Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.
Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.
Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Perjanjian
“Saya juga ingin meluruskan satu hal lagi!”
Arvin kembali menghadap ke barisan tamu pesta. “Saya akui. Saya pernah menjadi pacar Elena lalu saya tinggalkan dia setelah satu minggu berpacaran.”
“Tapi yang harus digaris bawahi, Elena juga tahu saya bisa kapan saja meninggalkannya dan disepakati bersama.”
Para tamu pesta kembali bertukar pandang yang kali ini disertakan kerutan dahi.
“Alden!” panggil Arvin lagi, memberi kode dari kejauhan untuk mengirim file penting lagi kepada semua orang.
“Itu juga?” heran Alden.
Arvin mengangguk.
Alden menggeleng dan menjalankan. “Baiklah.”
Alden kembali membongkar file-file di HP-nya. Saat mendapatkan yang dicari, dia memencet ‘kirim’ kepada semua orang di dalam pesta.
Elena semakin nampak kewalahan melawan Arvin yang berbalik menekannya. Lututnya merasakan lemas. Sementara para tamu pesta kembali difokuskan ke layar HP masing-masing.
Mereka membaca file kiriman Alden. Sebuah dokumen, berisikan butir aturan dan kesepakatan yang kemudian diakhiri tanda tangan Arvin dan Elena.
Nama dokumen itu adalah Perjanjian Hubungan Sementara.
Bisa dibilang, ‘kontrak pacaran’.
Mata Arvin menyipit senang mendapati Elena mematung memandang lantai.
Arvin beralih menjelaskan kepada tamu pesta secara panjang lebar.
“Sebelum meminta Elena menjadi pacar, saya membuat perjanjian itu terlebih dahulu. Dalam dokumen itu tertulis ‘saya bisa mengakhiri hubungan kapan saja, asalkan harus memenuhi lama hubungan minimal satu minggu.’”
Karena saya tidak mendapatkan kenyamanan dari hubungan saya bersama Elena, saya pun mengajukan putus tepat setelah menjalani hubungan satu minggu. Dari situ jelas aku tidak melanggar perjanjian.
Plus. Isi perjanjian itu juga tertulis, jika hubungan selesai, saya wajib memberikan uang 100 juta kepada Elena dan aku juga telah memberikannya.
Perjanjian itu disepakati dan diakhiri kedua pihak tanpa ada kendala.
Lalu sekarang, tiba-tiba dia berkata saya membuangnya seperti sampah, padahal kami berpisah sesuai kesepakatan bersama.”
Para tamu pesta mengangguk setuju kepada Arvin. Memang seharusnya tidak ada masalah.
Namun, seorang bapak-bapak buncit berkumis tebal alias Pak Toni nampak kurang setuju. Dia pun bertanya.
“Tapi pak Arvin. Memang benar hubungan bapak bersama Elena berakhir sesuai perjanjian. Akan tetapi, bukankah membuat surat perjanjian seperti itu malah terkesan kurang baik?”
Pak Toni mengusap kumis tebalnya lalu melanjutkan. “Saya menilai Bapak kurang menghargai arti sebuah hubungan. Jika sejak awal Pak Arvin tidak yakin bisa mencintai Elena, seharusnya Bapak tidak perlu mendekati Elena, dan surat perjanjian seperti itu tidak perlu ada.”
Kritikan Pak Toni sebagai salah satu tamu undangan paling terhormat ada benarnya. Arvin mengakuinya.
Arvin lalu mundur menghampiri Ayu yang sejak tadi diam menonton di belakang. Dia lalu berdiri bersebelahan bersama sang istri.
“Iya benar. Itu salah. Membuat perjanjian hubungan seperti itu terkesan buruk. Waktu itu saya sedang dilanda kebingungan. Saya mencari pendamping hidup menggantikan seseorang yang dulu pernah sangat saya cintai. Saya pikir Elena bisa, tapi ternyata hubungan saya dengannya tidak bisa mengobati kekosongan hati saya. Saya pun meminta putus dengan tetap mengikuti isi perjanjian itu.”
Arvin menoleh pelan kepada Ayu di samping.
Ayu gugup memandang balik.
Jari-jari panjang Arvin perlahan meraih jari-jari lentik Ayu. “Tapi saya berhasil menemukan sosok penyembuh kekosongan hati saya. Yaitu wanita di sebelah saya ini.”
Kemudian, Arvin memutar pelan bahu Ayu hingga menghadap ke dirinya, lalu memeluk erat istrinya.
“Ayu Saraswati. Aku mencintaimu dengan tulus. Tidak untuk satu minggu atau satu tahun, melainkan selamanya.”
“Ouuuh” para tamu pesta serentak berseru haru.
Lain halnya Ayu di dalam dekapan Arvin. Tubuhnya memanas kaku. Sampai-sampai gaun dan tubuh basahnya kini tidak merasakan dingin lagi.
‘Heh. Serius pak Arvin? Sebentar..! Ini … aduh!’ batin Ayu.
Arvin melepas pelukannya lalu menunjuk Elena tajam. “Tapi dia telah menginjak-injak harga diri Ayu hingga membuat istriku seperti ini. Itu fakta yang tidak bisa dielak!
“Dan tentu saja. Kekerasannya kepada keluarga Pradipta harus ada hukumannya!”
Orang-orang berseru setuju dengan Arvin.
Kali ini Elena akhirnya jatuh terduduk ke lantai.
Kalah.
Tidak ada ada yang bisa ia lakukan selain memandang benci kepada Arvin dan Ayu sebagai bentuk hilangnya kewarasan.
“Keamanan, bawa dia ke kantor polisi sekarang!”
Atas perintah Arvin, dua keamanan menyergap, memegangi dua lengan Elena lalu menyeret paksa keluar.”
Elena tentu memberontak, sambil tak henti menggelinjang. Mata bencinya juga mengeluarkan tangis kesedihan.
“Saya cinta pak Arvin. Dia tidak boleh menjadi milik siapapun. Tidaak…!” teriaknya seperti orang kerasukan.
Beberapa tamu menyingkir memberi ruang petugas keamanan untuk lewat. Setelahnya, suara riuh tepuk tangan menggema, ditunjukkan kepada Arvin dan Ayu.
“Ini baru hiburan pesta yang sesungguhnya. Haha!” kata pak Toni kepada dua pengawalannya.
Usai masalah Elena terselesaikan, Arvin segera membawa Ayu pulang tanpa menunggu pesta selesai.
Melihat keadaan Ayu yang basah kuyup dan berantakan, ini keputusan tepat.
Arvin membuka jas mahalnya, menyelubungkan ke tubuh Ayu yang kedinginan.
Di dalam mobil yang sedang melaju kencang, Ayu malu-malu menengok ke arah Arvin yang fokus menyetir.
“Pak Arvin… terimakasih sudah menolong saya,” ujar Ayu, pelan.
Sekilas, Arvin menoleh. “Kalau ada yang sakit atau luka kita ke dokter sekarang.”
“Sa–saya tidak apa-apa.”
Ayu merasa aneh. Ini kali kedua Arvin membelanya di hadapan orang banyak dengan menunjukkan perilaku romantis — yang tidak pernah gagal mengobrak-abrik hatinya.
‘Ayu Saraswati. Aku mencintaimu dengan tulus. Tidak untuk satu minggu atau satu tahun, melainkan selamanya.’ Ingatan kata-kata Arvin di ruang pesta tadi terngiang di kepala Ayu.
Ayu paham itu akting.
Hanya saja, dia merasa akting Arvin terlalu sempurna, sehingga hatinya seakan diseret paksa untuk percaya.
“Pak Arvin!” panggil Ayu lagi, pelan.
“Hmm.”
“Bapak sampai bilang ke semua orang kalau cinta bapak tulus ke saya. Apa itu … beneran akting?”
“Menurutmu?”
Ayu tidak menjawab. Kepalanya menunduk dalam-dalam.
Dan perjalanan pulang pun berlangsung tanpa saling bersuara.
Ayu selesai mandi dan sudah wangi. Dia memakai kaos longgar putih bergambar kelinci pink, dan bawahan memakai celana pendek.
Rambutnya selesai diikat dan bersiap untuk beristirahat.
Ketika sedang mengatur posisi bantal, Ayu meringis tiba-tiba. Ia baru sadar lengan bawah kanannya memar kebiru-biruan.
“Ini pasti gara-gara kebentur di lantai saat didorong mba Elena di kamar mandi.”
Sambil menahan ngilu, lengan memarnya ia pijat-pijat.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu.
Ayu menoleh ke sumber suara, bingung itu siapa.
Tentu di rumah ini hanya ada dua orang. Hanya saja, mustahil itu Arvin yang datang di jam istirahat begini. Kalaupun iya untuk apa?
“Siapa?” tanya Ayu, kencang.
“Aku!”
Sahutan suara berat dan tegas itu tidak bisa dipungkiri adalah Arvin.
Ayu segera datang, memutar kunci pintu, sementara pikirannya menebak-nebak kedatangan Arvin untuk apa? Apa ada pakaian mendadak yang perlu disiapkan untuk kerja besok?
“Pak Arvin, ada apa?” tanya Ayu setelah pintu dibuka, mengangkat kepala untuk menghadap wajah pria tinggi di depannya.
Arvin datang mengenakan setelan piyama garis-garis.
Pria itu bergeming, menelisik Ayu dari ujung kepala sampai kaki.
Karena Arvin tidak kunjung menjawab, Ayu bertanya lagi. “Apa ada pekerjaan rumah yang ingin bapak pesankan untuk dikerjakan besok, Pak?
“Tidak,” akhirnya Arvin menjawab. Suaranya rendah.
Lalu hening kembali.
“Kalau gitu, saya izin istirahat. Malam, Pak Arvin,” izin Ayu sembari mendorong pintu sangat pelan.
Arvin mengangguk. Dia hendak akan berbalik. Namun karena sudut matanya melihat memar di lengan Ayu, pintu cepat-cepat ia tahan.
Ayu mundur gelagapan. Pintu terbuka lebar. Lengannya yang memar ditangkap Arvin.
“Kamu bilang di mobil tidak-tidak apa. Seharusnya ini diperiksa ke dokter!” hardik Arvin.
Ayu menjawab dengan ujung suara yang mengecil. “Ini tidak parah. Bisa hilang sendiri, ko. Kan cuma memar doang….”
Suasana kembali hening dan kaku.
Arvin masih memegangnya erat dengan dahi mengerut.
Desiran darah panas yang tidak biasa mulai menguasai Ayu.
Ditambah lagi, pria di depannya ini belum berhenti menatap menggunakan mata tajamnya yang mendebarkan. Malah semakin intens.
Ayu reflek menggigit bibir bawahnya.
Tidak kuat, Ayu menurunkan pandang.
Tapi justru membuat Arvin semakin mendekatkan tubuhnya.
Terlalu dekat.
Sampai-sampai Ayu dapat merasakan hembusan napasnya memantul ke wajahnya sendiri gara-gara bertabrakan dengan dada bidang Arvin yang lebar.
Ayu ingin mendongak ke atas tapi takut … takut jantungnya langsung meledak.
Dia hendak kabur tapi dagunya tiba-tiba diangkat oleh dua jari Arvin.
Saat itulah dia sadar kalau wajah Arvin dan miliknya berada di radius ci u man.
Bahkan hidung mancung mereka kini saling bergesekan.
Ayu sepertinya memang harus punya jantung cadangan.
Kemudian …