Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa di Balik Nama Itu?
...Chapter 9...
"Kau... kau bukan di ranah itu," gumam Xing Haoran, suaranya serak seperti orang yang baru sadar dari mimpi buruk, "tubuhmu memang Lintang Bawah, tapi pondasimu... pondasimu...."
Ia tidak bisa melanjutkan kalimat, karena di hadapannya, Huan Zheng mulai melangkah mendekat—dan setiap langkah pria itu, pondasi kultivasinya berubah.
Dari Lintang Bawah yang semula, tiba-tiba melesat ke Lintang Esa Tingkat Ketiga Belas, lalu ke Lintang Esa Tingkat Kedua Puluh Dua, lalu ke Supranatural Lintang Tingkat Ketiga Puluh Tiga, lalu ke Bujur Surgawi—Langit Terang, Cerah Lentera, Gemerlap Dunia, Anti Bintang—semua dilampaui dalam hitungan detik, seperti air bah yang tidak bisa dibendung oleh bendungan mana pun.
"Ini... ini tidak mungkin!" pekik Xing Haoran, tubuhnya yang tua mundur beberapa langkah,
"Kau—kau sudah mencapai 10 Kristal Penjatuh Angkasa Raya?!"
Huan Zheng tidak menjawab.
Ia hanya terus melangkah, dan di sekelilingnya, udara mulai bergetar, langit mulai retak, dan dari retakan itu keluar suara-suara nyanyian kuno yang melafalkan namanya.
Bukan sebagai manusia biasa, bukan sebagai kultivator, melainkan sebagai puncak dari Kepala Kemanusiaan, salah satu dari tiga Roda Kultivasi yang selalu membuat seluruh semesta gemetar.
Xing Haoran merasakan dadanya seperti diremas oleh tangan raksasa yang tidak terlihat.
Setiap napas yang ia tarik terasa seperti menghirup pecahan kaca, dan di dalam benaknya yang sudah keriput oleh waktu, satu pertanyaan muncul berulang kali seperti palu yang memukul lonceng yang retak.
Siapa kau sebenarnya?
Bukan Huan Zheng, bukan mantan pejuang dari umat manusia, bukan budak dewi cilik yang malas-malasan—tapi siapa di balik semua topeng itu, karena tidak mungkin, tidak mungkin seorang pria dengan ranah Lintang Bawah Tingkat Kesatu bisa memancarkan hawa 10 Kristal Penjatuh Angkasa Raya, hawa yang membuat seluruh sendi di tubuh Xing Haoran berderak seperti akan hancur, hawa yang membuat langit malam di atas Perkemahan Xuelan berubah menjadi lautan pusaran cahaya yang berteriak-teriak dalam bahasa yang bahkan tidak dikenal oleh para dewa sekalipun.
"Huan... Huan Zheng..." Xing Haoran memaksakan suaranya keluar, setiap kata terasa seperti mengeluarkan darah dari luka yang menganga.
“Aku... aku harus tahu... kau ini siapa sebenarnya... karena tidak mungkin... tidak mungkin orang sepertimu...."
Ia tidak bisa menyelesaikan kalimat—tubuhnya sudah mulai bergetar hebat, retakan-retakan kecil muncul di permukaan kulitnya yang keriput, seperti porselen tua yang tidak sanggup menahan tekanan dari dalam.
Huan Zheng berhenti melangkah, menatap Xing Haoran dengan mata biru pucat yang masih menyala.
Bukan dengan kebencian, bukan pula dengan belas kasihan, melainkan dengan sesuatu yang anehnya mirip dengan kerinduan, seperti seorang musafir yang bertemu dengan wajah lama setelah berpuluh tahun tersesat.
"Kau ingin tahu?" jawab Huan Zheng pelan, lalu ia terkekeh—kekeh yang anehnya terdengar ringan, hampir ceria, seperti suara anak kecil yang menemukan keong laut di tepi pantai.
"Tanyakan pada si momok menakutkan yang bersikap pendiam itu, Xing Haoran. Dia tahu—dan selalu tahu."
Xing Haoran membelalak.
Bukan karena takut, karena rasa takutnya sudah habis terbakar oleh rasa penasaran yang lebih besar dari kematian itu sendiri—melainkan karena ia tahu siapa yang dimaksud Huan Zheng.
Si momok menakutkan yang bersikap pendiam.
Tidak ada julukan lain di seluruh semesta yang merujuk pada sosok itu, sosok nomor satu dari tiga Roda Kultivasi, makhluk yang bahkan tiap-tiap umat manusia di saat ini memilih untuk pindah semesta daripada harus bertemu dengannya dalam pertempuran.
"Kau... kau kenal dia?" bisik Xing Haoran, suaranya hampir tidak terdengar karena getaran di tenggorokannya.
Huan Zheng tidak menjawab pertanyaan itu.
Ia malah melangkah maju satu langkah lagi, dan di belakangnya, retakan di langit semakin lebar, suara nyanyian kuno semakin keras, dan hawa 10 Kristal Penjatuh Angkasa Raya itu semakin membebani tubuh Xing Haoran seperti gunung yang jatuh dari langit.
"Dan kalau kau tidak berani bertanya padanya," lanjut Huan Zheng, matanya yang biru pucat menyipit membentuk setengah bulan, "tanyakan pada si tukang nyanyi yang dengan kebisingannya dapat memekakkan telinga mana pun. Tapi hati-hati—"
Ia tersenyum, senyum yang sama sekali tidak hangat, tapi juga tidak dingin, melainkan senyum yang kosong, seperti lubang di dasar laut yang tidak pernah tersentuh cahaya,
"... Dia suka sekali memenggal kepala orang yang bertanya terlalu banyak."
Xing Haoran tidak bisa berkata-kata lagi.
Mulutnya terbuka, bibirnya bergerak-gerak seperti ikan yang kehabisan air, dan di dalam kepalanya yang sudah mulai keruh, satu nama muncul—nama yang selama puluhan tahun tidak pernah berani ia ucapkan dengan keras, nama yang hanya dibisikkan di lorong-lorong gelap oleh para kultivator yang sudah putus asa.
Si nomor tiga.
Yang suka bernyanyi.
Yang tawanya bisa meretakkan tulang.
"Tidak... tidak mungkin..." gumam Xing Haoran, dan kali ini suaranya benar-benar seperti bisikan orang yang sedang sekarat.
“Ttiga Roda Kultivasi... kalian... kalian bertiga..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Tubuh Xing Haoran mulai mengeluarkan cahaya.
Bukan cahaya kultivasi yang indah dan berkilau, melainkan cahaya pucat seperti lampu minyak yang kehabisan bahan bakar, cahaya yang menandakan bahwa fondasi kultivasinya tidak bisa lagi menahan tekanan dari hawa 10 Kristal Penjatuh Angkasa Raya yang terus memancar dari pondasi Huan Zheng, meskipun ranah kultivasi pria itu masih berada di Lintang Bawah Tingkat Kesatu—sebuah kontradiksi yang tidak mungkin, sebuah keanehan yang tidak pernah tercatat dalam sejarah kultivasi mana pun, seolah-olah Huan Zheng adalah sebuah lubang hitam yang berjalan, dengan kekuatan yang sangat besar tetapi tubuh yang sangat kecil, cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya menjadi gila karena tidak bisa memahami apa yang mereka lihat.
"Huan... Huan Zheng..." Xing Haoran memanggil untuk terakhir kalinya, suaranya kini hanya berupa getaran di tenggorokan yang sudah hancur, "setidaknya... katakan... namamu... yang sebenarnya..."
Huan Zheng menunduk, menatap pria tua yang mulai retak-retak seperti telur yang direbus terlalu lama, lalu ia menggeleng pelan—bukan karena tidak tahu, tapi karena tidak tega, meskipun kata "tidak tega" terasa aneh di benaknya yang sudah lama mati rasa.
"Namaku sudah kau ketahui sejak awal," jawabnya akhirnya, suaranya lembut seperti kain kafan yang membungkus mayat.
"Si Pemalas Huan Zheng. Hanya itu. Tidak lebih, tidak kurang."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan, nyaris tidak terdengar.
"Tapi gelarku dulu... ah, gelarku dulu adalah sesuatu yang bahkan aku sendiri malu untuk mengingatnya."
Xing Haoran ingin bertanya lagi, ingin berteriak, ingin meludahi wajah Huan Zheng karena jawaban yang terlalu samar—tapi sebelum mulutnya sempat terbuka, tubuhnya meledak.
Bukan ledakan yang keras dan bising, melainkan ledakan yang anehnya sunyi, seperti gelembung sabun yang pecah di udara pagi, meninggalkan hanya debu-debu bercahaya yang beterbangan di sekitar Huan Zheng, dan untuk sesaat, pria itu berdiri di tengah hujan abu seorang kultivator tua yang telah hidup selama hampir tujuh puluh tahun, tanpa ekspresi, tanpa air mata, hanya dengan mata biru pucat yang mulai meredup karena api di retina itu perlahan padam.
Hujan abu Xing Haoran masih bertebaran di udara ketika Huan Zheng mengangkat wajahnya ke langit.
Bukan karena kagum, bukan pula karena bersyukur, melainkan karena ia ingin menghitung berapa detik yang ia perlukan untuk melupakan bahwa ia baru saja membunuh seorang pria tua yang hanya bertanya siapa namanya sebenarnya.
Satu... dua….
Tapi sebelum hitungan ketiga mencapai ujung lidahnya, suara benturan Qi menarik perhatiannya ke arah timur, di mana Ling Xu dan Whou Ming masih bertarung dengan sengitnya—dan sesuatu yang aneh terjadi.
Bersambung….