NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 - Duel

Akibat rangkaian kesialan, yang mengarah pada kecurigaan kuat terhadap Havren, Jovienne membuat kesimpulan sendiri. Kini gadis itu memiliki agenda khusus, yaitu, menantang Havren duel.

Mulanya aku menentang ide itu dan ingin mencegahnya. Kedengarannya seperti ide buruk. Tapi, setelah dipikir ulang, aku menyadari bahwa ini bisa jadi jalur yang sempurna untuk karakter seperti Jovienne. Keinginan gadis itu sendiri adalah pertanda ketertarikannya pada Havren. Benar, kan?

Faktanya, upaya itu telah berlangsung selama hitungan minggu.

Setiap kali bertemu, Jovienne selalu melempar tantangan.

Dan Havren selalu menolak.

Baik dengan provokasi secara langsung, seperti…

“Kenapa? Kau takut kalah dari perempuan?”

Havren akan menjawab,

“Saya yakin Anda lebih ahli, Putri Jovienne. Saya tidak akan bisa mengalahkan Anda.”

atau,

“Apa kau menganggap duel pedang hanya buang-buang waktu?”

“Saya rasa anda hanya akan membuang waktu bila melakukannya dengan saya. Saya yakin banyak petarung lebih hebat yang akan senang menemani Anda berlatih.”

Jovienne juga mencoba dengan cara meminta baik-baik.

“Aku ingin lebih mengenalmu.”

“Aku—ini, permohonanku! Satu kali saja, berduel denganku. Pangeran tidak mau mengabulkan?”

Bahkan sampai gadis dengan harga diri tinggi itu memohon dengan cuping telinga memerah menahan malu sekalipun, tidak ada yang berhasil. Havren selalu menolak dengan halus, selalu menyarankan Jovienne untuk mencari orang lain.

“Aku hanya ingin melakukannya denganmu! Harus denganmu!”

Suatu waktu, saking kesalnya dengan penolakan bertubi dan selalu didorong pada orang lain, Jovienne tidak sadar berteriak. Terlalu keras. Beberapa pelayan yang kebetulan ada di sekitar taman tidak sengaja mendengar dan menatap mereka dengan terkejut. Jovienne sendiri sepertinya tidak sadar dengan kalimat ambigu yang baru saja ia deklarasikan. Tangannya terkepal erat dan matanya terfokus pada Havren yang balas menatap dengan mata membulat.

Untuk pertama kalinya, Havren terlihat kehilangan kata-kata.

Tidak lama, namun, senyumnya kembali. “Sungguh kehormatan, Putri. Saya memohon maaf karena tidak bisa menyanggupinya.”

Dan jawabannya tetap sama.

Sore ini, Jovienne kembali melancarkan usahanya dan menemui Havren yang sedang melukis di dekat kolam teratai.

“Kali ini kau tidak akan bisa menolakku.” Gadis itu berucap.

Sapuan kuas Havren terhenti, biar dia tidak mengatakan apa-apa.

“Kalau menolak, aku akan menyebar rahasiamu.”

“Saya tidak memiliki rahasia, Putri.” Havren menjawab tenang.

“Ooh? Sungguh? Kalau begitu tidak apa-apa kalau aku menyerahkan dia pada Kepala Pengawal?” Sambil berkata begitu, Jovienne mengangkat seekor rakun kecil. Bulunya yang berwarna cokelat terlihat lembut, dengan loreng khas di ujung ekornya yang tebal.

Itu adalah hewan lain  yang dibawa Havren beberapa hari lalu. Aku sedikit merasa bersalah karena sebenarnya aku yang tidak sengaja menemukan hewan kecil itu di antara semak.

“Aku dengar seharusnya hewan ini sudah dikembalikan ke hutan, kenapa aku menemukannya di semak hydrangea?”

Mata biru pucat Havren sempat melirik ke arah si rakun. Meski, ia tetap menyahut ringan. “Mungkin dia hanya tersesat.”

Jovienne mendengus pelan, tampak tak sedikitpun berniat menyerah.

“Begitu? Kalau begitu aku serahkan saja pada Tuan Leif atau… Tuan Karsten!" Dia kembali berucap. Bahkan sampai menyeret nama Kepala Istana. "Atau aku kembalikan sendiri ke hutan.”

Mendengar itu Havren tiba-tiba berdiri. “Dia masih terluka—”

“Oh?” Jovienne mengangkat alis. Ujung bibirnya terangkat sedikit, tidak bisa menyembunyikan senang karena akhirnya mendapatkan reaksi yang diinginkan.

Memang ada luka yang terlihat baru diobati di tubuh kecil si rubah.

Setelah itu, Jovienne tidak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum jumawa, sambil masih memegangi rakun kecil yang tampak tidak paham apa nasib yang menunggunya.

Pada akhirnya Havren menghela napas kalah.

“Anda tidak akan melaporkannya bila saya menyanggupi untuk berduel satu kali?”

Nyaris tanpa jeda, Jovienne mengangguk-angguk penuh semangat.

“Kalau begitu,” Havren berucap lamat-lamat, “besok sore di waktu yang sama, lapang latihan tenggara?”

Ekspresi bahagia yang dimiliki Jovienne bahkan bisa dilihat dari kejauhan.

“Jangan kabur dan jangan menarik kata-katamu. Kalau mangkir, aku akan mengutukmu.”

...*...

...*...

...*...

Berita soal duel itu menyebar dengan cepat. Seperti kata orang, di dalam istana, tembok pun berbicara. Keesokan harinya, di waktu yang telah dijanjikan, lapangan tenggara itu telah dipenuhi spektator.

Reaksi yang bisa dibilang amat bisa dipahami.

Sebelum kedatangan Jovienne, tidak ada yang repot-repot mengusik pangeran bungsu itu. Apapun yang dia lakukan, hanya jadi bisik-bisik pembicaraan di balik tangan. Tidak ada yang benar-benar peduli.

Di sisi lain, Jovienne cukup tersohor dengan kemampuan pedang kembarnya. Banyak yang datang untuk menyaksikan sendiri kebolehan gadis itu. Dan karena dia datang lebih dulu di lokasi duel, Jovienne mengisi waktu dengan melakukan pemanasan. Gerakannya yang cepat dan terkontrol berulang kali mengundang decak kagum.

Ketika beberapa orang mulai berspekulasi Havren akan kabur dan membatalkan perjanjian, pangeran muda itu muncul di sisi lapangan. Sedikit lambat dikenali orang-orang. Karena, dia datang mengenakan baju besi lengkap. Benar-benar lengkap sampai hanya menyisakan ruang untuk matanya. Yang bahkan tertutupi bayangan.

Orang bisa salah mengira dia adalah patung zirah yang ditinggalkan pelayan di sana.

Cibiran olok-olok itu dengan cepat terdengar di seluruh lapangan. Diucap dalam bisik-bisik dan tawa yang tidak sepenuhnya berusaha disembunyikan.

“Dia benar-benar datang?”

“Dengan zirah selengkap itu…. dia pikir ini medan perang?”

“Seorang pangeran, mengenakan perlengkapan seperti itu untuk duel…”

“Mau ditaruh di mana wajah Kaelros.”

“Putri Jovienne memang dijuluki Twin Blade Warrior, tapi… apa tidak berlebihan?”

“Menyedihkan.”

Aku mendesis dan mengangkat cakar penuh ancaman pada manusia-manusia dengan mulut berbisa itu.

Dari posisinya, aku tidak tahu apakah Jovienne turut mendengar. Hanya saja, wajah gadis itu terlihat masam.

Kapten Pengawal Istana menjadi wasit untuk duel hari ini. Dia berdeham canggung ketika dua orang itu sudah berhadapan.

Duel pun akhirnya dimulai.

Mula-mula, jelas sekali terlihat itu hanyalah serangan satu arah. Havren sama sekali tidak melawan balik. Dia hanya berusaha menghindar. Dalam upaya yang tidak pernah mulus. Dia sering tersandung dan terjatuh. Terjerembab dengan bokong mencumbu tanah, atau tersungkur dan kesulitan untuk bangkit lagi.

“LAWAN AKU, PANGERAN!”

Havren menangkis sambil berlari hampir ke seluruh penjuru lapangan. Dari balik besi pelindung wajah, suara tawanya teredam di antara napas terengah.

“Putri,” suaranya terdengar di antara benturan logam, “berapa kali harus kukatakan… aku bukan lawan yang kau cari.”

“Omong kosong!!” Jovienne membentak. Ia mendorong satu pedangnya hingga melepas helm pelindung Havren. Logam itu menggelinding dengan suara dentang yang nyaring.

“Kau tidak bisa membodohiku. Aku tahu kau bisa melakukan lebih dari ini!” Gadis itu berkata di antara katupan gigi.

“Berhenti bermain-main dan bertarunglah dengan serius!”

Jovienne melangkah maju. Pedangnya terangkat dan berhenti satu inci di leher Havren.

Kemenangan untuk Jovienne.

Hasil yang sama sekali tidak mengejutkan.

Gumaman kecewa ramai terdengar di sekitar arena. Orang-orang mengomentari pertarungan yang membosankan. Keluhan menyoal betapa mereka bahkan tidak melihat Jovienne menggunakan teknik bertarung khusus dan menunjukkan keahliannya secara penuh.

Di tengah lapangan, Jovienne tampak marah.

“Kau menganggapku tidak layak untuk kau hadapi dengan serius, begitukah?!”

Havren berusaha membantah.

Dan Jovienne meminta duel itu dilanjutkan.

Akan tetapi, berapa kalipun diulangi, Havren tetap kalah.

Seiring waktu, jelas terlihat putri Solmara itu kehabisan kesabaran. Ketika ia menghunus pedangnya, logam itu menggores pundak sang pangeran. Sedikit tidak terkontrol hingga melewati batas baju zirah. Terlalu dibalut emosi hingga darah mengalir dari sana.

Bergeser sedikit lagi saja dan dia akan mengiris leher.

Havren terjerembab di tanah dan memegangi lukanya.

Seruan panik serentak terdengar, kelabakan memanggil dokter istana.

Di tengah kericuhan itu, Jovienne tampak gemetar. “Sampai akhir,” ia berucap rendah. “Sampai akhir pun kau meremehkanku!”

Setelah itu dia meninggalkan lapangan. Tubuhnya bergetar menahan amarah.

Dari sisi lapangan, aku hanya bisa menghela napas panjang.

Sudah kuduga ini adalah ide buruk. Sepertinya sulit sekali menyatukan dua orang ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!