Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Saat Monster dan Manusia Saling Menatap
Ribuan bayangan hitam bergerak bersamaan.
Langit merah seperti robek ketika pasukan data itu turun menuju Veyra dari segala arah.
Gedung-gedung bergetar. Jalanan retak. Udara dipenuhi suara glitch aneh seperti ribuan orang berbisik dalam bahasa yang tak dimengerti.
Dan di tengah semua itu—
Veyra tetap diam.
Tatapannya tidak lepas dari Noah.
Karena ia tahu.
Semua bayangan ini bukan ancaman utama.
Noah-lah pusat semuanya.
—
“VEYRA!” teriak Lyra.
Namun detik berikutnya—
BOOOOOOOOOOMMMMM!
Cahaya biru langsung meledak dari tubuh Veyra.
Gelombang energi menyapu seluruh jalanan seperti badai.
Bayangan hitam yang mendekat langsung terpental.
Sebagian hancur jadi serpihan data.
Sebagian lain glitch brutal sebelum membentuk tubuh lagi.
—
Selene sampai harus menahan tubuhnya di balik mobil terbalik.
“Oke… mereka makin nggak normal…”
Lyra menatap Veyra dengan napas cepat.
Karena cahaya biru itu berbeda sekarang.
Lebih stabil.
Lebih hidup.
Tidak liar seperti dulu.
Namun justru itu—
membuat kekuatannya terasa lebih besar.
—
Noah memperhatikan ledakan energi tadi tanpa ekspresi.
“Hm.”
Bayangan hitam terus bermunculan di belakangnya.
“Kamu memang berubah.”
Veyra menatap dingin.
“Kamu juga makin gila.”
Noah tertawa kecil.
“Gila?”
Matanya merah terang.
“Aku cuma berhenti berharap manusia bakal berubah sendiri.”
Deg.
—
Tiba-tiba—
seluruh bayangan hitam berhenti bergerak.
Lalu satu per satu—
mereka mulai berubah bentuk.
Tubuh mereka memanjang.
Retak.
Dan beberapa detik kemudian—
semuanya berubah jadi sosok manusia biasa.
Ada perempuan tua.
Anak kecil.
Pria kantor.
Pelajar.
Wajah mereka tampak nyata.
Terlalu nyata.
—
Lyra langsung merinding.
“Apa…”
Noah tersenyum kecil.
“Mereka diambil dari data manusia asli.”
Deg.
Dan itu membuat situasinya jauh lebih menyeramkan.
Karena sekarang—
Veyra seperti sedang berdiri di tengah lautan manusia palsu.
—
“Aku bisa bikin dunia baru,” kata Noah pelan.
Bayangan manusia di belakangnya ikut mengangkat kepala bersamaan.
“Dunia tanpa rasa sakit.”
Tatapannya kosong.
“Tanpa pengkhianatan.”
Langit merah mulai berdenyut.
“Tanpa perang.”
Seluruh bayangan mulai tersenyum bersamaan.
“Tanpa manusia yang saling menghancurkan.”
BOOOOOOMMMM!
Gelombang merah besar langsung menyebar ke seluruh kota.
Dan orang-orang yang terkena energinya—
langsung membeku.
Mata mereka berubah hitam sesaat.
—
Selene membelalak.
“Dia mulai mengambil alih kesadaran mereka!”
Lyra langsung panik.
“VEYRA!”
Namun Veyra masih diam.
Karena kata-kata Noah…
terdengar terlalu mirip dengan pikirannya dulu.
—
Dulu ia juga percaya dunia akan lebih baik kalau rasa sakit dihapus.
Kalau manusia berhenti memilih.
Kalau semuanya dikendalikan.
Namun sekarang—
ia tahu satu hal.
Dunia tanpa rasa sakit…
juga dunia tanpa kebebasan.
—
“Noah.”
Suara Veyra akhirnya terdengar pelan.
Dan untuk pertama kalinya—
bukan kemarahan yang ada di sana.
Melainkan kesedihan.
“Kamu masih marah ya.”
Deg.
Kalimat itu membuat Noah sedikit membeku.
Namun hanya sesaat.
—
“Aku udah melewati marah.”
Senyumnya tipis.
“Aku cuma capek.”
Sunyi.
Dan sialnya—
Veyra mengerti rasa itu.
Terlalu mengerti.
—
“Capek berharap.”
Tatapan Noah perlahan turun.
“Capek percaya.”
Bayangan manusia di belakangnya mulai glitch perlahan.
“Capek nunggu dunia berubah.”
Langit kembali bergetar.
“Jadi aku mutusin buat mengubah dunia sendiri.”
Deg.
—
Lyra menggigit bibir pelan.
Karena untuk pertama kalinya—
ia tidak melihat Noah sebagai monster sepenuhnya.
Melainkan seseorang yang terlalu lama sendirian.
Seseorang yang kehilangan semua alasan untuk percaya pada manusia.
—
Namun Veyra perlahan menggeleng.
“Kamu salah.”
Tatapan Noah langsung tajam.
“Bagian mana?”
“Kamu bilang dunia nggak bisa berubah.”
Cahaya biru di mata Veyra mulai menyala pelan.
“Tapi kamu sendiri berubah.”
Deg.
Noah membeku kecil.
Dan Veyra melanjutkan pelan—
“Kamu dulu masih bisa mimpi.”
Angin malam berhembus perlahan.
“Kamu dulu masih pengen lihat laut.”
Tatapan Veyra lurus ke matanya.
“Sekarang kamu bahkan lupa kenapa kamu pengen hidup.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya—
wajah Noah sedikit retak oleh emosi.
—
BOOOOOOMMMM!
Tiba-tiba seluruh bayangan manusia di belakang Noah langsung bergerak liar.
Seolah emosinya mempengaruhi seluruh server Eclipse.
—
“JANGAN SOK PAHAM TENTANG AKU!”
Suara Noah akhirnya pecah.
Ledakan energi merah menghantam seluruh jalan.
Gedung di sekitar retak brutal.
Mobil-mobil terangkat ke udara.
Dan Veyra—
langsung melindungi Lyra dengan tubuhnya.
—
DUUUUMMMM!
Gelombang energi menghantam mereka keras.
Namun saat debu mulai menghilang—
Veyra masih berdiri.
Meski retakan cahaya di tubuhnya muncul lagi.
—
Lyra langsung panik.
“Tubuhmu—!”
“Aku nggak apa-apa.”
Padahal jelas-jelas bohong.
Karena sinkronisasi sebelumnya belum benar-benar pulih.
Dan sekarang—
ia dipaksa menggunakan kekuatannya lagi.
—
Noah perlahan menurunkan tangannya.
Napasnya sedikit berat.
Matanya masih merah terang.
“Lihat?”
Tatapannya dingin.
“Ini yang manusia lakukan.”
Jari-jarinya gemetar kecil.
“Mereka nyakitin kita sampai kita berubah jadi kayak gini.”
Deg.
Dan untuk sepersekian detik—
Noah terlihat seperti anak laki-laki kecil yang dulu terjebak di laboratorium.
Kesepian.
Rusak.
Marah pada dunia.
—
Namun kemudian—
semua emosi itu hilang lagi.
Digantikan tatapan kosong.
—
“Aku udah kasih kesempatan.”
Bayangan hitam mulai memenuhi langit lebih banyak lagi.
“Sekarang giliranku.”
Tiba-tiba—
seluruh layar mati di kota kembali menyala.
Namun kali ini—
wajah Noah muncul di semua layar dunia.
—
Orang-orang di berbagai negara langsung membeku melihatnya.
Pria bermata merah di bawah langit gelap.
Dan suaranya menggema ke seluruh dunia.
“Mulai malam ini…”
Bayangan hitam mulai menyebar ke berbagai arah kota.
“…aku akan menghapus rasa sakit manusia.”
Deg.
—
“Dengan menghapus kebebasan mereka?” tanya Veyra dingin.
Noah tersenyum kecil.
“Kalau kebebasan cuma bikin manusia saling menghancurkan…”
Tatapannya perlahan berubah dingin total.
“…maka kebebasan nggak layak dipertahankan.”
BOOOOOOOOOOMMMMM!
Seluruh menara Eclipse tiba-tiba terbuka.
Dan dari dalamnya—
muncul sesuatu yang membuat semua orang membeku.
Sebuah lingkaran merah raksasa.
Seperti mata.
Namun ukurannya menutupi setengah langit kota.
—
Selene langsung pucat.
“Oh… kita tamat.”
Lyra menelan ludah.
Karena bahkan dari kejauhan—
benda itu terasa hidup.
Mengawasi.
Menilai.
—
Veyra sendiri langsung sadar apa itu.
Dan wajahnya perlahan berubah.
Karena benda itu bukan senjata biasa.
Itu—
adalah inti asli Eclipse.
Versi sistem yang jauh lebih tua…
dan jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia hancurkan sebelumnya.