Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Banyak netizen langsung menyerbu dan menonton rekaman siaran itu.
Sejak momen Indah muncul dan menceritakan semuanya secara langsung di live streaming, banyak penonton yang buru-buru merekam layar. Tapi meski sudah mendengar penjelasan panjang lebar dari Indah, sebagian besar orang tetap belum benar-benar percaya.
"Hah? Seriusan? Surya ternyata nyiksa Yunita bertahun-tahun? Terus surat pernyataan itu dipaksa tanda tangan? Kok susah dipercaya ya..."
"Nggak masuk akal deh. Kayaknya cuma drama cari simpati aja. Bukti nyatanya mana? Gue tetap percaya hasil penyelidikan polisi sama putusan hakim!"
"Tapi bisa aja sih... Yunita kan tuna rungu dan nggak bisa ngomong. Krisanto juga ngomong hal yang sama. Masa iya dua-duanya bohong? Bisa jadi Yunita memang korban pemerkosaan..."
"Ah nggak mungkin. Gue lihat berita wawancara warga Desa Bukit Indah, semuanya bilang Yunita emang suka genit sama laki-laki lain. Jadi kemungkinan besar dia memang selingkuh."
"Polisi juga nggak nemuin bukti pemerkosaan atau kekerasan waktu itu. Mending kasusnya dibuka lagi dan diselidiki ulang biar jelas. Dukung penyelidikan ulang!"
"Aku juga dukung! Ada yang aneh banget sama kasus ini. Krisanto sampai bilang istrinya diperkosa dan disiksa. Kalau cuma soal selingkuh, ngapain dia bikin cerita serumit itu? Harusnya tinggal ngomong aja kalau istrinya selingkuh. Aku percaya sama Krisanto!"
"Kok banyak banget yang kemakan omongan pembunuh sih? Krisanto itu katanya punya gangguan jiwa! Kenapa nggak percaya sama keputusan pengadilan yang udah sah? Putusan hakim itu mutlak!"
Sebagian besar netizen masih memihak hasil persidangan pertama. Orang-orang yang percaya pada Krisanto dan Yunita jumlahnya masih sedikit sekali.
Apalagi sudah ada putusan resmi pengadilan, ditambah berbagai tuduhan dari keluarga Surya terhadap Krisanto.
Belum lagi surat pernyataan bertanda tangan dan cap jempol Yunita yang menyebut hubungan mereka dilakukan atas dasar suka sama suka.
Media juga terus memberitakan hasil wawancara warga Desa Bukit Indah yang kompak mengatakan Yunita dikenal suka menggoda laki-laki.
Karena itulah, opini publik makin condong percaya kalau hakim sudah menjatuhkan keputusan yang benar. Hampir tidak ada yang mau mempercayai penjelasan Indah.
Bahkan ada yang berkomentar dengan kasar.
"Pembunuh ya harus mati! Itu udah hukum alam. Nyawa dibayar nyawa!"
Arga yang baru selesai membaca seluruh dokumen kasus ikut memantau komentar-komentar di media sosial. Kepalanya sampai terasa pening.
"Aneh..."
Arga menyipitkan mata sambil berpikir keras.
"Kalau media luar memang dilarang masuk ke Desa Bukit Indah dan aksesnya ditutup rapat, kenapa Media Compas malah bisa bebas meliput semuanya? Lebih aneh lagi, media nasional lain ikut mengutip berita mereka mentah-mentah..."
Tatapan Arga perlahan berubah dingin.
"Jangan-jangan... pihak Compas memang sudah disuap dan bekerja sama dengan orang-orang desa. Semua berita yang mereka sebarkan cuma sesuai narasi yang mereka mau. Tujuannya buat menggiring opini publik."
Sebelum mulai menyusun strategi pembelaan di pengadilan, ada satu hal penting yang harus dilakukan lebih dulu.
Mengubah pandangan masyarakat.
Kasus ini harus dibuat semakin besar dan viral supaya mendapat perhatian luas. Tekanan publik bisa menjadi senjata tambahan untuk membalikkan keadaan.
Karena dalam kasus seperti ini, bukti saja belum tentu cukup.
Dibutuhkan juga dukungan masyarakat agar vonis hukuman mati terhadap Krisanto bisa dibatalkan.
Arga lalu menemui Indah dan Yunita.
Namun saat melihat kondisi tubuh Yunita secara langsung, napas Arga langsung terasa berat.
Tubuh wanita itu dipenuhi luka memar dan lecet.
Banyak bekas luka berada di bagian tubuh yang sangat pribadi sampai Arga sendiri merasa tidak tega untuk melihat lebih lama.
Arga menoleh ke arah Indah.
"Luka Yunita... selain di wajah, tangan, dan kaki, bagian mana lagi yang paling parah?"
Wajah Indah langsung memerah menahan marah.
"Semua tubuhnya penuh luka, Mas Arga. Bekas pukulan ada di mana-mana..." suara Indah bergetar.
"Terutama di bagian bawah... lukanya paling parah. Banyak sobekan dan luka dalam sampai sering berdarah terus. Punggungnya juga hitam semua penuh memar. Ada luka lama, ada luka baru. Belum sembuh sama sekali..."
Tatapan Arga langsung berubah tajam.
"Segera bawa Yunita ke rumah sakit."
"Saya mau semua lukanya diperiksa dan didokumentasikan secara resmi oleh dokter. Foto semuanya. Rekam videonya juga. Biar semua orang lihat sendiri seberapa parah penderitaan yang dia alami."
Arga berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Untuk sementara, Dinda jangan sekolah dulu. Jaga mereka baik-baik. Jangan sampai terjadi apa-apa."
Saat itu Arga menyadari ekspresi Indah terlihat ragu dan canggung.
Dia tahu...
Uang seratus juta yang diberikan Indah kemarin adalah seluruh tabungannya. Hasil kerja keras bertahun-tahun di luar negeri. Itu uang terakhir yang dia punya.
Dengan tenang Arga berkata,
"Soal bayaran pengacara nggak usah dipikirin."
"Aku nggak peduli uang segitu. Kasus ini bakal aku tangani gratis buat Krisanto dan Yunita. Pakai saja uang itu buat biaya pengobatan Yunita, beli pakaian baru, sama kebutuhan Dinda."
Arga menatap lurus ke depan.
"Aku jadi pengacara bukan cuma buat cari uang."
"Aku mau menegakkan keadilan. Kalau orang jahat bebas menyiksa orang lain tanpa dihukum, terus buat apa hukum itu ada?"
Memang Arga menyukai uang.
Siapa juga yang tidak?
Tapi melihat Yunita yang bisu dan tuna rungu mengalami penderitaan seperti itu... ditambah Dinda yang baru berusia lima tahun dan bernasib sama...
Rasanya uang bukan lagi hal paling penting.
Bahkan kalau harus membantu tanpa dibayar pun, Arga rela.
Lagipula, kalau dia berhasil memenangkan kasus ini, sistem miliknya pasti akan memberikan hadiah dan kemampuan baru.
Belum lagi popularitasnya pasti naik drastis.
Kalau nanti dia live streaming lagi, hadiah dari penonton juga pasti mengalir deras.
Jadi untuk uang jasa kasus ini...
Arga benar-benar tidak memikirkannya.
Begitu mendengar Arga tidak meminta bayaran, Indah buru-buru menyampaikan kabar itu kepada Yunita lewat bahasa isyarat.
Namun setelah mengerti, Yunita malah langsung panik.
Dia menggeleng kuat-kuat sambil memberi isyarat cepat.
"Tidak boleh... aku harus bayar..."
"Kalau sekarang belum punya uang, aku bisa berhutang dulu. Kalau suamiku selamat nanti, aku akan bayar sedikit demi sedikit sampai lunas..."
"Uang kemarin itu semua yang aku punya..."
Yunita lalu mengeluarkan dompet lamanya yang sudah kusam dan tipis.
Di dalamnya hanya ada uang pecahan kecil dan beberapa lembar lusuh.
Jumlah semuanya bahkan tidak sampai satu juta rupiah.
Dengan tangan gemetar, dia menyerahkan semua uang itu kepada Arga.
Saat Arga tidak mau menerimanya, Yunita langsung berlutut lagi di lantai.
Matanya berkaca-kaca penuh ketakutan.
"Mas Arga... tolong bantu aku..."
"Aku janji akan membalas semuanya seumur hidupku..."
Dia takut.
Sangat takut.
Kalau Arga menolak uang itu, berarti mungkin pengacara tersebut juga tidak mau membantunya.
Dan kalau Arga saja menolak...
Siapa lagi yang berani menangani kasus sebesar ini?
Arga akhirnya menghela napas panjang lalu menerima uang itu.
Dia kemudian berkata pelan pada Indah,
"Jelaskan ke Yunita... untuk klien pertama setelah kantor ini dibuka, biaya jasaku cuma seratus ribu rupiah."
"Nggak ada biaya tambahan apa pun."
Arga mengambil satu lembar uang seratus ribu, lalu mengembalikan semua sisa uang receh dan pecahan kecil itu ke tangan Yunita.
Indah yang berdiri di samping sampai menahan air mata haru.
Padahal untuk menyewa pengacara sekelas Arga, biaya konsultasi satu jam saja biasanya bisa jutaan rupiah.
Apalagi untuk menangani kasus sebesar ini.
Setelah semua administrasi awal selesai, Arga langsung membawa Yunita ke rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruh.
Dan hasil pemeriksaan dokter ternyata jauh lebih mengerikan dari dugaan mereka.
Luka-luka di tubuh Yunita bukan luka biasa.
Semuanya termasuk cedera berat.
Ada bekas gigitan, bekas ikatan tali, memar akibat pukulan benda keras, sampai luka kekerasan seksual yang sangat brutal.
Melihat hasil medis itu, rahang Arga langsung mengeras.
Dengan kondisi tubuh seperti ini...
Mana mungkin masih ada orang yang bilang Yunita berselingkuh secara sukarela?
Mana mungkin korban separah ini disebut sengaja menggoda pelaku?
Indah segera merekam seluruh hasil pemeriksaan dokter beserta dokumentasi luka-luka Yunita.
Di sudut ruangan, Dinda berdiri sendirian.
Tubuh kecilnya tampak begitu rapuh dan tidak berdaya.
Tiba-tiba gadis kecil itu menarik ujung baju Arga pelan-pelan.
Arga menoleh.
Dinda menggerakkan tangannya dengan bahasa isyarat sederhana yang dia tahu.
"Kakak..."
"Ayahku di mana?"
"Aku udah lama nggak ketemu Ayah..."
"Bisa bantu aku cari Ayah?"
Indah yang berdiri di samping langsung menerjemahkan arti gerakan tangan itu.
Mendengar ucapan polos anak kecil tersebut, dada Arga terasa sesak.
Marah.
Sedih.
Dan juga iba.
Sementara dokter masih menangani luka-luka Yunita, Arga duduk sendirian di kursi koridor rumah sakit.
Dia memejamkan mata perlahan.
Lalu di dalam benaknya, dia memberi perintah dingin.
"Aktifkan kemampuan sistem..."
"Mata Penglihatan Tajam."
Arga ingin melihat semuanya dengan jelas.
Dia ingin mengetahui kebenaran mutlak dari kasus ini.
Apa yang sebenarnya terjadi...
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭