NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK YANG TERSISA DAN PERANGKAP YANG TERBUKA

Berita itu seolah memadamkan sejenak rasa tenang yang baru saja mereka rasakan. Tapi kali ini, tidak ada lagi rasa kaget atau takut yang berlebihan. Mereka sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang tidak terduga, dan kini mereka sudah menjadi orang yang lebih siap dan teguh dalam menghadapi apa pun yang datang.

Segera setelah itu, Raka memerintahkan orang-orangnya untuk memeriksa segala sesuatu dengan lebih teliti lagi. Mereka mengumpulkan semua informasi yang bisa didapatkan, menelusuri jejak-jejak yang ada, dan mencoba mencari tahu di mana kelompok orang yang tersisa itu bersembunyi serta apa rencana sebenarnya mereka.

Hari-hari berikutnya dihabiskan dengan kerja keras dan kewaspadaan yang tinggi. Semua jalan masuk dan keluar dari tempat tinggal mereka dijaga ketat, setiap orang yang datang dan pergi diperiksa dengan cermat, dan komunikasi serta segala hal yang berhubungan dengan mereka dipantau terus-menerus. Tidak ada lagi yang dianggap sepele, tidak ada yang dibiarkan tanpa diperhatikan.

Setelah berusaha beberapa waktu, akhirnya mereka mendapatkan gambaran yang cukup jelas. Kelompok ini dipimpin oleh seseorang yang dulunya adalah tangan kanan dari orang-orang yang sudah ditangkap itu. Namanya Darius, orang yang dikenal sangat setia dan juga sangat kejam. Selama ini ia bersembunyi di tempat yang jauh dan sulit dijangkau, sambil mengumpulkan orang-orang yang sehaluan dengannya serta menyusun rencana pembalasan.

“Darius bukan orang yang sembarangan,” seru Raka saat mereka berkumpul untuk membahas semuanya.

“Ia sudah bersama mereka sejak lama, ia tahu banyak hal, dan ia juga memiliki kemampuan serta pengalaman yang tidak bisa diremehkan. Kalau ia sudah berani bergerak, itu artinya ia sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang, dan ia punya rencana yang tidak akan mudah digagalkan.” lanjutnya

“Lalu apa yang sebenarnya ia inginkan?” tanya Gubernur William.

“Apakah hanya ingin membalas dendam, atau ada hal lain yang lebih dari itu?”

“Kedua-duanya,” jawab salah satu orang yang telah memeriksa informasi.

“Selain ingin membalas apa yang menimpa orang-orang yang ia junjung, ia juga berniat mengambil alih semua kekuasaan dan harta yang sebelumnya dikuasai oleh mereka. Ia menganggap bahwa semua itu seharusnya menjadi miliknya, dan ia bertekad untuk mendapatkannya dengan cara apa pun.”

“Jadi ia tidak hanya mengancam keselamatan kita, tapi juga akan kembali melakukan hal-hal yang merugikan dan merusak banyak orang,” tambah Raka dengan nada yang serius.

“Kalau ia dibiarkan, maka segala hal yang sudah kita bangun dan perbaiki selama ini akan hancur kembali, dan kegelapan serta ketidakadilan akan kembali berkuasa.”

“Maka kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi,” celetuk Alana yang juga ikut serta dalam pembahasan.

“Kita sudah berjuang begitu keras, sudah mengorbankan begitu banyak hal, dan kita tidak akan membiarkan semua itu sia-sia begitu saja. Kita harus menghentikannya, sebelum ia sempat melakukan apa pun yang ia rencanakan.” lanjut Alana tegas.

Semua orang setuju dengan perkataan itu. Tapi mereka juga tahu, ini bukan hal yang mudah. Darius dan orang-orangnya sudah bersembunyi selama ini, mereka sudah mempelajari kebiasaan dan kelemahan mereka, dan mereka pasti sudah membuat rencana yang rumit serta berbahaya.

Beberapa hari kemudian, mereka mendapatkan kabar yang lebih spesifik. Darius telah mengirimkan pesan secara rahasia. Isinya menyatakan bahwa ia ingin bertemu langsung dengan Raka dan Gubernur William, di sebuah tempat yang agak terpencil dan jarang dikunjungi orang. Ia menyatakan bahwa ia ingin menyelesaikan segala hal dengan cara damai, dan ia juga memiliki informasi penting yang ingin disampaikan.

“Jelas ini hanya tipu muslihat,” seru Gubernur William segera setelah membaca pesan itu.

“Ia tidak mungkin tiba-tiba berniat berdamai. Ini pasti jebakan, ia ingin memancing kita datang ke sana supaya ia bisa melakukan apa yang ia inginkan dengan lebih mudah.”

“Aku juga berpikir begitu,” sahut Raka.

“Tapi di sisi lain, ini juga kesempatan yang baik. Kalau kita bisa menyusun rencana dengan baik, kita bisa datang ke sana dan menangkap mereka sekaligus, sehingga semuanya selesai dalam satu waktu saja.”

“Tapi itu sangat berbahaya,” sahut Alana, nadanya penuh kekhawatiran.

“Kau bilang sendiri ia orang yang cerdik dan sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau kita datang ke tempat yang ia tentukan, kita akan berada di wilayah yang ia kuasai, dan kita akan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan sama sekali.”

“Aku tahu itu,” jawab Raka, lalu menatap gadis itu dengan pandangan yang lembut.

“Tapi ini satu-satunya kesempatan yang kita miliki. Kalau kita menolak untuk datang, ia hanya akan bersembunyi kembali dan menunggu kesempatan lain yang lebih baik lagi, dan kita akan terus hidup dalam kekhawatiran dan ketidakpastian. Kita harus menyelesaikan ini sekarang juga, supaya kita benar-benar bisa hidup dengan tenang dan damai di masa depan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi. “Dan jangan khawatir, aku tidak akan bertindak sembarangan. Kita akan menyusun rencana yang matang, kita akan memperhitungkan segala kemungkinan, dan kita akan melakukannya dengan hati-hati. Aku berjanji, aku akan kembali dengan selamat, dan tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada kita.”

Alana menatapnya lama, ia tahu betul betapa teguhnya pendirian orang yang dicintainya ini. Ia juga tahu bahwa apa yang dikatakannya itu benar. Akhirnya ia mengangguk perlahan, meski rasa khawatir di dalam hatinya tidak pernah hilang sama sekali.

“Baiklah,” ujar akhirnya.

“Tapi ingat janjimu ya. Kau harus kembali dengan selamat. Aku tidak akan bisa hidup kalau ada apa-apa denganmu.”

“Aku ingat, dan aku akan menepatinya,” jawab Raka dengan tegas.

Segera setelah itu, mereka mulai menyusun rencana secara rinci. Mereka tahu bahwa tempat yang ditentukan itu pasti sudah diawasi dan disiapkan untuk menyerang, maka mereka membuat langkah-langkah yang tidak terduga. Sebagian orang akan terlihat datang secara terang-terangan, seolah-olah hanya mereka berdua dan beberapa orang pengawal saja yang datang, sementara sebagian lagi akan bersembunyi di tempat-tempat yang strategis, siap bertindak kapan saja diperlukan.

Hari yang ditentukan pun tiba. Langit hari itu mendung tebal, angin berhembus cukup kencang, dan suasana terasa suram serta mencekam. Tempat yang ditentukan adalah sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak terpakai, terletak di pinggiran kota, jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk. Tempat itu sangat cocok untuk melakukan hal-hal yang tersembunyi dan berbahaya.

Sesampainya di sana, mereka berhenti di depan bangunan itu. Bangunan itu terlihat rusak dan tidak terawat, banyak bagian dinding yang sudah retak atau runtuh, dan rerumputan serta tanaman liar tumbuh di mana-mana. Suasana di sekitarnya sunyi senyap, tidak ada suara apa pun yang terdengar, hanya suara angin yang berhembus dan menimbulkan bunyi yang membuat bulu kuduk merinding.

Raka dan Gubernur William masuk lebih dulu, diikuti oleh beberapa orang yang tampak sebagai pengawal, sementara yang lain bersembunyi di tempat yang sudah disiapkan sebelumnya. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam, mereka melihat ada seseorang yang sudah menunggu di ruangan yang agak luas di bagian tengah bangunan itu.

Orang itu berdiri membelakangi mereka, dan saat ia menoleh, mereka melihat wajah yang keras dan penuh kebencian. Itulah Darius. Di belakangnya juga ada beberapa orang yang berdiri tegak, membawa senjata dan menatap mereka dengan pandangan yang tajam dan tidak bersahabat.

“Selamat datang,” sambut Darius dengan suara yang kasar dan terdengar mengejek.

“Aku senang kalian berani datang ke sini. Aku kira kalian sudah menjadi pengecut setelah apa yang terjadi sebelumnya.”

“Kami datang bukan karena kami takut atau karena kami percaya pada omonganmu,” jawab Raka dengan suara yang tenang dan tegas.

“Kami datang karena kami ingin menyelesaikan semuanya, supaya tidak ada lagi gangguan dan bahaya yang mengintip orang-orang yang tidak bersalah.”

Darius tertawa keras, suaranya menggema di seluruh ruangan. “Menyelesaikan semuanya? Kalian yang telah merusak segalanya! Kalian yang telah menghancurkan segala sesuatu yang telah kami bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun! Dan kalian berani-beraninya berbicara seolah-olah kalian orang yang benar dan suci?!”

“Kalianlah yang melakukan hal-hal yang salah dan kejam,” sahut Gubernur William.

“Kalianlah yang telah menindas, menipu, dan merugikan banyak orang hanya demi keuntungan diri sendiri. Apa yang terjadi pada kalian itu adalah akibat dari perbuatan kalian sendiri, bukan karena ulah kami.” lanjut Gubenur Wiliam menggertak.

“Diam saja! Kalau bukan karena kalian, semuanya akan tetap berjalan seperti semula, dan kami akan terus hidup dengan makmur dan berkuasa!” bentak Darius, dan senyumnya berubah menjadi tatapan yang sangat kejam.

“Tapi tidak apa-apa, karena kalian sudah datang ke sini, dan hari ini semuanya akan berakhir. Kalian akan membayar atas apa yang telah kalian lakukan, dan aku akan mengambil alih segala sesuatu yang seharusnya menjadi milikku!”

Ia memberi isyarat, dan seketika itu juga dari berbagai sudut ruangan muncul banyak orang lainnya, jumlahnya jauh lebih banyak dari yang mereka duga. Semuanya mengarahkan senjata mereka ke arah Raka dan orang-orang yang bersamanya. Ternyata, tempat ini benar-benar sudah disiapkan dengan baik sebagai perangkap. Mereka sudah terjebak.

“Kalian pikir kalian bisa menipu aku, dengan menyembunyikan orang-orang kalian di luar sana?” seru Darius sambil tersenyum sinis.

“Aku sudah tahu rencana kalian sejak awal. Orang-orang yang kalian sembunyikan itu sudah dihadang dan tidak akan bisa datang membantu kalian. Kalian sendirian saja di sini, dan tidak ada jalan untuk keluar lagi.”

Mendengar itu, hati Raka dan yang lainnya menjadi tegang. Rencana mereka ternyata sudah diketahui, dan mereka benar-benar terperangkap dalam situasi yang sangat berbahaya. Tapi mereka tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Mereka tetap berdiri tegak, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

“Kau menangkap kami, tapi kau tidak akan bisa menangkap kebenaran dan keadilan,” ucap Raka dengan suara yang tetap tenang.

“Bahkan kalau kau membunuh kami hari ini, rahasia dan kejahatan yang telah kalian lakukan itu sudah terungkap, dan orang-orang sudah tahu siapa kalian sebenarnya. Kalau kau melakukan hal yang lebih buruk lagi, itu hanya akan membuat kebencian orang-orang makin bertambah, dan nasibmu nanti akan jauh lebih buruk dari apa yang menimpa orang-orang yang kau junjung itu.” lanjut Raka tersenyum smirk.

“Omong kosong! Selama aku masih berkuasa, aku yang menentukan apa yang benar dan apa yang salah!” bentak Darius.

“Dan setelah kalian mati, aku akan menyusun cerita baru, yang membuat aku terlihat sebagai orang yang baik dan kalian sebagai penjahat yang pantas mendapatkan nasib seperti ini. Orang-orang akan percaya padaku, dan aku akan berkuasa selamanya!”

Ia lalu mengangkat tangannya, bersiap memberi perintah untuk menyerang. “Cukup sudah omongan! Habisi mereka semuanya!”

Tapi tepat saat ia hendak menurunkan tangannya, tiba-tiba terdengar suara letusan dari arah pintu masuk, dan seketika itu juga banyak orang masuk dan mengepung ruangan itu dari segala arah. Ternyata, orang-orang yang disangka sudah dihadang itu justru berhasil mengatasi rintangan dan datang tepat pada waktunya. Mereka datang dengan jumlah yang banyak, dan kini posisi mereka yang terbalik. Darius dan orang-orangnya lah yang kini terjebak dan tidak punya jalan untuk lari.

Wajah Darius seketika berubah menjadi pucat dan penuh keterkejutan. Ia tidak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi, bagaimana rencananya yang ia anggap sempurna itu bisa gagal begitu saja.

“Kau kira hanya kau yang bisa menyusun rencana dan mengantisipasi segala kemungkinan?” tanya Raka sambil melangkah maju.

“Kami juga sudah mempersiapkan segalanya, dan kami juga sudah memperhitungkan bahwa kau pasti akan mengetahui rencana kami yang pertama. Itu hanya untuk membuatmu merasa percaya diri dan lengah, supaya kau menunjukkan dirimu dan semua orang yang bersamamu. Dan sekarang, semuanya sudah berakhir untukmu.”

Menyadari bahwa ia sudah benar-benar terdesak dan tidak ada jalan keluar lagi, Darius yang sudah tidak punya apa-apa lagi, berubah menjadi orang yang sudah tidak waras. Ia mengeluarkan senjatanya dan hendak menyerang Raka dengan sekuat tenaga, dengan niat untuk membawa Raka mati bersamanya.

“Kalau aku harus mati, kau juga harus ikut mati bersamaku!” teriaknya dengan suara yang parau dan penuh amarah.

Ia berlari secepat kilat ke arah Raka, dan dalam sekejap saja ia sudah berada di hadapan orang itu, lalu menyerang dengan sekuat tenaga. Pertarungan pun terjadi di antara mereka. Keduanya sama-sama memiliki kekuatan dan kemampuan yang hebat, sama-sama berjuang dengan sekuat tenaga, tidak ada yang mau mengalah dan tidak ada yang mau mundur.

Darius bergerak dengan amarah dan rasa dendam yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun, membuat serangannya menjadi sangat kuat dan berbahaya. Sedangkan Raka berjuang demi keselamatan orang-orang yang dicintainya, demi masa depan yang sudah ia bangun dengan susah payah, membuatnya memiliki kekuatan yang tak terduga.

Pertarungan itu berlangsung dengan sangat sengit dan menegangkan. Seluruh orang yang ada di sana hanya bisa menonton dengan napas tertahan, tidak berani bergerak atau bersuara sedikit pun. Suara benturan dan teriakan terdengar terus-menerus, dan keduanya sama-sama mendapatkan luka dan kesakitan.

Hingga akhirnya, setelah berjuang cukup lama, Darius mulai kehabisan tenaga. Serangannya makin melemah, dan gerakannya makin lambat. Dan saat ada kesempatan yang muncul, Raka berhasil melakukan serangan yang tepat, sehingga Darius terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Ia sudah berhasil dikalahkan.

Orang-orang yang ada di sekitar segera bergerak dan mengikat tangan dan kakinya, sehingga ia tidak bisa bergerak lagi. Ia masih berusaha memberontak dan berteriak-teriak, tapi usahanya itu tidak ada gunanya sama sekali. Kini ia sudah tertangkap dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Semuanya akhirnya menjadi tenang kembali. Raka berdiri di tempatnya, napasnya terengah-engah dan tubuhnya penuh dengan luka serta memar, tapi ia tetap berdiri tegak dan kuat. Ia menatap orang yang kini sudah tidak berdaya di hadapannya itu dengan pandangan yang tenang dan penuh kekecewaan.

“Segalanya sudah berakhir untukmu,” serunya.

“Kau memilih jalan yang salah, dan inilah akibatnya. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain, bahwa kejahatan dan keserakahan tidak akan pernah membawa kebahagiaan dan kemenangan selamanya.”

Setelah itu, mereka meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat tinggal mereka. Selama di perjalanan, Raka terus memikirkan segala hal yang telah terjadi. Ia merasa lega, karena akhirnya orang-orang yang tersisa itu juga sudah berhasil ditangkap, dan tidak ada lagi yang akan mengancam keselamatan mereka.

Sesampainya di sana, Alana yang sudah menunggu dengan hati yang cemas, langsung berlari mendekat. Ia melihat luka-luka yang ada di tubuh Raka, dan matanya kembali berkaca-kaca.

“Kau terluka lagi...” human Alana dengan suara yang sedih.

Raka tersenyum dan memegang tangan gadis itu dengan lembut. “Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil saja, dan akan segera sembuh kembali. Yang terpenting, semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi bahaya, tidak ada lagi ancaman. Kita benar-benar sudah bebas sekarang.”

Alana menatapnya lama, lalu tersenyum sambil menangis bahagia. “Ya... kita sudah bebas... akhirnya kita benar-benar bebas...”

Tapi meski demikian, mereka sama-sama tahu bahwa hidup tidak akan pernah benar-benar bebas dari masalah dan kesulitan. Akan selalu ada hal-hal baru yang akan datang, tantangan-tantangan baru yang harus dihadapi. Tapi kali ini, mereka sudah tidak takut lagi. Mereka sudah memiliki kekuatan, keberanian, dan satu sama lain, yang akan selalu menjadi pegangan mereka dalam menghadapi apa pun yang akan datang di masa depan.

Perjalanan mereka memang sudah melewati banyak hal, banyak kesulitan dan bahaya yang hampir merenggut segalanya. Tapi dari semua itu, mereka juga mendapatkan hal-hal yang membuat hubungan kedua semaki erat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!