NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda Mawar di Dahi

Sore itu, Alessandra kembali ke rumah Sunjaya dengan motor Ducatonya. Mesin mati, helm digantung di stang, langkahnya tegap menuju pintu utama.

Belum sampai dia menyentuh gagang pintu, suara gemuruh sudah terdengar dari dalam.

Pintu terbuka dengan keras.

Hendra Sunjaya berdiri di ambang pintu. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol. Matanya melotot seperti banteng yang siap menanduk.

"KAMU! VALERIA ALLEGRA! MASUK! SEKARANG!"

Alessandra tidak terkejut. Dia sudah menduga ini akan terjadi. Setelah insiden tuduhan bullying kemarin, pasti ada konsekuensi dari keluarga ini. Tapi dia tidak menyangka akan secepat ini.

Dia masuk.

Di ruang tamu, semua anggota keluarga sudah berkumpul seperti pengadilan dadakan.

Dika duduk di sofa dengan tangan bersilang, wajahnya masam. Raka dan Riko di sampingnya, sama-sama menatap Alessandra dengan kebencian yang tidak disembunyikan. Saskia duduk di sudut, wajahnya pucat dengan mata sembab bekas menangis, pura-pura atau sungguhan, Alessandra tidak peduli.

Dan Hendra berdiri di tengah, seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis.

"Kamu tahu apa yang kamu lakukan?" Hendra mulai. "Kamu buat Saskia menangis! Kamu tuduh dia menuduhmu buli, padahal dia cuma salah lihat! Kamu hancurkan nama baiknya di sekolah!"

Alessandra berdiri tegak. Tidak menyala. Tidak membantah. Hanya menatap Hendra dengan mata kosong.

"Diam? Tidak bisa jawab?" Hendra melangkah maju. "Kamu pikir kamu siapa, Vale? Kamu cuma anak sialan yang membunuh ibumu sendiri!"

Dika mengepalkan tangan. Raka dan Riko mengangguk setuju.

"Kami sudah sabar sama lo selama 17 tahun," ucap Raka. "Lo cuma beban keluarga. Ibu meninggal karena lo. Papa sengsara karena lo. Kami malu punya adik kayak lo."

"Dan sekarang lo balas dendam ke Saskia?" Riko menambahkan. "Saskia baik! Dia nggak kayak lo. Dia sayang sama kita semua. Dia nggak pernah nyusahin."

Alessandra masih diam.

Dia tidak marah. Karena makian dari orang-orang seperti ini tidak ada artinya baginya. Tapi ada yang aneh... matanya tidak bisa lepas dari dahi mereka.

Dika, Raka, Riko, Hendra... bahkan Saskia.

Ada tanda di dahi mereka.

Bentuknya seperti mawar kecil belang delapan dengan pola simetris sempurna. Warna merah samar, seperti bekas cap lilin yang ditekan terlalu keras. Tanda itu tidak terlihat oleh siapa pun? Tidak mungkin. Jika terlihat, pasti sudah diperhatikan orang lain. Tapi semua orang di ruangan ini bertingkah normal seolah-olah tanda itu tidak ada.

Hanya aku yang bisa melihatnya, pikirnya

Dan itu berarti... tanda itu berhubungan dengan kekuatan bintang. Dengan dunia yang tidak terlihat oleh manusia biasa.

"Apa kamu denger, Vale?!" Hendra berteriak lagi, tidak terima karena Alessandra tidak merespon. "kamu itu anak durhaka! kamu anak penghianat! kamu anak terkutuk yang lahir cuma untuk menyiksa keluarga ini!"

Alessandra mengalihkan pandangan dari tanda mawar itu. Dia menatap Hendra.

"Papa sudah selesai?"

"APA?!" Hendra tidak percaya. "kamu masih bisa berkata-kata seperti itu setelah apa yang kamu lakukan?!"

"Saya tidak melakukan apa pun pada Siska. Tuduhan bullying itu palsu, dan sudah dibuktikan di ruang guru. Jika Papa marah karena nama baik Siska hancur, itu adalah konsekuensi dari kebohongannya sendiri. Bukan salah saya."

"KURANG AJAR!"

Hendra mengangkat tangan kanannya lebar-lebar.

Telapak tangan itu melayang di udara, siap menampar pipi Alessandra dengan kekuatan penuh.

Tangan itu turun.

Cepat.

Tapi Alessandra lebih cepat.

Dengan gerakan yang tidak terlihat oleh mata telanjang, tangan kanannya menyambar pergelangan Hendra, menghentikan tamparan itu di udara. Pada saat yang sama, tangan kirinya melayang ke pipi Hendra.

SLAP!

Suara tamparan memekakkan telinga.

Ruangan menjadi sunyi.

Hendra terhuyung mundur, tangannya memegangi pipi kirinya yang merah. Matanya membelalak bukan karena sakit, tapi karena tidak percaya.

"Kamu... kamu menamparku?! PAPAMU SENDIRI?!"

"Siapa yang mulai duluan, Papa?" suara Alessandra sedingin es. "Papa yang mengangkat tangan. Saya hanya membela diri."

"MEMBELA DIRI? KAMU ANAK DURHAKA! ANAK KURANG AJAR! SETAN! KAMU TIDAK PUNYA HORMAT SAMA SEKALI!"

"Kenapa saya harus hormat?" potong Alessandra dengan suara yang tetap datar. "Selama 17 tahun, Papa tidak pernah menjadi ayah bagi saya. Papa membenci saya. Papa menyalahkan saya atas kematian ibu. Papa tidak pernah memeluk saya, tidak pernah menanyakan kabar saya, tidak pernah datang ke acara sekolah saya. Lalu tiba-tiba Papa menuntut hormat? Hormat itu harus diraih, bukan diminta."

Hendra gemetar. "KAMU—"

"Dasar anak haram!" Dika ikut berdiri. "Lo pikir lo hebat karena bisa ngeyel? Lo cuma sampah, Vale!"

"Sampah yang nilai ulangannya lebih tinggi dari nilai rapor kakak semua kalau dijumlahkan," balas Alessandra tanpa menoleh.

Raka dan Riko ikut berdiri. "Kurang ajar!"

"BIADAT!"

"ANAK TERKUTUK!"

"PEMBAWA SIAL!"

Makian-makian itu berhamburan seperti air kotor dari selokan. Tapi Alessandra tidak mendengarkan satu pun.

Matanya justru tertuju pada Saskia.

Gadis kecil dengan tinggi 158 cm itu duduk di sudut, tidak ikut memaki. Wajahnya pucat, matanya sedikit melebar. Tapi di sudut bibirnya... ada senyum tipis.

Senyum kemenangan.

Dia menikmati ini, pikir Alessandra. Dia menikmati melihat keluarga ini hancur karena dia.

Tapi yang lebih aneh... tanda mawar di dahi Saskia lebih terang dari yang lain. Hampir berpendar. Seperti tanda itu hidup.

Alessandra mengalihkan pandangan.

"Papa sudah selesai memaki?" tanyanya dingin. "Kalau sudah, saya akan ke kamar. Badan saya capek."

Dia berbalik tanpa menunggu jawaban.

"VALE! SAYA BELUM SELESAI!" Hendra berteriak dari belakang.

Tapi Alessandra sudah naik ke lantai dua, meninggalkan keluarga Sunjaya yang masih bergemuruh dengan amarah dan makian.

Pintu kamar Allegra tertutup.

Alessandra melepas seragamnya. Kemeja putih, rok hitam, pita leher, semua dilepas dan dilipat rapi. Dia menggantinya dengan kaus hitam lengan panjang dan celana olahraga berwarna abu-abu. Pita merah tetap di rambut tidak pernah dilepas kecuali saat mandi.

Duduk di ranjang, dia menghela napas panjang.

Cincin di jari kelingkingnya berdenyut.

Dia menekannya.

"Kinan."

"Nona. Ada apa?"

"Ada yang aneh dengan keluarga Sunjaya."

"Aneh?"

"Aku melihat tanda di dahi mereka. Bentuk mawar. Hanya aku yang bisa melihatnya. Menurutmu itu apa?"

Hening sejenak. Suara Kinan di ujung sana terdengar berpikir.

"Tanda yang hanya terlihat oleh pemilik bintang... bisa jadi itu adalah sebuah kutukan. Atau pengendalian. Beberapa kultivator tingkat tinggi bisa menanamkan tanda pada manusia biasa untuk mengontrol pikiran dan tindakan mereka."

"Seperti boneka?"

"Iya. Boneka yang tidak sadar sedang dikendalikan."

Alessandra mengerutkan kening. "Maksudmu... keluarga Sunjaya tidak sadar bahwa mereka sedang dikendalikan?"

"Mungkin. Tanda yang sangat halus tidak akan terasa oleh korban. Mereka akan berpikir bahwa amarah, kebencian, dan tindakan mereka adalah kemauan sendiri. Tapi sebenarnya... itu semua adalah perintah dari si pemilik tanda."

Alessandra mengingat semua keanehan.

Keluarga Sunjaya yang tiba-tiba membenci Allegra setelah ibunya meninggal. Ayah yang tidak pernah peduli. Kakak-kakak yang ikut membenci. Dan yang paling aneh... adopsi Saskia yang terjadi begitu cepat setelah Allegra hilang.

"Dan Saskia?"

"Apa dengan Saskia?"

"Dia juga punya tanda. Malah lebih terang dari yang lain."

"Mungkin... dia adalah dalangnya. Atau dia juga boneka, tapi dengan peran khusus."

Alessandra menggigit bibir bawahnya.

"Kinan. Aku perlu kamu menyelidiki sesuatu."

"Apa pun, Nona."

"Cari tahu masa lalu keluarga Sunjaya. Semua. Dari awal. Siapa nenek moyang mereka, bagaimana mereka bisa kaya, siapa saja yang pernah berhubungan dengan mereka."

"Baik, Nona. Laporan akan saya persiapkan."

"Juga... cari tahu tentang ibu kandung Valeria Allegra."

"Ibu Allegra?"

"Iya. Namanya... aku lupa. Tapi dia meninggal saat Allegra berusia 5 tahun dalam kecelakaan mobil. Tapi Allegra selamat. Ibu itu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Allegra."

"Nona menduga ada yang tidak beres dengan kematiannya?"

"Aku tidak tahu. Tapi semua ini terasa seperti puzzle. Keluarga yang tiba-tiba membenci. Seorang anak yang hilang tanpa jejak. Tanda mawar di dahi. Adik angkat yang muncul tiba-tiba. Ada yang mengendalikan semua ini dari belakang. Dan aku perlu tahu siapa dia."

"Baik, Nona. Saya akan mulai malam ini."

"Terima kasih, Kinan."

"Sama-sama, Nona. Jaga diri."

Hubungan terputus.

Alessandra merebahkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar Allegra yang retak di sudut.

Menumpang identitas ternyata tidak semudah itu, pikirnya.

Dia pikir dia hanya perlu berpura-pura jadi gadis cupu yang di-bully, membersihkan musuh-musuhnya, lalu pergi. Tapi sekarang... ada lapisan demi lapisan misteri yang terbuka.

Siapa yang mengendalikan keluarga Sunjaya?

Kenapa mereka mengincar Allegra?

Apa hubungannya dengan ibu Allegra?

Dan yang paling penting... di mana tubuh Allegra berada?

Alessandra menutup mata.

Satu per satu. Aku akan cari tahu satu per satu.

Di luar jendela, malam mulai turun. Angin berembus pelan, membawa aroma bunga dari taman tetangga. Tapi di kamar sempit itu, hanya ada kegelapan.

Dan di dalam kegelapan itu, Valeria Alessandra mulai merangkai potongan-potongan puzzle yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!