Judul: Napas Terakhir Lumina
Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Jejak Sang Penyihir, Gerbang yang Terlupakan
Anya melangkah keluar dari kehangatan dan keamanan perpustakaan menuju pelukan malam yang dingin dan menusuk tulang. Tekadnya membara di dada, namun di balik itu, ada keraguan yang merayap seperti kabut tipis di kakinya. Menemukan gerbang kuno bukan sekadar tugas administratif atau misi pencarian harta karun; itu adalah perjalanan sukarela menuju jantung kegelapan yang pernah hampir menelan seluruh dunianya ratusan tahun lalu. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, seolah-olah tanah itu sendiri enggan melepaskan pijakannya.
Petunjuk dalam jurnal Zarthus sangat samar, ditulis dengan gaya bahasa puitis yang seolah sengaja menyembunyikan kebenaran dari mereka yang tidak paham: “Tersembunyi di antara air terjun yang bernyanyi, di mana bayangan gunung menari dengan irama kematian.”
Hanya ada satu tempat di seluruh Hutan Lumina yang memiliki melodi air yang begitu khas hingga penduduk setempat menyebutnya “bernyanyi”—Air Terjun Serenade, yang terletak di kaki Gunung Bayangan. Legenda mengatakan bahwa suara air terjun itu adalah nyanyian roh-roh yang terjebak, namun Anya memilih untuk tidak mempercayai takhayul itu. Baginya, itu hanyalah fenomena akustik alami. Atau setidaknya, itulah yang ia yakini sebelumnya.
Perjalanan menuju kaki Gunung Bayangan memakan waktu berjam-jam. Semakin dekat Anya dengan tujuannya, alam seolah memberikan sinyal penolakan yang semakin agresif. Udara terasa berat dan padat, sulit dihirup, membawa aroma kayu yang membusuk dan logam yang berkarat—bau kematian industri yang tidak seharusnya ada di hutan suci. Burung-burung malam yang biasanya bersahutan dengan kicauan merdu kini bungkam total. Keheningan itu digantikan oleh suara dahan kering yang patah dan berderit seperti jeritan tertahan, membuat saraf Anya tegang.
Sesampainya di Air Terjun Serenade, Anya terpaku, napasnya tercekat. Keindahan legendaris tempat itu telah ternoda parah. Air terjun yang biasanya jernih bagaikan kristal kini tampak keruh dan berlumpur, memantulkan cahaya bulan dengan warna keunguan yang tidak alami dan sakit dipandang. Permukaan air tidak mengalir lancar, melainkan berputar-putar dalam pusaran kecil yang hipnotis. Ia mulai mencari, meraba bebatuan yang licin oleh lumut hitam yang berdenyut lembut, seolah-olah batu-batu itu memiliki detak jantung yang jahat dan hidup. Tangan Anya gatal dan panas setiap kali menyentuh lumut itu.
Hingga akhirnya, setelah memeriksa setiap celah di tebing basah, ia menemukan sesuatu. Di balik tirai air yang menderu dengan kekuatan yang tidak wajar, terdapat celah sempit yang tersembunyi, tertutup oleh ilusi optik yang kini mulai pudar karena kehadiran Anya.
Makam yang Terkunci
Di dalam gua di balik air terjun, keheningan terasa sangat menekan, seolah-olah udara di sana telah habis disedot. Di tengah ruangan yang lembap dan dingin, berdiri sebuah batu nisan yang terbuat dari obsidian hitam pekat, dengan nama “Zarthus” terukir kasar di atasnya. Huruf-hurufnya dalam, tajam, dan terasa penuh kebencian. Simbol-simbol pelindung kuno di dinding gua berpendar dengan warna hijau pucat yang sakit, memberikan penerangan yang mengerikan dan menciptakan bayangan-bayangan yang menari liar.
Anya mengeluarkan pedang Cahayanya dari sarungnya. Bilahnya berdenging rendah, memancarkan aura hangat berwarna emas yang segera beradu dengan dinginnya sihir gelap di ruangan itu, menciptakan percikan-percikan energi kecil. Ia mengambil kantong bubuk kristal suci dari sabuknya dan menaburkannya ke atas simbol-simbol pelindung di dinding. Terjadi reaksi instan—suara desisan keras seperti ular yang terbakar memenuhi gua, diikuti oleh asap hitam pekat yang berbau belerang menyengat, membuat Anya batuk-batuk.
Namun, menetralkan segel itu justru memicu sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada yang ia antisipasi.
Tanah di bawah kakinya bergetar hebat. Retakan-retakan besar muncul di permukaan lantai makam, menyebar seperti jaring laba-laba. Sebuah ledakan energi hijau gelap menghantam dada Anya, melemparkannya mundur hingga tubuhnya membentur dinding gua yang keras dengan kekuatan yang membuat tulangnya terasa retak. Dalam rasa sakit yang menusuk dan pandangan yang kabur, Anya melihat sesosok bayangan bangkit dari puing-puing batu nisan yang hancur.
Itu adalah manifestasi hantu dari Zarthus. Wajahnya adalah topeng penderitaan dan ambisi yang tak pernah puas, dengan mata yang tidak memiliki warna selain kegelapan murni yang menghisap cahaya di sekitarnya. Tubuhnya semi-transparan, terbuat dari asap dan dendam.
“Pewaris cahaya yang malang,” suara Zarthus bergema, seolah datang dari kedalaman bumi yang paling dalam, dari setiap pori-pori batu di gua itu. “Kau pikir dengan sedikit debu kristal dan mainan anak-anak kau bisa mengurung ambisi yang telah kupupuk selama berabad-abad? Kau naif. Gerbang itu akan terbuka, dan Lumina akan menjadi makanan bagi rasa laparku yang abadi!”
Bentrokan Kehendak
Zarthus mengangkat tongkat tulangnya yang terbuat dari sisa-sisa tulang hewan purba, melepaskan gelombang kutukan yang berbentuk seperti tangan-tangan hitam panjang yang mencoba mencengkeram dan menyeret Anya ke dalam tanah. Anya berdiri dengan susah payah, meski kakinya gemetar hebat dan darahnya mengalir dari pelipisnya. Ia bukan lagi sekadar gadis yang ketakutan; ia adalah jembatan antara masa lalu yang bijaksana dan masa depan yang damai.
“Kau bukan lagi bagian dari hutan ini, Zarthus!” teriak Anya, suaranya lantang melawan gema gua. “Kau hanyalah gema dari kesalahan yang menolak untuk pergi! Kau sudah mati, tapi egomu menolak untuk dikubur!”
Anya menerjang maju. Setiap tebasan pedangnya membelah kegelapan, menciptakan busur cahaya emas yang indah namun mematikan. Namun, Zarthus sangat kuat. Ia tidak bisa dilukai secara fisik. Ia memanggil bayangan-bayangan dari sudut gua yang menyerang Anya dari segala sisi, mencambuk kulitnya dan menguras energinya. Anya mulai kelelahan, lukanya berdenyut-denyut, dan sihir gelap Zarthus mulai mengaburkan pikirannya, menanamkan bibit-bibit keputusasaan.
Di ambang keputusasaan, saat tangannya hampir lepas dari gagang pedang, Anya menutup matanya. Ia berhenti melawan dengan ototnya yang sudah lelah, dan mulai bertarung dengan jiwanya. Ia memanggil memori tentang kehangatan pelukan Sena, ketajaman strategi dan kata-kata Elara, serta dedikasi tanpa pamrih Lyra. Ia menyadari bahwa cahaya bukan sekadar senjata, melainkan identitas. Cahaya di pedangnya meledak—bukan sebagai ledakan kekerasan, melainkan sebagai pernyataan keberadaan yang mutlak.
Cahaya itu menyilaukan, murni, dan tak tertahankan bagi makhluk yang terbuat dari kegelapan. Dalam satu teriakan terakhir yang memekakkan telinga dan penuh dengan frustrasi, sosok hantu Zarthus hancur menjadi serpihan-serpihan kegelapan yang lenyap tertiup angin gua, meninggalkan hanya keheningan dan debu.
Menuju Lembah Tersembunyi
Meski Zarthus telah sirna, misinya belum selesai. Anya, dengan tubuh yang penuh memar, menemukan peta kuno yang tersembunyi di dasar nisan yang hancur—sebuah lingkaran simbol rumit yang menunjukkan lokasi sesungguhnya dari Gerbang Bayangan, yang ternyata tidak berada di gua itu, melainkan lebih jauh lagi.
Ia mendaki gunung yang terjal, melewati pepohonan yang merintih dan cabang-cabang yang mencoba menghalangi jalannya, hingga tiba di sebuah lembah tersembunyi yang seolah terisolasi dari waktu dan ruang. Di tengah lembah itu berdiri struktur batu hitam raksasa: Gerbang yang Terlupakan.
Gerbang itu tampak seperti luka yang menganga di udara, sebuah robekan dalam realitas yang memuntahkan kabut hijau yang mengerikan dan beracun. Rasa mual menghantam Anya; aura jahat di sini jauh lebih pekat, lebih kental, dan lebih personal daripada di makam. Ia berdiri sendirian di depan pintu masuk neraka itu, merasa begitu kecil, begitu rentan, dan begitu manusiawi.
Namun, tepat saat keputusasaan mulai merayap, sebuah cahaya muncul di ufuk timur. Bersamaan dengan fajar yang memecah kegelapan, suara kepak sayap ribuan serangga dan derap langkah kuda terdengar.
Peri-peri Lumina datang dengan pendar keemasan, membentuk formasi pertahanan. Para Unicorn Sungai Bulan muncul dengan langkah yang memurnikan tanah yang terinjak di bawah mereka, netralisir racun di udara. Dan di atas, Naga Elderwood melayang dengan sayap raksasanya yang menutupi langit, menaungi lembah dengan kehadirannya yang agung.
“Kau memanggil, dan hutan menjawab,” suara Elderwood bergema di dalam pikiran Anya, penuh dengan kebanggaan.
Anya merasakan kekuatannya pulih berlipat ganda, bukan karena sihir, tapi karena solidaritas. Ia tidak lagi memikul beban ini sendirian. Di depan Gerbang Bayangan yang mengancam, Anya berdiri bersama seluruh kekuatan Hutan Lumina. Mereka siap menutup luka masa lalu itu selamanya, atau mati bersama-sama dalam upaya tersebut.
jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.