CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANTAN MUNCUL LAGI
Hari itu suasana rumah sedang sangat tenang dan damai. Setelah makan siang, Ayunda dan Gio sedang duduk santai di ruang keluarga. Ayunda sedang asyik menempelkan kepalanya di bahu Gio sambil main HP, dan Gio sibuk membaca berita di tabletnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melingkar santai di bahu istrinya.
Mereka terlihat sangat kompak dan mesra, seperti pasangan suami istri pada umumnya yang sudah saling menyayangi.
"Gio..." panggil Ayunda pelan tanpa melepas pandangan dari layar HP.
"Hm?" jawab Gio singkat.
"Besok kan hari Minggu, kita jalan yuk? Ke mall aja atau ke taman kota. Gue pengen jalan-jalan sama lo," kata Ayunda manja, sedikit menggoyangkan lengan Gio memohon.
Gio tersenyum kecil, lalu mencium puncak kepala Ayunda cepat. "Boleh dong. Kan emang jadwal quality time kita. Oke, besok kita pergi. Mau makan apa?"
"Mau makan steak! Lo yang traktir ya!"
"Hahaha siap! Apa aja boleh buat istri kesayangan."
Suasana sedang sangat manis dan hangat, sampai tiba-tiba...
Ting Dong!
Bel rumah berbunyi nyaring.
Keduanya saling pandang.
"Siapa tuh ya? Bukannya hari ini gak ada janji ketemu siapa-siapa?" tanya Gio bingung. Dia pun bangun dan berjalan menuju pintu depan untuk membukakan.
Ayunda tetap duduk di sofa, tapi matanya penasaran mengintip dari jauh.
Gio membuka pintu pagar besar itu. Dan begitu melihat sosok yang berdiri di sana, langkah Gio terhenti. Wajahnya langsung berubah datar, senyum yang tadi ada hilang seketika.
Di depan pintu, berdiri seorang wanita yang sangat cantik dan modis. Dia memakai dress merah yang ketat dan elegan, rambutnya bergelombang sempurna, wajahnya berdandan sangat cantik dan mahal. Dia tersenyum manis melihat Gio.
"Hi Gio... lama gak ketemu," sapanya dengan suara yang lembut dan terdengar sangat manja.
Gio diam saja, wajahnya kaku dan tidak menyambut. "Kamu ngapain ke sini, Sarah?" tanya Gio dingin. Nada bicaranya sangat berbeda dibanding saat bicara sama Ayunda tadi.
Wanita itu—Sarah—tertawa kecil seolah tidak mendengar ketus Gio. "Aku cuma main dong. Kebetulan kan aku lagi lewat daerah sini, terus ingat kamu tinggal di sini. Jadi aku mampir sekalian mau ngasih ini oleh-oleh dari Singapura."
Sarah mengulurkan sebuah paper bag bermerek mewah, tapi Gio tidak menyambutnya.
"Maaf, aku gak butuh. Dan aku juga lagi sibuk. Kamu pulang aja ya," kata Gio tegas, lalu berniat menutup pintu lagi.
"Eh tunggu dong Gio! Jangan galak-galak dong!" Sarah langsung menahan pintu dengan tangannya, lalu matanya melirik ke dalam rumah melewati celah tubuh Gio. Dan dia melihat Ayunda yang sedang duduk di sana menatap ke arah mereka.
Senyum Sarah berubah menjadi senyum yang sedikit mengejek dan merendahkan.
"Oh... jadi itu dia ya? Calon istri kamu? Atau udah jadi istri sekarang?" tanya Sarah dengan suara keras agar terdengar sampai ke dalam. "Wah... gaya bajunya kayak anak jalanan ya Gio. Kok kamu sih mau aja sama cewek modelan gitu? Kan biasanya kamu suka yang elegan dan cantik kayak aku?"
Ayunda yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya di samping badan. Dadanya terasa sesak dan panas. Rasa tidak percaya diri yang dulu pernah dia rasakan muncul lagi.
Gio yang mendengar ucapan Sarah langsung marah besar. Wajahnya memerah menahan amarah.
"JAGA BICARA KAMU YA SARAH!" bentak Gio sangat keras. Suaranya menggema sampai ke dalam. "Dia itu ISTRI SAYA! Dan dia jauh lebih baik dan jauh lebih berharga daripada kamu atau siapapun! Jangan pernah kamu berani menghina dia!"
Gio melangkah maju satu langkah, membuat Sarah mundur kaget karena takut melihat Gio yang sangat galak.
"Dan sekarang minta maaf sama dia! Sekarang!" perintah Gio.
"Eh apaan sih Gio! Aku kan cuma bercanda doang kok jadi marah-marah gitu," jawab Sarah sok manja tapi wajahnya mulai pucat. "Aku kan mantan kamu loh Gio. Kita kan pernah jadian dulu. Kita pernah bahagia kan?"
"Itu MASA LALU!" potong Gio tegas. "Masa lalu itu udah lewat! Sekarang hidup aku ada Ayunda! Aku gak mau tau lagi sama kamu! Tolong jangan ganggu kami lagi! Dan jangan pernah injakkan kaki kamu ke rumah ini lagi!"
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang tegas.
Jedag! Jedug! Jedag! Jedug!
Ayunda berjalan keluar dari dalam rumah dengan wajah yang sangat dingin dan tajam. Matanya menyala menatap Sarah. Dia tidak terlihat takut sama sekali, justru aura 'badung'-nya keluar semua.
Ayunda berdiri di samping Gio, lalu dia melipat kedua tangannya di dada, menatap Sarah dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai yang sinis.
"Jadi lo yang namanya Sarah ya? Mantan nya Gio?" tanya Ayunda dengan nada dingin.
Sarah mendengus, mencoba terlihat angkuh. "Iya gue Sarah. Lo siapa? Cewek kampungan ini?"
"Gue Ayunda. Istri sah nya Gio yang lagi dia peluk dan dia sayang setiap hari," jawab Ayunda santai tapi menusuk. "Dan denger ya Mbak... Lo bilang gue gak elegan? Oke, mungkin baju gue emang bukan merk mahal, mungkin gaya gue emang tomboy. Tapi setidaknya gue gak murahan kayak lo yang main datang ke rumah orang pas suami orang ada istrinya, terus ngerayu-ngerayu suami orang!"
Ayunda melangkah maju sedikit, membuat Sarah mundur lagi.
"Dan tau gak? Gio itu benci banget sama cewek yang sok cantik, mulutnya jahat, dan otaknya kosong kayak lo! Makanya dia milih gue! Karena gue apa adanya, dan gue tulus sayang sama dia! Bukan karena harta atau status!"
"Lo..." Sarah terlihat marah dan muka nya memerah karena dipermalukan.
"Udah! Mending lo pulang sana! Jangan ngerusuhin rumah gue! Kalau gue yang kasih jalan, belum tentu enak tau gak!" Ayunda menatap tajam, matanya berkilat siap berantem kapan saja.
Gio yang berdiri di sampingnya melihat itu, bukannya marah, tapi justru merasa bangga setengah mati. Dia tersenyum kecil melihat istrinya berani membela diri dan membela hubungan mereka.
Gio lalu maju, berdiri di depan Ayunda melindunginya, dan menatap Sarah dengan tatapan mematikan.
"Kamu denger kan istri aku ngomong apa? Sekarang mending kamu pergi sebelum aku panggil satpam atau bikin masalah lebih besar. Bye."
Tanpa basa-basi lagi, Gio langsung menutup pintu pagar itu dengan keras.
DUG!!
Suara pintu yang dibanting keras itu menandakan akhir dari kedatangan tak diundang itu.
Sarah yang masih syok dan malu, akhirnya pergi dengan wajah cemberut dan menghentakkan kaki naik ke mobilnya.
Di dalam rumah, suasana hening sejenak.
Ayunda menarik napas panjang lalu menghembuskan keras-keras. "Hah! Kesel banget gue! Berani-beraninya dia ngomong gitu!"
Tiba-tiba, Gio memeluk bahu Ayunda dan memutar tubuh cewek itu menghadap dirinya.
"Kamu gapapa kan?" tanya Gio cepat, matanya memeriksa wajah Ayunda. "Jangan dengerin omongan dia ya. Dia cuma iri. Dia cuma gak terima kalau aku udah bahagia sama kamu."
Ayunda menatap Gio, lalu tiba-tiba dia mendongak dan bertanya dengan wajah serius.
"Gio... jujur sama gue. Lo pernah beneran sayang sama dia gak? Dulu pas kalian pacaran?"
Gio menghela napas panjang, lalu dia memegang kedua pipi Ayunda lembut.
"Dulu mungkin pernah suka, tapi itu dulu. Dan itu perasaan yang dangkal banget dibanding apa yang aku rasain sekarang sama kamu."
Gio menatap mata Ayunda dalam-dalam.
"Sarah itu cuma masa lalu yang kelam. Kamu itu masa depan dan sekarang aku. Gak ada yang bisa nandingin kamu Yun. Percaya sama aku."
Ayunda tersenyum kecil, rasa cemburu dan tidak enak hatinya perlahan hilang. "Hm... yasudah deh. Tapi inget ya! Kalau dia berani muncul lagi, gue yang bakal hajar dia sendiri!"
"Hahaha dasar cewek badung!" Gio tertawa lalu mengecup kening Ayunda lama. "Iya iya, pahlawan wanita ku."
Meskipun badai dari masa lalu sempat datang menerpa, tapi kali ini mereka berhadapan bersama. Dan itu membuat ikatan cinta mereka justru makin kuat dan tak tergoyahkan.