Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu Yang Dinanti
Wajah cantiknya masih terlihat merah merona ketika Jeevan tadi memeluknya begitu erat. Meski kejadiannya beberapa menit lalu, tapi rasa gugupnya masih terasa oleh Valerie ketika mereka berdua memutuskan untuk berbincang sebentar di taman. Keduanya duduk bersisian sambil menatap ke atas sana.
Langit begitu cerah dengan bulan yang terang benderang menemani keduanya, senyum Jeevan kembali merekah karena merasa bahagia bisa bertemu dengan Valerie di sini. Tidak sengaja Jeevan pulang dan memutuskan untuk membeli kopi di dekat taman, dan ia melihat perempuan yang dikenalnya sedang berdiri termenung dengan tatapan kosong. Entah ini takdir atau kebetulan, tapi Jeevan sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Valerie.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Valerie ketika sesaat suasana begitu hening.
"Kamu sendiri kenapa ada di sini?" Jeevan balik bertanya sambil menatap Valerie yang duduk tidak jauh di sampingnya.
Valerie menoleh tapi tatapan Jeevan lebih dulu menyapanya. Bola mata keduanya kembali bertemu saling menatap satu sama lain, tatapan Jeevan kali ini terasa berbeda dengan biasanya membuat Vale tidak bisa memalingkan pandangannya. Deg, ada yang menggelitik di hati Valerie ketika tatapan Jeevan semakin dalam dan lekat menatapnya, dengan cepat Valerie mengalihkan pandangnya membuat Jeevan hanya tertawa ringan melihat sikap Valerie terlihat sedikit gugup.
"Bukannya dijawab malah balik tanya," gumam Valerie dengan tatapannya matanya entah ke mana mengatasi sedikit rasa gugup di hatinya.
Sepertinya Vale terlihat sedikit gugup karena Jeevan sedari tadi mencoba menggodanya, tetapi Jeevan tidak perduli jika Valerie kesal dengannya. Akhirnya mereka berdua bisa bertemu lagi setelah dua hari tidak bertemu, bagi Jeevan terasa seperti sewindu.
"Kenapa semua pesanku nggak kamu balas?" Jeevan bertanya mengganti topik pembicaraan dengan tatapan matanya kembali memandang langit yang begitu indah malam ini.
"Memangnya kenapa aku harus balas pesanmu?" kini Valerie yang balik bertanya dengan nada sedikit jutek membuat Jeevan hanya tertawa ringan.
"Wah, ternyata kamu pendendam juga ya," goda Jeevan tertawa ringan menatap Valerie yang masih terlihat kesal dengannya.
Jeevan bisa melihat dengan jelas wajah cantik Valerie mendadak berubah menjadi dingin, senyuman manisnya mendadak hilang dan tatapannya begitu sinis. Tapi di mata Jeevan, perempuan itu sangat menggemaskan. Masih sama seperti dulu tidak pernah berubah sedikitpun.
"Makanya kalau orang tanya tuh dijawab!" Valerie terlihat semakin kesal karena Jeevan masih menggodanya.
Aneh, memang aneh. Tidak biasanya Valerie bersikap manja dan kekanakan seperti ini kepada Nathan. Vale selalu bersikap dewasa dan anggun, tidak seperti saat bersama dengan Jeevan yang kadang sisi anak kecilnya terlihat tanpa ada orang yang tahu. Dan Jeevan sangat menyukai Valerie saat dirinya sedang marah.
"Maaf, deh. Masa diajak becanda aja nggak mau," sindir Jeevan mencoba merayu Valerie.
Namun Valerie masih terdiam membisu menatap ke lain arah, entah benar atau hanya pura-pura Valerie sedang marah tapi Jeevan tidak mau membuatnya semakin kesal padanya. Begitu juga dengan Jeevan yang tidak pernah bersikap seperti ini kepada Maura sejak dulu.
"Tadi pas selesai beli kopi di sana nggak sengaja liat kamu berdiri di sini, jadi aku samperin kamu deh," jawab Jeevan mencoba meyakinkan Valerie agar tidak marah lagi kepadanya.
"Kamu sendiri kenapa ada di sini jalan kaki sendirian? Abis ketemuan sama siapa? Mobil kamu man? Nanti kalau kamu sakit lagi gimana?" Jeevan mengajukan pertanyaan yang membuat Valerie kebingungan untuk menjawabnya.
"Kalau tanya satu-satu, aku bingung harus jawab yang mana dulu." Wajah Valerie masih terlihat kesal namun Jeevan hanya tersenyum seolah senang menggodanya.
Tahu jika Jeevan sendang menggodanya membuat Valerie semakin kesal, ingin sekali Vale mencubitnya. Tatapan sinis Vale masih mengintimidasi Jeevan yang menahan tawanya.
"Kamu ngeledek aku?" Valerie kesal dan mencoba mencubit Jeevan namun secepat kilat kedua tangan Jeevan menghalaunya menggagalkan niat Valerie.
"Nggak, sumpah. Aku nggak ngeledek kamu," jawab Jeevan sambil menahan tawanya memegang kedua tangan Valerie seraya menatapnya.
Deg, Valerie terdiam melihat senyuman Jeevan. Wajahnya kembali terlihat merah merona.
"Mukamu kenapa merah?" tanya Jeevan yang terus memperhatikan Valerie.
"Nggak. Siapa bilang?" Valerie balik bertanya melepaskan tangannya dari genggaman Jeevan sambil memegang kedua pipinya dengan telapak tangannya.
"Itu merah," balas Jeevan lagi yang sepertinya masih menggoda Valerie.
Ternyata Jeevan memang sangat senang menggoda Valerie, entah kenapa dirinya merasa sangat bahagia melihat perempuan berkulit putih itu terlihat gugup dan marah. Baginya begitu menggemaskan.
"Nggak, kok!" tolak Valerie tegas menampik semua ucapan Jeevan.
"Tapi bohong," kata Jeevan sambil berlari menjauh sambil tertawa puas karena telah berhasil membohongi Valerie.
Rasa dongkol di hati Valerie sudah tidak tertahankan sejak tadi karena Jeevan terus menggodanya. Kenapa Jeevan senang sekali menggodanya, sampai membuat Valerie kesal kepadanya. Tanpa pikir panjang Valerie mengejar Jeevan dengan perasaan sedikit marah, sampai Valerie lupa jika dirinya memakai heels.
Tawa Jeevan lepas sambil menjauh menghindari Valerie yang mulai mengejarnya, keduanya saling mengejar satu sama lain. Jeevan terus menggodanya Valerie tiada henti, sampai akhirnya Valerie berhasil menangkap Jeevan dari belakang. Valerie berhasil menarik ujung jas Jeevan dan digenggamnya begitu erat membuat langkah Jeevan terhenti.
Valerie tidak tahu jika Jeevan berhenti mendadak dan membalikkan tubuhnya sehingga membuatnya menabrak Jeevan. Tubuh Valerie jatuh ke dalam dekapan Jeevan, hampir saja Valerie kehilangan keseimbangannya namun dengan sigap Jeevan memeluknya agar Valerie tidak jatuh. Dekapan erat Jeevan memeluk tubuh ramping Valerie, keduanya kembali jatuh ke dalam suasana romantis dan merasakan sesuatu satu sama lain. Perasaan yang telah lama hilang, kini hadir kembali.
"Bisa pelan-pelan nggak? Nanti kalau jatuh gimana?" tanya Jeevan masih memeluk Valerie karena ketakutan.
Pelukan Jeevan terasa begitu sangat erat memeluk Valerie, sehingga detak jantungnya terasa begitu jelas oleh Vale.
"Lagian kamu sendiri kenapa ngajak aku lari-larian?" Valerie membalas pertanyaan Jeevan.
Ucapan Valerie membuat Jeevan terdiam sesaat dan mereka berdua masih berpelukan, kali ini Valerie tidak bisa menolaknya dan membiarkan Jeevan memeluk dirinya lebih lama karena memang saat ini Valerie sangat membutuhkannya. Ketika Jeevan hendak melepaskan pelukannya justru Valerie yang kali ini memeluk erat Jeevan seakan tidak mau dilepas.
Deg, kali ini Jeevan yang dibuat kaget dengan sikap Valerie yang menolak untuk melepaskan pelukannya. Apa yang sedang terjadi dengannya? Tiba-tiba saja suara Valerie tidak terdengar lagi olehnya, dan wajahnya dibenamkan ke dalam dada bidangnya. Jeevan sadar jika Vale saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dan ia pun tidak melepaskan pelukannya lalu kembali memeluk erat Valerie.
"Bisa diam dulu, 5 menit aja," pinta Valerie yang sedari tadi mulai membenamkan wajahnya di dalam dada bidang Jeevan dan suaranya terdengar sedikit parau.
"Iya," balas Jeevan seraya tangan kanannya mengusap rambut panjang Valerie.
Suara tangis samar-samar terdengar di telinga Jeevan, meskipun Valerie mencoba menyembunyikan dan memelankan suaranya, tapi masih bisa terdengar jelas oleh Jeevan. Kenapa hati Jeevan mendadak sakit dan sedih, seolah teriris dan susah sekali untuk menelan ludahnya. Apa yang sudah terjadi kepada calon istrinya sampai bisa menangis di dalam dekapannya. Saat ini bukan waktu yang tepat baginya untuk bertanya.
Mendengar tangis Valerie yang semakin kencang tak terbendung membuat Jeevan penasaran dan sedikit ketakutan, apa ini ada hubungannya dengan Nathan? Apa mantan kekasihnya masih mengganggunya?
"Siapa yang buat kamu menangis? Apa Nathan yang buat kamu menangis?" tanya Jeevan menatap ke arah Valerie yang masih membenamkan wajahnya di pelukannya.
"Bukan. Bukan, dia. Please, aku cuma minta 5 menit aja," pinta Valerie suaranya terdengar berat dan getir.
Ucapan Valerie membuat Jeevan lega karena bukan Nathan yang membuatnya menangis seperti ini, dia hanya takut kejadian kemarin terulang kembali.
"Menangislah. Aku nggak akan pergi, dan aku akan selalu ada buatmu," ucap Jeevan terus memeluk Valerie dengan suara yang mulai terdengar parau.
Mendengar ucapan Jeevan tangis Valerie terdengar jelas dan pecah, pelukannya semakin erat memeluk Jeevan. Di dalam hati Jeevan hanya bisa berharap apapun yang telah terjadi hari ini, Valerie bisa melewatinya dengan kuat meskipun tidak bisa bercerita kepadanya. Sepertinya Valerie sudah merasa nyaman dengan kehadiran Jeevan yang membuatnya merasa tenang.
Biasanya Valerie bisa menahan semua rasa sedihnya di depan orang lain, tapi saat ini Valerie benar-benar merasakan sangat sedih karena kedua orang tuanya lagi-lagi tidak ada di saat dirinya sedang membutuhkan. Kenapa di saat menjelang hari penting, mamanya tidak ada untuknya. Padahal Vale akan mengadakan resepsi pernikahan yang dilakukan sekali seumur hidupnya. Vale tahu jika pernikahan ini hanya sebuah kontrak belaka. Meskipun hanya sebuah kontrak tapi sama saja kalau ini adalah momen yang sangat penting.
Valerie selalu merasa iri kepada Owen dan Rania, kedua sahabatnya mempunyai orang tua yang sempurna. Selalu ada bagi anaknya jika mereka membutuhkan, bukan hanya uang yang diinginkan tapi keberadaan kedua orang tua yang selalu ada untuknya. Maka dari itu Valerie menemukan semuanya dari keluarga Jeevan yang sangat menyayanginya.
"Kenapa mereka nggak ada menjelang momen penting aku? Kenapa mereka nggak menemaniku mempersiapkan semua pernikahanku? Meskipun ini hanya sebuah pernikahan kontrak, tapi tetap ini adalah momen penting sekali seumur hidupku," rintih Valerie menangis seolah bicara sendiri dengan tangis yang semakin pecah.
Apa yang dirasakan oleh Vale saat ini bisa dirasakan oleh Jeevan, sedih rasanya jika tidak ada orang yang disayangi berada di sisinya. Kini Jeevan harus belajar memahami Valerie.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪