Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing di Balik Fajar
Mobil Gus Malik memasuki gerbang pesantren saat azan Subuh baru saja berkumandang dari menara masjid. Suara panggilan shalat itu terasa sangat kontras dengan pemandangan di dalam kabin mobil; seorang pria dengan hati yang hancur dan seorang wanita yang pingsan karena pengaruh alkohol.
Malik memarkirkan mobil tepat di depan teras rumah utama. Ia tidak langsung turun. Ia terdiam sejenak, menggenggam kemudi hingga buku jarinya memutih, membiarkan butiran air mata yang sejak tadi ia tahan jatuh membasahi pipinya. Ia merasa gagal. Gagal sebagai suami, gagal sebagai pelindung, dan gagal menjaga kesucian rumahnya.
Dengan gerakan perlahan, ia turun dan membuka pintu penumpang. Ia menggendong Lea yang lunglai. Aroma alkohol yang menyengat dari pakaian dan napas Lea seolah menodai udara Subuh yang bersih.
Di ambang pintu, Najwa sudah menunggu. Ia duduk di kursi rodanya, mengenakan mukena putih bersih, siap untuk menghadap Tuhannya. Namun, pemandangan di depannya membuat seluruh dunianya runtuh.
"Mas..." bisik Najwa, suaranya nyaris hilang.
Malik melangkah masuk tanpa kata, melewati istrinya dengan kepala tertunduk. Ia membawa Lea masuk ke kamarnya, membaringkan tubuh itu di atas ranjang dengan kasar namun tetap hati-hati agar tidak menyakiti. Setelah menyelimuti Lea, Malik segera keluar, tak sanggup berlama-lama di ruangan yang kini terasa penuh dengan dosa itu.
Najwa memutar kursi rodanya, masuk ke dalam kamar Lea. Ia mendekat ke sisi ranjang.
"Lea..." Najwa menyentuh tangan adiknya.
Begitu tangannya bersentuhan dengan kulit Lea, Najwa menariknya kembali. Bau itu... bau yang sangat ia kenal sebagai lambang kemaksiatan, kini melekat kuat pada adik kandungnya sendiri. Najwa melihat riasan mata Lea yang hancur, bibirnya yang sedikit bengkak, dan pakaian minim yang kini nampak mengenaskan.
Najwa tidak berteriak. Ia tidak memarahi Malik. Ia hanya menunduk, dan sedetik kemudian, tangisnya pecah.
Isakan Najwa terdengar sangat pilu di kesunyian pagi. Ia menangis dengan bahu yang terguncang hebat, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis bukan karena cemburu pada status pernikahan suaminya dan adiknya, tapi karena ia merasa telah menyeret Lea ke dalam sebuah lubang yang membuat adiknya kehilangan jati diri.
"Ya Allah... apa yang telah kulakukan?" gumam Najwa di sela tangisnya. "Aku ingin menyelamatkannya, tapi kenapa aku justru menghancurkannya?"
Setiap tetes air mata Najwa jatuh mengenai seprai tempat Lea berbaring. Ia melihat adiknya yang dulu ceria di London, kini tergeletak mengenaskan seperti sampah yang dibuang. Najwa merasa sangat bersalah karena telah memaksakan kehendaknya, memaksa dua kutub yang berseberangan untuk bersatu hingga akhirnya meledak dan menyisakan puing-puing seperti ini.
Malik berdiri di ambang pintu, menatap istrinya yang sedang menangis hancur di samping adiknya. Ia ingin mendekat, ingin memeluk Najwa dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, namun lidahnya kelu. Ia sendiri merasa kotor. Ingatan tentang ciuman rakus Lea di *club* malam tadi terus menghantuinya, membuatnya merasa mengkhianati kesucian cinta yang selama ini ia bangun bersama Najwa.
"Jangan menangis, Najwa... istighfar," ucap Malik dengan suara parau yang tertahan di kerongkongan.
Najwa mendongak, matanya yang sembap menatap Malik dengan penuh luka. "Mas... lihat dia. Lihat adikku. Dia hancur, Mas. Kita yang menghancurkannya."
Malik memalingkan wajah, tak sanggup membalas tatapan itu.
"Tolong bersihkan dia, Mas," pinta Najwa tiba-tiba dengan suara serak. "Panggil Mbak pengasuh untuk mengganti pakaiannya. Aku tidak sanggup melihatnya seperti ini. Aku... aku ingin shalat. Aku ingin memohon ampun untuknya, untukmu, dan untuk keegoisanku."
Najwa memutar kursi rodanya keluar kamar dengan sisa-sisa isakan yang masih terdengar. Malik tetap diam di sana, menatap Lea yang masih tertidur dalam ketidaksadaran yang gelap. Pagi itu, saat ribuan santri bersujud di masjid, di rumah utama pesantren itu, hanya ada duka yang merayap di setiap sudut ruangan, menyisakan tanya yang tak terjawab tentang masa depan mereka yang kian buram.