Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara yang membuat jantung berdenyut
Mbak Sari melihat kekakuan antara Arumi dan Elang,nampak mengeryitkan dahinya "kalian lucu,kalian berdua kakak beradik tapi terlihat kaku seperti orang yang baru pacaran saja."
Wajah Arumi memerah sempurna. Ia merasa sangat canggung. Namun, tiba-tiba Elang menarik bahu Arumi pelan dan merangkulnya di depan Mbak Sari.
“Mbak Sari jangan kaget, Arumi ini memang pemalu kalau di depan orang. Tapi kalau di rumah, manjanya minta ampun,” ujar Elang sembari mengedipkan mata ke arah Arumi, memberi kode agar ia mengikuti sandiwaranya.
Arumi yang kaku seketika membalas pelukannya dengan canggung. Di dalam dekapan Elang, ia bisa mendengar detak jantung pria itu yang berdegup kencang, sama seperti jantungnya sendiri yang seolah ingin melompat keluar. Aroma parfum maskulin Elang bercampur aroma sabun mandi yang segar menyeruak ke indra penciuman Arumi. Meski ini hanya sandiwara untuk tetangga, ada rasa hangat dan aman yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
“I-iya, Mbak,” sahut Arumi pelan sembari menyembunyikan wajahnya di dada Elang.
### malam kedua
Sepanjang sore itu, Elang dan Arumi bersama-sama membersihkan rumah. Elang memasang televisi baru di ruang tamu, sementara Arumi membersihkan mesin cuci sebelum dipakai. Kasur busa tebal itu dibawa masuk ke kamar kecil yang akan menjadi kamar Arumi. Ketika Arumi duduk di atas kasur baru itu, ia merasakan betapa empuk dan nyamannya. Air matanya hampir jatuh lagi.
“Mas … kenapa Mas lakukan semua ini?” tanya Arumi pelan saat mereka sedang istirahat minum teh sore hari.
Elang menatapnya lama sebelum menjawab. “Karena kamu sekarang tinggal di sini, Arumi. Rumah ini harus nyaman untuk kita berdua. Lagipula, aku tidak suka melihat kamu tidur di kasur tipis seperti itu.”
Arumi menunduk, jari-jarinya memilin ujung baju. “Tapi … uangnya dari mana, Mas? Aku takut Mas berhutang hanya karena aku.”
Elang tersenyum lembut. “Kamu tidak perlu khawatir soal uang. Aku punya cara sendiri. Yang penting sekarang kamu istirahat yang cukup dan mulai menata hidup baru di sini.”
Malam semakin larut. Setelah makan malam sederhana yang dimasak Arumi nasi goreng dengan telur dan sayur kangkung mereka duduk di ruang tamu yang kini sudah lebih hidup dengan televisi baru. Elang menyalakan saluran berita, tapi pikiran Arumi melayang jauh.
Ia mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya pria yang kini menjadi “suaminya” ini? Seorang penjual bakso bakar biasa, ataukah malaikat pelindung yang dikirimkan Tuhan untuknya di saat ia paling terpuruk? Rahasia di balik keranjang belanja pagi tadi seolah membuka pintu baru dalam hati Arumi—pintu yang perlahan mulai diisi oleh rasa penasaran dan kehangatan yang tak terduga.
Di luar kontrakan, lampu-lampu jalan mulai menyala redup. Suara jangkrik dan kendaraan sesekali terdengar samar. Di dalam rumah kecil itu, dua orang yang baru saja bertemu mulai menjalani babak baru kehidupan mereka, penuh misteri, kebaikan, dan pertanyaan yang belum terjawab
Setelah acara makan malam sederhana selesai, Arumi membereskan piring-piring di wastafel kecil. Suara air mengalir bercampur dengan dering televisi yang masih menyala di ruang tamu. Elang duduk bersandar di kursi kayu baru yang dibelinya sore tadi, matanya sesekali melirik ke arah dapur.
“Arumi, sudah malam. Istirahat saja. Biar besok pagi aku yang cuci piringnya,” kata Elang pelan dari ruang tamu.
Arumi mengusap tangannya dengan lap kain. “Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah biasa. Lagipula, Mas sudah capek seharian ini.”
Ia keluar dari dapur sambil membawa dua gelas teh hangat yang baru diseduh. Satu gelas ia letakkan di depan Elang, satunya lagi ia pegang sambil duduk di ujung sofa yang masih terasa asing. Ruangan kecil itu kini terasa lebih hidup dengan cahaya televisi yang berkedip-kedip. Aroma sabun cuci piring masih menempel di tangannya, bercampur dengan aroma teh melati yang menenangkan.
Elang menerima gelas teh itu dengan senyum tipis. “Terima kasih. Kamu masaknya enak, tahu. Nasi gorengnya pas, tidak terlalu asin.”
Wajah Arumi kembali memanas. Pujian sederhana itu terasa aneh di telinganya. Selama ini, jarang ada orang yang memuji masakannya dengan tulus. “Biasa saja, Mas. Aku cuma pakai bahan yang ada.”
Mereka diam sejenak. Hanya suara pembawa berita di televisi yang mengisi keheningan. Arumi menyesap tehnya perlahan, pikirannya kembali melayang pada kejadian pagi tadi. Keranjang belanja, hilangnya Elang sebentar di pasar, lalu kejutan mobil pick-up penuh barang baru. Semua terasa terlalu cepat, terlalu baik untuk menjadi kenyataan.
“Mas Elang …” panggil Arumi pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara televisi.
“Hmm?” Elang menoleh, alisnya terangkat sedikit.
“Sebenarnya … Mas ini siapa? Maksudku, bukan cuma penjual bakso bakar biasa, kan?” tanya Arumi hati-hati. Jari-jarinya kembali memilin ujung baju tidur yang longgar. “Tadi beli mesin cuci, TV, kasur … semuanya baru. Uangnya dari mana? Aku takut Mas terbebani karena aku.”
Elang meletakkan gelas tehnya di meja kecil. Ia menatap Arumi cukup lama, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. “Aku memang penjual bakso bakar, Arumi. Itu bukan bohong. Tapi … ada hal lain yang aku kerjakan di belakang. Bisnis kecil-kecilan dengan temanku yang tadi aku ceritakan. Dia yang mengurus produksi, aku yang jualan di lapangan. Keuntungannya cukup untuk hidup sehari-hari dan … kadang untuk hal-hal mendadak seperti hari ini.”
Arumi mengerutkan kening. “Tapi tetap saja … terlalu banyak, Mas. Aku kan cuma orang asing yang tiba-tiba Mas bawa ke rumah ini. Kenapa Mas harus sebaik ini?”
Elang tersenyum lembut, sorot matanya terlihat hangat di bawah cahaya lampu. “Kamu bukan orang asing lagi, Arumi. Sekarang kamu tinggal di sini, di bawah atap yang sama. Aku tidak suka melihat orang yang aku lindungi hidup susah. Ayahmu sudah cukup menyakitimu. Setidaknya di sini, aku ingin kamu merasa aman.”
Kata-kata itu membuat dada Arumi terasa sesak. Air matanya hampir jatuh untuk kesekian kalinya hari ini. Ia cepat-cepat menunduk, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya. “Terima kasih … Aku benar-benar tidak tahu harus membalas apa.”
“Kamu tidak perlu membalas apa-apa,” jawab Elang tegas tapi lembut. “Cukup jaga diri baik-baik dan … cobalah percaya sedikit padaku. Sandiwara ini mungkin harus kita jalani cukup lama. Jadi, kita harus saling mendukung.”
Arumi mengangguk pelan. “Iya, Mas.”
Malam semakin larut. Setelah gelas teh mereka kosong, Arumi berdiri untuk membersihkan gelas. Elang ikut berdiri dan mematikan televisi. Cahaya ruangan kini hanya berasal dari lampu kecil di sudut ruang tamu.
“Tidur yang nyenyak ya, Arumi. Besok pagi aku kerja seperti biasa. Kalau ada apa-apa, panggil saja,” kata Elang sambil mengambil bantal dan selimut tipisnya.
“Iya, Mas. Mas juga istirahat yang cukup,” balas Arumi.
Ia masuk ke kamar kecilnya yang kini sudah lebih nyaman dengan kasur busa baru. Saat merebahkan tubuh, Arumi merasakan betapa lembutnya busa itu dibandingkan kasur tipis kemarin malam. Namun, pikirannya tidak bisa langsung tenang. Bayangan pelukan Elang di depan Mbak Sari tadi siang masih terasa hangat di tubuhnya. Detak jantung pria itu yang cepat, aroma parfumnya yang maskulin, dan kehangatan dekapan yang membuatnya merasa aman untuk sesaat.
“Siapa sebenarnya kamu, Mas Elang?” gumam Arumi dalam hati sambil menatap langit-langit kamar yang remang-remang.
Di ruang tamu, Elang berbaring di atas tikar dengan tangan disilangkan di belakang kepala. Matanya terbuka lebar, menatap kegelapan. Pikirannya pun tak kalah kacau dengan Arumi. Sandiwara yang ia mulai untuk melindungi gadis itu kini mulai terasa semakin rumit. Kebaikan yang ia berikan bukan sekadar pura-pura. Ada sesuatu yang mulai tumbuh di hatinya—sesuatu yang ia sendiri belum berani namai.
Malam itu, di kontrakan kecil di pinggir jalan, dua hati yang baru bertemu mulai berdenyut pelan, penuh tanda tanya dan harapan yang masih samar.