NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Awan perak nano yang dilepaskan oleh hulu ledak H.A.R.T bergolak di sekitar mereka dan menciptakan badai statis yang mematikan. Namun, di bawah cengkeraman Joan yang sekarang telah berasimilasi dengan racun tersebut, Selena tidak lagi memancarkan kemarahan.

Air mata perak pertama yang jatuh dari pelupuk mata sang dewi menguap sebelum menyentuh stratosfer dan digantikan oleh kekosongan emosional. Kebencian manusia, rasa bersalah Riven, dan ketakutan Jessy yang tersalurkan melalui tubuh hibrida Joan akhirnya meruntuhkan keangkuhan Sang Pencipta.

​"Hentikan misilnya, Joan!" desis Selena dan suaranya parau bukan lagi sebagai seorang dewi yang murka melainkan seorang adik yang jiwanya terkoyak oleh rasa sakit kakaknya. "Aku akan turun. Aku akan menerima kembali apa yang telah kubuang."

​Joan tidak membuang waktu. Dengan raungan yang menggetarkan lapisan mesosfer, ia melepaskan gelombang kejut elektromagnetik-biologis dari tubuh barunya. Pulsa energi campuran antara antivirus Lucian dan partikel Ag-V melesat menghantam hulu ledak misil gelombang ketiga yang mendekat. Dalam hitungan detik, misil-misil dari Pegunungan Cheyenne itu meledak prematur di batas luar angkasa dan menciptakan kembang api raksasa keunguan yang perlahan membubar ditiup angin kosmik.

​Perang di langit mereda, namun perang di bumi baru saja memasuki babak baru yang tak kalah berbahaya. Dua jam setelah ledakan di stratosfer, sebuah helikopter angkut militer tanpa tanda pengenal mendarat di zona netral di pinggiran kota Paris yang luluh lantak. Tempat itu adalah bekas landasan pacu tua yang dikelilingi oleh reruntuhan hanggar.

Kabut tipis Ag-V masih menggantung di udara dan memaksa makhluk apa pun yang memiliki Darah Bulan untuk menjauh, kecuali Joan.

​Joan berdiri di tengah landasan dan wujud monsternya telah menyusut kembali menjadi tubuh manusianya, meskipun gumpalan energi hitam dan perak tipis masih sesekali menari di bawah kulitnya. Di belakangnya, Riven berdiri berjaga dengan tatapan waspada, sementara Jessy bersandar pada pundak kakaknya, tubuhnya lemas namun matanya memancarkan kesadaran yang jauh lebih jernih setelah segel memori Selena mulai melonggar.

​Pintu helikopter terbuka. Alih-alih sepasukan tentara H.A.R.T bersenjata lengkap dengan zirah polimer hanya ada dua orang yang turun. Salah satunya adalah seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas kelabu yang rapi, kontras dengan latar belakang kehancuran di sekeliling mereka. Di sebelahnya berjalan Kapten Marcus, pemimpin unit lapangan H.A.R.T yang memegang sebuah koper taktis perak.

​"Alpha Joan," pria berjas itu membuka suara dan langkahnya berhenti tepat sepuluh meter di depan Joan. Suaranya tenang dan tipe suara yang biasa terdengar di ruang konferensi politik internasional bukan di medan perang.

"Nama saya Arthur Vance. Saya adalah perwakilan diplomatik dari dewan koalisi global yang membawahi Unit H.A.R.T. dan ini, seperti yang Anda tahu adalah Kapten Marcus."

​Joan menyipitkan matanya. Indra penciumannya yang telah berevolusi tidak hanya menangkap aroma mesiu dan perak nano dari tubuh Marcus, tetapi juga aroma ketakutan yang ditekan sangat dalam dari pria bernama Vance ini.

​"Kalian datang membawa racun yang membantai kawananku dan sekarang kalian ingin bicara?" suara Joan bergetar rendah dan mengandung pendar alfa yang membuat Kapten Marcus secara refleks meletakkan tangannya di atas sarung senjata.

​"Santai, Kapten." Vance mengangkat tangan dan memberi isyarat agar Marcus mundur. "Kami datang ke sini bukan untuk memicu pertempuran yang tidak bisa kami menangkan. Satelit taktis kami merekam apa yang Anda lakukan di stratosfer dua jam lalu, Alpha Joan. Anda menelan Ag-V. Anda mengubah senjata pemusnah massal kami menjadi bagian dari biologi Anda. Jenderal Reed mungkin seorang militer fanatik yang ingin membakar dunia, tetapi para pemimpin global di belakangnya adalah orang-orang realistis. Ketika sebuah senjata pemusnah massal tidak lagi efektif, jalur komunikasi adalah satu-satunya pilihan yang rasional."

​Arthur Vance memberi isyarat kepada Marcus untuk membuka koper taktis yang dibawanya. Di dalamnya ada sebuah layar holografik menyala yang menampilkan peta dunia yang dipenuhi titik-titik merah, pangkalan militer H.A.R.T yang tersebar di seluruh benua.

​"Mari kita bicara jujur," kata Vance dan matanya menatap tajam ke arah Joan, lalu beralih sesaat ke arah Riven dan Jessy.

"Umat manusia tidak akan pernah melupakan The Great Exposure. Kami tahu tentang Selena. Kami tahu bahwa kami hampir dimusnahkan oleh kehendak egois satu entitas dewa. Ketakutan itu tidak akan hilang hanya karena langit berhenti berwarna merah."

​"Selena tidak akan menyerang kalian lagi," potong Joan dingin. "Dia sedang mengintegrasikan kembali jiwanya. Perang ini selesai."

​"Bagi Anda, mungkin ya, tapi tidak bagi miliaran manusia yang menyaksikan serigala-serigala mencabik kota mereka," balas Vance, nadanya tetap tenang namun tegas. "Unit H.A.R.T memiliki hulu ledak Ag-V yang cukup untuk meracuni seluruh atmosfer bumi selama lima puluh tahun jika kami mau, bahkan jika Anda kebal, bagaimana dengan kaum Anda yang lain? Bagaimana dengan serigala-serigala liar yang kehilangan akal? Mereka akan tetap mati membeku menjadi kristal perak."

​Riven melangkah maju dan tubuh tingginya mengintimidasi sang diplomat. "Kamu mengancam kami, Manusia?"

​"Ini bukan ancaman."

Vance tersenyum tipis dan membuktikan bahwa intelijen manusia telah menggali sangat dalam berkat data dari sisa-sisa Lucian.

"Ini adalah penawaran. Gencatan senjata total. Manusia akan menarik Unit H.A.R.T dari pembersihan sektor dan kami akan mengisolasi formula Ag-V hanya sebagai senjata pertahanan bukan genosida."

​"Apa syaratnya?" tanya Joan, ia tahu betul bahwa manusia tidak pernah memberikan kedamaian secara gratis.

​Vance menunjuk langsung ke arah Joan. "Syaratnya adalah Anda, Alpha Joan. Anda telah melampaui batas sebagai lycanthrope. Anda adalah anomali yang menampung antivirus dan racun kami sekaligus. Dewan global menuntut adanya otoritas tunggal yang menjamin bahwa kaum supranatural tidak akan pernah lagi melintasi batas peradaban manusia. Kami ingin Anda mengurung kaum Anda di dalam wilayah yang disepakati dan bertindak sebagai polisi bagi jenis Anda sendiri. Jika ada serigala yang melanggar batas kota manusia, Anda yang harus mengeksekusinya sebelum H.A.R.T turun tangan."

​Joan terdiam dan merasakan beratnya pilihan yang diletakkan di pundaknya. Di satu sisi, manusia menawarkan kelangsungan hidup bagi kawanannya yang tersisa. Di sisi lain, mereka meminta Joan menjadi sipir penjara bagi kaumnya sendiri, sebuah perpanjangan tangan dari ketakutan manusia.

​“Terima tawaran itu, Joan,” sebuah bisikan samar dari sisa kesadaran Lucian kembali berdesir di benaknya.

“Manusia mengira mereka sedang mengendalikanmu dengan kesepakatan ini. Mereka tidak tahu bahwa dengan menjadi otoritas tunggal, kamu baru saja diberikan takhta untuk memimpin dunia baru di bawah bayang-bayang mereka.”

​Joan menatap Vance, lalu menatap Jessy yang mengangguk lemah, seolah memercayakan seluruh takdir mereka ke dalam tangannya. Dengan perlahan, Joan mengulurkan tangannya yang masih menyisakan pendar ungu-perak tipis.

​"Gencatan senjata," ujar Joan tegas. "Tapi ingat ini, Vance. Jika satu saja misil perak kalian meluncur lagi ke langit tanpa persetujuanku, aku sendiri yang akan memastikan bahwa rasa sakit yang kutampung hari ini akan kutumpahkan kembali ke kota-kota kalian."

​Arthur Vance menjabat tangan Joan dan merasakan dinginnya suhu tubuh hibrida yang menakutkan itu.

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!