NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Solomon dengan sengaja menyebar kabar kematian Morvak yang terjadi sebelum waktu pengeksekusian karena bersiteru dengan salah seorang tahanan. Tidak membeberkan siapa lawan Morvak, pihak tertentu yang mendapat kabar tersebut merasa perlu mencari tahu, tapi usaha mereka tidak membuahkan hasil sama sekali karena sekarang Solomon telah menggunakan hak istimewa yang diberikan Kaisar untuk memimpin Dakrossa.

Semua akses menuju Dakrossa diperketat. Para pengunjung serta keluar masuknya surat akan langsung melewati orang-orang kepercayaan Solomon terlebih dahulu. Sekumpulan penjaga elit yang telah terlatih dan biasanya mereka bertugas di lantai sepuluh dan sebelas, tapi sekarang dibagi menjadi beberapa tim, disebar di seluruh lantai. Namun, yang paling membuat para penjaga elit tidak habis pikir adalah perubahan aturan pada lantai sepuluh, di mana para tahanan berbahaya berada.

Para musuh yang telah mengintai sejak lama mulai resah dan Solomon terlihat begitu senang sembari menikmati cerutu yang terjepit di antara celah bibir yang hitam. Lantas, sebelah matanya bergulir, menatap Heidan yang senantias berdiri untuk menerima perintah sederhana.

"Bagaimana kondisi anak itu?" tanya Solomon.

"Seharusnya dia sudah sedikit lebih baik ketimbang kemarin," jawab Heidan dengan sedikit ringisan, mengingat seperti apa kondisi Ilyar saat dirawat oleh Menthia.

Padahal saat pertarungan usai, penampilannya tidak terlihat buruk, namun ternyata Ilyar mengalami luka dalam cukup parah. Hampir seluruh tubuhnya diperban dan Menthia harus terjaga sampai sehari semalam demi memastikan gadis tersebut melewati masa kritis.

Morvak bukankah lawan biasa, dia seorang pembunuh berantai yang seharusnya berada di lantai sepuluh, di mana para narapidana paling dicari dan berbahaya berada. Membayangkan gadis berusia 18 tahun yang bahkan belum punya banyak pengalaman bisa meninggalkan setitik luka pada Morvak saja sudah sangat luar biasa, apalagi sampai membunuhnya? Jujur saja, itu tidak masuk akal, tapi setelah melihat kondisi tangan kanan Ilyar yang nyaris membusuk sebelum dinetralisir secara mandiri, Menthia mulai menerima kenyataan.

Berkat bisa Serpeis, tubuh Ilyar bukan lagi seperti manusia pada umumnya. Dia jadi kebal terhadap racun, setidaknya yang setingkat bisa Serpeis, jika ada racun lebih kuat masuk ke dalam tubuhnya, dia perlu bekerja lebih keras lagi.

"Tidak kusangka aku akhirnya membunuh seseorang."

Menthia menoleh cepat ke arah ranjang kayu dan meninggalkan meja di mana sebelumnya sibuk menggerus obat.

"Bagaimana perasaanmu?" Menthia memandangi Ilyar yang baru saja bangun setelah dua hari tidak sadarkan diri.

"Seperti membeku," jawabnya lemah. Sorot matanya terlihat amat sayu dan letih, tapi sudut bibirnya terangkat dan menciptakan senyum tipis.

Mata Menthia membeliak seperkian detik sebelum tawanya lepas begitu renyah. "Mati rasa, ya."

Ilyar mengangguk pelan seraya mengembuskan napas, sementara Menthia menarik kursi untuk duduk lebih dekat pada tepi ranjang.

"Untuk saat ini fokus saja memulihkan diri." Menthia memeriksa kondisi tubuh Ilyar.

"Demi melindungi Tyraven dan keluarganya... ayah pasti berperang sepanjang waktu."

Pergerakan jari Menthia terhenti, lantas dia memandangi Ilyar yang menunjukkan ekspresi tidak terbaca, entah apa yang dipikirkan gadis itu saat mengatakannya.

"Ayah begitu mencintai ibu. Pada waktu tertentu, aku seringkali melihatnya termenung sambil menggenggam cincin pernikahan yang sebelumnya dikenakan ibu. Maka dari itu, aku selalu mencoba untuk menghiburnya, setidaknya disela-sela waktu luangnya, aku ingin ayah menjadikanku tempat ternyamannya. Namun, aku tidak tahu bahwa di luar itu aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya sehingga pada akhirnya aku jadi kelemahan terbesarnya. Menyeretnya dalam bahaya."

"Kemudian aku berpikir... diriku yang sekarang tidak layak. Atas dasar apa aku berpikir bisa menggantikan ayah dan memimpin Tyraven di saat melindungi diri sendiri saja tidak bisa?" Ilyar menurunkan pandang, menatap Menthia yang juga memandangnya serius.

"Maka dari itu, aku tidak boleh berbangga diri dengan ini. Aku harus terus merangkak sampai bisa berdiri tegap di sisi ayahku."

Sepasang mata Menthia terbelalak seiring punggung bergelenyar melihat bagaimana Ilyar mengatakan itu diakhir senyum, tapi tekad yang terpancar sampai membuatnya bergidik. Dia tidak tahu apa yang akan Ilyar lakukan ke depannya, tapi sekarang yang harus dia lakukan adalah merawat gadis itu hingga pulih sepenuhnya.

"Untuk itu kamu harus sembuh dulu," ucap Menthia sembari menekan perut Ilyar hingga ringisan tertahan mengusir ketegangan barusan.

Menthia tertawa pelan dan Ilyar jadi agak malu.

Dia pasti terlihat seperti berbicara omong kosong dalam kondisi terluka parah seperti ini.

Sedangkan itu di waktu yang sama, Theron berlari di sepanjang koridor menuju ruang santai ibunya, mengabaikan tatapan bertanya-tanya penghuni yang dilewati.

Sebuah surat kabar segera diletakkan cukup kasar di atas meja, tepat di depan Ravena yang duduk di sofa dengan gaya angkuh, tapi raut wajahnya sangat buruk, seolah hari yang cerah terbungkus duka.

"Morvak tewas!" Theron berkata dengan raut wajah tidak percaya, sementara Ravena telah merentangkan kipas untuk menutupi separuh wajah, terutama bibir bergincu tebal yang mencebik sangat jengkel.

Padahal dia berharap dalam waktu dekat ini kabar kematian Ilyar-lah yang membungkus suasana Tyraven. Sangat tidak terduga jika Morvak justru tewas, tapi siapa pelakunya?

"Permaisuri."

Perhatian Ravena berpaling cepat ke ambang pintu. Kepala dayangnya datang sambil memegang sebuah surat di depan perut, stempel lilin pada penutupnya membuat Ravena mengembuskan napas berat, itu berasal dari kekaisaran.

"Kembalilah. Jangan menambah masalah ibu.

Lebih baik kamu fokus pada latihanmu. Tunjukkan bahwa hanya kamu yang layak menjadi penerus berikutnya!" Ravena merapatkan kipas sembari mengangkat tangan kanan agar si kepala dayang mendekat dan memberikan surat tersebut.

***

Sepekan kemudian setelah kematian Morvak.

"Apa?!"

Adrene, Rubia, dan Valeris serentak berseru ketika Heidan datang untuk mengambil barang-barang Ilyar dan memberitahu bahwa mulai hari ini Ilyar tidak akan lagi menjadi teman sekamar mereka. Gadis tersebut dipindahkan ke lantai sepuluh setelah berhasil membunuh Morvak. Ilyar sudah tidak bisa dianggap sebagai penjahat kelas tinggi lagi sehingga naik tingkatan sebagai tahanan.

"Tidak bisakah kami berpamitan dengannya dulu?" Mata Rubia agak berkaca-kaca.

Heidan menggeleng tak enak karena itu di luar kuasanya. Sebelumnya pun Ilyar memohon pada Solomon untuk menemui tiga orang ini, tapi dengan tegas kepala sipir tersebut menolak permohonan Ilyar. Alasannya agar tidak menarik perhatian berlebih, bagaimana pun dia belum melakukan pembersihan secara menyeluruh sehingga masih banyak mata-mata para musuh.

"Kalian masih bisa bertemu dengannya, tapi tidak sekarang," kata Heidan.

Ketiganya mengembuskan napas, tapi setidaknya mereka tahu jika Ilyar berhasil membunuh Morvak dan dalam kondisi baik-baik saja. Itu sudah cukup bagi mereka.

"Katakan padanya bahwa kami bangga dan menunggunya untuk pertemuan berikutnya." Adrene menitipkan pesan.

Heidan mengangguk. "Akan kusampaikan."

Sementara di lain sisi. Keheningan menyelimuti koridor panjang pada lantai sepuluh. Nyala api pada obor yang tersemat di dinding dan saling berjarak tampak melambai lembut sangking sunyinya di sana. Angin bahkan terlihat takut memenuhi ruang hampa di sana.

Deg... deg... deg

Jantung Ilyar berdegup tidak karuan setiak kali kaki membuat langkah baru melewati satu persatu ruang tahanan berpintu besi. Dari lubang tray slot, hawa dingin menyerbu dan seperti menusuknya. Itu hanya penjabaran dari apa yang Ilyar rasakan ketika melewati ruang-ruang berlintu besi yang dihuni oleh penjahat kelas kakap sesungguhnya dan dia akan jadi penghuni baru di lantai tersebut.

"Masuklah."

Sipir yang membimbing Ilyar segera membuka salah satu pintu ruangan lalu menyuruh gadis itu masuk. Tidak ada alas dan sebagainya, benar-benar kosong. Kemudian, sekarang kedua tangan Ilyar dijerat borgol penekan kekuatan.

"Anda sungguh tidak beruntung," kata si Sipir.

Ilyar yang sepenuhnya sudah masuk dalam ruangan langsung menoleh cepat pada sipir dengan raut wajah penuh tanda tanya.

"Sebelumnya lantai sepuluh punya peraturan yang ketat, tapi dua hari lalu semua peraturan itu dicabut oleh Pemimpin kami," jelasnya.

Pemimpin? Berarti itu Solomon? Ilyar membatin sambil berusaha menangkap maksud perkataan si sipir. "Pergantian peraturan?" terka Ilyar.

"Anda akan mengetahuinya besok," kata sipir itu sembari pergi setelah mengunci pintu ruang tahanan Ilyar.

1
Mila Sari
Thor upnya yg banyak donk,,
Iry: malam ya beb
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Diam...mengamati...berakhir EKSEKUSI😐😐😐
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya tambah seru aja thor..
Iry: hehehe iya beb
total 1 replies
Firniawati
ayo kak up lagi yg banyak 😍
Iry: sabar yahhhh, mungkin malam
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
intrik..ambisius & haus akan valisldasi disebuah kerajaan..memang sangat membagongkan..baik didunia nyata maupun cerita❤️❤️❤️❤️
Gesang
seruuuuu👍👍👍
Firniawati
sangat bagus ceritanya seru tidak monoton dan membosanka,,terus semangat ya kk othor 🥰
Iry: waaaahhh makasih banyak❤
total 1 replies
Firniawati
kak kapan update lagi?
Iry: aku update hari ini
total 1 replies
EL MARIA
kok sama kaya yg di fizo yaa.... yg di fizo udh tamat dari lama ini autor nya sama kah
CaH KangKung,
👣👣
𝐀⃝🥀Weny
lanjut lagi thor.. ceritamu yang ini tambah seru dan penuh tantangan😊
𝐀⃝🥀Weny: yeeey.. thanks thor❤️❤️❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!