NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:449
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Konstelasi di Atas Rawa Hitam

​Lima hari telah berlalu sejak segel merah dari firma hukum Bratasena & Partners itu mendarat di tangan Gani. Lima hari dari total empat belas hari waktu yang ia miliki sebelum ancaman eksekusi lahan itu berubah menjadi kenyataan.

​Namun, alih-alih diliputi kepanikan, pekarangan belakang rumah Gani justru dipenuhi oleh melodi kehidupan yang paling riuh.

​Warga Karangbanyu benar-benar menepati janji komunal mereka. Setiap sore, setelah kembali dari ladang, belasan pria dewasa dan pemuda Karang Taruna berbondong-bondong datang untuk membantu Gani. Mereka bekerja dengan sistem sif yang tidak tertulis, dikoordinir langsung oleh Kang Ujang yang bertindak sebagai mandor lapangan, sementara Gani tetap memegang kendali penuh sebagai arsitek utama.

​Dan hasilnya luar biasa.

​Dalam waktu kurang dari seminggu, sebuah paviliun bambu berukuran delapan kali sepuluh meter telah berdiri kokoh. Bentuknya tidak seperti bangunan desa pada umumnya. Atapnya melengkung elegan, meniru kepakan sayap burung yang sedang merengkuh angin, didesain khusus oleh Gani untuk memaksimalkan sirkulasi udara (cross-ventilation). Rak-rak buku telah diintegrasikan secara cerdas ke dalam dinding bambu berlapis yang tahan terhadap tampias air hujan. Lantainya dibuat sedikit lebih tinggi dari permukaan tanah, beralaskan anyaman bambu pelupuh yang halus dan dingin jika diduduki.

​Gani berdiri di tengah paviliun yang 80% selesai itu, menghirup aroma vernis tipis yang baru saja disapukan pada tiang-tiang utamanya. Otot-otot lengannya terasa kebas, pakaiannya dipenuhi noda serbuk kayu, namun matanya memancarkan kepuasan yang mendalam. Ia sedang memegang sebuah ampelas, menghaluskan ujung sebuah meja baca rendah yang ia rancang khusus agar tidak memiliki sudut tajam.

​"Ternyata gosip Bibi Ratna tidak berlebihan."

​Sebuah suara lembut yang sangat dirindukannya menghentikan gerakan tangan Gani. Pria itu tersentak, memutar tubuhnya dengan cepat.

​Di ambang pintu pekarangan belakang, berdiri sosok Kirana. Gadis itu mengenakan gaun katun panjang berwarna peach pucat, dipadukan dengan kardigan putih rajut yang menutupi bahunya. Wajahnya tidak sepucat lima hari yang lalu saat ia terbaring dengan masker oksigen, namun sisa-sisa kelelahan masih membayang jelas di bawah matanya.

​Kirana berdiri mematung. Matanya yang bening membelalak lebar, menyapu keseluruhan struktur bambu raksasa yang menjulang anggun di hadapannya. Ia mengangkat tangannya menutupi mulut yang terbuka kecil. Matanya mulai berkaca-kaca.

​Gani melempar ampelasnya ke atas meja, lalu melompat turun dari lantai pelupuh dengan gerakan gesit. Ia berjalan menghampiri Kirana dengan raut wajah setengah panik.

​"Apa yang kau lakukan di luar?" tegur Gani tegas, meski suaranya melembut saat ia berdiri tepat di hadapan gadis itu. "Pak Mantri bilang kau harus bed rest setidaknya seminggu penuh. Siapa yang mengizinkanmu berjalan sejauh ini?"

​"Bibi Ratna sedang pergi ke pasar kecamatan. Aku menyelinap," jawab Kirana polos, masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari paviliun bambu itu. Ia kemudian menatap Gani, setetes air mata kebahagiaan akhirnya lolos membasahi pipinya. "Gani... ini... kau benar-benar membangunnya. Ini indah sekali. Terlalu indah."

​"Aku sudah bilang, aku tidak suka melakukan pekerjaan setengah-setengah," Gani mengedikkan bahu, mencoba menutupi rasa bangganya dengan sikap acuh tak acuh. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan saputangan bersih, lalu menghapus air mata di pipi gadis itu dengan sangat lembut. "Jangan menangis. Bangunannya belum selesai. Nanti kalau air matamu jatuh ke lantai bambunya, bisa lapuk sebelum dipakai."

​Kirana tertawa kecil di sela isakannya, membiarkan Gani membersihkan wajahnya. Ia berjalan pelan mendekati salah satu pilar utama dari bambu petung, mengusap permukaannya yang halus dan kokoh.

​"Udaranya sangat sejuk di sini," gumam Kirana takjub, merasakan embusan angin yang mengalir bebas melalui celah-celah desain aerodinamis Gani, membawa pergi hawa panas siang hari. Ia tidak merasa sesak sama sekali. Jantungnya berdetak dengan nyaman.

​"Sirkulasi udara tumpuk," Gani menjelaskan, berjalan di sampingnya. "Udara panas akan otomatis naik ke atas dan dibuang melalui celah atap, sementara udara dingin dari bawah akan ditarik masuk. Aku juga memastikan letak rak buku membelakangi arah datangnya cahaya matahari sore agar kertas-kertas bukumu tidak cepat menguning."

​Kirana menoleh, menatap wajah pria di sampingnya lekat-lekat. Ia melihat kalus yang semakin menebal di tangan Gani, dan melihat betapa banyak berat badan pria itu yang susut akibat bekerja keras secara fisik setiap hari.

​"Kenapa kau melakukan semua ini, Gani?" bisik Kirana, nada suaranya dipenuhi haru yang menyesakkan dada. "Ini memakan banyak biaya, kan? Bambu sebanyak ini... dan tenaga warga..."

​"Kang Ujang yang mensponsori bambunya karena aku mendesain ulang tata letak bengkelnya. Dan warga membantuku dengan sukarela," jawab Gani jujur. Ia kemudian menatap mata sabit gadis itu, tidak ada lagi tabir ego di antara mereka. "Aku melakukannya... karena aku ingin. Karena jejakmu pantas mendapatkan tempat perlindungan terbaik yang bisa kurancang."

​Kirana tidak sanggup berkata-kata lagi. Ia memutar tubuhnya menghadap Gani, lalu melingkarkan kedua lengannya ke pinggang pria itu, memeluknya dengan erat. Ia menyandarkan telinganya tepat di atas dada kiri Gani, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdentum stabil dan kuat.

​Gani terpaku selama dua detik, sebelum perlahan membalas pelukan itu. Ia melingkarkan lengannya yang besar dan kokoh di punggung sempit Kirana, menenggelamkan dagunya di puncak kepala gadis itu, menghirup aroma melati yang selalu menguar dari rambutnya.

​Di tengah pekarangan belakang yang dipenuhi serbuk kayu dan sisa-sisa pembangunan itu, mereka berdiri saling menopang. Gani merasa seolah ia sedang memeluk sebuah kristal kaca yang sangat rapuh namun tak ternilai harganya. Ia bersumpah dalam hati, tidak peduli apa yang akan dilakukan firma hukum Jakarta itu sembilan hari lagi, ia akan mempertahankan tempat ini dengan nyawanya.

​Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian kecil, Kirana melonggarkan pelukannya. Ia mendongak, menatap Gani dengan kilatan nakal yang sudah lama menghilang dari wajahnya.

​"Melihat paviliun ini, aku merasa seolah seluruh tenagaku sudah kembali seratus persen," ucap Kirana, senyum tipisnya mulai melebar.

​Firasat Gani mendadak memburuk. "Jangan macam-macam, Tiran Kecil."

​Kirana melepaskan diri sepenuhnya, mundur satu langkah, lalu menunjuk wajah Gani. "Malam ini. Rawa Hitam."

​"Tidak," tolak Gani seketika, tanpa jeda. "Sama sekali tidak. Kau gila? Kau baru sembuh dari gagal jantung lima hari yang lalu. Berjalan dari rumahmu ke sini saja sudah merupakan pelanggaran medis berat, apalagi pergi ke rawa di malam hari yang dingin."

​"Gani, kumohon..." Kirana mulai mengeluarkan jurus memelasnya. Matanya dikedipkan berkali-kali. "Aku sudah berbaring di kasur itu selama seratus dua puluh jam! Punggungku rasanya seperti mau patah. Pak Mantri bilang aku butuh udara segar. Apa yang lebih segar dari udara malam di alam bebas?"

​"Udara malam di alam bebas adalah resep jitu untuk radang paru-paru," potong Gani cepat, melipat tangan di dada, bertindak sebagai dinding pertahanan yang kokoh. "Aku sudah berjanji pada Bibi Ratna dan Pak Mantri untuk menjagamu. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal bodoh."

​Kirana menghela napas dramatis. Ia menundukkan kepalanya, memainkan ujung kardigannya. Saat ia kembali berbicara, suaranya terdengar jauh lebih pelan, dan tidak ada lagi nada bercanda di sana.

​"Gani... kau tahu kondisiku," bisik Kirana, menatap lantai bambu di bawah kakinya. "Aku merasa sehat hari ini. Jantungku tidak ngilu, dan aku bisa bernapas panjang. Tapi aku tidak tahu apakah besok pagi aku masih akan merasakan hal yang sama. Bagaimana jika malam ini adalah... malam terakhir di mana kakiku cukup kuat untuk berjalan sejauh itu?"

​Kalimat itu menembus pertahanan Gani lebih tajam daripada peluru. Logikanya langsung runtuh di hadapan realitas kejam waktu yang dimiliki gadis itu. Setiap hari bagi Kirana adalah sebuah lotere, dan menunda sesuatu mungkin berarti kehilangan kesempatan itu untuk selamanya.

​Gani menghela napas kasar, memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa pusing. Ia merutuki kelemahannya sendiri setiap kali dihadapkan pada permohonan gadis ini.

​"Kau benar-benar tahu cara memeras emosi orang, tahu tidak?" gerutu Gani akhirnya, menurunkan lengannya.

​Mata Kirana langsung berbinar cerah. "Jadi... boleh?"

​"Dengan syarat ketat," Gani menunjuk Kirana dengan telunjuknya, kembali menggunakan aura CEO-nya yang otoriter. "Satu: Kau harus memakai jaket parkaku yang tebal, kaus kaki rangkap dua, dan syal. Dua: Jika di tengah jalan kau merasa sedikit saja sesak atau lelah, kita putar balik saat itu juga tanpa perdebatan. Tiga: Aku tidak akan membiarkan kakimu menyentuh lumpur rawa. Setuju?"

​Kirana mengangkat tangannya, membentuk posisi hormat militer yang sedikit miring. "Siap, Komandan Gani! Perintah diterima!"

​Malam itu, bulan bersembunyi di balik awan tipis, menyisakan hanya segelintir bintang yang berkedip samar. Suasana Karangbanyu setelah isya selalu sepi, namun malam ini udaranya terasa sedikit lebih dingin dari biasanya.

​Gani dan Kirana berjalan bersisian meninggalkan jalan aspal desa, memasuki jalan setapak kecil yang diapit oleh rimbunnya pohon bambu. Tujuan mereka adalah Rawa Hitam, sebuah area cekungan air alami yang terletak di ujung selatan desa, melewati sebuah bukit kecil yang dipenuhi kebun sengon.

​Sesuai kesepakatan, Kirana dibungkus rapat-rapat. Gadis mungil itu tenggelam di dalam jaket parka abu-abu milik Gani yang kebesaran, membuatnya terlihat seperti beruang kutub kecil. Syal rajut melilit lehernya hingga menutupi dagu, dan ia mengenakan sepatu kets milik Bibi Ratna.

​Gani berjalan setengah langkah di depannya, tangan kirinya memegang senter yang sinarnya membelah kegelapan jalan setapak, sementara tangan kanannya selalu siap siaga di dekat lengan Kirana, kalau-kalau gadis itu tersandung akar pohon.

​"Pegang lenganku. Jalannya mulai menanjak," instruksi Gani saat mereka mulai mendaki bukit kecil kebun sengon.

​Kirana tidak membantah. Ia menyelipkan lengannya ke lengan Gani, mengandalkan kekuatan pria itu untuk membantunya mendaki. Napas Kirana mulai terdengar sedikit lebih cepat, namun ia tidak mengeluh. Hatinya justru dipenuhi oleh kegembiraan murni. Keluar dari kurungan kamarnya dan berjalan di bawah langit malam bersama pria yang ia sukai adalah kemewahan yang tak terhingga.

​"Dulu, saat aku masih kecil," Gani membuka percakapan untuk mengalihkan perhatian Kirana dari rasa lelah, "Aku dan Raka sering menyelinap ke rawa ini untuk mencari belut. Kami pernah tersesat sampai tengah malam dan dimarahi habis-habisan oleh ayahku."

​Mendengar nama Raka disebut dengan nada yang begitu kasual, Kirana sedikit terkejut. Ini pertama kalinya Gani menyebut nama pengkhianat itu tanpa diiringi oleh getaran amarah atau wajah yang mengeras.

​"Kau terdengar tidak lagi membencinya," komentar Kirana pelan.

​"Oh, aku masih membencinya," jawab Gani jujur, membimbing Kirana menghindari genangan air kecil. "Jika dia ada di depanku sekarang, aku mungkin akan meninju wajahnya sampai kacamatanya pecah. Tapi kebencian itu... tidak lagi mengendalikan napasku. Dia hanya bagian dari cerita buruk di masa laluku. Masa kiniku ada di sini, di desa ini. Dan masa kiniku jauh lebih penting dari amarahku padanya."

​Kirana tersenyum di balik syalnya. Ia mempererat pegangannya pada lengan Gani. Pria ini telah benar-benar menyembuhkan dirinya sendiri. Luka-luka itu telah mengering dan menjadi parut yang membuatnya semakin tangguh.

​Setelah lima belas menit berjalan membelah kebun sengon, mereka mulai menuruni bukit. Udara mendadak terasa lebih lembap dan berat. Suara jangkrik digantikan oleh paduan suara katak yang bersahutan dari kejauhan. Bau tanah basah, lumut, dan air menggenang menguar kuat.

​Sinar senter Gani menangkap sebuah hamparan gelap yang sangat luas di depan mereka. Rawa Hitam. Airnya tenang seperti cermin raksasa yang terbuat dari tinta hitam pekat, memantulkan bayangan pohon-pohon bakung rawa yang tumbuh di tepiannya. Kesunyian di tempat itu terasa purba dan sedikit mengintimidasi.

​"Kita sudah sampai," ucap Gani, menghentikan langkahnya tepat di batas tanah padat. Ia menyorotkan senternya ke seluruh penjuru rawa. Tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan dan air.

​Gani menoleh ke arah Kirana dengan dahi berkerut. "Tiran Kecil, jangan bilang kau membawaku ke tempat penuh nyamuk ini hanya untuk mengerjaiku? Di mana kunang-kunang yang kau janjikan itu?"

​Kirana melepaskan pegangannya dari lengan Gani. Ia menatap rawa yang gelap gulita itu dengan senyum penuh misteri. Gadis itu lalu mengulurkan tangannya, menutupi lampu senter yang dipegang Gani.

​"Matikan cahayamu, Komandan," bisik Kirana. "Kau tidak akan pernah bisa melihat cahaya yang sesungguhnya jika kau menyorotkan cahayamu sendiri ke arah mereka. Mereka pemalu."

​Gani ragu sejenak, namun ia akhirnya menekan tombol off pada senternya.

​Kegelapan absolut langsung menelan mereka. Untuk beberapa detik pertama, mata Gani sama sekali tidak bisa beradaptasi. Ia tidak bisa melihat apa-apa, bahkan tangannya sendiri. Kesunyian rawa yang pekat membuat indra pendengarannya menjadi seratus kali lebih tajam.

​"Sekarang," suara Kirana terdengar sangat dekat di sebelahnya, mengalun lembut. "Tunggu. Dan lihatlah keajaiban yang tersembunyi di dalam kegelapan."

​Gani mematuhi instruksi itu. Ia menatap lurus ke arah kegelapan di atas permukaan air rawa.

​Satu detik. Dua detik. Lima detik berlalu.

​Tiba-tiba, jauh di tengah rawa, di antara rimbunnya alang-alang air, sebuah titik cahaya kuning kehijauan berkedip kecil. Sangat redup, bagaikan bintang jatuh berukuran mini.

​Kedip. Lalu cahaya itu mati.

​Kemudian, dua titik cahaya lain menyala tak jauh dari sana. Disusul oleh tiga titik lainnya di sebelah kiri.

​Dan seperti sebuah orkestra yang baru saja menerima aba-aba dari konduktornya, kegelapan Rawa Hitam perlahan mulai dipecahkan. Puluhan, ratusan, hingga ribuan kunang-kunang mulai menyalakan lentera biologis mereka secara bersamaan. Cahaya kuning neon kecil itu berkedip-kedip dengan ritme yang lambat dan memabukkan, terbang rendah di atas permukaan air rawa yang gelap, memantulkan cahayanya hingga terlihat seperti ada ribuan kunang-kunang lain di dasar air.

​Rawa yang tadinya terlihat mengerikan dan menakutkan, dalam hitungan detik berubah menjadi sebuah galaksi kecil yang turun ke bumi. Titik-titik cahaya itu bergerak bagaikan debu peri yang menari-nari tanpa gravitasi, menciptakan konstelasi bintang hidup yang menyelimuti seluruh area cekungan rawa.

​Napas Gani tertahan di tenggorokan. Matanya melebar sempurna. Ia telah melihat tata cahaya kota dari penthouse di lantai lima puluh, ia telah melihat pencahayaan buatan di gedung opera paling mewah di luar negeri. Namun, tidak ada satu pun teknologi manusia yang bisa menandingi kemegahan visual dari ribuan kunang-kunang liar yang sedang melakukan ritual kehidupan mereka di atas Rawa Hitam.

​"Luar biasa..." gumam Gani, nyaris kehilangan suaranya.

​Kirana tersenyum. Ia menengadah, matanya yang bening memantulkan ribuan titik cahaya kuning tersebut. Pemandangan itu membuatnya terlihat seperti sesosok dewi yang terbuat dari cahaya bintang.

​"Kau ingat Permintaan Keempat-ku?" tanya Kirana lembut, masih menatap tarian kunang-kunang di depan mereka.

​Gani tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku celananya secara otomatis, mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi kamera, mengatur mode night-sight yang bisa menangkap cahaya minim. Ia mengarahkan kameranya bukan hanya ke arah kunang-kunang di rawa, melainkan menggesernya sedikit, menjadikan Kirana sebagai fokus utama (foreground) dengan latar belakang ribuan kunang-kunang yang bersinar di belakang gadis itu (background).

​Cekrek.

​Satu foto berhasil diabadikan. Sebuah masterpiece visual yang tak ternilai. Dalam foto itu, Kirana berdiri terbalut jaket kebesaran, namun wajahnya memancarkan kedamaian yang absolut di tengah ribuan titik cahaya.

​"Sudah kutangkap cahayanya untukmu," bisik Gani, menunjukkan layar ponselnya kepada Kirana.

​Kirana melihat foto itu. Ia tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit, puas karena ia kini memiliki bukti keabadian dari malam ini.

​Kirana menoleh, menatap mata Gani. Jarak mereka sangat dekat. Udara di sekeliling mereka terasa menipis, diisi oleh daya tarik magnetis yang tidak lagi bisa disangkal oleh keduanya. Di tengah kerlipan ribuan kunang-kunang, tatapan mereka saling mengunci.

​"Aku memintamu membawaku ke sini," Kirana berbisik, suaranya sedikit bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena emosi yang meluap. "...karena aku ingin kau melihat ini, Gani. Sebanyak apa pun rawa hitam yang menenggelamkan hidupmu, selalu ada kunang-kunang yang siap meneranginya. Jika suatu saat nanti... aku sudah tidak ada... aku ingin kau mengingat malam ini. Mengingat bahwa cahaya selalu ada, bahkan dalam kegelapan paling pekat sekalipun."

​Dada Gani serasa ditikam belati tak kasat mata mendengar rujukan tentang kematian itu lagi. Namun kali ini, ia tidak membantah atau mengalihkan pembicaraan. Gani memangkas jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangan kanannya, mengusap rahang Kirana dengan punggung jari telunjuknya. Sentuhannya sangat hati-hati, penuh pemujaan.

​"Kau adalah kunang-kunangnya, Kirana," bisik Gani parau, tatapannya menyusuri setiap inci wajah gadis itu, ingin merekamnya secara permanen di dalam ingatannya. "Kau adalah satu-satunya cahaya yang menerangi rawaku."

​Napas Kirana tertahan. Ia memejamkan mata saat ibu jari Gani mengusap tulang pipinya. Gani perlahan menundukkan wajahnya, jarak di antara mereka semakin menipis. Kirana bisa merasakan hembusan napas hangat Gani di kulit wajahnya yang dingin. Dunia seolah berhenti berputar. Kunang-kunang di sekeliling mereka seakan menjadi pelindung tak kasat mata yang merestui momen sakral ini.

​Bibir mereka hanya berjarak beberapa milimeter lagi. Gani bisa mencium aroma melati yang memabukkan itu dengan sangat jelas.

​Tes.

​Sebuah tetesan air yang dingin tiba-tiba jatuh menimpa hidung Gani.

​Gerakan Gani terhenti. Ia membuka matanya.

​Tes. Tes. Tes.

​Tetesan kedua dan ketiga jatuh lebih cepat, mengenai pelipis Kirana dan layar ponsel Gani. Dalam hitungan detik, suara gemuruh angin berembus keras dari balik bukit, menyapu pepohonan rawa. Tarian damai kunang-kunang seketika buyar. Ribuan cahaya itu menghilang serentak saat serangga-serangga malang itu menjatuhkan diri ke balik rerumputan untuk bersembunyi dari amukan alam.

​"Gani... hujan..." bisik Kirana, menengadah dengan panik.

​Gerimis yang turun perlahan tiba-tiba berubah menjadi hujan deras yang tumpah dari langit tanpa peringatan. Cuaca Karangbanyu yang selama berbulan-bulan kering, akhirnya melepaskan seluruh beban airnya malam ini.

​Kepanikan langsung menyergap Gani. Sifat protektifnya meledak. Ini bukan sekadar hujan; bagi gadis dengan gagal jantung kongestif yang baru keluar dari masa kritis, guyuran hujan malam adalah ancaman pneumonia yang bisa membunuhnya dalam hitungan jam.

​"Kita harus pergi! Sekarang!" teriak Gani melawan suara gemuruh hujan.

​Ia tidak membuang waktu. Gani menarik ritsleting jaket parka Kirana hingga menutupi dagu gadis itu sepenuhnya, lalu tanpa peringatan, ia menyusupkan satu tangan ke bawah lutut Kirana dan tangan lainnya di punggung gadis itu. Dengan satu gerakan kuat, Gani mengangkat tubuh Kirana ala bridal style. Tubuh gadis itu terasa luar biasa ringan di pelukannya.

​"Gani, apa yang kau lakukan?! Aku bisa jalan!" protes Kirana panik sambil mengalungkan lengannya di leher Gani agar tidak terjatuh.

​"Berjalan terlalu lama! Kau tidak boleh kedinginan!" Gani meraung membalas. Ia menghidupkan kembali senternya, menahan gagangnya dengan tangan yang menyangga punggung Kirana. Pria itu langsung berlari menerobos hujan lebat, mendaki jalan setapak kembali menuju bukit sengon.

​Hujan turun semakin liar, mencambuk punggung dan wajah Gani. Jalanan tanah berubah menjadi lumpur licin yang berbahaya. Napas Gani tersengal-sengal, otot pahanya terbakar karena harus mendaki sambil membawa beban, tapi ia tidak memperlambat langkahnya. Insting pertahanannya mengambil alih. Ia mempertaruhkan segalanya untuk menjaga agar Kirana tetap kering dan hangat di dalam dekapannya.

​"Gani! Di depan sana ada gubuk tua sisa penebang kayu!" seru Kirana di telinga Gani, menunjuk sebuah siluet hitam yang berjarak sekitar lima puluh meter di depan mereka, di tepi jalur bukit. "Kita berteduh di sana dulu! Kau tidak akan kuat berlari sampai desa sambil menggendongku menembus badai ini!"

​Gani menatap gubuk itu, mengkalkulasi jarak dan staminanya. Kirana benar. Ia hampir terpeleset dua kali. Melanjutkan perjalanan ke desa adalah tindakan bunuh diri.

​"Pegang erat-erat!" perintah Gani.

​Ia mengarahkan langkahnya menerobos semak belukar yang basah menuju gubuk tersebut. Pintu gubuk dari anyaman bambu itu setengah terbuka dan lapuk. Gani menerjangnya dengan bahunya, mendobrak masuk, lalu menendang pintu itu agar tertutup kembali dari amukan badai.

​Di dalam gubuk yang sempit dan gelap gulita itu, mereka akhirnya terlepas dari cambukan hujan. Gani menurunkan Kirana perlahan ke atas lantai bambu gubuk, sebelum akhirnya ia sendiri merosot duduk di dinding yang berlawanan, terengah-engah mencari oksigen, dadanya naik turun dengan liar.

​Badai mengamuk di luar, menyisakan mereka berdua terjebak dalam ruang sempit yang hanya diterangi kilatan petir. Malam ini, Rawa Hitam tidak hanya menyuguhkan keindahan cahaya kunang-kunang, tapi juga memaksa mereka masuk ke dalam sebuah pelarian yang akan membongkar sisa-sisa tembok penghalang di antara mereka.

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!