Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32: Kebenaran yang Terbongkar dan Pilihan yang Sulit
Setelah Liana mengakui semua kejahatannya, Leonard segera memerintahkan agar seluruh rakyat Eldoria diberitahu tentang kebenaran yang sebenarnya. Sebuah pengumuman resmi dibuat di semua kota dan des, memberitahu bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana jahat milik Seraphina, bahwa Liana tidak pernah benar-benar mengandung anaknya, dan bahwa semua itu adalah upaya untuk merusak keharmonisan keluarga kerajaan.
"SAUDARA-SAUDARAKU!" suara Leonard bergema kuat dari atas panggung di halaman istana, dengan Liana berdiri di sisinya yang sedang menangis dan meminta maaf kepada seluruh rakyat.
"Aku meminta maaf karena telah membuat kalian semua kecewa dan khawatir. Namun aku bersumpah bahwa aku tidak pernah melakukan apa pun yang salah, dan semua ini adalah hasil dari keinginan seseorang untuk mengambil kekuasaan dengan cara yang tidak benar!"
Liana kemudian maju ke depan dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku, semua..." bisiknya dengan suara yang merengek.
"Aku hanya mengikuti perintah nona Seraphina karena aku membutuhkan uang untuk menyelamatkan pacarku yang sakit parah. Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun, terutama Raja Leonard dan Ratu Alexandria!"
Setelah pengumuman itu dibuat, suasana di kerajaan mulai sedikit membaik. Rakyat yang tadinya marah dan kecewa mulai merasa kasihan pada Leonard dan meminta maaf karena telah terlalu cepat mempercayai rumor. Namun meskipun demikian, masalah utama dengan Alexandria masih belum terselesaikan.
Leonard segera mempersiapkan diri untuk pergi ke desa Oakhaven sendiri, dia merasa bahwa hanya dengan bertemu langsung dengan Alexandria dia bisa menjelaskan semua dengan jelas dan membujuknya untuk kembali. Dia membawa dengan dirinya berbagai macam hal yang penting bagi mereka berdua, foto kenangan, kalung kumbang yang pernah dia berikan padanya, bahkan bunga-bunga dari taman istana yang pernah mereka rawat bersama.
"Aku harus pergi menemui dia sendiri, Marcus," ucap Leonard dengan suara yang penuh dengan tekad.
"Aku tidak bisa hanya mengandalkan utusan atau surat untuk menyampaikan apa yang aku rasakan."
Marcus mengangguk dengan pengertian.
"Saya mengerti, Yang Mulia Raja. Saya akan menyertai Anda dan menjamin keamanan Anda selama perjalanan."
Setelah beberapa jam perjalanan dengan kereta yang cepat, mereka akhirnya tiba di desa Oakhaven. Udara desa yang segar dan aroma bunga-bunga yang akrab membuat hati Leonard sedikit terasa lega. Namun rasa gugupnya semakin besar saat dia melihat rumah kecil mereka yang terletak di pinggir hutan.
Alexandria sedang duduk di teras rumah bersama Darius yang sedang menggambar ketika mereka tiba. Wajahnya menjadi pucat saat melihat Leonard keluar dari kereta, namun dia tetap menjaga diri dengan tenang.
"Alex..." panggil Leonard dengan suara yang lembut, langkahnya lambat menghampiri mereka.
"Aku datang untuk menjelaskan semua dengan benar dan memohon maaf padamu."
Darius yang melihat ayahnya segera berlari ke arahnya dengan wajah penuh kegembiraan.
"AYAH!" teriaknya dengan senyum lebar, lalu melompat ke pelukan Leonard yang dengan cepat menangkapnya dan mencium dahinya dengan penuh cinta.
"Aku merindukanmu begitu banyak, anakku," bisik Leonard dengan suara yang penuh dengan emosi, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku selalu memikirkan kamu setiap hari."
Alexandria berdiri dengan hati yang sangat bingung. Dia melihat betapa kurus dan lelah wajah Leonard yang dulu selalu tampak kuat dan percaya diri. Meskipun rasa sakit dan kecewa masih ada di dalam hatinya, rasa cinta yang dia miliki terhadapnya mulai muncul kembali.
"Mari kita bicara di dalam saja, Leo," ucap Alexandria dengan suara yang lembut, lalu membuka pintu rumah untuk membiarkan mereka masuk.
Di dalam rumah yang penuh dengan kenangan indah, Leonard mulai menjelaskan semua dengan sangat rinci, dari bagaimana dia telah ditipu dengan obat bius, dan Seraphina adalah dalang di balik semua ini, hingga bagaimana Liana telah mengaku semua kejahatannya. Dia menunjukkan semua bukti yang dia bawa dan bahkan memainkan rekaman kesaksian Liana yang telah direkam sebelumnya.
"Semua ini benar-benar bukan kesalahanku, Alex," ucap Leonard dengan suara yang penuh dengan kesedihan.
"Aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu. Cintaku untukmu selalu sama dan tidak akan pernah berubah selama-lamanya."
Alexandria mendengarkan semua penjelasannya dengan cermat, matanya penuh dengan air mata yang belum pernah terlihat sebelumnya. Dia tahu bahwa Leonard sedang mengatakan yang benar, dia bisa merasakannya dari cara dia melihatnya dan dari kata-kata yang dia ucapkan. Namun rasa sakit dan kecewa yang dia alami selama berbulan-bulan tidak bisa begitu saja hilang dalam sekejap.
"Aku percaya padamu, Leo," bisiknya dengan suara yang merengek.
"Aku tahu bahwa kamu tidak akan pernah melakukan hal seperti itu padaku. Tapi rasa sakit yang aku rasakan selama ini terlalu dalam untuk bisa segera sembuh. Aku masih merasa tidak aman dan takut bahwa hal serupa bisa terjadi lagi nanti."
Leonard mendekatinya dengan hati-hati, lalu mengambil tangannya dengan lembut.
"Aku mengerti perasaanmu, Alex. Aku tidak akan memaksamu untuk segera kembali atau memaafkanku. Tapi tolong jangan meminta cerai padaku. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku layak untuk kamu dan untuk Darius. Aku akan melakukan segala yang bisa untuk memperbaiki kesalahan yang tidak pernah aku lakukan dan membuatmu merasa aman lagi."
Namun Alexandria hanya menggeleng dengan hati yang sangat berat.
"Aku tidak bisa, Leo. Aku masih perlu waktu yang sangat lama untuk memproses semua ini. Dan mungkin memang lebih baik jika kita berpisah untuk sementara waktu atau bahkan selamanya. Ini bukan hanya tentang apa yang terjadi padamu, tapi juga tentang bagaimana aku merasa setelah semua itu terjadi. Aku merasa seperti aku telah kehilangan bagian diriku sendiri."
Leonard merasa hatinya seperti sedang hancur berkeping-keping mendengar kata-katanya. Dia melihat Darius yang sedang bermain dengan mainan kayu di sudut kamar, dan dia tahu bahwa putranya juga akan sangat terpengaruh jika mereka bercerai.
"Tapi apa yang akan terjadi dengan Darius?" tanya Leonard dengan suara yang penuh dengan keprihatinan.
"Dia membutuhkan kedua orang tuanya untuk bisa tumbuh dengan baik dan bahagia."
"Aku tahu itu, Leo," jawab Alexandria dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dan aku akan selalu memastikan bahwa Darius bisa bertemu denganmu kapan saja dia mau. Tapi hubungan kita sebagai suami istri sudah tidak mungkin bisa kembali seperti dulu lagi. Mungkin ini memang yang terbaik bagi kita berdua."
Leonard tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tahu bahwa dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Alexandria. Dia hanya bisa menerima keputusannya dan berharap bahwa suatu hari nanti dia akan bisa memaafkannya dan memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki segalanya.
Setelah beberapa saat berdiri diam dan menikmati kehangatan pelukan terakhir dengan Darius, Leonard berdiri untuk pergi. Dia memberikan kalung kumbang yang pernah dia berikan pada Alexandria saat pernikahan mereka dengan hati yang sangat berat.
"Pilihlah apa yang membuatmu bahagia, Alex," ucapnya dengan suara yang penuh dengan kesedihan.
"Aku akan selalu mencintaimu dan akan selalu ada di sini untukmu dan untuk Darius, kapan saja kamu membutuhkanku."
Alexandria menangis deras saat melihat Leonard pergi meninggalkan rumah kecil mereka. Dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang sangat sulit, namun dia merasa bahwa ini adalah jalan terbaik bagi mereka berdua saat ini.
Dan dia tidak menyadari bahwa di balik semua itu, dia sendiri telah memerintahkan orang yang dipercayainya untuk terus mencari tahu tentang Seraphina dan apa yang sebenarnya dia inginkan dari kerajaan Eldoria...