NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih

Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Tamat
Popularitas:103.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.

"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.

Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....

"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."

Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"

Ikuti Auhto di

FB " Tupar Nasir
WA 089520229628

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Hukuman

     "Lho, kalian sudah pulang? Baru kemarin malam berangkat?" Bu Cladi heran melihat anak menantunya sudah pulang dari bulan madu.

     Di belakangnya Pak Karan ikut heran. "Ada apa Kaf, kalian baik-baik saja, kan?"

     "Anata, Pa. Dia kegulung ombak." Kafeela menjawab dengan perasaan sangat bersalah.

     "Ya ampun, kamu ini. Kenapa nggak jagain?" Pak Karan sangat khawatir dengan menantunya yang mendapat kecelakaan.

     Anata kekuar dari mobil, tangan kirinya dipapah Kafeela.

     "Ya ampun, mantu Mama, kamu kenapa, Nak?" Bu Cladi berlari kecil menghampiri, perasaannya begitu risau, matanya mulai sembab karena dorongan bening sudah memenuhi pelupuk mata.

     "Gendong saja Kaf, kakinya kesakitan," titah Bu Cladi.

     Kafeela tidak membantah, ia segera meraih bahu dan pinggang Anata lalu dibawa ke dalam di didudukan di sofa.

     Bu Cladi dan Pak Karan menghampiri. Mereka benar-benar khawatir melihat keadaan Anata.

     "Segera obati, Kaf. Mama takut kenapa-kenapa," risau Bu Cladi.

     "Itu sudah diobati, Ma. Sekarang Anata harus segera dibawa ke kamar untuk istirahat."

     "Ya sudah, bawalah dia ke kamar dan istirahat."

     Belum sempat Kafeela mengangkat tubuh Anata, tiba-tiba Bu Sofia dan Pak Said datang. Wajah mereka sama-sama terlihat sangat khawatir.

     "Assalamualaikum. Aduh besan, ada apa dengan anak-anak kita ini? Pergi bulan madu kok pulang lagi. Belum juga sehari." Bu Sofia tergesa menghampiri sang putri dan Kafeela yang duduk bersebelahan di sofa.

     "Waalaikumsalam."

     "Seperti yang kamu lihat Sofia, putrimu kena musibah kegulung ombak. Untung saja Kafeela cepat menolong, kalau nggak, ahh...aku nggak bisa bayangkan, mantuku bakal seperti apa," ucap Bu Cladi menggidik-gidikan pundaknya ngeri.

     "Alhamdulillah Nat, kamu selamat. Untung Nak Kafee segera datang dan menyelamatkanmu." Bu Sofia bersyukur karena Anata selamat dari marabahaya.

     Setelah itu Anata dibawa ke kamarnya oleh Kafeela karena harus istirahat.

     Sementara kedua orang tua Kafeela dan Anata, tidak segera pulang. Mereka akhirnya menyibukkan diri masing-masing di rumah Kafeela. Memasak yang enak untuk anak dan mantunya.

     "Sepertinya mereka belum melakukannya. Ah, tertunda lagi dong kita punya cucu," sesal Bu Cladi sembari mengaduk sayur asem yang dimasaknya.

     "Iya juga sih. Tapi, kalau Anata sedang kurang fit, mau gimana lagi. Semoga saja mereka segera melakukannya, agar kita bisa segera jadi nenek. Hahaha...." Mereka tertawa bersama dengan bahagia.

     Sementara di kamar, Kafeela perlahan membaringkan tubuh Anata di atas ranjang. Bukan hanya tubuh Anata yang terbaring, tubuh Kafeela ikut merunduk karena membaringkan istrinya.

     Kedekatan wajah keduanya sudah tidak terelakkan lagi. Posisi yang sangat dekat dan intim. Terlebih tangan Anata terbaring begitu saja ke samping kiri dan kanan seakan pasrah.

     Mata keduanya saling menatap dalam. Cinta itu datang menyergap seketika. Sehingga tanpa mereka sadari kedua bibir itu sudah saling bertemu dan mengecup tanpa penolakan.

     Kafeela mulai beraksi, sepertinya ini waktu yang tepat untuk menyatukan cinta mereka. Posisi Kafeela pun sudah berada tepat di atas Anata. Anata sama sekali tidak berontak, ia hanya menatap wajah Kafeela tanpa melepas.

     "Awwww...aduhhhh...sakit...."

     Kafeela tersentak. Ketika dia anteng dan hampir mulus membuka segitiga bermuda milik Anata, tiba-tiba Anata menjerit kesakitan.

     Kafeela yang sudah setengah polos, terkejut dan terpaksa mengangkat tubuhnya dari tubuh Anata.

     "Kenapa Sayang?"

     "Luka aku, sakittt...." ringisnya seraya meraih segitiga bermudanya yang sudah terlanjur melorot oleh tarikan kaki Kafeela.

     Anata segera menutupi tubuhnya dengan selimut, ia merasa malu karena tanpa ia sadari tubuhnya sudah hampir setengah polos.

     Kini mereka sudah sama-sama memakai kembali bajunya lengkap.

     Sementara di luar kamar, Bu Cladi dan Bu Sofia yang rencananya ingin mengantar minuman jahe hangat untuk Anata dan Kafeela, mendadak terkejut senang, ketika di dalam kamar Kafeela terdengar suara Anata yang mengaduh kesakitan.

     Keduanya segera menjauh dari pintu kamar.

     "Aduh Jeng, sepertinya mereka sedang melakukan malam pertama sekarang. Dan anakku Anata tadi sangat kesakitan," seru Bu Sofia gembira.

     "Iya Sofia, aku juga dengar. Aku yakin mereka saat ini sedang memperdalam hubungannya. Ya sudah, sebaiknya minuman ini kita berikan nanti saja setelah mereka bermain.

     "Iya, Jeng. Sebaiknya nanti saja kita berikan. Semoga saja hasil dari hubungan mereka segera menghasilkan cucu," balas Bu Sofia penuh harap.

     "Betul Sofia. Kalau Anata segera hamil, maka aku akan punya cucu ketiga."

     "Jeng Cladi masih mending, sementara aku baru mau jadi nenek."

     Mereka tertawa bahagia membayangkan Kafeela dan Anata bermain pedang mencari sarangnya.

     "Ini pertama kali, pasti tenaga mereka sangat fit dan akan lama," imbuh Bu Cladi masih membahas Anata dan Kafeela di kamar.

     "Iya, Jeng. Pasti." Bu Sofia mengangguk setuju.

     "Ayo, kita tinggalkan saja mereka. Biarkan mereka main dua ronde agar segera tumbuh janin."

     Bu Sofia dan Bu Cladi bergegas menuju lantai bawah dengan hati senang. Mereka pikir Anata dan Kafeela sedang melakukan malam pertama di siang bolong seperti ini.

     Sedangkan di dalam kamar, meskipun Kafeela merasa kecewa karena gagal malam pertama, ia segera menghampiri Anata yang sudah memakai baju kembali.

     "Maaf, lukanya tadi terkena gesekan celana," ucap Kafeela seraya bermaksud mengobati luka baret di betis Anata.

     Anata memerah, ia malu plus marah. Salahnya juga sih, kenapa tiba-tiba terlena oleh pria yang begitu dibencinya, sampai Kafeela hampir saja berhasil menggagahinya.

     "Lukanya biar Abang kasih plester ya, biar tertutup. Ini sebetulnya akan cepat kering kalau dibiarkan terbuka."

     "Nggak usah," tolak Anata seraya menjauh dengan kaki sedikit pincang.

     "Mulai sekarang, Abang tidak mau mendengar kamu memanggil Abang dengan sebutan kamu. Itu tidak pantas dan kasar," ucap Kafeela tiba-tiba.

     "Terserah aku," balas Anata.

     "Nggak boleh terserah. Pokoknya kalau kamu melanggar, maka satu hukuman harus aku berikan untukmu, dan kamu nggak boleh menolak," tegas Kafeela.

     "Kenapa sih maksa amat?" tanyanya bandel.

     "Bukan maksa, tapi kamu lebih pantas manggil suamimu dengan panggilan yang mesra, seperti Abang, Kakak, atau Sayang."

     "Nggak mau, kamu jangan buat aturan yang memaksa."

     Secepat kilat tiba-tiba Kafeela sudah melabuhkan ciuman di bibir Anata.

     Anata sontak terkejut. "Ihhh...apaan sih kamu."

    "Cuppp."

     Kecupan kedua mendarat dengan cepat dan lebih dalam.

     Anata kembali terkejut, matanya melotot tidak percaya.

     "Setiap kamu memanggil Abang dengan sebutan kamu, maka kamu dihukum ciuman. Kalau sampai tiga kali salah, maka ciumannya lebih meningkat." Kafeela mengedip-ngedipkan matanya ke area bawah.

     Jantung Anata berdetak kencang, ia merasa takut kalau hukuman itu terjadi sekarang.

     "Bagaimana?" tanya Kafeela.

     "Baiklah, A~Abang. Aku ikuti kemauan ka...Abang."

     Anata meraba dadanya. Untung saja barusan ia tidak salah sebut. Kalau salah, bisa jadi ia diterkamnya siang ini juga.

     "Tapi, jangan senang dulu. Yang satu itu tidak bisa menolak kalau Abang meminta. Tapi, berhubung kaki kamu saat ini sakit, hari ini kamu aku bebaskan," tekan Kafeela tidak mau kalah.

     Anata mendesah, salah atau tidak memanggil Kafeela, tetap saja suatu saat dirinya harus menyerahkan mahkotanya.

1
@Al**
/Good/
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪
Nick_Hen
keren 👍...trrimakasih tor
Arin
/Heart/
Nasir: Makasih Kak.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nick_Hen
lanjut
Nasir: Mksh Kak..
total 1 replies
nis_ma
semangat thorr 🔥💪
HaRas_DeHas: Mampir juga Kak ke karya saya "Sang Perwira Yang Terkhianati". 🙏🙏
total 2 replies
Nasir
Hai pembaca, ini dua bab terakhir lho. Kasih saran dong untuk nanti ke depannya buat saya, bikin karya yg kayak mana? Prianya dingin, tegas jutek tapi diam-diam perhatian? Atau wanita kuat, atau apa? Coba tulis sarannya ya.
Arin
Si debay sudah terlanjur ada di perut Anata. Coba pelan-pelan terima.... Jangan egois karena belum mau dan belum siap. Masa mau dipending dulu..... apalagi di gugurkan. Ck...
Nasir: Merasa belum siap, seperti disambar petir.
total 1 replies
Arin
Keputusan bagus Komandan. Semoga keputusan sudah tepat..... Tapi jangan sampai biarpun sudah di ganti dengan ajudan lain buat jadi pengawal Jeny, tapi masih gatel berusaha buat tetap mendekati suami orang.
sunaryati jarum
Semoga segera tumbuh hasil cocok tanam kalian
Nasir: Hehehe.... ditungguin...
total 1 replies
sunaryati jarum
Kamu mundur jadi ajudan saja Kafeela,masa tugasnya antar jemput putri Jendral,itu di luar dinas
Arin
Bagaimana tuh kelanjutan si Jin penyebar fitnah??? Tindakan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya???
Arin: Ditunggu Thor.... gak sabar
total 2 replies
Arin
Begitu tuh anak melakukan kesalahan..... katanya sudah kuliah, mahasiswa...... berartikan anak pintar😁Tapi untuk mengakui kesalahan malah lari......
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Arin: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Arin
Memang kurang ajar banget tuh si anak komandan. Halo.... bapak dan ibu komandan terhormat.... anakmu perlu dibimbing dan diarahkan ke hal yang lebih baik. Jangan sampai dengan kejadian video editan AI masih tidak sadar juga dan semakin menjadi.... Mau banget ya anaknya jadi pelakor
Nittha Nethol
lam upnya
Nasir: Iya Kak maaf, kemarin ada gangguan dr sistem NT. Sehingga yg up kemarin justru di up hari ini sama NT.
total 1 replies
Ai Oncom
the best Anata..
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
wih keren nih Anata...
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Taro
semangat terus thor💪
Arin
Pasti bilang ke Kafee kalau istrinya punya kedekatan dengan bapaknya si Jin ini......Bapak Komandan helow..... itu anaknya perlu di perbaiki ahklak nya ya....mau jadi pelakor anak buahmu.... gak malu punya bapak terpandang dijajarannya tapi tingkah anaknya minus... gak banget
Arin
Murahan banget anak dari komandan. Biasanya anak dari seorang militer dididik disiplin. Bukan kayak gini, yang sudah tau ajudan Papanya sudah menikah. Tapi dengan suka rela dia buka paha, gak ada malu-malunya sama sekali ckckck.
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!