Addison dan di dalam dekapan hangat suaminya, masa depannya akan selalu berkilau seindah berlian tertinggi.