Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kebebasan yang Tak Terduga
Pradika turun dari mobil dua kabin dengan baju yang kusut dan wajah lelah. Ia dan Deni segera melengkapi laporan agar bisa segera mengambil jatah libur.
Namun, baru saja Pradika ingin merayakan kebebasannya setelah dua minggu penuh terisolasi di dalam pedalaman hutan Kalimantan tanpa sinyal, ponsel di genggamannya berdering nyaring. Ponsel yang awalnya ingin ia gunakan untuk mencari tahu kabar dan menghubungi Rana itu kini justru menampilkan sebaris nama yang paling menguras emosi dan energinya.
"Kakak! Kenapa dari kemarin tidak bisa dihubungi sama sekali, sih?!" teriak sebuah suara melengking di ujung panggilan, begitu Pradika menggeser ikon hijau untuk menjawab.
Beruntung Pradika tidak langsung menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya. Jika tidak, mungkin pendengarannya sudah berdenging hebat akibat volume suara sang adik yang melampaui batas normal.
Pradika menghela napas panjang, mencoba meredam kekesalannya.
"Tidak bisakah mengucap salam terlebih dahulu, Hagia?" tegurnya dengan nada suara yang berat dan datar.
"Assalamu'alaikum... Nah, sudah, kan? Kakak, kenapa tidak bisa dihubungi? Katanya bulan ini mau mengambil jatah cuti tahunan, kenapa sampai sekarang tidak pulang-pulang ke rumah?" Suara di seberang sana kembali memberondongnya tanpa jeda, meskipun kini nadanya sudah sedikit direndahkan setelah ditegur.
"Aku baru saja keluar dari pelosok hutan, Hagia. Di sana sama sekali tidak ada tower sinyal. Lagipula, bukankah aku sudah mengirim pesan dan mengatakan kalau jadwal cutiku dimundurkan? Kenapa kamu masih bertanya hal yang sama?"
"Oh."
Pradika memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Setelah berondongan pertanyaan yang memekakkan telinga tadi, sekarang jawaban adiknya hanya berupa dua huruf pendek: "oh". Sungguh tidak adil sekali.
"Ada apa sebenarnya menelepon siang-siang begini? Uangmu habis lagi?" tanya Pradika langsung pada inti masalah.
"Enak saja! Tidak ya!" sanggah Hagia cepat dari seberang sana.
"Aku menelepon karena ada niat baik. Aku hanya ingin mengenalkanmu dengan kakak perempuan dari teman kuliahku. Dia orangnya baik sekali, Kak."
"Tidak mau," jawab Pradika cepat, tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Kakak, jangan langsung menolak dulu sebelum melihat orangnya! Kak Ria ini sangat cantik, baru saja lulus dari Fakultas Keguruan, dan pembawaannya sangat menyenangkan serta anggun. Aku jamin, kalian berdua pasti akan sangat cocok."
"Tetap, tidak mau."
"Ih, kenapa sih tidak mau terus? Kakak itu sekarang usianya sudah dua puluh lima tahun, lho. Ingat janji Kakak dulu!" seru Hagia, mulai menggunakan senjata pamungkasnya untuk menyudutkan sang kakak.
Pradika kembali mengembuskan napas dalam-dalam, menatap langit-langit koridor dengan pandangan menerawang. Ia memang pernah membuat janji di depan kedua orang tuanya sesaat sebelum mereka wafat setahun yang tahun lalu, bahwa dirinya akan segera mencari pendamping hidup dan menikah setelah usianya menginjak dua puluh lima tahun.
Namun, masalahnya adalah sampai detik ini ia masih belum menemukan sosok perempuan yang benar-benar pas dan cocok di hatinya. Sementara untuk Rana... gadis admin gudang yang pendiam itu, Pradika sejujurnya masih berada dalam tahap berjuang untuk bisa mendekati dan mencuri perhatiannya.
"Kakak sudah ada calon sendiri di sini. Doakan saja semoga semua urusan dan prosesnya lancar," kata Pradika, mencoba memberi pengumuman agar adiknya berhenti menjodoh-jodohkannya.
"Hah?! Yang benar, Kak?!" pekik Hagia di ujung telepon, terdengar terperanjat sekaligus antusias.
"Tentu saja benar. Apa untungnya aku berbohong?"
"Wah! Siapa orangnya? Apa dia cantik? Lulusan universitas mana? Sekarang bekerja di bagian apa? Umurnya berapa? Oh, yang paling penting, dia bisa memasak tidak?" cerocos Hagia bertubi-tubi bagaikan peluru senapan mesin, membuat Pradika semakin pening.
"Sebenarnya yang mau menikah di sini itu siapa? Aku atau kamu?"
"Ya Kakak yang mau menikah, tapi setidaknya, sebagai adik, aku berharap pilihan Kakak harus benar-benar perempuan yang baik. Jika Kakak hanya mencari perempuan sembarangan di luar sana hanya demi menggugurkan janji, mending Kakak jomblo saja seumur hidup!"
"Kamu menyumpahiku?"
"Tidak menyumpahi, aku hanya mengatakan fakta."
Bibir Pradika berkedut menahan kejengkelan. Meski mereka berdua adalah saudara kandung dari satu rahim yang sama, sifat mereka benar-benar bagai bumi dan langit. Adiknya adalah tipe gadis periang, banyak bicara, dan suka bertindak seenaknya sendiri, sementara dirinya cenderung pendiam dan menghindari keramaian.
Pradika bahkan sempat meragukan apakah adiknya itu adalah anak pungut atau bukan, mengingat kedua orang tuanya juga bukan tipe orang yang banyak bicara. Tapi kenyataannya mereka adalah saudara kandung yang sah. Bagaimana bisa dalam satu pabrik bisa menghasilkan produk dengan spesifikasi yang sekontras ini?
"Tenang saja, jangan cerewet. Jika benar dia adalah jodoh yang digariskan Allah untukku, pasti dia akan menjadi yang terbaik untuk hidupku," kata Pradika dengan nada suara yang sedikit melemah, karena ia sendiri sejujurnya belum memiliki keyakinan penuh apakah Rana akan bersedia menerimanya atau tidak.
"Baiklah, baiklah. Aku pegang ucapanmu ya, Kak. Aku tunggu kabar baiknya secepat mungkin. Tapi ingat, kalau dalam waktu dekat Kakak tidak bisa mendapatkannya, Kakak harus mau bertemu dan berkenalan dengan kakak perempuan temanku. Oke?"
"Oke, oke," jawab Pradika asal-asalan, hanya demi menghindari rentetan omelan panjang lanjutan dari sang adik yang bisa merusak suasana harinya.
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Hagia, Pradika segera membuka aplikasi perpesanan hijau di ponselnya. Ia mencari kontak bernama 'Rana Admin'. Jemarinya bergerak ragu sejenak, sebelum akhirnya mencoba melakukan panggilan suara. Namun, nada sambung tidak terdengar, panggilan tersebut langsung dialihkan dan dinyatakan tidak tersambung.
"Apa dia masih dalam perjalanan?" gumam Pradika pada diri sendiri dengan dahi berkerut cemas.
Mengingat Rana harus kembali dari cutinya, Pradika menduga gadis itu mungkin masih berada di atas pesawat atau berada di area yang sulit sinyal. Pradika akhirnya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu segera bergegas mengemasi sisa barang-barangnya di kantor luar untuk segera kembali ke mess karyawan perusahaan.
Sesampainya di mess karyawan yang bernuansa kayu minimalis, Pradika langsung melepas seluruh kepenatan tubuhnya. Ia segera mengambil perlengkapan mandi, membasuh tubuhnya dengan air dingin yang segar, dan memisahkan tumpukan pakaian kotor dari dalam tas lapangan yang ia bawa selama dua minggu di pedalaman.
Setelah mengantarkan keranjang pakaian kotornya ke bagian fasilitas laundry mess, Pradika bermaksud untuk melangkah keluar gerbang utama demi mencari makan siang yang segar di warung terdekat. Namun, baru beberapa langkah melewati koridor, kepala Pradika tiba-tiba saja terasa berputar hebat. Rasa pening yang luar biasa tajam menghantam pelipisnya, dibarengi dengan gejolak rasa mual yang mendadak terasa menyakitkan.
Pandangannya mengabur seketika. Tubuhnya limbung ke depan, dan ia hampir saja ambruk mencium lantai jika saja tangan kanannya tidak bergerak cepat berpegangan erat pada kursi kayu di sampingnya. Napasnya memburu, keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahi dan lehernya.
Kondisi mess karyawan yang teramat sepi di jam-jam kerja seperti ini membuat Pradika tidak bisa berteriak meminta bantuan kepada siapa pun. Lorong itu kosong melompong. Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran yang kian menipis di ambang batas, Pradika merogoh saku, gemetar membuka ponselnya untuk menghubungi salah satu rekan kerjanya.
"Halo... tolong aku... di lobi mess..."