Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tinggal dikolong jembatan
“Bu, tolonglah. Anak-anak saya masih kecil. Saya juga sudah mengganti biaya berobat tadi, dan kami juga habis kemalingan, jadi tolonglah kami,” Amira berkata penuh harap.
Sutinah hanya mendengus kesal. Amarahnya belum padam. Dia masih kesal dengan Nanda.
“Oke, aku akan maafkan kalian asalkan wanita itu…” Sutinah menunjuk Nanda, “…minta maaf padaku dan bersujud mencium kakiku.”
Amira menelan ludah. Harga dirinya terasa runtuh, tapi ia melihat Arjuna dan Dewi. Ia tidak punya pilihan.
“Aku saja yang menggantikan ibu untuk bersujud,” Amira akan bersujud.
Belum sempat bersujud, terdengar sebuah pukulan.
“Arghhhh!” teriak Sutinah.
Amira mendongak. Ternyata Nanda sudah memukul Sutinah.
“Kamu menyuruhku bersujud?” ucap Nanda dengan nada tajam. “Mati saja kamu!”
Dan sekali lagi Nanda memukul Sutinah.
“Hentikan, hentikan!” ucap Suminah.
Amira segera menarik Nanda dengan kencang. Ia sudah merendahkan diri sedemikian rupa, tapi ibunya tetap keras kepala.
“Mamah, kita harus bicara baik-baik,” ucap Amira setengah berbisik.
“Tidak ada baik-baik. Mending perang, ya peranglah!” Nanda malah berteriak.
“Dasar kurang ajar!” teriak Suminah. “Pergi kalian sekarang juga!”
Suminah melempar semua baju yang ada di kontrakan.
“Pergi! Pergi kalian!” teriaknya sambil melempar pakaian satu per satu.
“Pergi ya pergilah. Aku enggak sudi dihina kalian!” Nanda berkata lantang sambil memunguti pakaian yang berserakan.
Amira ikut jongkok, memunguti pakaian dengan tangan gemetar. Arjuna membantu dengan diam, sementara Dewi hanya berdiri melihat kejadian itu dengan bingung, matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain.
“Pergi sana kalian, sudah miskin, belagu lagi!”
Nanda berhenti sejenak, menatap tajam ke arah Suminah.
“He, Minah, dengar ya. Aku sudah bayar penuh satu bulan kontrakan ini dan kamu mengusir kami. Dengar kata-kataku, hidup kamu tidak akan pernah bahagia. Suami kamu akan nikah lagi, anak kamu diselingkuhi suaminya!”
“Diam!” teriak Suminah kesal. “Pergi kamu, Nanda! Aku tidak sudi melihat kamu lagi!”
Nanda selesai memunguti pakaian. Ia memasukkan semuanya ke dalam plastik hitam besar, lalu menggendongnya di punggung seperti beban yang sudah biasa ia pikul sejak lama.
“Amira, ayo pergi,” ucapnya keras.
Amira menoleh sekali lagi ke arah kontrakan itu. Cibiran Suminah dan Sutinah masih terdengar, seperti gema yang sengaja ditinggalkan agar terus menyakiti. Kata-kata itu menusuk, bahkan saat jarak mulai menjauh.
Amira membalikkan badan. Nanda dan Dewi sudah melangkah lebih dulu, menyusuri gang sempit tanpa menoleh.
Amira menggenggam tangan Arjuna, lalu melangkah menyusul Nanda.
Pandangannya kosong.
Baru saja ia ingin memulai usaha, mencoba bangkit, menghasilkan uang—sekarang semuanya runtuh. Bahkan tempat berteduh pun tidak ada lagi.
“Kenapa mamah tidak pernah bisa berubah? Kenapa dia masih tinggi hati? Harusnya kita merendah untuk bertahan hidup,” pikir Amira.
Mereka melewati gang sempit. Orang-orang keluar melihat. Ada yang memandang iba, ada yang tersenyum tipis seperti menonton tontonan murah, dan ada yang acuh saja.
Setelah melewati gang kecil, mereka masuk ke gang yang agak besar, lalu keluar ke jalan utama.
Panas matahari membakar bumi. Aspal seperti menguap.
Amira beberapa kali menyeka keringatnya. Arjuna berjalan perlahan di sampingnya. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, tapi ia tetap bertahan.
Mobil hilir mudik tanpa peduli. Dunia tetap berjalan, meski hidup mereka baru saja hancur.
Tiba-tiba cuaca berubah.
Langit yang tadi cerah mendadak gelap.
Hujan turun begitu saja, deras, tanpa aba-aba.
Nanda langsung berlari bersama Dewi ke arah jembatan. Mereka turun dan berteduh di bawahnya. Di bawah jembatan, air sungai mengalir deras, suara gemuruhnya bercampur dengan hujan.
Amira dan Arjuna menyusul.
Nanda duduk bersama Dewi, tampak santai seolah semua ini hal biasa.
Amira memilih duduk agak berjauhan. Hatinya masih panas. Ia belum bisa menerima sikap ibunya.
“Neek, aku lapar,” suara Dewi memecah keheningan.
“Tunggu hujan reda, baru kita cari makan.”
Nanda kemudian mendekat ke Amira.
“Amira, apa kamu masih punya uang? Dewi lapar, mau makan.”
Amira mendongak. Rahangnya mengeras.
“Mamah bisa tidak bertindak lebih bijak? Coba kalau mamah tidak arogan seperti tadi, aku bersedia bersujud menggantikan mamah demi anak-anak. Kenapa mamah malah memukul lagi?” Amira menumpahkan kekesalannya.
“Oh, kamu menyalahkan mamah?” ucap Nanda.
“Ya! Kalau mamah lebih bijak saja, kita tidak akan kehilangan tempat tinggal! Sekarang kita akan tinggal di mana? Uang kita sudah habis! Mungkin untuk makan saja tidak ada!”
“Dengar ya, Amira,” ucap Nanda tak kalah lantang. “Aku ini mamah kamu. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu direndahkan oleh orang lain. Kamu pikir dengan kamu bersujud ke mereka masalah akan selesai? Mereka itu orang licik, Amira. Setelah aku dan kamu bersujud, mereka tidak akan pernah berhenti merendahkan kita!”
“Terus apa masalahnya kalau kita direndahkan?” Amira menjawab dengan kesal.
“Kita ini masih miskin, Mah! Pantas direndahkan! Kita harus berusaha perlahan, baru orang akan menghormati kita!”
“Ter-serah kamu, Miranda. Yang jelas aku tidak akan merendahkan diri ke siapa pun.”
Nanda kembali duduk di samping Dewi, menatap aliran sungai.
“Kenapa dia marah hanya karena nenek minta uang untuk makan Dewi?” tanya Dewi polos.
Hati Amira terasa nyeri. Ia menyesal. Seharusnya ia menjawab kebutuhan Dewi dulu, bukan melampiaskan emosi.
“Sudahlah, mamah kamu hanya sedang pusing,” Nanda mengusap kepala Dewi dengan lembut.
Amira menoleh ke Arjuna yang mulai menggigil. Ia segera mengambil beberapa pakaian dari plastik, lalu menutupi tubuh Arjuna.
Suasana hening. Hanya suara hujan dan gemericik sungai yang terdengar.
“Nek, aku mau cari ikan. Aku lapar sekali.”
“Carilah yang banyak,” jawab Nanda santai.
Dewi langsung bangkit. Tubuhnya yang gemuk bergerak lincah menuruni jalan menuju sungai.
“Mamah, kenapa Dewi dibiarkan turun ke sungai?”
Amira berdiri, panik, lalu menyusul.
“Dia lapar. Dia akan lakukan apa pun untuk makan.”
“Tapi ini bahaya, Mah! Air sungai sedang deras!”
“Kalau mau menyusul Dewi, susul saja. Aku akan menyalakan api.”
“Mah!” kesal Amira.
“Berisik!” Nanda malah bangkit, mencari ranting dan rumput kering.
Amira tidak peduli lagi. Ia berlari menuruni jalan licin menuju sungai.
Air mengalir deras.
“Dewi!” teriak Amira.
Ia mengedarkan pandangan. Tidak ada.
Amira semakin panik. Ia berjalan menyusuri tepi sungai, terus memanggil.
“Dewi!”
Tak ada jawaban.
Tanpa pikir panjang, Amira turun ke air. Ia menyelam, mencari ke segala arah.
Namun… tidak ada.
Amira muncul ke permukaan, terengah. Napasnya memburu. Ia kembali melihat ke sekitar, panik.
Tiba-tiba—
Kakinya terasa ditarik.
“Haaaaaa!”
Amira menjerit.
Seketika seseorang muncul dari dalam air.
Ternyata Dewi.
“Dewi!” teriak Amira.
“Kaget, ya?” ucap Dewi santai, lalu menyelam lagi.
“Dewi!” Amira makin panik.
“Apaan sih?”
Tiba-tiba Dewi sudah muncul di belakang Amira.
“Ayo cari ikan, Yu,” ajaknya santai.
“Kamu jangan ngagetin mamah, Dewi!”
Namun belum sempat Amira selesai bicara, Dewi sudah menyelam lagi.
Amira menarik napas dalam-dalam.
Ia tidak punya pilihan.
Dengan panik, ia ikut berenang, mengikuti Dewi di arus sungai yang deras.
Mereka berenang bersama bermain air sungai, amira sejenak melupakan masalah yang menimpa
Tiba-tiba terdengar suara aneh
“dewi jangan kesitu” ucap amira namun dewi malah semakin mendekat
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
yg ada di tindas terus
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪