NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sari Wulandari

*BAB 18 -

Tenda medis masih abu-abu.

Bukan gelap. Bukan terang. Abu-abu — warna yang hanya ada di antara. Di saat malam sudah pergi tapi pagi belum benar-benar datang.

Sari terbangun pelan. Bukan karena suara. Bukan karena cahaya. Tapi karena sesuatu yang lebih tua dari keduanya — tubuh yang sudah terbiasa bangun sebelum matahari. Karena di Karang Wilis, matahari bukan jam yang menentukan hari.

Ia berbaring sejenak. Menatap langit-langit tenda yang rendah.

Di sebelahnya, Nayla masih tidur. Jilbab miring di sisi kanan. Rambut hitam yang tidak pernah Sari lihat tergerai keluar sedikit. Satu tangan tergeletak di atas selimut. Jari-jarinya sedikit melengkung, seperti sedang memegang sesuatu yang tidak ada.

Sari tidak membangunkan Nayla.

Ia duduk perlahan. "Hoam." Sari menguap. Kakinya yang kecil menyentuh lantai tenda yang dingin.

Ia mengenali dinginnya — sudah tiga bulan, setiap pagi sama. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Bukan dinginnya. Bukan tendanya. Tapi ada orang lain yang juga merasakan dingin yang sama.

Sari berdiri. Melangkah pelan ke meja darurat.

Suara langkahnya sendiri terdengar terlalu nyaring di tengah keheningan. Ia berhenti sejenak, menoleh ke Nayla. Tidak bergerak. Napas pelan. Lalu Sari melanjutkan langkahnya.

Di meja, obat-obatan tersusun seadanya. Paracetamol, antiseptik, perban, beberapa ampul yang labelnya sudah pudar.

Sari mengambil nampan logam kecil — berkarat di tepinya, tapi masih bisa dipakai. Ia letakkan di atas meja, mulai menata.

Pletak. Pletak. Pletak.

Suara botol kecil saling bertemu. Sari refleks menoleh lagi ke Nayla.

Ia tersenyum kecil. Sebelum Nayla datang, ia tidak perlu khawatir suara. Sebelumnya, tidak ada yang tidur di tenda medis bersamanya. Tiga bulan, ia sendiri. Bangun, siapkan, keliling, tidur. Tidak ada yang menoleh, tidak ada yang khawatir.

Ia mengambil perban gulung. Memeriksa ujungnya. Masih bersih. Lalu meletakkannya kembali ke nampan. sari menarik nafas dan menghembuskan nya

Lalu ia menatap ke sudut meja. Tangannya terulur mengambil sesuatu

"Dompet."

Warnanya cokelat yang dulu terang, sekarang kusam.

Sari melirik lagi ke arah Nayla. Tidak bergerak.

Lalu cepat-cepat, seperti mencuri. Membukanya. Dari saku dalam, mengeluarkan sesuatu yang dilipat rapi — kertas foto l kertas yang sudah lembab di tepinya, warnanya sedikit berubah.

Seorang perempuan tua di kursi kayu. Rambut putih, senyum yang tidak sempurna. Tangan di pangkuan, memegang tas plastik bermerek toko serba ada. Di belakangnya, rumah sederhana dengan cat biru yang sudah pudar.

"Ibu," gumamnya.

Sari menatap foto itu. Tidak lama. Hanya beberapa detik — cukup untuk mengisi sesuatu yang kosong di dadanya, tapi tidak cukup untuk membuatnya hancur. Ia sudah terlalu lama di sini untuk hancur.

"Ibu baik-baik aja," gumamnya dalam hati. Bukan doa, bukan pertanyaan. Hanya fakta yang diucapkan ke udara.

Sari melipat foto lagi. Cepat. Memasukkannya ke dompet. Menyembunyikan dompet itu ke sudut meja. Kotak obat menutupi.

Lalu —

"Selamat pagi, Sar." Suara Nayla.

Sari refleks menoleh. Nayla sudah duduk di ranjang, mata masih setengah terpejam. Jilbab miring di sisi yang sama. Tangan kanannya mengusap wajah dari atas ke bawah. Cara orang yang baru bangun dan belum ingat di mana dia.

Sari tersenyum. Cepat, terlalu cepat, tapi cukup untuk menutupi sesuatu.

"Selamat pagi, Dok."

Nayla mengangguk pelan. Matanya menyapu tenda — meja, obat, nampan, sudut meja yang tidak ada apa-apa.

"Udah siapin semua?" tanya Nayla, suaranya serak.

"Iya, Dok." Sari mengangkat nampan, menunjukkan. "Mau keliling sekarang?"

Nayla berdiri. Merapikan jilbab. Menarik napas panjang — panjang sekali, sampai bahunya turun.

ya kita "Keliling." tapi saya mau mandi dulu,

ucap Nayla sambil tertawa kecil.

Sari meletakkan nampan mengangguk iya dok, balasnya sambil tersenyum.

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!