Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari pintu : 18
Mata Kanti terasa perih sebab dia tak berkedip dalam waktu lumayan lama. Diamatinya gubuk terbuat dari bambu telah menguning, pandangannya turun pada jalanan tepi pagar …. ‘Kalau ini tempat yang sama, kenapa tidak ada becek berlumpur, tanah berlubang rendah?’
Jalan setengah meter diapit tumbuhan rumput pendek berbunga kuning kecil-kecil sangat mulus, tidak sama seperti sewaktu ruh Mayang membawa Kanti.
“Ayo turun!” bu Sasmi dan putrinya sudah berdiri di samping pickup, mereka duduk pada jok depan.
Aji turun lebih dahulu, lalu membantu Kanti, kemudian Ahwaya yang entah kenapa tidak lagi menempel pada Sambara.
Hubungan kekasih itu kian renggang, berjarak. Biasanya mereka terlihat mesra, kini berdekatan saja sangat jarang.
“Kenapa, Kanti? Kamu gak enak badan?” Aya menempelkan punggung jarinya ke kening sang teman yang terasa dingin, lembab.
Rona wajah Kanti pias, titik-titik keringat keluar dari pori-pori, dia sampai menggigit lidah agar kesadarannya tetap terjaga. Tempat ini membuat dadanya sesak, sulit bernapas.
Sesuatu tak kasat mata tengah mengelilingi raga terlihat lemah, berusaha untuk tetap terjaga, meskipun badannya panas dingin, perut seperti diaduk-aduk.
“Kanti, kamu gapapa?” giliran Aji mulai cemas. Dirangkulnya si gadis agar tidak terjatuh.
“Mungkin asam lambungku kambuh, tadi gak selera sarapan,” kelitnya mencari alasan paling masuk akal.
"Nyusahin aja elu. Penyakitan buat susah semua orang!" cibir Abeer, sifat menyebalkan mulai lagi mendominasi.
"Diem gak lu!" Aji memperingati, sangat tidak suka Kanti dihina.
"Ayo bergegas masuk, kebetulan kita ada di rumah dukun sakti, sekalian minta obat.” Bu Sasmi menengahi. Dia tampak antusias, wajahnya sumringah.
Hal tersebut mengundang rasa curiga, Kanti kian waspada. Dia berjalan pelan dipapah Aji, dan dibantu naik tangga bambu terhubung dengan teras.
Bangunan sederhana tapi terlihat nyaman itu berlantai papan dan dilapisi gelaran tikar pandan. Mereka dipersilakan duduk oleh bu Sasmi, sementara dia melangkah masuk ke bagian lebih jauh lagi melewati lorong diapit pintu.
Lilis enggan masuk, memilih duduk pada teras. Melamun memandang hamparan rumput hijau.
“Besar banget ya rumahnya? Adem juga, lebih sejuk dari udara diluar,” komentar Aya memberikan penilaian setelah memperhatikan interior gubuk bambu.
“Bener. Baru kali ini aku masuk ke rumah pedesaan banget,” aku Aji. Hunian bu Sasmi semi modern terlebih desainnya mirip bangunan peninggalan Belanda.
Kanti melirik kesana kemari, menilai cepat apa saja yang terlihat. Tidak ada keanehan, semua tampak alami – dinding tepas bambu rapat bebas pajangan pigura, jendela kayu, lantai tertutup tikar.
Tuk.
Tuk.
Tuk.
Mereka sama-sama melongok ke lorong yang terdengar seperti ketukan kayu pada lantai.
Abeer tidak dapat menahan pekikan keterkejutan kala memandang sosok tua renta, berjalan dituntun, berkulit kendur, rambut putihnya disanggul sederhana, yang paling mencolok sekaligus membuat bulu merinding – selaput mata seluruhnya putih tanpa pupil hitam maupun kelabu.
“Mbah Munah, ini anak-anak dari kota yang tersesat lima belas hari lalu,” beritahu bu Sasmi sambil membantu mbah Munah duduk di atas bantal persegi.
‘Lima belas hari? Ternyata benar sudah selama itu aku terjebak disini,’ pada saat langit berubah warna merah kelam, Kanti menghitungnya dengan cara paling sederhana. Menarik garis lurus diatas kertas buku notes kecil yang selalu dibawanya.
"Wajah mereka sangat jauh berbeda dari warga ya – bersih, warna kulit tidak hitam hasil dari kerja ulet, kehidupan keras,” mbah Munah berbicara seraya memandang satu persatu tamunya.
‘Dia bisa melihat jelas? Aneh,’ nilai batin Kanti, baru kali ini mendapati orang yang memiliki bola mata putih tapi tidak buta.
“Mbah, terima kasih sebelumnya sudah menolong teman kami Mayang.” Aji menangkupkan kedua tangan, diikuti teman-temannya. “Kalau boleh, kami mau meminta bantuan yang sama lagi, mencari keberadaan Mayang. Dia menghilang sejak semalam.”
Mbah Munah meletakkan tongkat terbuat dari akar rotan di samping tempatnya duduk, lalu kedua tangan berjari keriput, ujung kuku pendek menghitam tengah bergerak seperti orang berzikir.
Bibir kering, berkerut itu tertutup dan terbuka, matanya tidak terpejam, menatap lurus pada Candra Kanti yang pura-pura memandangi tikar.
“Kali ini saya tak bisa menerawang keberadaannya. Ada kekuatan magis yang menghalangi, dan jejak teman kalian hilang, aromanya lenyap … tanda-tanda kehidupan pudar bersama raganya tertutup kabut tebal,” suaranya khas orang tua berbicara serius.
Ahwaya menutup mulutnya, mulai menangis lagi. Kendatipun sudah diberi kabar kematian oleh Kanti, tetap hatinya terasa nyeri mendengar hal sama dari orang berbeda.
Sambara, Abeer, tidak mampu berkata-kata. Badan mereka kaku, bola mata membesar.
“Apa tidak ada harapan, Mbah?” tanya Aji setengah membujuk agar sang dukun lebih berusaha lagi menerawang keberadaan Mayang.
Sayangnya mbah Munah menggeleng, sekarang pandangannya sudah beralih ke Aji.
“Kalau dia memang sudah pergi dari dunia ini, bisa tidak … kami, setidaknya tahu dimana raganya, paling tidak sesuatu tertinggal untuk nanti diberikan ke keluarganya sebagai kenang-kenangan terakhir putri mereka,” Kanti mengiba, masih sulit percaya pada penglihatannya sendiri. Semua terasa abu-abu, penuh teka-teki.
“Tak ada yang tertinggal kalau sudah diculik makhluk halus itu dan dibawa pergi ke sarang mereka.” Mbah Munah berkedip, lalu sorot matanya jauh lebih tajam menatap lekat manik hitam gadis muda di depannya.
“Berarti kita gak bisa memberikan dia pemakaman layak?” bisik Aya, pipinya basah oleh air mata.
“Benar.” Angguk wanita tua tersebut.
Kanti merasakan dorongan kuat, seperti sesuatu memaksanya untuk pergi ke sebuah tempat, ia kesulitan menahan diri berakhir menuruti suara hatinya. “Apa disini ada kamar mandi, Mbah? Saya ingin buang air kecil.”
Jari telunjuk tidak lagi bisa mengacung sempurna, terlihat lemah – terarah pada lorong panjang. “Diujung sana letak kamar mandinya bersebelahan dengan dapur.”
"Terima kasih, Mbah.” Kanti berdiri seraya menahan debaran jantung seperti bunyi getaran kuat. Berjalan melewati sisi samping mbah Munah dan bu Sasmi, melangkah tidak terburu-buru.
Jarak dari ruang depan dengan dapur kira-kira 20 meter yang mana kedua sisi lorong banyak pintu dibiarkan terbuka sedikit, tapi sayangnya Kanti kesulitan mengintip bagian dalam.
Gadis mengenakan celana jeans ketat, kaos longgar sampai hampir menyentuh lutut itu tiba-tiba diserang sebuah ingatan pekat, kuat, tidak bisa dicegah meskipun dia sangat berusaha mengenyahkan.
Seorang gadis mengendap-endap membuka pintu bagian belakang bangunan sederhana, lalu masuk sambil memperhatikan sekelilingnya. Kemudian dia melihat pintu persegi bertali tambang, dan ….
‘Itu ingatan ku sendiri! Mayang, benarkah kamu ada disini?’ kaki Kanti menuruni tangga bambu tiga pijakan, lalu menginjak tanah padat, dingin.
Gadis memiliki rasa penasaran tinggi itu tidak langsung pergi ke kamar mandi berada di pojok kanan, dia malah ke sisi kiri sesuai ingatan masih jelas dalam memorinya.
‘Dimana pintu persegi bertali tambang itu?’
.
.
Bersambung.
kira2 bakal tau g klo mereka hnya mngu wktu saja
duh pusing aku🤭