NovelToon NovelToon
Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan tak terduga

Tahun 1980-an*

Era ini ditandai berakhirnya Perang Dingin, runtuhnya Tembok Berlin, kebangkitan komputer pribadi, MTV, dan budaya pop yang ikonik.

Ini masanya orang berebut kuasa. Memperluas wilayah. Membangun peradaban dengan teknologi yang lebih maju. Semua berlomba jadi yang paling dominan.

Dan justru karena itu Anna memilih tetap tinggal di balik tembok halaman belakang rumah jendral. Tempat yang meyakini dia sudah mati. Tempat yang paling aman sedunia.

Sebagai anak Komandan Rangga, wajahnya dikenal seantero negeri. Muncul ke permukaan? Sama saja menyerahkan leher ke kericuhan politik, perebutan, dan dendam lama.

Hari ini Anna masih sibuk berbelanja. Langkahnya menyusuri pasar sambil sesekali berhenti, menawar, membeli barang. Di sela itu, ia menjajakan gosip panas yang dadakan ia angkat dari penggorengan. Lidahnya ringan, senyumnya ramah di balik cadar. Lima tahun ia jadi dalang opini publik lewat lapak sayur.

Langkahnya terhenti. Dari ujung jalan, gerombolan orang berhamburan. Berlarian tanpa arah. Suara sandal diseret, pekikan, benturan gerobak.

"PENJARAH! ADA PENJARAH! TUTUP TOKO!" Semua orang berseru panik. Para pedagang membanting pintu kios. Daun pintu kayu berderak. Dalam hitungan detik, pasar yang hangat berubah jadi lautan chaos.

Anna mematung. Otaknya nge-lag. "Sial, aku lupa ini tahun 80-an. Tempat umum adalah tempat paling penuh ancaman," rutuknya pelan.

Tahun ini reformasi sedang sering-seringnya. Kerusuhan di tempat umum bukan berita baru. Tapi tak menyangka, setelah lima tahun bertransmigrasi, Anna akan mengalami sendiri kerusuhan yang dulu hanya ia baca di buku PPKN SD.

Pandangannya menyapu sekeliling. Ia terkepung kerumunan. Tubuhnya terseret arus manusia. Sikut menyenggol rusuk. Tas belanjaannya hampir lepas. Rasanya mustahil keluar dari kekacauan ini tanpa luka.

Sebelum tubuhnya terbawa lebih jauh, pergelangan tangannya ditarik kencang. Dunia berputar. Keseimbangannya hilang. Detik berikutnya, tubuh mungilnya sudah meringkuk dalam dada bidang yang keras dan hangat. Aroma tembakau, peluh, dan wangi lencana militer menyeruak.

Beberapa saat Anna terkesiap. Napasnya tercekat. Apa yang terjadi?

Dagunya terangkat pelan. Netra hazelnya bertabrakan dengan manik biru milik seorang pria. Mata elang. Rahang tegas. Hidung mancung. Sosok yang terlalu familiar. Jendral Chandra.

Pertemuan yang tak pernah ada di skripnya. Lima tahun tak bertemu. Pria itu nyaris tak berubah. Garis wajahnya lebih matang, bahunya lebih lebar, auranya lebih mematikan. Malah terlihat semakin tampan, sialan.

"Semua unit! Amankan siapa pun yang membawa senjata. Lindungi warga sipil. Jangan sampai ada korban jiwa!" Perintahnya menggelegar, membelah riuh pasar. Suaranya berat, penuh wibawa, membuat orang-orang otomatis memberi jalan.

Anna hanya bisa diam. Lidahnya kelu. Bertemu lagi dengan Chandra? Di kepalanya, malam pertama lima tahun lalu adalah pertemuan pertama sekaligus terakhir. Tak ada bab lanjutan.

Perlahan, teriakan mulai mereda. Dentum sepatu bot menggantikan jerit panik. Prajurit berseragam masuk dari tiga arah, mengepung, melucuti, mengamankan. Kerusuhan yang tadi seperti badai kini tinggal riak kecil.

Begitu situasi terkendali, Anna tersadar. Ia mendorong dada bidang di hadapannya cukup kencang. Melepaskan diri dari dekapan yang entah kenapa terasa terlalu lama dan terlalu aman.

"Te... Terima kasih," ucapnya terbata. Suaranya tercekat di balik kain cadar.

Tanpa menunggu balasan, Anna berbalik. Langkahnya cepat, nyaris berlari. Ia tak mau berlama-lama dekat orang yang pernah bersumpah akan membuat hidupnya menderita selamanya. Bau tubuh pria itu masih menempel di ujung hidungnya. Mengganggu.

"Jendral, semua sudah aman terkendali," lapor seorang pria muda sambil memberi hormat. Dadanya masih naik turun.

Namun Chandra tak menoleh. Manik birunya masih terkunci pada punggung wanita bercadar yang menjauh di antara kerumunan. Langkah wanita itu anggun meski tergesa. Ada yang aneh. Ada yang mengusik.

"Matanya sangat familiar," batinnya. Dingin merayap di tengkuk. Seperti pernah melihat sorot mata itu. Di mana? Kapan?

"Baru kali ini aku lihat Jendral dicampakkan perempuan. Jendral malah nampak tertarik. Mungkinkah Jendral kita ini jatuh cinta?" gumam pria muda di sampingnya, Bagas, sambil terkikik pelan. Asisten paling lancang se-Kodam.

"Bagas, apa yang kamu katakan?" Suara Chandra rendah. Halus. Tapi dinginnya menyentak sampai ke tulang. Senyum Bagas langsung luruh. Punggungnya tegak sempurna.

"Semuanya sudah diamankan, Jendral!" Bagas mengulang, kali ini dengan wajah prajurit teladan.

"Bawa mereka semua ke kantor. Interogasi. Cari tahu siapa dalang kerusuhan hari ini," tegas Chandra. Ia melangkah pergi, jubahnya berkibar. Bagas mengekor setengah berlari di belakang.

Jendral ini memang seperti punya mata di belakang kepala.

Anna tiba di pondok dengan napas tersengal dan hati berantakan. Tas belanjanya penyok. Lututnya lecet. Tapi yang paling kacau adalah perasaannya. Campur aduk antara takut, lega, dan marah. Bertemu Chandra adalah variabel yang tidak pernah ia hitung.

Situasi tadi benar-benar keos. Dia saja orang dewasa nyaris mati terinjak. Bagaimana dengan Cikal?

Dengan harap-harap cemas, Anna mendorong pintu pondok yang disamarkan semak.

"Ibu...!" Seruan ceria itu menyambutnya.

Dada Anna yang sesak seketika longgar. Lututnya lemas. Lega. Tak terkira leganya melihat anak empat tahunnya berdiri di sana, utuh, dengan pipi kemerahan dan mata berbinar.

"Cikal, kamu baik-baik saja?" tanyanya panik. Tangannya langsung memeluk tubuh mungil itu, meraba kepala, pipi, bahu, memastikan tak ada luka.

Cikal mengangguk semangat. "Aku baik-baik saja! Ibu tau tidak, saat semua orang berlarian di perpustakaan, aku naik ke atas meja. Terus aku lempar bungkusan yang Ibu kasih ke lantai. Persis yang Ibu bilang. Habis itu aku tutup hidung dan mata, pegangan dinding, terus jalan keluar. Begitulah caraku bisa selamat!" celotehnya bangga, seperti baru menang lomba.

Anna menahan napas. Kerusuhan sebesar itu. Anak sekecil itu. Sendirian. Dan dia lolos dengan taktik yang tepat.

Di waktu luang, Anna memang membuat beberapa kantong peledak sederhana. Isinya bubuk cabai kering, dicampur sedikit mesiu rakitan, diikat kencang dengan sumbu pendek. Kalau dilempar ke lantai dengan tenaga yang pas, kantong itu meletus kecil. Disusul kepulan partikel cabai yang beterbangan di udara. Cara kerjanya mirip gas air mata di zaman modern. Versi dapur. Jaga-jaga kalau Cikal diganggu atau terjebak.

"Syukurlah. Sayangku baik-baik saja," bisik Anna. Tangannya mengelus kasar kepala putranya, menyembunyikan getar di suaranya.

Mereka hidup di wilayah rawan militer. Tempat ini penuh persaingan jendral dan perebutan kuasa. Mengajari anak sedikit ilmu bertahan hidup bukan pilihan. Itu kewajiban.

Yang mau niru resep bom cabainya jangan ya, dek ya...

Bomnya cuman ngarang. Fiksi. Titik. P.S: Jangan coba di rumah. Emak kalian bisa lebih serem dari Chandra kalau dapur meledak.

Malam itu, setelah Cikal tidur, Anna duduk di samping kincir anginnya. Angin semi meniup cadar yang ia lepas. Pikirannya melayang ke dada bidang tadi siang. Ke manik biru yang menatapnya terlalu lama.

Chandra curiga. Itu jelas.

Dan pasar bukan lagi tempat aman untuk menyebar gosip.

Mulai besok, Profesor abad 21 harus ganti strategi.

Kalo suka dan ada rezeki, traktir author kopi ya ☕❤ Biar bab selanjutnya Anna bisa upgrade bom cabai jadi granat mercon cabe pro max.

1
Anne
kereeen thor.. bru ketemu ini td malam.. baca marathon.. eh udh kelar aja smp bab ini.. ditunggu y updateny thor..
Rosmawati
bgus cerita nya
lnjut thor
awesome moment
gubrak g c?
Anne
kopi thor... udh dikrm
supyani: makasih onty, yang betah ya sampe cikal gede.
total 1 replies
Rubi Yati
cikal keren😍😍😍
supyani: makasih onty😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!