we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 — Persiapan yang Santai
Hari-hari berikutnya berlalu dengan tenang.
Setidaknya bagi We Lin.
Sejak menerima undangan dari Organisasi Rasi Bintang, tidak banyak perubahan yang terjadi di toko perhiasan miliknya.
Pagi hari ia membersihkan etalase.
Siang hari ia menyusun perhiasan.
Sore hari ia menghitung stok barang.
Dan malam hari ia menutup toko seperti biasa.
Semuanya berjalan seperti rutinitas yang telah dilakukan berkali-kali.
Namun ketenangan itu hanya dirasakan oleh We Lin.
Di luar sana, situasinya sangat berbeda.
Markas Organisasi Rasi Bintang.
Para tetua masih sibuk mempersiapkan Pertemuan Bintang Tujuh.
Biasanya acara itu hanya dihadiri tokoh-tokoh penting organisasi.
Namun kali ini suasananya jauh berbeda.
Karena untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun, seseorang yang diduga memiliki hubungan dengan Mata Dewa akan hadir.
Atau setidaknya...
Mereka berharap ia hadir.
Di aula utama, beberapa tetua sedang berdiskusi.
“Apakah tempat duduknya sudah disiapkan?”
“Sudah.”
“Bagaimana dengan pengamanan?”
“Sudah diperketat.”
“Dan jika beliau tidak datang?”
Ruangan langsung sunyi.
Tidak seorang pun memiliki jawaban pasti.
Karena sampai saat ini mereka belum menerima konfirmasi apa pun.
Sementara itu...
Di toko perhiasan.
We Lin sedang menghitung beberapa cincin.
“Sembilan puluh tujuh...”
“Sembilan puluh delapan...”
“Sembilan puluh sembilan...”
“Seratus.”
Ia mengangguk puas.
“Lengkap.”
Di atas meja kasir, Cermin Mata Dewa masih berada di tempatnya.
Kadang artefak itu memunculkan tulisan singkat.
Kadang diam berjam-jam.
Hari ini termasuk hari yang tenang.
Tidak ada tulisan aneh.
Tidak ada notifikasi sistem.
Tidak ada kejadian yang membuat pusing.
Menurut We Lin, ini adalah hari yang sempurna.
“Hidup damai memang yang terbaik.”
gumamnya.
Di pojok toko, Tetua Morcant sedang duduk sambil membaca buku tua.
Sesekali ia melirik ke arah We Lin.
Kemudian kembali membaca.
Beberapa hari terakhir ia juga memperhatikan sesuatu.
We Lin benar-benar tidak terlihat gugup menjelang pertemuan besar itu.
Bahkan tidak sedikit pun.
Seolah menghadiri atau tidak menghadiri acara tersebut tidak ada bedanya.
Padahal jika orang lain menerima undangan dari Organisasi Rasi Bintang, mereka mungkin tidak bisa tidur selama berhari-hari.
Namun We Lin?
Ia bahkan lebih peduli pada jumlah cincin di etalase.
Hari keenam.
Waktu menuju Pertemuan Bintang Tujuh tinggal satu hari lagi.
Bel pintu toko berbunyi.
Ting!
Seorang pria muda masuk ke dalam toko.
Ia mengenakan pakaian sederhana.
Namun matanya terus mengamati ruangan.
“Selamat datang.”
kata We Lin.
Pria itu mengangguk.
Lalu membeli sebuah gelang perak.
Transaksinya berlangsung normal.
Namun sebelum pergi, ia sempat melirik ke arah We Lin beberapa kali.
Kemudian buru-buru keluar.
Beberapa menit kemudian...
Bel pintu berbunyi lagi.
Ting!
Kali ini seorang wanita muda masuk.
Ia membeli anting kecil.
Lalu pergi.
Satu jam kemudian...
Pelanggan ketiga datang.
Kemudian pelanggan keempat.
Kemudian pelanggan kelima.
We Lin mulai mengernyit.
“Aneh.”
Tetua Morcant menoleh dari bukunya.
“Apa yang aneh?”
“Biasanya toko ini sepi.”
“Hm.”
“Tapi hari ini banyak pelanggan.”
Tetua Morcant hampir tertawa.
Tentu saja banyak.
Sebagian besar dari mereka kemungkinan adalah anggota Organisasi Rasi Bintang yang datang untuk melihat seperti apa sosok We Lin.
Namun ia tidak mengatakannya.
“Bukankah itu bagus?”
katanya.
“Iya juga.”
jawab We Lin.
Sesaat kemudian, pikirannya melayang jauh.
Ia teringat saat toko perhiasan tempatnya bekerja di bumi pertama kali ramai oleh pelanggan.
Hari itu ia bahkan tidak sempat beristirahat karena sibuk melayani orang yang datang silih berganti.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Semoga besok lebih ramai."
Entah mengapa, kenangan itu membuatnya semakin merindukan rumah
Ia mengepalkan tangannya erat.
"Aku harus terus maju."
"Kalau ingin kembali ke rumah, aku tidak boleh menyerah."
Gumam nya pelan.
Tetua Morcant menutup bukunya perlahan.
Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi.
Malam hari tiba.
Toko mulai tutup.
We Lin meregangkan tubuhnya.
“Lumayan melelahkan.”
Hari ini penjualannya memang lebih baik dari biasanya.
Saat sedang membereskan meja kasir, matanya jatuh pada gulungan undangan.
“Oh.”
“Besok acaranya ya.”
Ia hampir lupa.
Di atas meja, Cermin Mata Dewa tiba-tiba memunculkan tulisan.
[Pengingat Sistem]
[Pertemuan Bintang Tujuh dimulai besok]
“Aku tahu.”
kata We Lin.
Tulisan itu langsung menghilang.
Di pojok toko, Tetua Morcant memperhatikan semua itu dalam diam.
Kemudian bertanya,
“Jadi kau akan pergi?”
We Lin berpikir beberapa saat.
“Kurasa iya.”
“Kenapa?”
“Mereka menanggung biaya perjalanan.”
“......”
Tetua Morcant menutup wajahnya dengan satu tangan.
Jawaban itu lagi.
Di saat yang sama.
Markas Organisasi Rasi Bintang.
Seluruh aula utama telah dihias.
Bendera-bendera dengan lambang tujuh bintang tergantung di berbagai sisi.
Kursi-kursi telah disusun rapi.
Para anggota sibuk berjalan ke sana kemari.
Namun di balik semua kesibukan itu, suasana hati mereka tidak tenang.
Karena satu pertanyaan terus menghantui mereka.
Apakah We Lin akan datang?
Tidak ada yang tahu.
Bahkan para tetua pun tidak tahu.
Salah satu tetua tua berdiri di depan jendela.
Memandang langit malam.
“Besok akan menjadi hari penting.”
gumamnya.
Di belakangnya, seorang anggota bertanya,
“Tetua, apakah beliau benar-benar akan hadir?”
Tetua tua itu menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Tapi kita harus bersiap untuk segala kemungkinan.”
Keesokan paginya.
Matahari baru saja terbit.
We Lin sudah berdiri di depan toko.
Ia memeriksa pintu sekali lagi.
Kemudian menguncinya.
“Hm.”
“Kurasa semuanya beres.”
Di punggungnya hanya ada tas kecil berisi beberapa barang sederhana.
Tidak banyak.
Hanya secukupnya untuk perjalanan singkat.
Tetua Morcant berdiri di dekat pintu.
“Kau benar-benar mau pergi?”
“Bukankah sudah kubilang kemarin?”
“Benar juga.”
Tetua Morcant mengusap dagunya.
Lalu berkata,
“Kalau begitu hati-hati.”
We Lin mengangguk.
“Baik.”
Kemudian ia mulai berjalan meninggalkan toko.
Angin pagi berembus pelan.
Jalanan masih sepi.
Dan tanpa disadari oleh We Lin...
Langkah sederhana yang ia ambil hari itu akan menjadi awal dari kegemparan besar di Organisasi Rasi Bintang.
Karena di mata mereka, orang yang sedang berjalan santai menuju lokasi pertemuan bukanlah penjaga toko biasa.
Melainkan sosok yang mungkin berkaitan dengan legenda terbesar yang pernah mereka ketahui.
Sementara We Lin sendiri hanya memiliki satu pikiran sederhana.
"Semoga makanan di sana enak."
Di markas Organisasi Rasi Bintang.
Seorang tetua berjubah putih berdiri dan berkata dengan tegas.
"Apakah kereta langit sudah disiapkan?"
"Sudah."
"Pengawal kehormatan?"
"Sudah."
"Tim penyambut?"
"Sudah."
"Artefak penunjuk jalan?"
"Sudah."
Semua berjalan sesuai rencana.
Mereka telah menyiapkan penyambutan terbaik yang pernah diberikan kepada seorang tamu.
Tak lama kemudian, sebuah kereta hitam berukir tujuh bintang tiba di depan toko perhiasan milik We Lin.
Puluhan anggota elit turun dengan rapi.
Aura mereka begitu kuat hingga para pejalan kaki memilih menjauh.
Pemimpin rombongan melangkah maju.
"Apakah Tuan We Lin berada di dalam?"
Tetua Morcant yang sedang meminum teh mengangkat kepala.
"Untuk apa?"
"Kami diperintahkan menjemput beliau menuju markas."
Tetua Morcant terdiam beberapa saat.
"Kalian terlambat."
Seluruh rombongan menegang.