Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Rasa cemburu.
Mobil mulai berjalan melewati gerbang rumah keluarga Cavendish, Rion berencana akan membawa Zinnia ke suatu tempat. Perjalanan memakan waktu yang cukup lama, sampai Zinnia yang bosan itu malah tertidur. Melewati jalan yang berkelok, dan akhirnya berhenti di sebuah puncak bukit yang pemandangannya sangat indah, bisa melihat hamparan gunung dan lembah dari ketinggian, udaranya segar dan sejuk, sangat pas untuk bersantai.
Zinnia juga sudah terbangun dari tidurnya, mulai menikmati setiap pemandangan yang ada.
" Wah indah sekali.. "
" Kita akan menginap disini beberapa hari, kamu tidak keberatan kan? " Jelas Rion sambil membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu.
" Menginap? Tapi.. Aku gak bawa baju ganti sayang.. " Balas Zinnia agak kaget.
" Jangan khawatir, aku sudah menyuruh asistenku untuk menyiapkannya bahkan sebelum kita datang. "
" Begitu ya. Tapi.. Apa kita akan satu kamar? Aku berharap kita beda kamar ya.. "
" Tentu saja. Jangan khawatir soal itu. "
Beberap saat setelah mereka baru turun dari kendaraan dan baru mau berjalan menuju area makan, langkah Zinnia terhenti dan dia langsung melangkah mundur beberapa langkah, wajahnya langsung berubah tegang dan sedikit ketakutan.
Di hadapan mereka, berdiri Darren dengan santai memakai kaos hitam lengan pendek memperlihatkan tato di lengannya yang kekar atletis, dan celana panjang warna senada. Tak lupa kaca hitam dan jam tangan mewah yang menyempurnakan tampilannya. Dan disampingnya ada asistennya, kala itu dirinya juga baru saja sampai.
" Wah kita ketemu lagi ya Tuan putri.. Sudah lama kita tidak bertemu." Sapa Darren dengan nada ringan dan senyum khasnya, Ucapan itu ia tujukan untuk Zinnia. Tapi kemudian tatapan matanya langsung beralih ke Rion, tajam dan penuh tantangan.
Rion memeluk pinggang Zinnia erat, tatapannya balik menusuk tajam ke arah Darren, aura dingin dan mengintimidasi langsung menyebar dari tubuhnya. Tapi Darren sama sekali tak gentar, tak takut, bahkan masih tersenyum santai. Bagaimanapun juga mereka sudah saling kenal sejak kecil, tahu sifat dan kelemahan satu sama lain, dan Darren tahu betul Rion tak akan berani berbuat kasar ditempat umum begini.
***
Saat makan siang tiba, mau tak mau mereka makan di meja yang sama. Sepanjang makan suasana terasa kaku dan tegang, dan Zinnia makin kesal dan bad mood. Dia mau waktu berdua saja dengan Rion, mau bercanda, mau manja sesuka hati, tapi kehadiran Darren bagaikan lalat yang mengganggu, terus menatapnya, terus menyela pembicaraan, terus membuatnya kesal.
Tiba-tiba ponsel Rion berdering, dia melihat nama di layar lalu menoleh ke arah Zinnia.
" Sebentar ya, telepon dari ibuku. "
" Ya, kamu pergi saja. " jawab Zinnia cepat, meski hatinya sedikit berat tapi dia mengerti.
Begitu Rion berjalan agak jauh untuk bicara, Dan sekarang hanya tinggal dia dan Darren saja. Zinnia langsung bangkit dari tempat duduknya, berjalan menjauh menuju tempat yang lebih sepi dan teduh, tak mau duduk berdampingan dengan lelaki menyebalkan itu.
Tapi tentu saja Darren tak akan diam saja, dia mengikuti langkah gadis itu perlahan, secara diam-diam.
" Jangan ikuti aku !! " bentak Zinnia saat sadar ada yang mengikuti dari belakang.
" Tenang saja, aku cuman jalan-jalan sebentar aja, nanti juga ngilang. " jawab Darren santai mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
" Hah terserah. " gerutu Zinnia kesal, terus berjalan maju.
" Omong-omong kamu sama Rion dekat ya.. apa dia selangkah lebih jauh dariku ya.. " tanya Darren tiba-tiba, nadanya berubah sedikit serius.
" Iya. " jawab Zinnia singkat tanpa menoleh.
" Hmp.. menyakitkan sekali. " gumam Darren pelan, tapi masih terdengar jelas.
Zinnia tetap acuh tak acuh, terus berjalan sampai tiba di bawah sebatang pohon besar. Dan disana matanya tertuju pada seekor kucing oranye kecil yang mengeong-ngeong nyaring, badannya terlihat terjepit di antara ranting pohon setinggi sekitar dua meter dari tanah.
Dia melihat kebelakang, Darren sedang berdiri agak jauh sambil bicara di telepon, seolah tak melihat apa yang terjadi.
Tanpa pikir panjang, Zinnia langsung membuka sepatu hak tingginya kemudian perlahan memanjat pohon itu, dengan hati-hati. Tangannya memegang ranting, kakinya menginjak bagian yang kokoh, susah payah menaiki sedikit demi sedikit sampai dia bisa menjangkau si kucing itu.
Dan saat tangannya hampir menyentuh bulu halusnya...
HUPP!
Si kucing tiba-tiba melompat sendiri turun ke tanah dengan lincah, lalu berlari pergi seolah tak ada apa-apa, padahal tadi suaranya seakan mau mati.
" AAAAAAAAA !! Dasar kucing nakal !! " Teriak Zinnia kesal habis-habisan, baru sadar dia dipermainkan oleh makhluk berbulu itu.
Tapi masalahnya sekarang, dia sudah di atas pohon, dan ternyata lebih susah untuk turun dari pada naik. Dressnya menghalangi gerakan, dan dia takut jatuh.
Dia melihat kebelakang, Darren masih sibuk bicara. Akhirnya dia menyerah, tak ada pilihan selain meminta bantuan pada Darren. Ia segera membuka mulutnya dan berteriak keras.
" Darren !! Tolong aku.. "
Begitu mendengar suara itu, Darren langsung mematikan telepon dan berlari cepat mendekat. Saat melihat Zinnia terjebak di atas pohon, mulutnya langsung terbuka lebar lalu... HAHAHAHAHAHA! dia tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit, sampai air mata mau keluar.
" ..Kamu ngapain di situ tuan putri.. Kayak monyet aja.. " godanya sambil masih tertawa.
" Jangan banyak tanya, ayo tolong aku turun. " bentak Zinnia kesal, wajahnya merah padam karena marah dan malu.
" Lompat saja nanti aku tangkap. " Balas Darren santai.
" Gak mau, aku takut. "
" Pohonnya kan rendah jatuh juga gak bakalan sakit, malah empuk rumputnya. "
" Jangan bikin aku tambah kesal dong.. bantuin.. Cepat !! " rengeknya manja, bibirnya manyun, matanya berkaca-kaca.
Dan seketika semua tawa dan godaan Darren hilang lenyap, dia langsung meleleh, jantungnya bergetar hebat melihat ekspresi itu.
" Iya ayo turun sini aku jagain kamu. "
Dia berdiri tepat di bawah, membuka kedua tangannya lebar-lebar siap menangkap. Zinnia perlahan turun, sampai akhirnya Zinnia melompat sedikit dan langsung jatuh ke dalam pelukan Darren, lelaki itu memeluk erat pinggangnya memastikan dia aman.
" Lagian kamu ada-ada aja naik ke atas pohon segala, mau ngapain coba. " omel Darren sambil menurunkan tubuh gadis itu ke tanah.
" Tadi ada kucing nyangkut di situ, tapi pas aku naik dia ternyata cuman pura-pura aja, dan malah turun dengan santai duluan. Kesel banget deh.. " Jelas Zinnia dengan raut wajah kesal.
" Mau nolongin kucing yang nyangkut tapi akhirnya malah kamu sendiri yang nyangkut disana. Kasian deh di bohongin makhluk halus.. " Ejek Darren puas.
" Udah deh gak usah tambah aku kesel. " potong Zinnia cepat.
" Iya. aku udah bantu kamu, kamu mau kasih aku apa sebagai gantinya? " tanya Darren tiba-tiba, tatapannya berubah nakal dan tajam.
" apa ya.. Giamana kalau ranting pohon aja, lumayan kan buat oleh-oleh."
" Ranting pohon? Buat oleh-oleh.. Hahaha.. Ngaco banget kamu. " Darren tak kuasa menahan tawanya lagi, ucapan Zinnia barusan membuat dirinya tak bisa menahan tawa.
" Gak usah ketawa, nih ambil dengan begitu kita impas. " Lanjut Zinnia sambil memberikan ranting pohon yang ada di bawah dekat pohon tadi. Dan dengan gerakan cepat Darren menarik pinggang Zinnia untuk mendekat.
" Lupakan ranting itu. Kamu berikan saja aku Ciuman bagaimana? " usul Darren langsung.
" Bonusnya aku tampar lagi mau? " balas Zinnia cepat.
" Gak papa, aku tetap mau. "
" Tapi aku gak mau. " Ucap Zinnia kukuh.
" Aku maksa loh. " Goda Darren lagi.
" Gak ma... "
Belum sempat Zinnia menyelesaikan kalimatnya, Darren sudah lebih dulu bertindak. Dia kembali menarik tubuh gadis itu mendekat, memeluk erat pinggangnya, lalu menunduk dan mencium bibirnya dalam dan paksa, lidahnya bahkan sempat menyelinap masuk, posisi mereka begitu akrab dan intim, seolah tak ada orang lain di dunia ini selain mereka berdua.
Dan di saat itulah...
Rion yang baru selesai bicara di telepon dan mencari keberadaan mereka, baru saja berbelok di balik pohon besar, dan pemandangan itu langsung masuk jelas ke dalam kedua matanya.
Seketika darahnya mendidih, seluruh tubuhnya panas terbakar api cemburu dan amarah, urat di leher dan pelipisnya menonjol jelas, napasnya berubah kasar dan berat. Tanpa berpikir dua kali dia berlari cepat mendekat, lalu berteriak keras memecah suasana.
" Hentikan !! "
Suara itu berat, dingin dan penuh otoritas, membuat kedua orang di bawah pohon langsung kaget dan berhenti seketika. Darren melepaskan ciumannya, lalu melepaskan tubuh Zinnia perlahan, masih berdiri tegak menghadapi Rion tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Rion melangkah sampai tepat di depan mereka, dia langsung menarik tangan Zinnia dan menariknya ke belakang tubuhnya, melindungi gadis itu sepenuhnya, lalu menatap tajam tepat ke mata Darren, nadanya tegas, dingin dan tak terbantahkan.
" Ingat baik-baik Darren.. Mulai hari ini, detik ini, dan selamanya.. Zinnia adalah milikku. Tak ada siapapun, termasuk kamu, yang berhak menyentuh, mencium atau mendekatinya lebih dari batas. Kalau kamu masih berani berbuat begitu lagi.. kamu tahu sendiri apa akibat nya !! " Ujar Rion penuh peringatan. Dengan gerakan cepat ia langsung mengendong kekasihnya, kemudian melangkah pergi tanpa perduli lagi dengan keberadaan Darren disana.
Sedangkan Darren tampak tak merasa bersalah, dan tak memperlihatkan rasa takut sedikitpun. Hanya menatap kepergian mereka dengan senyuman menyeringai dengan tatapan dingin menusuk.
" Hari ini dia milikmu, tapi kita lihat saja nanti... Aku akan pastikan dia akan jatuh kepelukanku juga.. " gumam Darren pelan.
***