Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Pagi di Pantai Parangkusumo tidak pernah benar-benar menjanjikan kehangatan. Cahaya matahari yang mencoba menembus cakrawala tampak pucat, seolah-olah energinya terserap oleh pekatnya kabut yang membawa uap garam dari samudra selatan. Angin berembus kencang, membawa aroma amis laut yang tajam, meninggalkan rasa perih di mata dan lapisan asin yang tebal di setiap jengkal kulit yang terpapar.
Nirmala terbangun di atas hamparan pasir hitam yang masih basah oleh sisa pasang semalam. Tubuhnya, yang selama berminggu-minggu terasa seberat batang kayu jati yang lapuk dan dipenuhi jamur, kini mendadak terasa seringan buih ombak. Ia bangkit perlahan, membiarkan butiran pasir berguguran dari gaunnya yang sudah koyak di sana-sini.
Namun, ada yang salah.
Saat ia menarik napas, udara yang masuk ke paru-parunya tidak lagi terasa seperti debu gergaji yang mencekik. Udara itu terasa seperti aliran air es yang tajam, mengalir melalui kerongkongannya dan membekukan sisa-sisa "getah" yang sempat menetap di sana. Nirmala menatap kedua tangannya. Matanya membelalak.
Kulitnya tidak kembali seperti semula. Alih-alih warna kuning langsat yang hangat, kulit Nirmala kini tampak pucat pasi, nyaris transparan seperti porselen kuno. Di bawah permukaannya, garis-garis nadi berwarna biru gelap berdenyut lambat, memancarkan pendaran cahaya redup yang dingin. Dan di bekas jahitan kayu yang dulu melilit leher dan pipinya, kini muncul deretan kristal garam kecil yang tajam. Kristal itu tumbuh dari pori-porinya, berkilau seperti berlian mentah namun terasa perih setiap kali ia menggerakkan rahangnya.
"Nir... kau... kau sudah bangun?"
Suara itu milik Arka. Pemuda itu mendekat dengan langkah ragu-ragu. Wajahnya tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata hijau zamrudnya yang kini meredup karena kelelahan. Arka hendak menyentuh bahu Nirmala, namun begitu ujung jarinya bersentuhan dengan kulit gadis itu, ia tersentak mundur seolah-olah baru saja menyentuh bongkahan es di tengah badai.
"Tanganmu... dingin sekali Nir." bisik Arka, suaranya bergetar. "Bukan dingin biasa. Ini seperti... kau baru saja keluar dari dasar palung terdalam."
Nirmala menatap telapak tangannya sendiri. Ia tidak merasa kedinginan. Justru sebaliknya, pasir hitam di bawah kakinya terasa terlalu panas, dan sinar matahari yang pucat itu mulai membuat kulitnya terasa seperti terbakar. "Aku tidak kedinginan, Arka. Aku merasa... haus. Tapi bukan haus akan air."
Keheningan mereka pecah oleh suara desisan yang datang dari arah gundukan pasir yang membatasi pantai dengan daratan. Dari balik bayang-bayang pohon cemara udang yang mengering, muncul sisa-sisa pengikut wanita tua dari Merapi. Ada tiga sosok bayangan yang merayap di antara semak-semak. Tubuh mereka masih terbuat dari dahan-dahan mati yang terpilin, dengan mata merah menyala yang dipenuhi dendam.
Mereka adalah entitas hutan. Mereka adalah kayu. Dan mereka sangat haus akan energi Biji Purba yang masih berdenyut di dalam dada Nirmala.
"Berikan... benih itu... kembali ke tanah..." salah satu makhluk itu mendesis, suaranya seperti dahan kering yang bergesekan.
Nirmala tidak lagi bersembunyi di belakang punggung Arka. Ia merasakan sebuah dorongan yang sangat kuat dari dalam nadinya, sebuah nyanyian kuno dari laut yang menuntut untuk dilepaskan. Ia melangkah maju, melewati garis batas antara pasir kering dan pasir basah.
"Pergilah kembali ke hutanmu." suara Nirmala bergema, berat dan dalam, seolah-olah suara itu keluar dari sebuah gua karang di bawah laut.
Makhluk-makhluk itu meraung, nekat melompat ke arah Nirmala dengan kuku-kuku kayu yang tajam. Secara insting, Nirmala merentangkan telapak tangannya. Ia tidak memanggil akar. Ia justru menarik uap air yang ada di udara sekitar.
Seketika, kristal garam di kulitnya bersinar terang dengan pendaran biru yang menyilaukan. Udara di sekeliling makhluk-makhluk kayu itu mendadak menjadi sangat kering, seolah-olah seluruh kelembapan di area itu tersedot secara paksa.
Krek!
Krek!
KRAK!
Hanya dalam hitungan detik, tiga makhluk itu berhenti di udara. Tubuh kayu mereka yang tadinya fleksibel dan kuat, tiba-tiba menjadi sangat rapuh dan memutih. Air yang menjadi sisa kehidupan mereka ditarik keluar oleh kekuatan laut yang rakus milik Nirmala. Mereka tidak sempat berteriak; dalam satu embusan angin, tubuh mereka hancur menjadi serpihan debu kayu dan kristal garam yang berhamburan di atas pasir.
Nirmala tertegun. Ia baru saja "mengeringkan" kehidupan musuhnya tanpa harus menyentuh mereka.
Aki mendekat dengan langkah berat, menyeret kakinya di atas pasir. Wajahnya tampak jauh lebih tua pagi ini, garis-garis keriput di dahi dan pipinya seolah-olah telah bertambah dalam hanya dalam satu malam. Beliau meraih tangan Nirmala, membalikkan telapak tangannya ke atas.
Di sana, tepat di tengah telapak tangan Nirmala yang transparan, terdapat sebuah garis biru gelap yang berdenyut kencang—sebuah simbol jangkar yang seolah-olah melilit urat nadinya.
"Jangan bangga dengan kehancuran yang kau ciptakan Nirmala." suara Aki terdengar parau dan penuh peringatan. "Laut selatan adalah penguasa yang adil, namun juga paling kejam. Ia tidak pernah memberi tanpa meminta kembali."
"Apa maksud Aki? Bukankah laut telah menyembuhkannya?" tanya Ibu Lastri, suaranya penuh harap namun juga ketakutan.
Aki menatap laut lepas yang menderu di depan mereka. "Garam di nadi Nirmala adalah sebuah 'jangkar'. Laut telah mencuci getah kayu Sandiwayang, tapi sebagai gantinya, ia menanamkan rasa haus yang tak terpadamkan. Jika dalam waktu tiga puluh hari Nirmala tidak memberikan 'nyawa' yang setara kepada samudra, maka laut akan datang sendiri untuk menagihnya."
"Nyawa siapa Aki?" Arka bertanya, tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Nyawa yang telah mencuri dari alam secara tidak sah." Aki menatap ke arah utara, ke arah cakrawala yang dipenuhi bayangan gedung-gedung tinggi yang belum terlihat. "Pohon induk Sandiwayang yang bersembunyi di Jakarta. Dia telah meminum terlalu banyak darah manusia untuk kepentingannya sendiri. Itulah 'sajian' yang diinginkan oleh Penguasa Laut. Jika kau gagal mencabut akarnya dan menyerahkannya ke laut, maka kaulah yang akan ditarik ke dasar palung untuk menjadi buih selamanya."
Nirmala merasakan jantungnya berdegup kencang, menyebarkan sensasi dingin yang mematikan ke seluruh tubuhnya. Ia sadar, kesembuhannya bukanlah sebuah keajaiban gratis. Itu adalah kontrak yang ditulis dengan garam dan darah.
Sebelum matahari mencapai puncaknya, mereka sudah bersiap di dalam mobil tua milik Pak Kromo. Ibu Lastri mengisi bagasi dengan botol-botol besar berisi air laut dan berkarung-karung garam murni, satu-satunya hal yang bisa menjaga raga Nirmala tetap stabil selama perjalanan jauh ke daratan yang kering.
Nirmala duduk di kursi belakang, menatap lewat jendela ke arah laut yang semakin menjauh seiring mobil melaju kencang meninggalkan Parangkusumo. Ia merasakan Arka terus menggenggam tangannya, tangan Arka yang hangat menjadi satu-satunya jembatan yang mengingatkan Nirmala bahwa ia masih memiliki sisi manusia, meskipun darahnya kini terasa lebih asin daripada air mata.
"Kita akan ke Jakarta Aki?" tanya Arka sambil memutar kemudi dengan raut wajah keras.
"Ya. Ke tempat di mana manusia membangun menara untuk menyembunyikan dosa-dosa mereka. Di sana, benih Sandiwayang telah bermutasi menjadi monster yang lebih mengerikan daripada yang ada di Merapi" jawab Aki sambil mulai mengasah keris kecilnya dengan batu asahan yang ia bawa.
Di dalam kabin mobil yang sempit, suasana kembali tegang. Bukan lagi karena dikejar oleh hantu-hantu hutan, melainkan karena mereka sadar bahwa mereka sedang menuju ke mulut singa yang sesungguhnya. Jakarta, dengan segala kemacetan dan kepadatannya, menyimpan horor yang jauh lebih terorganisir.
Nirmala memejamkan mata. Di dalam batinnya, ia masih bisa mendengar suara wanita berpakaian hijau itu membisikkan sebuah nama. Sebuah gedung pencakar langit di pusat Jakarta yang memiliki sumur tua di basement paling bawah, tempat di mana jantung kegelapan itu berdetak.
"Perjalanan ini baru saja dimulai Arka." bisik Nirmala pelan, sementara kristal garam di pipinya mulai berpendar biru redup seiring dengan semakin panasnya udara daratan yang mereka lalui.