NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Sean

Sean menghela napas lega. “Syukurlah, aku benar-benar khawatir kamu kalau kamu sampai kenapa-kenapa. Karena tubuhmu dingin sekali.”

“Maksudmu kamu khawatir kalau aku sudah mati begitu? Sialan kamu, Sean!” sembur Christaly sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. “Tapi, omong-omong, terima kasih, ya, kamu sudah menolongku tadi itu. Maksudku, aku pasti akan benar-benar mati beku kalau kamu nggak berusaha sekuat tenaga untuk tetap membuatku hangat.”

“Iya, deh, iya. Aku salah. Aku minta maaf. Oke?” Sean mengambil air panas dan handuk kecil yang sudah dia taruh di dalam wadah lalu dia mulai mengompres dahi Christaly lagi menggunakan air hangat itu. “Sekarang kamu harus menurut padaku, karena aku sudah nggak punya tenaga buat menghangatkanmu dengan tubuhku.”

“Huh! Iya, iya,” jawab Christaly patuh. Dia memejamkan mata saat Sean menyeka dahi dan wajahnya dengan handuk kecil. “Sekali lagi terima kasih banyak, ya, Sean. Buat semuanya. Maaf kalau aku banyak merepotkanmu.”

“Bisa diam, nggak? Kamu mau airnya masuk ke hidung?” Sean memarahi Christaly karena dia terus saja berbicara dan bergerak.

Diam-diam Christaly merasa terharu dengan perhatian yang diberikan oleh Sean. Sekarang dia menjadi lebih kagum lagi dengan pria itu. Meski dia kadang-kadang bersikap sangat menyebalkan, tengil, dan sok, tapi, di sisi lain Sean memiliki sifat lembut dan bisa diandalkan.

Meski agak samar-samar, tapi, Christaly masih ingat saat Sean memeluknya dengan sangat erat, berjuang menghangatkan tubuhnya. Padahal, pada saat itu dia sendiri juga sama kedinginan. Bahkan dia terus saja memaksakan dirinya agar tetap ereksi demi Christaly.

Lalu pada saat dia berada dalam kondisi setengah sadar, dia juga samar-samar ingat mendengar suara Sean yang panik dan begitu khawatir. Hingga akhirnya dia mengambil keputusan yang berani untuk menerobos hujan lebat sambil menggendong Christaly karena dia menyadari situasinya semakin memburuk.

Memikirkan betapa baik Sean membuat Christaly tanpa sadar tersenyum. Yang seketika pun dia diejek oleh Sean.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Jangan bilang kamu sedang membayangkan bercinta denganku,” cibir Sean. “Kalau itu yang ada di kepalamu, maaf saja karena kamu harus kecewa.”

“Jangan sok tahu, deh, kamu, Sean! Aku senyum-senyum sendiri bukan karena aku lagi mikirin bercinta sama kamu, tapi, aku merasa geli aja dengan apa yang tadi terjadi,” bantah Christaly. Karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya Christaly pun berbohong.

“Tadi itu benar-benar gila. Apa yang kita lakukan adalah gila-gilaan.” Untuk menutupi kegugupannya Christaly pun pura-pura tertawa. Tapi, tentu saja tawanya itu terdengar garing.

Sean meletakan handuk kecil yang sudah dia rendam sebentar di air panas dan sudah dia peras ke dahi Christaly. “Dan kamulah satu-satunya orang yang cukup gila yang mengusulkan untuk kita bercinta di tengah hujan badai,” sahut Sean. “Setelah aku pikir-pikir lagi, ternyata kamu ini jauh lebih gila dari yang aku duga selama ini. Bahkan jauh lebih gila dari aku sendiri.”

“Apa maksudmu?” sergah Christaly cepat-cepat.

Sean tersenyum sekilas, alisnya naik turun menggoda Christaly. “Kamu nggak usah pura-pura begitu, Christaly. Aku tahu kalau kamu sebenarnya jauh lebih bernafsu daripada aku. Mengaku saja padaku, nggak usah malu. Karena itu kamu selalu saja nggak suka kalau aku dengan para gadis. Benar, kan?”

“Enak saja! Aku nggak begitu, jangan sembarangan menuduh kamu, Sean!” tukas Christlay yang secara refleks langsung mencubit tangan Sean yang hendak mengambil handuk di dahinya.

“Aw! Sakit tahu!” Sean sontak berteriak sambil menyingkirkan tangan Christaly dan dia mengusap-usap lengan bekas dicubit gadis itu.

Christaly tertawa puas sampai tubuhnya bergetar. “Asal kamu tahu saja, aku sama sekali nggak peduli mau kamu dekat dengan gadis  atau perempuan mana pun. Aku juga nggak peduli kamu mau mendekati janda atau bahkan nenek-nenek. Aku kesal karena kamu terlalu terbawa suasana dengan perang yang kamu mainkan.”

“Itu namanya apa kalau bukan cemburu?” sergah Sean.

“Ya jelas beda, dong. Aku kesal karena kamu nggak profesional waktu kerja. Bukan cemburu karena kamu dekat dengan wanita lain.” Christaly membantah dengan tegas. “Kamu harus ingat, Sean. Kita nggak punya banyak waktu untuk menyelesaikan kasus ini. Kalau kamu nggak serius, kita bakalan kehabisan waktu.”

“Hem, yang kamu katakan itu memang benar. Kita harus secepatnya menyelesaikan kasus ini, mencari titik terang di mana keberadaan Tuan Muda Alex agar segera mendapatkan bayaran. Aku yakin Pak Haris yang keparat itu nggak akan mau kasih waktu perpanjangan lagi dan akan langsung menghajarmu habis-habisan kalau aku nggak bisa bayar lunas hutang-hutang itu. Sialan!” Sean memeriksa dahi Christaly menggunakan telapak tangannya. “Bagaimana kondisimu sekarang, apa sudah jauh lebih baik?”

Christaly mengangguk lemah. “Ya, aku sudah cukup hangat. Tapi, kalau kamu mau tidur bersamaku malam ini, pasti akan jauh lebih hangat lagi. Maksudku, aku bisa berbagi kehangatan denganmu.”

“Kamu ini tuli atau bagaimana, sih, Christaly? Tadi aku sudah bilang, bukan, kalau milikku sudah nggak sanggup mengeras lagi. Aku tahu kalau aku ini pria yang perkasa, tapi, mau seperkasa apa pun diriku, tetap saja aku ini manusia biasa. Aku juga bisa capek, Chirstaly. Oke, oke. Tadi itu aku memang bilang kalau kita sudah sampai dan kamu baik-baik saja kita akan lanjut bercinta. Tapi, situasinya benar-benar nggak memungkinkan untukku. Aku capek, aku butuh istirahat,” sahut Sean dengan nada bicara yang tegas, tandas, dan bersungguh-sungguh.“Tolong, untuk sekali ini saja kamu mengerti sedikit kondisiku."

Sebenarnya Christaly sendiri tidak benar-benar serius dengan apa yang dia katakan. Dia hanya ingin menggoda Sean seperti biasanya. Akan tetapi, dia sama sekali tidak menduga jika reaksi Sean akan seserius itu.

“Aku tahu kamu capek, Sean. Aku minta maaf sudah membuatmu kesal. Tapi, aku mengajakmu untuk tidur bersamaku bukan berarti aku mengajakmu untuk bercinta. Maksudku benar-benar cuma tidur bersama, satu ranjang berdua agar lebih hangat.” Christaly menjelaskan maksudnya dengan sungguh-sungguh. “Kalau kita tidur berdua, kita bisa saling menghangatkan satu sama lain dengan berpelukan.”

Sean merasa agak sedikit malu dengan Chrsitaly karena dia sudah salah sangka. Dia mengerutkan alis dan pura-pura keras kepala menolak ajakan tidur itu dengan mengatakan kalau ranjang tempat tidur Christaly terlalu kecil, mereka tidak akan muat tidur berdua di sana.

Dia tahu kalau alasannya itu pasti terdengar mengada-ada, tapi, untuk kali ini dia akan berusaha untuk tidak mengiyakan ajakan Christaly. Sebab Sean tidak mau mengambil risiko dia tidak akan tahan dengan godaan yang dipancarkan oleh gadis itu. Jika dia sampai tergoda, Sean pasti akan menyakiti Christaly.

“Sebaiknya kamu tidur. Kamu nggak usah khawatirin aku, karena aku baik-baik saja.”

“Tapi, Sean ....”

“Nggak ada tapi-tapian. Kamu tidur sekarang agar lekas membaik, aku juga mau ke kamarku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!